
"Sayang apa makanannya tidak enak?" tanya Vall.
"Aku tak selera makan hari ini.." jawab Sofia malas satu meja dengan pembunuh orangtuanya.
"Kau mau makanan apa nanti aku perintahkan koki untuk memasaknya..?" tanya Vall.
"Tidak, rasanya aku sudah kenyang.. Terimakasih atas makanannya.." ucap Sofia lalu berdiri dari duduknya.
"Sofia..!" teriak Vall.
"Apalagi tuan Vall? " tanya Sofia malas.
"Tak bisakah kau sedikit menghargai usahaku..?" ucap Vall geram.
"Aku sudah makan denganmu dan berbicara baik-baik, apakah itu kurang menghargaimu?" ucap Sofia membuat Vall tak bisa berbicara apa-apa.
"Baiklah, kembalilah.. bicara padaku atau William jika kau butuh sesuatu.." ucap Vall.
"Ya, terimakasih nanti aku sampaikan.." balas Sofia lalu ia kembali ke kamarnya.
Namun, yg dimaksud Vall adalah bersikap manis layaknya pasangan pada umumnya. Tapi cinta takkan pernah bisa dipaksakan, seberapapun perhatian dan barang-barang mahal yg mampu Vall berikan takkan mampu membuat Sofia mencintainya. Lebih tepatnya Vall sudah salah langkah sejak awal, mulai dari membunuh kedua orang tua Sofia, menyerang Kenan hingga terakhir menculik Sofia.
"Tuan anda baik-baik saja?" tanya William.
"Ya, Will.. aku hanya tak mengerti mengapa Sofia begitu dingin padaku.." ucap Vall.
"Seperti yg sudah kukatakan tuan, anda sudah menyakitinya sejak awal.. jadi akan sangat sulit.." balas William.
"Lalu apa yg harus kuperbuat? haruskah aku menyerang keluarganya agar Sofia menurut padaku?" tanya Vall meminta pendapat.
"Ide bagus tuan.. nampaknya nona Sofia begitu menyayangi keluarganya.." ucap William.
"Baiklah Will, kalau begitu cari tahu kabar keluarga Sofia di Indonesia.." perintah Vall.
"Baik tuan, dan masalah tuan Kenan nampaknya ia sangat jenius hingga data-data tentang dirinya sulit ditembus.." ucap William memberikan laporan.
"Baj***an jenius itu adalah batu sandunganku Will.. dia akan selalu membantu Sofia jika ia tak kita lumpuhkan.." ucap Vall.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin tuan.." balas William lalu pergi menjalankan tugasnya.
Kini Vall pergi dari ruang makan menuju meja kerjanya. Sudah lebih dari 1 minggu Vall bekerja dari mansion di negara tersebut. Semua hal mengenai D'Textile sudah ada yg menghandle karena ayahnya masih aktif dalam perusahaan.
☘☘☘
Ditempat lain, Satria dan Kenan sedang membahas rencana penjemputan Sofia.
"Ayah.. jadi maksudnya kita memancing semua pasukan mereka keluar agar pertahanan di dalam melemah?" tanya Kenan.
__ADS_1
"Kau benar Kenan, aku yg akan memancingnya.. Kau masuk dan selamatkan Sofia bersama beberapa anak buahku.. dan lagi ada Alfi yg bekerja dari dalam.. " ucap Satria.
"Baiklah ayah.. kapan kita menyerang mereka?" tanya Kenan.
"Menurut anak buahku dan laporan Alfi 3 hari lagi si baj*****an itu akan keluar dari mansionnya.. begitu dia keluar aku akan memancingnya dan menghabisi anak buahnya dan kau berserta Alfi kabur dengan Sofia.." ucap Satria.
"Baiklah ayah.. aku akan mempersiapkan segalanya.." ucap Kenan.
"Lalu ibumu bagaimana keamanannya?" tanya Satria.
"Cukup aman ayah, disekitarnya tak ada orang-orang BlcakStar.. dan orang-orangku sudah melakukan tugasnya dengan baik.." ucap Kenan.
"Baguslah.. aku sangat takut kalau ia dalam masalah.." ucap Satria.
"Kita berdoa saja semoga itu adalah tempat teraman untuk ibu.." ucap kenan.
"Ya aku berharap demikian.. dia sudah hidup susah selama kami berada di dalam hutan.." ucap Satria.
"Ya, kini biarkan ibu menikmati hidup yg lebih nyaman disana.." ucap Kenan mengerti.
Setelah berbincang-bincang, mereka kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Kenan dengan masalah perusahaannya. Dan Satria dengan pengintaiannya terhadap BlackStar.
☘☘☘
3 Hari sebelum kejadian..
Siang itu Vall mengajaknya makan siang bersama. Seperti biasa pelayan akan datang dan menjemputnya. Sofia hanya menurutinya sembari mengumpulkan tenaga untuk bisa kabur dari mansion tersebut bersama Alfi.
Setibanya di meja, Vall menyuruh Sofia duduk. Prilakunya tak seperti kemarin yg begitu perhatian oada Sofia. Sofia pun tak peduli akan hal itu. "Mau kau perhatian atau tidak takkan mengubah prinsipku.." gumam Sofia dalam hati.
Sofia pun makan dengan tenang tanpa ada suara keluar dari mulutnya, hanya ada suara sendok dan garpu. Vall pun nampak tenang tak mengajak Sofia berbicara tapi sorot matanya terus mengawasi Sofia.
Setelah selesai makan Vall mengajak Sofia bicara.
"Sofia bagaimana makanannya?" tanya Vall.
"Lumayan.." ucap Sofia.
"Baiklah, mulai sekarang kita akan selalu makan bersama.. agar kita semakin dekat." ucap Vall.
"Ya terserah saja.." ucap Sofia.
"Apa lukamu sudah baikan .?" tanya Vall.
"Ya sudah sembuh hanya tinggal bekasnya.. "jawab Sofia.
"Nanti William akan mengajakmu ke dokter kulit terbaik disini agar kulitmu kembali seperti semula.." ucap Vall.
__ADS_1
"Ya terimakasih.." jawab Sofia.
"Dan aku akan pergi 3 hari lagi, aku harus mengurusi perusahaan.. tapi jangan coba-coba kabur karena William akan mengawasimu bersama anak buahku.. " ucap Vall.
"Ya tuan Vall.." jawab Sofia malas, padahal dalam hatinya ia gembira mafia psyco itu pergi hingga ia bisa kabur dari mansion ini bersama Alfi.
"Bagus sayang.. ingat jangan nakal selama aku pergi.." ucap Vall.
"Dan ini ada hadiah kecil untuk menghiburmu.." ucap Vall memberikan kotak kecil pada Sofia.
"Apa ini? alat pelacak?"tanya Sofia.
"Sofia kau itu sungguh pintar tapi aku tak sekaku itu sebagai seorang pria.." ucap Vall tersenyum.
"Bukalah.." ucap Vall.
Sofia pun membukanya dan nampaklah sepasang anting-anting berhiaskan berlian diatasnya.
"Anting?" ucap Sofia bingung.
"Ya.. bagaimana?" tanya Vall.
"Ya bagus tapi aku tak mengerti perhiasan.." ucap Sofia.
"Coba pakai.." ucap Vall.
Vall pun menyuruh pelayan menyiapkan cermin untuk Sofia memakai anting tersebut. Dan dengan segera cermin tersebut tiba. Mau tidak mau Sofia memakai perhiasan tersebut. Setelah selesai ia menunjukkannya pada Vall.
"Sudah puas..?" tanya Sofia.
"Hahaha.. tentu saja sayang, kau sangat cantik dengan anting-anting itu.." ucap Vall.
"Terimakasih pujiannya.. tapi aku harus katakan aku tak menyukai perhiasan.. aku lebih suka senjata tuan Vall.." ucap Sofia.
"Lalu cincin yg kemarin kau pakai?" tanya Vall ingin tahu.
"Itu hadiah ulang tahun dari saudaraku.. " ucap Sofia.
"Benarkah? bukan dari kekasihmu?" tanya Vall.
"Kau boleh berfikir demikian jika kau mau.. dan terimakasih tuan Vall atas hadiahnya aku ingin istirahat.." ucap Sofia meninggalkan Vall yg terpaku.
"Siapa baj****an yg menjadi kekasih Sofia.." gumam Vall.
Sementara Alfi mendengar percakapan itupun hanya bisa tersenyum sambil menahan emosi. Lalu ia manarik nafas berat. "Ya Tuhan dari sekian banyak pria kenapa harus mafia psyco itu rivalku..?" gumam Alfi dalam hati. Ia bahkan tak rela Vall memanggil Sofia dengan sebutan "Sayang". Terlebih ia berusaha menyentuh Sofia berkali-kali membuat Alfi panas melihatnya. Vall juga terus menerus memberikan Sofia hadiah, hingga Alfi tersadar ia juga harus bergerak mulai sekarang.
"Aku juga akan bergerak.. aku tak rela mafia psyco itu memiliki Sofia.." gumam Alfi dalam hati.
__ADS_1