Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
EP.67


__ADS_3

Tuan Ren dan putra Red pun tiba di depan rumah Satria dan Reina. Tapi Red nampak takut dan wajahnya begitu pucat. Sampai keringat dingin pun bercucuran di wajahnya. Ia pun terdiam mematung begitu tiba di depan rumah.


"Red..! jangan bilang kau takut?" ucap tuan Ren.


"A-ayah a-aku .. gugup.." jawabnya terbata-bata.


"Dasar anak bodoh, kau itu sudah berbuat salah masih saja enggan meminta maaf.. perbuatan kita sudah kelewatan tau..!" ucap tuan Ren.


"I-iya ayah.." balas Red.


"Ayo masuk awas kalau kau sampai kabur ..!" ancam tuan Ren.


Tok..tok..


Tak lama Reina pun muncul membuka pintu.


"Silahkan masuk tuan Ren.." ucap Reina yg masih ramah.


"Terimakasih nyonya.. " balas tuan Ren.


Sementara Red sedang panas dingin merasakan hawa-hawa menyeramkan yg mulai menyelimutinya.


"Akhirnya kalian datang juga.." ucap Satria tersenyum sinis.


"Kami pasti datang tuan.." ucap Tuan Ren menunduk malu.


Sementara Red kakinya mulai gemetaran hanya melihat wajah Satria.


"Maaf atas segalanya tuan, saya benar-benar menyesalinya.. tolong maafkan kami semua.." ucap tuan Ren.


"Kau jangan duduk sebelum dimaafkan.. cepat berlutut dan meminta maaf..!" ucap tuan Ren.


Dengan segera Red pun berlutut dan dengan suara bergetar ia meminta maaf.


"Ma-maafkan saya tuan, saya sudah kelewatan pada putri anda.. Saya mohon ampuni saya.." ucap Red.


"Kau bersalah pada putriku dan juga anak buahku, kau juga harus meminta maaf pada mereka..!" pinta Satria tegas.


"Sayang panggilkan Sofia dan rekan-rekannya.." ucap Satria pada Reina.


Tak lama, Sofia dan rekannya pun muncul membuat Red semakin takut. "Tak mungkin kan kalau mereka menganiaya dan sampai membunuhku serta ayahku.." gumamnya dalam hati.


"Cepat kau minta maaf pada mereka.." tunjuk Satria pada putrinya dan juga anak buahnya.


"Maafkan aku nona dan tuan-tuan semua.. Aku mengaku bersalah dan khilaf.. aku benar-benar sudah kelewat batas.. " ucap Red dengan nada bergetar ketakutan.


"Bagaimana teman-teman? kita maafkan atau tidak?" tanya Sofia pada rekan-rekannya.


"Agak berat nona, mengingat nyawa kami hampir melayang.." ucap salah satu dari mereka karena dendam.


"Ya menurutku juga begitu, harusnya kalian lihat saat aku mencoba kabur dan ditodong puluhan tombak besi yg tajam itu.." ucap Sofia.


"Jadi apa keputusan kalian?" tanya Satria sembari menahan senyumnya. "Sepertinya Sofia akan mengerjai bocah ingusan ini.." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Aku akan memaafkanmu tapi kau harus merasakan apa yg kami rasakan kemarin.." ucap Sofia.


"Apa maksudmu??" tanya Red kesal.


"Berani kau marah pada putriku..???" ucap Satria menatap tajam.


"Ma-maafkan saya tuan.." ucap Red.


"Kau jaga sikapmu.. " ucap tuan Ren pada putranya.


"Ba-baiklah apa yg harus kulakukan?" tanya Red.


"Mudah saja, malam ini kau tinggal di gubuk kemarin dan jangan lupa dengan ikatan tangannya." ucap Sofia.


"Apakah tidak ada hukuman lain tuan?" tanya tuan Ren pada Satria.


"Baiklah, bagaimana jika kalian bertanding melawanku? apa kalian siap?" tanya Satria.


"Ti-tidak tuan, kalian boleh menghukum putraku sesuka hati kalian.." ucap tuan Ren yg sudah tau kemampuan Satria dalam bertarung. "Bisa mati aku dan Red jika melawannya.." umpatnya dalam hati.


"Baguslah kalau begitu, ayah aku ingin dia merasakan apa yg aku dan rekanku rasakan kemarin seharian.." ucap Sofia.


"Baiklah.." balas Satria.


"Anda harus merasakan bagaimana makan dengan tangan terikat.. " ucap Sofia.


"Jangan lupakan juga saat kalian ingin mengeksekusi kami kemarin.. harusnya tuan melihat mereka sudah menyiapkan tali di sebuah tiang eksekusi.." ucap kapt.


"Benarkah itu kapt? Wah kalian benar-benar kelewatan.." ucap Satria.


"Ayah kenapa tidak membelaku sama sekali?" gerutu Red pada ayahnya.


"Jadi sudah kuputuskan.. " ucap Satria.


"Bagaimana tuan??" tanya tuan Ren.


"Red harus menjalani hukuman seperti yang putriku inginkan. Tinggal digubuk kemarin dan makan dengan tangan terikat." ucap Satria.


"Lalu kau juga harus diikat seperti kau menjemur anak buahku yg akan kau eksekusi mati..!" ucap Satria.


"Ba-baiklah tuan.." ucap tuan Ren.


Sementara Red pun menelan salivanya mengingat pasti hukuman itu sangat menyusahkannya mulai malam ini. Berkali-kali ia menggertu pada ayahnya. "Ayah kau ini benar-benar rela mereka menyiksaku.." gerutu Red.


"Red jika kau ingin mengubah hukumanmu, pilihan untuk bertarung denganku masih berlaku.. jadi bagaimana?" tanya Satria menyeringai.


"Ti-tidak tuan aku siap dihukum sama seperti yg kulakukan kemarin pada mereka.." ucap Red.


"Bagus kalau begitu, tuan Ren jangan berikan keringan pada putramu ya.. dan malam ini aku akan melihat dia dihukum langsung.." ucap Satria.


Sementara itu Sofia pun tersenyum melihat hukuman untuk Red. "Rasakan..! memangnya kau pikir kau itu siapa memaksa orang menikah dan menyiksa orang lain seenaknya.." gumam Sofia dalam hati.


Dan mereka pun langsung menghukum Red malam itu juga. Para anak buah tuan Ren pun mengikat Red seperti mereka mengikat Sofia dan yg lainnya. Lalu ia meninggalkannya disebuah gubuk dan meninggalkan makanan seperti kemarin mereka memperlakukan Sofia dan rekannya seperti tawanan.

__ADS_1


"Bagaimana aku makan jika tanganku diikat..?" tanyanya pada orang yg berjaga digubuknya.


"Maaf tuan, anda juga melakukan itu kemarin pada mereka.."


"Sialan..! awas kau jika aku sudah bebas nanti.." ancam Red pada penjaga disana, namun penjaga tersebut hanya diam saja karena harus mengikuti perintah tuan Ren.


Sementara tuan Ren dan Satria sedang berbincang serius.


"Sekali lagi maafkan kami tuan.." ucap tuan Ren.


"Ya sudah kumaafkan, itupun karena putriku dan anak buahku selamat.. jika kondisinya berbeda mungkin aku takkan semurah hati ini.." ucap Satria.


"Lalu mengenai kepergian anda diakhir bulan apakah sudah siap?" tanya tuan Ren.


"Aku selalu siap, tapi putriku sudah mengabari putraku dan meminta bantuan untuk menyusul kami kemari.. jadi kita lihat saja siapa yg tiba lebih dahulu.." ucap Satria.


"Baiklah kalau begitu tuan, aku juga sudah memerintahkan Guido untuk mengantar anda nanti.." ucap tuan Ren.


Kemudian mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Di goa tempat mereka tinggal, tampak Reina sedang berbincang dengan Sofia. Sofia tidur dipangkuan ibunya.


"Sofia bagaimana kabar Kenan?" tanya Reina.


"Dia baik-baik saja, tapi sepertinya ia terlalu bekerja keras.. terlihat diakhir pekan kantung matanya hitam.." ucap Sofia.


"Maafkan ayah dan ibu ya.. kalian jadi kerepotan mengurus perusahaan.." ucap Reina.


"Tidak apa bu, sepertinya Kenan memang sudah siap untuk pekerjaannya.. Begitu juga denganku, masih ada kakek yg siap membantuku.." balas Sofia.


"Sofia apa ini?" tanya Reina melihat lengan Sofia yg dipenuhi bekas luka.


"Oh itu pengalaman hidup bu.." ucapnya tersenyum.


"Apaa?? dasar kau ini wanita.. kau tidak bisa merawat bekas luka ini apa??" tanya Reina.


"Sudahlah bu, nanti saat aku pulang aku akan mencari obat penghilang bekas luka paling mujarab.." ucap Sofia tersenyum.


"Dasar kau ini, Sofia kau itu wanita kau harus merawat dirimu, jaman sekarang laki-laki saja banyak yg merawat dirinya.." ucap Reina menasehati putrinya.


"Ibumu benar Sofia, apa kau tidak ingin menikah nantinya?" ucap Satria yg baru saja tiba.


"Ayah aku masih muda untuk memikirkan itu.. jadi santai sajalah.." balas Sofia tersenyum.


"Kau ini, mungkin harusnya kau terlahir menjadi laki-laki.." goda Satria.


"Ayah.. kau itu benar-benar.. kakek saja selalu memujiku cantik.." gerutu Sofia.


"Yah kau memang mirip ibumu, tapi kelakuanmu itu sangat bar-bar.. lihat bekas luka-luka ini dan ini pasti luka tembak?" tanya Satria langsung serius.


"Iya ayah benar hehe.." ucap Sofia tersenyum.


"Siapa yg melakukannya?? BlackStar??" tanya Satria.

__ADS_1


Sofia hanya mengangguk dan tersenyum pada ayahnya karena tak ingin orang tuanya khawatir.


__ADS_2