
Malam pun semakin larut, persediaan makanan yg mereka bawa seadanya pun mereka nikmati dengan penuh rasa syukur. Karena jika sampai tidak ada habislah mereka karena hari mulai gelap. Malam itu mereka makan di depan api unggun.
"Untunglah kalian membawa stok makanan dipesawat.." ucap Sofia.
"Iya nona, kami memang sengaja menyetoknya untuk keadaan darurat.. dan kini benar-benar berguna.." ucap Kap.
"Iya nona air juga ada walaupun tak banyak.."
"Aku bersyukur kita masih bisa selamat dan menikmati makanan hari ini.. "ucap Sofia.
"Iya nona benar, tapi tenang saja besok kita akan mencari makanan yg ada di hutan dan juga air bersih.."
"Baguslah, habis ini kita istirahat bergantian.. dan bangunkan semua orang saat ada bahaya.. lalu api ini jangan sampai mati kecuali hujan turun.." ucap Sofia.
"Siap nona.." balas mereka serempak.
Dan setelah makan malam, mereka mulai bergantian istirahat. Sofia sengaja menyuruh kedua pilot untuk tidur dahulu karena mereka sudah lelah mengendarai pesawat dan hampir mati. Sementara Sofia dan dua rekannya berjaga. Setiap 2 jam sekali mereka pun bergantian untuk tidur.
Hingga pagi hari, giliran Sofia dan beberapa rekannya yg tertidur di dalam tenda sementara sisanya berjaga. Pagi hari api unggun pun padam menyisakan asap hitam yg mengepul. Keempat orang tersebut pun kini tengah berjaga menunggu rekannya terbangun. Namun, tiba-tiba yg paling mereka takutkan pun muncul.
Sekelompok suku pedalaman, sedang menyergap mereka setelah melihat asap dari api unggun yg telah mati. Dengan tampang menyeramkan mereka pun seperti menggrebek tenda mereka sembari menyodorkan tombak kayu yg diujungnya terdapat pisau tajam. Seketika kapt langsung membangunkan Sofia dan yg lain sementara ketiga rekannya menghadapi mereka.
"Nona bangun, gawat suku yg menakutkan itu datang.." ucap kapt sembari menggoyangkan tubuh Sofia dan kedua rekannya.
Sofia yg terkejut pun mengerjapkan matanya. Mendengar suara orang asing dan seperti kerumunan orang telah mengepung tenda sederhana mereka. Seketika Sofia pun sadar.
"Apa???" ucap Sofia terkejut.
"Apa kau tak salah bicara kapt.?" tanya rekan Sofia yg baru terbangun, sementara yg satunya lagi mengintip sedikit.
"Oh tidak, kapt benar nona.." ucap rekannya yg baru saja mengintip.
"Baiklah, Okee.. tenang.. mari keluar dari tenda bantu rekanmu diluar.." ucap Sofia menenangkan diri.
Sofia pun keluar nampak ketiga rekannya itu sedang dipojokkan dan tombak mereka diarahkan ke leher mereka.
"Maaf, bisa kita bicara.." ucap Sofia mencoba berkomunikasi.
"Kau itu bicara apa?" ucap mereka berbahasa latin.(Anggap saja begitu ya teman-teman 😂).
"Maaf kami hanya tersesat karena pesawat kami meledak.. Dan bisakah kita bicara.." ucap Sofia berbahasa latin.
"Oh nona, kau bisa berbahasa kami.. Bagus.. lalu apa tujuan kalian datang kemari?" tanya seorang pemimpin mereka bernama Rode.
__ADS_1
"Maaf tuan, sekali lagi saya jelaskan kalau pesawat kami meledak dan kami terjun ke arah sini karena anginlah yg membawa parasut kami kemari. Tujuan kami hanya bermalam sebelum kami menemukan cara untuk kembali.." ucap Sofia.
"Bohong..! kalian hanya ingin harta karun bukan? disini tidak ada yg namanya harta karun.. bawa mereka ke desa.." ucap Rode pada anak buahnya.
Sofia pun menyuruh anak buahnya untuk mengalah dan mencari jalan keluar. Dan kini mereka digiring menuju ke desa mereka. Dengan langkah cepat mereka langsung menuju desa.
Mereka ditinggalkan disebuah gubuk dan diikat layaknya tawanan.
"Nona, bagaimana sekarang?"
"Tunggu dulu, mungkin masih ada warganya yg bisa diajak bicara.. mereka bukan orang jahat dan selama mereka tidak melukai kita tahan dulu. " ucap Sofia.
"Tapi nona.."
"Aku mengerti, kalian selalu membawa senjata kan? kita gunakan saat sudah terdesak.. Oke..?" tanya Sofia.
"Baiklah nona.."
Tak lama kemudian kepala suku dan putranya pun tiba disana. Tuan Ren dan tuan Red pun memperkenalkan diri.
"Selamat datang tuan dan nona, aku Ren dan ini putraku Red.. kami akan menghukum kalian jika kalian bersalah.." ucap tuan Ren.
"Jadi silahkan salah seorang bicara mewakili.." lanjut tuan Ren.
"Maaf sebelumnya tuan Ren, aku Sofia dan kami sedang dalam perjalanan, namun pesawat kami hancur karena tertembak musuh. Hingga kami harus keluar dari pesawat, tapi arah angin membawa parasut kami kemari. Karena hari mulai gelap kami bermalam disini dan hari ini berniat mencari cara keluar dari sini.." ucap Sofia.
"Lalu apa rencana kalian..?" tanya tuan Ren.
"Maaf tuan-tuan, kami hanya akan sementara disini dan tidak akan mengganggu kalian. Jadi biarkan kami pergi dari sini dan menunggu bala bantuan kami datang.." ucap Sofia.
"Maaf tapi sepertinya kami tidak mempercayai kalian.. kalian pasti memanggil teman kalian untuk kamari dan menghancurkan desa.." ucap Ren.
"Duh kalo ga percaya dari awal kenapa nanya sih bambang.. " gumam Sofia pelan, hingga anak buahnya pun tertunduk menahan tawa.
"Lalu apa yg harus kami lakukan?" tanya Sofia.
"Kalian tinggallah disini, nanti kami akan tentukan hukuman bagi kalian.." ucap tuan Ren lalu pergi.
Selepas mereka keluar meninggalkan gubuk tersebut Red pun berbicara para ayahnya.
"Ayah aku mau gadis itu.. dia sangat cantik.." ucap Red.
"Red dia dari luar yg kita tak tahu asal usulnya, dia juga bisa menghancurkan desa." balas Ren.
__ADS_1
"Tidak ayah, wanita itu pasti lemah dan bodoh tentang tempat ini.. pasti mudah untuk dikendalikan.." balas Ren.
"Ayah akan pikirkan dengan tetua adat." balas Ren tak mau berdebat dengan putranya.
Sementara Sofia dan keenam rekannya tengah menyusun strategi.
"Kalian bisa kan menjangkau pisau disaku kalian?" tanya Sofia.
"Ya aku bisa nona.."
"Aku juga bisa.."
"Bagus kalau begitu, aku akan menjadi pengalih perhatian dan kalian saling melepaskan ikatan.." ucap Sofia.
"Tapi tunggu penjaga itu pergi.." balas Sofia karena didepannya.
Mereka pun mengangguk mengerti, sementara penjaga tak mengerti bahasa mereka dan hanya diam saja karena suaranya juga sangat pelan.
Malam pun tiba, penjaga tak pergi juga. Mereka pun hanya diberi makan buah-buahan. Kemudian Sofia bertanya pada penjaga.
"Kalau tangan kami terikat bagaimana kami akan makan?" tanya Sofia dengan bahasa mereka.
"Dasar merepotkan.." ucapnya lalu tetap diam ditempat.
"Mereka sungguh bodoh.." ucap Sofia pada rekannya.
Kini mereka pun mencoba saling menyuapi satu sama lain, walaupun sangat sulit. Akhirnya setelah seharian disekap mereka bisa makan. Ya mereka harus tetap makan agar punya energi untuk kabur dari sana.
Malam harinya, tuan Ren dan anaknya pun bernegosiasi tentang 7 tawanan mereka.
"Ayah, aku ingin gadis itu.. ayo nikahkan kami.." ucapnya.
"Sabar Red.. kau itu tak tahu apa-apa jika salah langkah desa bisa hancur.." ucap ayahnya.
Kemudian tuan Ren pun meminta saran dari tetua adat mereka tentang hukuman mereka. Mendengar permintaan Red pun tetua adat menimbang-nimbang lalu mereka memilih mengunjungi gubuk mereka. Nampak mereka yg tengah tertidur, lalu dilihatnya gadis bernama Sofia.
"Dia memang cantik Ren.. aku setuju.. " ucap salah seorang.
Lalu mereka pun bernegosiasi dan akhirnya menyetujui permintaan tuan Red.
"Kami setuju, gadis itu sangat cantik.. dan jika melawan kita habisi saja teman-temannya agar dia tak menolak.."
"Baiklah jika kalian setuju.." balas tuan Ren.
__ADS_1
Kini Red pun tersenyum puas mendengar semua orang telah setuju bahkan ayahnya.
"Akhirnya gadis itu jadi milikku besok.." gumamnya dalam hati.