Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
274.Usai Pernikahan


__ADS_3

Happy Reading....


Acara yang sudah tersusun rapi juga sudah terlaksana semuanya. Tak ada satupun yang tertinggal, membuat kedua mempelai kini merasakan sangat kelelahan setelah malam hari.


Dari pagi sampai siang dan berlangsung malam hari terus saja ada acara dan setelah jam sepuluh malam baru semuanya telah berakhir.


Toni juga Nisa baru saja masuk ke dalam kamar dengan beriringan. Nisa masuk lebih dulu sementara Toni ada di belakangnya.


Benar-benar gugup Nisa saat ini, tak pernah ada laki-laki yang masuk ke dalam kamarnya dan sekarang ada laki-laki yang masuk, yaitu Toni suaminya sendiri.


Kamar memang tak seperti kamar pada umumnya, tak ada hal yang spesial karena tak ada hiasan apapun selayaknya kamar pengantin baru pada umumnya yang berada di kota. Hanya saja kamar terlihat sangat rapi juga tercium aroma ruangan yang membuatnya nyaman.


Meski dari pagi Toni sudah sah menjadi suaminya tapi bari kali ini dia berhasil masuk. Tadi untuk ganti baju dan juga yang lain ada kamar yang lain. Bukan kamar yang sekarang.


"A_apa Tuan mau langsung istirahat atau mau makan lebih dulu atau mau...?" Nisa begitu gugup bahkan dia berbicara tak berani menoleh ke arah Toni.


"Saya mau bersih-bersih dulu, gerah." jawab Toni.


Toni pun sebenarnya juga sangat gugup, tapi dia lebih bisa menyesuaikan diri lebih cepat daripada Nisa.


Nisa mengangguk, dia bergegas melangkah menuju lemari.


"Biar saya ambilkan handuknya, Tuan." ucapnya.


Baru saja beberapa langkah tangan Nisa sudah di tarik oleh Toni membuat sang empu semakin tak karuan. Perlahan Toni menariknya tapi dia juga melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka.


"Tu_Tuan," Nisa menunduk. Jantungnya semakin tak menentu, bekerja lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa kamu menunduk terus, apakah aku tidak boleh melihat wajahmu?" ucap Toni.


"Hah!" Nisa tersentak, dia langsung mengangkat wajahnya dengan ragu namun akhirnya tetap berhasil netra mereka saling bertemu.


Begitu bulat kedua pasang mata yang saling melihat. Rasa gugup semakin besar dari mereka, hawa dingin seketika berubah perlahan menjadi panas dan membuat gerah.


^^^"Apakah secepat ini Tuan Toni meminta hak nya? apakah aku harus memberikannya sekarang juga?" batin Nisa. ^^^


tangan Nisa langsung terasa panas dingin sampai-sampai keringat yang keluar langsung di rasakan oleh Toni. Toni tersenyum, dia tau istrinya ini gugup sekarang.


Toni mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan dekat. Nisa semakin tak karuan, ingin sekali dia lari, bersembunyi dari Toni supaya detak jantungnya tak dapat dia dengar.


Nisa menutup mata saat wajah Toni tepat berada di depan wajahnya, hanya tinggal beberapa senti saja jarak mereka, bahkan hidung mereka hanya tinggal beberapa helai rambut saja. Mereka sudah sangat dekat.


"Tuan Toni mau ngapain? Benar dia akan melakukannya sekarang?" batin Nisa lagi.


Senyum Toni semakin manis lucu sekali melihat wajah Nisa yang sangat gugup seperti sekarang ini.


Iseng Toni meniup mata Nisa bergantian, melihat setiap inci wajah yang sangat mulus tanpa ada satu titik daja noda hitam di sana. Nisa sangat pintar merawat wajahnya sendiri.


Puas melihat bagaimana wajah Nisa Toni mendaratkan dua kecupan di kedua matanya dan itu cukup membuat Nisa tegang bukan main. Tapi terasa darahnya berdesir panas setelah itu.


Cup... Cup...


Toni kembali tersenyum lalu beralih ke sisi sebelah kanan wajah Nisa. Meninggalkan bisikan di sana.


"Aku hanya mau bilang, aku sekarang adalah suamimu. Jadi jangan panggil tuan. Panggil Mas, atau yang lain. Oke," bisik Toni. begitu lembut.


"Hah!" Nisa tersentak lalu dia membuka matanya. Dia menoleh dan Cup..., Toni berhasil mengecup pipinya karena pergerakan Nisa sendiri.

__ADS_1


"Terimakasih bonusnya." Toni tersenyum, dia melepaskan tangan Nisa dan cepat berlalu meninggalkan Nisa yang masih terdiam, diam tanpa kata.


Nisa terpaku, matanya tak berkedip dalam rasa yang gak biasa. Toni benar-benar berhasil membuatnya ingin jantungan. Apakah Nisa akan kuat jika seperti ini terus.


"Astaga, apa yang aku pikirkan. Ternyata dia hanya mau mengatakan itu."


Wajah Nisa memerah, dia benar-benar di buat salah tingkah dan salah sangka oleh Toni.


"Sadar Nisa, sadar." Nisa berusaha keras untuk membuatnya kembali normal sepanjang ini. Dia tak mau sampai Toni masih melihatnya seperti ini saat dia keluar dari kamar mandi.


"Lah, aku kan mau ambil handuk. Lah dia sudah masuk, bagaimana ini?" Nisa berlari ke lemari mengambil handuk dan ingin memberikannya kepada Toni.


Tok tok tok...


"Tu_Tuan.. Eh.. Mas..." akhirnya berubah juga panggilan untuk Toni dari Nisa. Sekarang sudah berganti menjadi Mas.


"M_Mas. Ini handuknya." suara Nisa terdengar gemetar.


"Sebentar," Nisa terus menunggu, di depan pintu.


Tak lama menunggu pintu perlahan terbuka, tak terlihat Toni keluar yang ada hanya tangannya saja yang nampak.


"Mana handuknya," pinta Toni.


Dengan tangan gemetar Nisa menyerahkan handuknya tapi dia juga memunggungi Toni.


"Terima kasih," ucap Toni setelah berhasil mengambil handuk dari tangan Nisa. Toni semakin tersenyum melihat Nisa yang tak kunjung memperlihatkan dirinya, "apa kamu tidak mau mandi sekalian?" goda Toni dengan sengaja.


"Hah!" tentu mata Nisa langsung terbelalak, mana mungkin dia akan mandi bersama Toni sekarang ini? "ti_tidak," Nisa semakin gugup saja sekarang.


"Ya sudah," pintu langsung tertutup setelah mendengar jawaban dari Nisa yang menolak akan ajakan Toni untuk ikut mandi sekalian. Sebenarnya Toni hanya menggoda Nisa saja dia ingin tahu jawaban apa yang akan dia dapat dan seperti apa ekspresi dari Nisa, dan sekarang dia sangat puas melihat Nisa semakin gugup.


Nisa begitu bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Kini dia hanya terus mondar-mandir tak jelas sembari ke sepuluh jari sangat bertautan satu sama lain.


Tak lama Toni keluar, dia kembali tersenyum melihat Nisa sekarang. Dia masih saja mondar-mandir bingung.


"Nisa, di mana bajuku?" tanya Toni. Tadi bu Sulasmi mengatakan kalau semua baju-bajunya sudah dipindah ke kamar Nisa karena dia tidak tahu maka dia langsung bertanya kepada sang pemilik kamar.


"Baju?" Nisa cepat menoleh karena panggilan dari Toni dan ucapan yang meminta bajunya. Nisa melupakan kalau dia belum menyiapkan baju Toni dan kini masih di lemari.


Betapa terkejutnya Nisa setelah melihat keadaan Toni sekarang pria yang menjadi suaminya itu hanya melilitkan handuk saja di perut dan sebatas lutut tentunya tubuh bagian atas akan sangat terlihat bagaimana rupanya.


Nisa reflek menutup mata dengan kedua tangan dia sangat malu karena telah melihat suaminya yang tidak memakai baju. Melihat itu membuat Toni semakin gemas dia malah berjalan mendekat ke arah Nisa.


Rasa dingin dari tangan Toni sangat dirasakan oleh tangan Nisa yang telah disentuh. Perlahan tangannya dijauhkan dari wajah namun Nisa masih enggan untuk membuka mata.


Sungguh lucu sekali wajah Nisa sekarang benar-benar sangat imut membuat Toni langsung mencubit pipinya.


"Menggemaskan," ucapnya setelah tangan berhasil mencubit pelan pipi istrinya yang sudah merona.


"Apa kamu akan terus menutup mata seperti itu dan membiarkan aku kedinginan dan besok masuk angin?" tanya Toni dengan sangat lembut.


Tentu itu tidak akan dibiarkan oleh Nisa meski dia gugup tapi dia tidak boleh mengabaikan kewajibannya sebagai istri dia langsung membuka mata pelan namun mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.


"Ma_maaf," Nisa Ingin secepatnya pergi dari hadapan Toni tetapi Toni tidak membiarkan itu dan malah menuntun bisa untuk duduk di ranjangnya.


Nisa hanya pasrah, tentu dia sangat tahu kewajiban apa sebagai istri. Mungkin saja Toni akan meminta haknya malam ini juga dan Nisa sebagai seorang istri tidak bisa menolaknya karena dia juga dalam keadaan suci dan tidak berhadas besar.

__ADS_1


Nisa terdiam saat tangan dingin milik Toni menyentuh wajahnya. Nisa hanya bisa menunduk, dia sangat malu, dia juga sangat gugup.


Satu persatu Toni mulai meloloskan aksesoris yang ada di kepala Nisa hingga akhirnya semua berhasil lolos begitu juga dengan hijab putih yang membungkus rambutnya yang begitu hitam pekat.


Toni berdiri mengambil kotak di atas meja rias dan memasukkan semua jarum di kotak itu lalu dia melepaskan ikatan rambut milik Nisa hingga membuat rambutnya tergerai indah dan menutupi punggungnya.


Toni kembali duduk dan kini dia melihat kecantikan istrinya yang sesungguhnya kecantikan yang dia sembunyikan dari semua orang dan hanya dia semata yang bisa melihatnya.


"Kamu sangat cantik," puji Toni. Tentu berhasil membuat Nisa malu.


"Apakah kamu lelah?" tanya Toni.


"Hah!" kini Nisa mengangkat wajahnya. Tentu Nisa sangat lelah, hampir seharian dia di pajang di panggung dalam acara resepsi, dan itu belum cukup karena bertambah malam hari juga.


"Ambilkan bajuku, lalu kita istirahat." ucap Toni.


Toni sangat tau apa yang Nisa pikirkan, istrinya itu pastilah belum siap, mereka juga baru saja menikah dan terbilang sangat singkat.


Tidak harus sekarang untuk melakukan malam pertama, bisa besok atau saat Nisa benar-benar siap.


"I_iya," Nisa beranjak, dia langsung menuju lemari mengambil baju yang di perlukan oleh Toni.


"I_ini, Mas," Nisa menyerahkan semuanya dan Toni kembali masuk ke kamar mandi.


Lemas rasanya. Nisa pikir Toni akan meminta haknya malam ini juga tapi ternyata tidak. Meski Nisa akan memberikannya jika Toni memintanya tapi kali ini dia benar-benar sangat lelah.


Nisa berjalan memutar, naik ke ranjang dan langsung menyelimuti dirinya. untung baju yang sekarang tidak seperti saat pagi dan siang, yang ini hanya seperti gamis biasa namun terlihat glamor saja. Nisa tidak langsung merebahkan diri, dia hanya duduk.


Tak lama Toni keluar dan sudah lengkap dengan semua pakaian yang dia pakai. Toni tersenyum melihat Nisa. Toni langsung menyusulnya dan menempatkan diri di sebelah Nisa.


"Kamu tidak mandi?"


"Dingin, nggak berani." jawab Nisa.


"Ya sudah, kalau dingin nggak usah di paksakan. Takut masuk angin. Sekarang tidurlah, ini sudah malam." pinta Toni dengan sangat lembut.


Toni perlahan menyelimuti Nisa yang sudah nurut, lalu dia ikut merebahkan diri di sebelahnya.


"Apakah aku boleh memelukmu?" tanya Toni.


"Hah!" Nisa yang tidur menghadap langit-langit langsung menoleh.


Belum juga mendapat jawaban Toni sudah mendekat dan seketika memeluk Nisa.


"Beginikah rasanya memiliki istri, tidur ada yang nemenin dan ada yang dipeluk. Memang ada guling yang biasa bisa di peluk, tapi guling kan dingin, nggak bisa di apa-apain juga. Kalau istri? Maaf Nisa, aku belum bisa meminta hak sekarang, aku sangat lelah, dua hari aku tak bisa tidur. Aku lihat kamu juga sangat lelah, kita bisa lakukan lain hari. Semoga kamu bisa memahami," batin Toni.


Mungkin setelah ini dia akan bisa tidur karena dia sudah sangat lega. Menghadapi persiapan pernikahan memang sangat ngeri. Hatinya terus gelisah, tak bisa tidur makan pun rasanya juga tidak enak.


"Bismillahirrahmanirrahim..."


Cup...


"Tidur, Nisa. Kalau tidak, aku bisa melakukan sesuatu padamu sekarang." ucap Toni setelah mendaratkan kecupan singkat di pipi.


"Hah! I_Iya," cepat Nisa memejamkan matanya meskipun jantung dan hatinya terus saja bekerja tak seperti biasa. Kerja dari dua organ itu pasti sangat di rasakan oleh tangan Toni yang memeluknya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2