Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
10.Pagi pertama


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


..._________...


Pagi menjelang, suara adzan bersahut-sahutan membangunkan sebagian orang yang tertidur pulas, orang-orang yang bangun karena mengingat kewajiban atas dirinya untuk sang Pencipta.


Arini merenggangkan kedua tangannya, dia bangun dari kasur yang tak lebar dan hanya muat untuk dirinya saja, seandainya berdua itu pasti akan sangat menyiksa yang menempatinya. Arini beranjak, dia berjalan pergi ke kamar mandi yang ada di belakang sebelah dapur, rumah masih sangat sepi mungkin nenek dan kakeknya belum bangun.


Arini masuk ke kamar mandi yang sederhana itu, dia mandi dan membersihkan semua tubuh dari keringat yang sudah lengket maklum di sana sama sekali tak ada kipas angin apalagi AC. Tapi itu tak membuat Arini mengeluh dia malah semakin bersyukur.


Ini adalah pagi pertama Arini berada di rumah neneknya, namun dia tetap tak mengubah kebiasaannya, dia selalu bangun pagi menjalankan sholat setelah itu dia akan membuat sarapan dan setelah itu dia akan membersihkan rumah.


Matahari yang mulai naik ke permukaan mulai terasa menghangatkan Arini yang sedang membuat sarapan di dapur, jendela yang tepat mengarah ke arah matahari terbit itu membuat sinarnya langsung masuk dengan mudah, apalagi Arini juga sudah membuka korden bergambar bunga-bunga kecil itu.


Tak berapa lama menu sarapan sudah ada di atas meja, nasi goreng biasa dan juga telur ceplok saja. Setelah dua menu itu siap Arini mengetuk pintu kamar sang nenek untuk mengajaknya sarapan.


𝘛𝘰𝘬...𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬..


"Nek, Kek, sarapan yuk. " ucap Arini.


Tak lama pintu terbuka, Arini tersenyum melihat neneknya yang sudah keluar. Arini berjinjit melihat dalam kamar mencari kakeknya.


"Nek, kakek nggak ikut sarapan juga?. " Arini beralih menatap neneknya yang tadi juga sempat ikut menoleh melihat dalam.


"Bentar lagi kakek mu keluar, dia belum selesai berdoa. " jawab nenek.


"Kok belum selesai berdoa? Kan sholat subuh sudah lewat jauh, Nek. Apa kakek dan nenek kesiangan? Kalau begitu besok Arini bangunin ya. " ucap Arini begitu antusias.


Murni menarik senyumnya, tangannya terangkat untuk membelai dengan gemas pipi Arini yang begitu menggemaskan. Murni juga mencubit kecil sehingga membuat wajah Arini berkedut, mulut manyun dan mata menyipit.


"Nenek, nanti Arini tambah tembem kalau di cubit pipinya. " protes Arini manja.


Murni tertawa, tembem dari sisi mananya? Bahkan pipi Arini terlihat rata karena saking kurusnya hanya sangat pipinya menggembung saja baru akan terlihat tembem dan semakin menggemaskan.


"Kakek dan Nenek sudah bangun sebelum kamu bangun, Arini. Dan seperti biasa kakek akan berdzikir setelah subuh hingga waktu dhuha tiba. Setelah itu kakek akan dhuha dan berdoa. " ucap Murni menjelaskan.

__ADS_1


Wajah Arini berbinar, rona bahagia muncul seketika, akhirnya di dalam rumah tinggalnya yang baru ini semua penghuninya taat akan agama meskipun rumahnya tidak bagus dan juga tidak besar namun akan terasa sangat adem saat ada ayat-ayat Al-Qur'an yang di baca di dalam rumah.


"Aku ingin bisa seperti kakek dan nenek, tapi kalau aku juga ikutan seperti itu siapa yang akan masak untuk sarapan? Siapa yang akan membersihkan rumah. " ucap Arini.


"Terserah kamu saja, nenek dan kakek tidak akan memaksamu. "


"Oh iya, Nek. Besok Arini akan cari kerja. Arini ingin bisa menghasilkan uang dan membantu kakek dan nenek, boleh kan Nek?." tanya Arini yang penuh harap keinginan nya akan di penuhi oleh Murni. Arini ingin sekali bisa merasakan bagaimana rasanya punya uang sendiri dan bisa belajar mengelolanya sendiri, itu pasti akan sangat susah tapi Arini harus belajar kan.


Murni berjalan lebih dahulu ke tempat makan, dia duduk menunggu suaminya keluar dan mereka bisa sarapan bersama. Murni menatap Arini yang masih berdiri di tempat semula namun sudah membalikkan badannya ke arah Murni.


"Emangnya kamu mau kerja apa, Arini?. " tanya Murni.


"Kerja apapun, Nek. Yang penting yang halal jadi akan membuat semuanya menjadi berkah." jawab Arini dan langsung menyusul duduk di dekat sang neneknya.


"Ya sudah terserah kamu saja, asalkan kamu bahagia nenek dan kakek pasti akan selalu mendukungmu. "


Wajah Arini begitu berbinar keinginannya di izinkan oleh Murni, meskipun belum jelas dia akan bekerja di mana sebagai apa namun dia sudah sangat bahagia. Jika ada kemauan Allah pasti akan memberikan jalan yang tepat dan yang terbaik.


Sebenarnya Murni sangat khawatir, ini adalah pertama kalinya Arini datang ke kota dia belum tau betapa kerasnya menghadapi persaingan hidup di kota yang sangat besar ini.begitu banyak orang yang selalu memanfaatkan orang, apalagi orang yang polos dan tak begitu banyak ilmu dan pengalaman seperti Arini.


"Tapi ingat Arini, dimana pun kamu bekerja nanti kamu harus hati-hati jangan mudah percaya pada orang lain. Di kota ini tidak seperti di desa. " ucap Murni.


"Emang orang kota itu seperti apa, Nek? Aku yakin orang kota tidak buruk dari orang desa. Semua orang desa tempat tinggal Arini dulu semua... " ucapan Arini terhenti raut wajahnya berubah menjadi sendu karena mengingat semua perlakuan orang-orang desanya kepada dirinya, hatinya masih begitu sakit.


"Sudah sudah, tetaplah semangat. Tuh kakek sudah datang sebaiknya kita sarapan. " ucap Murni mengalihkan pembicaraannya.


"Wah wah... Kayaknya enak nih. " makanan yang di masak Arini terlihat begitu enak menjadikan kakeknya menjadi semangat untuk sarapan.


"Pasti dong, Kek. Kan Arini yang masak. " ucapnya dengan bangga.


"Hem.. Iya iya. Kakek percaya, masakan cucu kakek ini pasti sangat enak. " Kakek mengacak puncak kepala Arini dan membuat hijabnya berantakan, bukankah protes Arini hanya tersenyum dan langsung membenarkan lagi setelah tangan kakek terlepas.


_____


Arya begitu fokus dengan pekerjaannya, semua berkas yang menanti tanda tangannya begitu banyak dan menumpuk di depannya. Satu persatu dia ambil, membacanya dan setelah itu akan langsung mendapatkan tanda tangan mahalnya.

__ADS_1


Tanda tangan yang begitu indah, seandainya dia seorang artis pasti akan sangat laku keras namun sayangnya dia bukan seorang artis.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Toni masuk kedalam ruangannya, dia lupa kalau apa yang dia lakukan ini pasti akan mengakibatkan dampak yang buruk baginya.


"Tuan.. " panggilnya.


"Hem." Arya hanya berdehem, namun wajahnya mulai tumbuh kekesalan karena pekerjaannya di ganggu apalagi Toni masuk nyelonong begitu saja tanpa permisi. "apa mulutmu sudah tidak bisa digunakan lagi? " tanya Arya begitu dingin.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶. "


"Ma- maaf Tuan, saya lupa. " Toni begitu menyesali akan dirinya yang begitu pelupa ini.


"Apa kamu sudah bosan di sini? Kalau begitu kemasi barang-barang mu dan pergilah di kantor cabang. " ucap Arya mengusir secara halus pada Toni. Meskipun masih tetap bekerja dengan Arya di kantor cabang namun pastinya dia akan turun jabatan. Bukan itu saja namun tempatnya yang berada di pelosok dan jauh dari pemukiman itu pasti akan sangat mengerikan.


"Maaf, tuan. Saya mengaku salah, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. "


"Baguslah kalau kamu sadar. " Arya terus berbicara namun sama sekali dia tidak melihat Toni yang gemetar ketakutan karena ancaman Arya untuk mengusirnya ke kantor cabang.


"Tuan, saya hanya mau memberitahu kalau nanti ada meeting dengan pemilik perusahaan XX untuk kerja sama pengembangan perusahaan. " ucap Toni.


Kali ini Arya menghentikan pekerjaannya, menatap Toni dengan tajam dan laki-laki yang seumuran dengannya itu langsung menunduk takut dengan menyatukan kedua tangannya di depan tubuhnya.


"Apa hanya karena itu kau datang kesini? Apa telfon yang ada di ruangan mu telah mati? Sepertinya kamu benar-benar ingin pergi ke kantor cabang, Ton." kesal Arya.


Haduh, Toni begitu ketakutan sekarang kenapa dia selalu saja melakukan kebodohan dan melupakan seperti apa tuannya ini, sifatnya sangat menakutkan, untung hanya di pindah di pelosok kalau sampai di pecat bagaimana dengan nasibnya.


"Masih menyala, Tuan. " jawab Toni.


"Keluarlah, kau mengganggu waktu ku. "


"I- iya Tuan. " Toni menunduk dan langsung keluar dari sana. Kalau tidak mungkin dia akan benar-benar di kirim ke pelosok bumi.


"Dasar pengacau, apa dia nggak tau apa pekerjaanku yang menumpuk ini. " Arya menggeleng kasar tak habis pikir dengan asisten nya itu.


___

__ADS_1


Bersambung...


_________________


__ADS_2