
Setelah mendengarkan cerita Satria, baik Sofia maupun Alfi pun terkejut. Tak tahu harus berkata apa lagi, karena Diana diam-diam menemukan saudara kembarnya yg mereka kira sudah tiada.
"Ayah apa ini nyata?" tanya Sofia.
"Benar Sofia, harusnya kau senang bukan sedih.." ucap Satria.
"Ayah benar sayang, ayo kita temui Claude " ucap Alfi.
"Baiklah.." ucap Sofia.
Dan pertemuan tersebut menjadi pertemuan yg mengharukan. Semua orang pun ikut sedih dan menangis. Bagaimana perjuangan Sofia dan Alfi selama ini mencari Dion kemana-mana namun tak membuahkan hasil. Dan Diana dengan mudahnya menemukannya tanpa disengaja.
"Akhirnya kau bisa kembali kepada kami nak.." ucap Sofia.
"Iya bu, maaf aku tak tahu apapun.." ucap Claude.
"Kami sudah mengusahakan segalanya selama ini.. aku bersyukur kau sudah ditemukan.." ucap Alfi.
"Tapi ayah, Diana jadi begini.. dan juga ayah angkatku ternyata seorang mafia.." ucap Claude.
"Itu bukan salahmu, dan kau pasti terkejut dengan semua kejadian ini.. " ucap Alfi.
"Benar, yg terpenting kau tahu siapa keluargamu sesungguhnya.." ucap Sofia.
"Tapi boleh aku meminta pada kalian untuk tidak membunuh ayah angkatku?" tanya Claude.
"Kami juga tak yakin bisa membunuhnya nak, kami hanya ingin agar ia dihukum atas perbuatannya. " ucap Sofia.
"Baiklah, aku hanya sedih selama ini Diana sudah berbuat banyak tapi aku seperti tak berguna.. bahkan tak mampu melawan ayah angkatku.." ucap Claude.
Plakk..
"Berani kau menyalahkan dirimu lagi, aku akan pergi dan membunuh ayah angkatmu.." ucap Diana tersadar.
"Baiklah, akhirnya kau sadar juga.. " ucap Claude.
"Diana bagaimana kau menyembunyikan segalanya dari kami?" tanya Alfi.
"Hmm.. semuanya aku bisa menjelaskannya.." ucap Diana.
"Baiklah, silahkan dijelaskan Diana.." ucap Alfi.
Diana pun menjelaskan rencannya pada keluarganya. Awalnya ia hanya tak ingin Fabio menyerang kedua orangtuanya karena ada Claude dirumahnya. Tapi justru Fabio melakukan serangan dadakan yg sudah diprediksi oleh Diana. Dan siapa sangka Fabio akan kabur menuju ke sebuah tempat yg sulit dijangkau hingga Diana yg mengalami kecelakaan dan tenggelam di danau tersebut.
"Harusnya kau mengabari mom dan mom akan siapakan segalanya.. " ucap Sofia.
"Kurasa kakek juga cukup untuk membantu.. "ucap Diana.
"Kau itu sudah terlalu lama bergerak sendiri sesukamu.. lihat kalau bukan karena Brian, Claude dan kapten pasti kau tidak bisa pulang menepati janjimu.." ucap Alfi.
"Maaf dad.. semua ini tak terduga.." ucap Diana.
"Kalau begitu kau tinggal di rumah sakit sampai diijinkan pulang.. dan Claude akan ikut kami.." ucap Sofia.
"Oke.." balas Diana tersenyum.
"Claude kau pulanglah ke rumah, nikmati rumahmu dan kebersamaan keluarga yg tak bisa kau nikmati selama ini.." ucap Diana.
"Lalu kau bagaimana?" tanya Claude.
"Ada Brian.. ya kan sepupu?" tanya Diana.
"Iya.. ada aku kau pulang saja.." ucap Brian.
"Baiklah, nanti aku akan kemari lagi.." ucap Claude.
__ADS_1
Claude pun pulang bersama Sofia dan Alfi. Sementara Brian dan Satria menjaga Diana di rumah sakit.
"Kalian pulanglah, aku bisa sendiri.." ucap Diana.
"Diana aku juga sebenarnya lelah, tapi aku tak bisa membiarkanmu sendirian.." ucap Brian.
"Kalau begitu kakek pulang saja, nanti kakek sakit jika menjagaku semalaman.." ucap Diana.
"Ck.. kau itu sakit tapi mengkhawatirkan diriku.." ucap Satria.
"Kakek.. pulanglah, aku tahu kakek lelah.." ucap Diana.
"Baiklah, tapi kau jangan kabur.." ucap Satria.
"Siap, kan ada Brian disini.." ucap Diana.
"Benar, kakek istirahat saja.." ucap Brian.
"Oke.. Brian awasi sepupumu yg gila ini, jangan sampai dia kabur.." ucap Satria.
"Baik kek.." ucap Brian.
Satria pun pergi meninggalkan rumah sakit. Sementara Brian masih bertahan disana.
"Kau yakin tak mau pulang?" tanya Diana.
"Sudah kubilang aku akan menjagamu malam ini.." ucap Brian.
"Oke.." ucap Diana.
Dan di sore hari Kenneth pun tiba untuk melihat kondisi Diana. Meskipun ia sudah dikabari kalau Diana sudah sadar, ia tetap ingin memastikannya langsung.
"Aku datang.." ucap Kenneth.
"Hai kapt, kau datang juga.." ucap Diana.
"Kenapa? kau merindukanku?" goda Diana.
"Ck.. kau itu sakit tapi masih saja.." ucap Kenneth.
"Ehmm.. Diana kau tahu siapa yg memberi nafas buatan padamu tadi saat kau diselamatkan?" tanya Brian.
"Claude? atau Kau?" tanya Diana.
"Salah, dia.." ucap Brian dan langsung ditutup mulutnya oleh Kenneth.
"Diamm.." ucap Kenneth.
"Kapt, dia itu pewaris S Group. Kau bisa dituntut jika dia sampai terluka.." ucap Diana dan Kenneth melepaskannya.
"Baiklah, memangnya kenapa itu kan hal normal.." ucap Kenneth.
"Sepertinya kau takkan selamat kapten, Diana itu belum pernah berciuman.." bisik Brian membuat Kenneth langsung menatap Diana yg sudah terlihat mau menyerangnya.
"Kau..!" ucap Diana melempar bantal.
"Aku tak tahu, aku hanya ingin menolongmu.." ucap Kenneth.
Bukk..bukk..bukk..
"Aku hanya ingin melakukannya pada suamiku kelak.." ucap Diana sembari memukul Kenneth.
"Ayo Diana serang terus.." ucap Brian malah menyoraki.
"Diana hentikan.." pinta Kenneth.
__ADS_1
Diana pun mencengkram baju Kenneth dan menamparnya.
Plakkk..
"Sudah puas.." ucap Kenneth merasakan panas di pipinya.
"Ya puas..! " ucap Diana.
"Dan kau.." ucap Diana memandang Brian yg tadi menyoraki lalu melempar bantal ke arahnya.
"Ups.. sepupu tidak kena.." ucap Brian.
"Akhh.. aku menjaganya mati-matian kau malah seenaknya saja.." ucap Diana.
"Diana sudahlah, kurasa itu sepadan dengan nyawamu.." ucap Brian.
"Sudahlah kalian keluar, aku sedang kesal.." ucap Diana mengusir mereka berdua.
Brian dan Kenneth pun keluar dengan patuh, karena Diana sudah seperti singa lapar yg sedang mengamuk. Kenneth tak tahu kalau pernapasan buatan yg ia lakukan secara spontan sungguh berarti bagi Diana.
"Sudahlah, aku tahu niatmu kapten.. tapi Diana juga berhak tahu.." ucap Brian.
"Iya aku jadi merasa bersalah. Masih ada wanita yg menjaganya dengan baik.." ucap Kenneth.
"Sudahlah, walau aku juga sedikit kesal melihatnya.." ucap Brian.
Akhirnya keduanya pun kembali masuk dan Kenneth meminta maaf pada Diana. Diana pun memaafkannya karna ia juga tahu Kenneth hanya ingin menyelamatkannya.
Sementara itu, Claude sedang menikmati perhatian penuh kedua orang tuanya. Ia dijejali banyak makanan dan diberi banyak pakaian baru. Serta diberi kamar yg sama seperti milik Diana.
"Ibu.. ayah.. kalian berlebihan.." ucap Claude.
"Tidak, ini semua belum cukup membayar puluhan tahun yg kau habiskan tanpa kami.." ucap Sofia.
"Kau mau buah.. mom akan siapkan.." ucap Sofia.
"Aku sudah makan terlalu banyak mom.." ucap Claude.
"Baiklah, mom hanya akan siapkan sedikit buah saja.." ucap Sofia.
"Sayang, biarkan dia beradaptasi dan beristirahat.." ucap Alfi.
"Claude besok kita bicara, dad ingin membahas sesuatu denganmu.." ucap Alfi.
"Baik Dad.." ucap Claude.
"Baiklah kau istirahat saja.. besok kita jenguk Diana bersama.." ucap Alfi, lalu mengajak Sofia pergi agar Claude bisa beristirahat.
"Apa aku benar-benar anak mereka?" gumam Claude dalam hati saat mendapatkan semua perhatian yg berlebihan.
Bagaimana tidak berlebihan Sofia langsung menyediakan segalanya untuk putranya. Bahkan semua rasa sakit yg ia alami selama ini langsung sembuh seketika dan tak terasa sama sekali. Alfi pun melihat istrinya bisa tidur dengan nyenyak.
Keesokannya, Alfi berbicara pada Claude di taman.
"Maaf, mommu sangat berlebihan, kalau kau tidak nyaman katakan saja.." ucap Alfi.
"Tidak apa dad, aku bisa mengerti.." ucap Claude.
"Jadi, bagaimana pekerjaanmu jika kau kemari?" tanya Alfi.
"Aku sudah berhenti dad, dan tak tahu kapan akan mulai mencari pekerjaan baru karena masalah ini belum usai.." ucap Claude.
"Kabari Dad, jika kau butuh bantuan.. kebetulan di rumah sakit dad butuh dokter sepertimu.." ucap Apfi.
"Terimakasih dad, aku akan memikirkannya nanti.." ucap Claude.
__ADS_1
Mereka berdua pun menikmati obrolan santai di pagi hari sembari menikmati sarapannya. Kemudian mereka berencana untuk menjenguk Diana.
Sementara Diana, ia mendapat kabar dari mata-matanya kalau Fabio telah ditemukan posisinya. Melihat dari situasinya, Brian akan segera pergi meeting hari ini dan Diana mendapat kesempatan untuk kabur mencari Fabio sebelum ia pergi ke negara lain.