Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
EP.91


__ADS_3

Setelah Alfi masuk ke dalam kamar Sofia ia pun duduk di sebuah kursi dan memulai pembicaraan.


"Sofia kau baik-baik saja?" tanya Alfi.


"Aku tidak baik-baik saja, mereka menemukanku dan aku tak bisa berbuat apa-apa.." ucap Sofia.


"Kau meremehkan ayahmu dan juga Kenan?" tanya Alfi.


"Bukan begitu tapi aku juga bisa melindungi diriku sendiri.." ucap Sofia.


"Mereka berdua menyayangimu Sofia, mereka tak mau kau ditahan lagi oleh Vall.." ucap Alfi.


"Ya tapi aku kesal tak bisa berbuat apapun untuk diriku sendiri.." ucap Sofia.


"Sudahlah, jangan bersedih.. pasti ada jalan keluarnya kalau kau berfikir positif.." ucap Alfi.


"Apa kau juga berpikiran seperti mereka dengan melarangku keluar?" tanya Sofia.


"Sejujurnya ia karena aku tak rela kau ditahan apalagi sampai menikah dengan si bedebah itu, tapi kau juga punya hak untuk bertindak, sebagai sahabat aku hanya bisa membantu dan melindungimu.." ucap Alfi.


"Kau itu sama saja seperti mereka.." ucap Sofia.


"Ya karena aku juga menyayangimu.. jadi kumohon jangan seperti anak kecil berpikirlah dewasa karena ini masalah yg sangat serius.." ucap Alfi lalu pergi meninggalkan Sofia.


"Hhhh.. berpikir dewasa?? terserahlah.." ucap Sofia kemudian ia memilih untuk tidur daripada berdebat dengan semua orang.


Sementara Alfi menghela nafas melihat keadaannya. Bahkan ia rela mengundurkan diri sebagai dokter dirumah sakitnya, tapi ia masih pemilik saham rumah sakit tersebut. "Apa yg harus kuperbuat untuk membuat Sofia bahagia??" gumam Alfi dalam hati.


Namun, tiba-tiba Sofia menjerit histeris membuat Alfi langsung masuk ke kamarnya tanpa permisi.


"TIDAAKKKKKKKK!!!" teriak Sofia.


"Sofia ada apa?" tanya Alfi langsung mendekat.


Namun, Sofia masih kaget dan terkejut dengan tubuh berkeringat. Dengan nafas terengah-engah ia juga menitihkan air mata membuat Alfi semakin bingung.


"Sofia ada apa? apa ada orang jahat tadi??" tanya Alfi.


Namun lagi-lagi Sofia tidak menjawab hingga akhirnya Alfi memeluknya agar ia lebih tenang.


"Sudah-sudah, tenangkan dirimu.. minum air dulu.." ucap Alfi tapi Sofia tak melepaskan pelukannya.


"Sebentar.." ucapnya membuat Alfi tak bisa berbuat apa-apa.


"Baiklah.." balas Alfi.


Setelah situasinya tenang, Sofia melepaskan pelukannya. Segera Alfi memberikannya segelas air.


"Minumlah dulu, jika ingin bercerita aku akan mendengarkannya.. jika tidak, tidak apa aku tidak kemana-mana.." ucap Alfi.


Setelah meminum air, Sofia mulai membuka mulutnya.


"Alfi aku bermimpi buruk, terimakasih kau begitu perhatian.." ucap Sofia.


"Aku khawatir mendengarmu berteriak dan menangis.. aku kira ada orang jahat yg masuk.." ucap Alfi.


"Tidak hanya mimpi buruk.." ucap Sofia.


"Kalau aku boleh tahu itu mimpi apa Sofia? apa ini akibat dari pertemuan kita dengan Vall?" ucap Alfi.

__ADS_1


"Aku tak tahu Al, tapi aku bermimpi dipaksa menikah dengan mafia gila itu, bahkan ia sudah menembak ibuku.." ucap Sofia.


"Aku tak tahu apakah ini efek dari pertemuan tersebut, aku khawatir psikologismu terganggu akibat disandera oleh mafia gila itu.. jika kau mengalami mimpi ini lagi kau harus ikut aku ke tempat temanku.." ucap Alfi.


"Ya aku kan mengabarimu jika terjadi lagi.. tapi aku takut mimpi tersebut benar-benar jadi kenyataan.." ucap Sofia.


"Tidak akan Sofia, aku akan mempertaruhkan segalanya agar hal itu tidak terjadi.." ucap Alfi.


"Apapun? termasuk nyawamu begitu?" tanya Sofia.


"Ya, aku tak mau kau hidup menderita dengan mafia itu.. " jawab Alfi.


"Kenapa Al?? apa alasanmu?" ucap Sofia.


"Aku ingin kau hidup bahagia, karena aku menyayangimu.. " balas Alfi.


"Tapi kau tidak seharusnya mengorbankan nyawamu untukku, hidupmu masih panjang dan mungkin kau bisa bertemu wanita baik dan menikahinya." ucap Sofia.


"Tidak Sofia, aku takkan menikahi wanita manapun karena aku hanya menyukaimu.." ucap Alfi.


"Al kau menyukaiku? sejak kapan?" tanya Sofia terkejut.


"Aku.. mau ke toilet sebentar.." ucap Alfi dengan wajah memerah.


"Al.. kau jawab dulu.. " ucap Sofia tapi Alfi langsung kabur dengan cepat.


"Apa itu pernyataan cinta?? dan dia jadi malu?? tapi kenapa aku jadi senang?" gumam Sofia dalam hati.


Sementara Alfi pun masuk kamar mandi dan mencuci mukanya yg memerah.


"Kenapa momennya tidak pas sih? harusnya romantis agar Sofia tidak ilfil.." gumam Alfi dalam hati.


Sofia pun jadi tak tenang karena Alfi malah menjauhinya. Ia pun menunggu Alfi keluar dari kamarnya. Namun, Alfi tak kunjung keluar kamar. Hingga terbersit sebuah ide. Sofia berpura-pura hendak keluar apartemen dan benar saja Alfi yg mendengarnya langsung keluar dari kamarnya.


"Sofia kau mau kemana??" ucap Alfi langsung menarik Sofia masuk dan menutup kembali pintunya.


"Akhirnya kau bicara juga, aku butuh penjelasanmu Alfi.." ucap Sofia.


"Sepertinya ini bukan waktu dan tempat yg tepat, sebentar lagi ayah dan adikmu pulang.." ucap Alfi.


"Ayo kita bicara diluar.." ajak Sofia.


"Tidak Sofia itu terlalu berbahaya untuk kita." ucap Alfi.


"Kalau aku bilang sekarang ya sekarang, kan bisa pakai masker.." ucap Sofia menarik tangan Alfi.


"Ya tapi tidak begini juga Sofia, masa aku pakai baju rumah..? tunggu aku ganti baju dulu dan dompetku juga ada di kamar.." ucap Alfi.


"Dan kau juga pakai baju yg rapi.." perintah Alfi melihat Sofia pakai celana pendek diatas lutut.


"Oh iya aku jadi lupa, tapi awas kau tidak keluar lagi aku akan dobrak pintunya.." ucap Sofia.


"Ya bersiap-siaplah .." ucap Alfi.


Setelah bersiap-siap mereka berdua pergi keluar dan mencari tempat yg aman disekitar sana. Mereka membawa mobil milik SHIELD yg dipinjam Sofia dari anak buahnya. Mereka menuju ke sebuah cafe, disana Alfi memesan tempat yg privat agar tidak ditemukan oleh mata-mata BlackStar.


Setelah tiba, mereka memesan sebuah minuman dan Sofia mulai tidak sabar untuk bertanya.


"Alfi katakan apa maksud dari perkataanmu tadi?" tanya Sofia.

__ADS_1


"Ya aku menyukaimu Sofia dan aku tulus padamu jadi aku tak mengharapkan apapun darimu.. " ucap Alfi.


"Maksudmu?" tanya Sofia bingung.


"Aku menyukaimu tapi aku tak mau memaksakan perasaanku padamu, apalagi kita sudah bersahabat dan tak ingin semuanya jadi menjauh.." ucap Alfi.


"Sejak kapan? Kenapa kau selalu diam?" tanya Sofia.


"Sudah sejak lama, tapi aku lebih membuktikannya pada sikapku padamu dari pada mengutarakannya.. Aku sangat takut mendengar jawaban penolakanmu.." ucap Alfi.


"Kalau kau tidak bilang aku juga tak tahu, dan aku akan tetap akan menganggapmu sahabat.." ucap Sofia.


"Itu lebih baik daripada ditolak dan kau menjauh.." ucap Alfi.


"Makanya kau harus katakan agar aku menerimanya.. kenapa sesulit itusih..?" ucap Sofia kesal.


"Apa kau mau menerimanya?" tanya Alfi takut ia salah dengar.


"Tidak..!" ucap Sofia.


"Tuh kan aku sudah tahu akan ditolak.. " ucap Alfi.


"Tidak untuk berpacaran ayo kita menikah saja.." ucap Sofia tersenyum.


"Benarkah, apa aku bermimpi?" ucap Alfi menampar pipinya 2x.


"Benar Al, sebelum aku kesal dan memilih si mafia gila itu.." ucap Sofia.


"Oke, ayo kita menikah.. emm tadi kan harusnya ucapanku kenapa jadi kau yg mengajakku menikah.." ucap Alfi.


"Karna kau itu lambat, bisa-bisa aku frustasi dan memilih si mafia gila itu.." ucap Sofia memanas-manasi Alfi.


"Awas kau berani melakukannya.. jangan coba-coba Sofia atau aku akan patahkan kedua kakimu agar tidak bisa lari.." ucap Lafi.


"Aww.. kau cemburu juga ternyata.." ucap Sofia.


"Tentu saja dan aku punya sesuatu untukmu.. " ucap Alfi merogoh sakunya mengambil sesuatu.


"Ini hadiah untukmu.. " ucap Alfi memberikan sebuah kotak kecil.


"Aku buka ya.. " ucap Sofia.


"Sebuah cincin.. untukku?" tanya Sofia.


"Tentu saja, untuk siapa lagi.. kau suka atau tidak?" tanya Alfi.


"Yah bagus, aku suka.." ucap Sofia.


"Sini biar aku yg pakaikan.." ucap Alfi.


Alfi pun memakaikannya dijari Sofia. Mereka pun berpegangan tangan dan tersenyum.


"Aku cukup kesal saat si mafia gila itu memaksamu memakai cincin darinya.. " ucap Alfi.


"Ya aku juga kesal, tapi tidak padamu aku menyukainya.." ucap Sofia.


"Aku akan jujur pada Ayahmu nanti.." ucap Alfi.


"Tentu kau harus jujur.." ucap Sofia.

__ADS_1


__ADS_2