
Happy Reading..
Mobil Melisa terus berjalan, mencari keberadaan Fara yang sampai kini belum juga dia temukan. Sesekali Melisa berhenti, memastikan apakah ada Fara atau tidak tapi dia tetap belum menemukannya.
Sudah dari kemarin dia mencari, sampai hari telah berganti pun dia juga belum tau dimana adiknya saat ini. Bukan Fara yang dia khawatirkan, melainkan keadaan bayi yang di kandung olehnya.
"Fara, kamu di mana. Kalau sampai anakmu kenapa-napa hancur semua yang sudah aku rencanakan. Mana sampai sekarang keluarga Tuan Arya belum juga bertanggung jawab lagi," ucapnya yang begitu frustasi.
Sekali lagi Melisa menoleh, memastikan di antara keramaian hari yang hampir berubah menjadi malam. Tak dapat Melisa lihat hingga akhirnya dia kembali menjalankan mobilnya.
*Ckittt*....
Cepat kaki menginjak pedal rem saat ada orang laki-laki yang tengah melintas di depan mobilnya. Melisa begitu terkejut, untung saja remnya berfungsi dengan baik kalau tidak mungkin pria tampan itu sudah tertabrak.
Melisa membuka jendelanya, menyembulkan kepalanya dan melihat pria itu yang masih mematung dalam memandangi mobil yang hampir membuatnya celaka.
"Heyy! kalau jalan lihat-lihat dong! apa mau mati?" sungut Melisa marah.
Seharusnya dia berteriak atau keluar untuk minta maaf tapi itu tidak dia lakukan dan kini malah berteriak menyalahkan. Memang sungguh terlalu si Melisa.
Pria itu terlihat sangat kesal, dia yang hampir di tabrak kenapa malah dia yang di salahkah.
Pria itu berjalan mendekat, masuk begitu saja di kursi penumpang di sebelah Melisa.
"Ehh...! apa yang kamu lakukan! turun nggak, turun!" Melisa terlihat sangat kesal, tangannya terus mendorong sang pria tapi sama sekali tak bisa membuatnya bergerak untuk pergi.
"Jalan," perintahnya.
"Siapa loh berani nyuruh-nyuruh, keluar nggak! keluar saya bilang!" Melisa semakin kesal.
"Jalan! atau kamu yang keluar sekarang," ancamnya begitu tegas dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
Melisa takut setelah mendapat bentakan juga melihat sorot matanya yang begitu tajam itu. Apalagi dia yang seperti preman.
"Jalan!" sentak nya lagi.
"I-iya..." Melisa begitu gugup, dia sangat takut.
Mobil perlahan mulai berjalan bersamaan Melisa yang masih terus gemetar. Melisa tak lagi berani menoleh lagi, dan hanya nurut saja apa yang dia perintahkan.
Setelah lama dalam perjalanan, pria itu meminta Melisa untuk berhenti di salah satu rumah. Tempatnya sangat sepi bahkan tanpa seperti desa mati.
__ADS_1
"Turun!" lagi-lagi dia membentak, membuat Melisa terkejut.
"Ti-tidak, saya tidak mau. Kamu pasti orang jahat kan! saya tidak mau!"
Tak mendengar ocehan Melisa kini orang itu keluar lebih dulu, membuka pintu sebelah Melisa dengan paksa.
"Turun!" cepat dia menyeret Melisa.
Tentu saja Melisa tidak tinggal diam dia terus berontak dan melakukan berbagai cara untuk bisa terlepas, tetapi usahanya selalu saja gagal.
"Masuk!" tak ada kelembutan darinya, hanya terus dengan suara yang sangat kasar. Caranya membawa Melisa pun juga begitu kasar.
"Tidak, saya tidak mau. Tolong... tolong..." teriak Melisa. bukannya takut pria itu malah menyungging begitu sinis. Dia juga membiarkan Melisa berteriak semaunya sendiri karena tak akan mungkin juga ada orang yang akan menolongnya.
*Brukk*...
Melisa jatuh di lantai saat pria itu mendorongnya dengan begitu kasar. Melisa mengadu sakit tapi itu tak lama, dia mengangkat wajahnya dan dia di buat terkejut karena melihat orang-orang yang sangat dia kenal ada di sana.
Toni, Bi Ani, Fara, juga seorang dokter perempuan dan tentunya juga Arya yang kini duduk dengan santai di kursi kayu.
"Tu-tuan Arya...," Melisa tergagap.
Orang tadi kembali mendekati Melisa, mendorong tubuh melisa hingga dia terlentang. Dan saat itu seorang dokter langsung memeriksanya dan itu tepat berada di depan Arya juga semuanya.
"Hey... apa yang akan kamu lakukan! lepasin! lepasin!" teriak Melisa.
Mungkin ini adalah cara yang paling tersadis yang Arya lakukan. Tapi dia sudah mempertimbangkan semua kalau ini adalah cara yang paling efektif untuk mengetahui apakah benar Melisa hamil atau tidak.
Dokter itu hanya meraba perut Melisa saja, tapi setelah beberapa saat dia kembali berdiri dia menggeleng ke arah Arya. Dan Melisa kembali dilepaskan.
"Apa tujuanmu, kamu berbohong kepadaku, kepada semua orang dan mengatakan kalau kamu hamil. Dan sekarang, heh.. kamu terbukti tidak hamil."
"Sa-saya benar-benar hamil, Tuan. Saya sedang hamil anak Tuan!" Melisa masih tak mau mengakuinya, dia tetap kekeh.
"Fara, bi Ani! kenapa kalian di sini. Jangan bilang kalian..."
"Kak, mengaku saja Kak. Sebenarnya kakak tidak hamil kan? Kakak hanya berbohong kan?" ucap Fara.
"Omong kosong! aku hamil, aku hamil!"
"Semua bukti sudah ada, Melisa. Kamu mau mengelak bagaimana lagi. Dan ya, saya masih punya satu bukti lagi," ucap Arya dengan dingin, "bawa dia kesini!" imbuhnya dengan suara keras.
__ADS_1
Melisa terlihat bingung, siapa yang harus di bawa ke sana?
Pria yang tadi masuk ke salah satu ruangan tak berapa lama dia kembali keluar dengan membawa seorang pria yang sudah babak belur. Mungkin dia telah di hajar.
"Bukankah kamu mengenalnya, Me-li-sa.."
"*Sial, kenapa dia harus tertangkap sih! bukannya aku sudah membayar mahal, ahh.... dasar tidak berguna*!" Batin Melisa.
Pria yang telah Melisa bayar untuk mendorong Arini dulu hingga masuk ke kolam dan hampir tenggelam. Juga pria yang sama yang mengantarkan teh ke kamar Arya yang ternyata di kasih obat tidur.
"Sa-saya tidak mengenal, Tuan," elak Melisa.
"Bohong, Tuan! dialah orangnya! dia yang menyuruh saya untuk mendorong gadis berhijab itu dan memberikan teh pada tuan yang sudah di beri obat tidur olehnya!" seru pria itu. Dia sangat yakin dia masih sangat mengenal Melisa.
"Sekarang akui kesalahanmu, atau mungkin kamu mau mengakuinya di kantor polisi?" ucap Arya.
Melisa terdiam, dia juga takut mendengar nama kantor polisi.
Lama menunggu membuat Arya semakin kesal. Matanya kembali melotot.
"Bawa dia ke kantor polisi! dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," ucap Arya lagi.
"Baik, Tuan."
Pria tadi kembali mendekat, dia sudah siap untuk membawa Melisa.
"Oke, saya mengakuinya! saya telah berbohong! saya menjebak Tuan karena saya menyukai tuan!" seru Melisa mengakui.
Dia sangat ingin menjadi nyonya Gautama, tapi dia juga sangat takut kalau akhirnya dia akan masuk ke dalam penjara.
Sudut bibir Arya terangkat. Dia sangat puas karena akhirnya masalah ini sudah beres. Langkah dia akan semakin mudah untuk bisa menjadikan Arini miliknya seutuhnya.
"Bawa dia," ucapnya lagi dengan tegas.
"Tuan, saya mau di bawa kemana?!" Teriak Melisa saat dia di seret oleh pria yang tadi.
"Pertanggung jawabkan kesalahanmu, Melisa. Dan ya, mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi di perusahaan saya. Kamu sudah bebas sekarang," ucapnya.
"Tidak, tidak!"
Bersambung.....
__ADS_1