
Happy Reading...
Arini semakin keenakan, dia terus mengeluarkan suara aneh tapi itu semakin membuat Arya semakin bersemangat.
"Massss..." Arini benar-benar sudah merinding karena Arya.
Tangan Arya juga sudah membuka kancing depan gamis Arini dan mulai berganti menikmati tempat itu dengan keadaan yang masih berdiri.
Dua bukit kembar menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan untuk mata Arya hingga akhirnya membuat dia memilih untuk memanjat nya hingga mencapai puncak.
Saling cumbu, saling menikmati hingga akhirnya Arya sudah tak sabar. Arya langsung menggendong Arini menurunkannya di sofa.
Arini hanya diam namun pipinya terlihat merah, merasa panas karena sangat malu. Dia tak mengerti kenapa dia berkali-kali mengeluarkan suara yang sangat aneh, dia tak bisa mengontrolnya meski dia terus berusaha.
Setelah berada di sofa Arya mulai menjelajahi semua inci yang ada di tubuh Arini, menanggalkan semua pakaian yang menghalanginya, yang ada pada Arini sampai tak bersisa.
Bukan hanya milik Arini saja yang dia lepaskan tapi miliknya juga. Arya ataupun Arini sama-sama tak memakai apapun sekarang dan siap untuk bertempur untuk memenuhi janji yang Arya buat di ruangan itu.
"Mas," Tangan Arini mencoba menutupi area sensitifnya dia sangat malu.
Rupanya Arya tak mengizinkan itu, tangannya langsung di singkirkan oleh Arya. Tangan Arya begitu nakal dan malah bergerak dan menari-nari di perahu milik Arini. Menyentuh bahkan memastikan sendiri lembah itu sudah basah atau belum dan ternyata sudah kuyup karena gelombang yang sudah berhasil keluar.
"Kita mulai sekarang," ucap Arya. Arini hanya bisa mengangguk pelan dia sudah pasrah karena dia sendiri juga menginginkan hal yang lebih setelah Arya mulai menyentuhnya. Sungguh aneh, Arini selalu merasa malu tapi dia menginginkannya.
Penyatuan cinta sebagai pembayaran sebuah janji. Meskipun hanya karena janji tapi keduanya tetap menikmati dan saling menyalurkan cinta mereka.
~~~~///|\\\~~~
"Astaga, ini apa-apaan juga sih Mama ini. Masak iya aku seorang laki-laki harus mengantarkan bekal kayak begini pada seorang perempuan. Kok nggak banget gitu ya."
Dimas terus menggerutu dia sangat kesal karena Nilam memerintahkan dia untuk mengantarkan bekal kepada Raisa. Sangat tidak cocok kan? Tapi Dimas tidak bisa menolaknya, bisa-bisa dia kena omel kalau menolaknya.
Dengan rantang berwarna hijau Dimas keluar dari rumah sakit. Ini hampir masuk makan siang tapi dia baru akan berangkat menuju perusahaan Gautama untuk menemui Raisa.
"Dasar merepotkan," gerutunya yang tak ada henti-hentinya.
Dimas masuk kedalam mobilnya, mulai menjalankannya dengan pelan dan setelah sampai di jalan raya baru dia melajukan dengan cepat.
Sementara di perusahaan Gautama Raisa tengah bersiap-siap untuk istirahat. Jam istirahat sudah mulai tapi dia masih berada di lantai 49.
"Hem..., sekarang hidup Arini pasti sangat enak ya, dia menjadi nyonya besar."
Raisa menyandarkan punggungnya di pantry, melamun dengan memikirkan Arini yang pasti hidup dengan enak sekarang. Tak perlu seperti dirinya bekerja sampai lelah demi mendapatkan sebuah gaji untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Nasib orang memang tak ada yang tau. Awalnya menderita lalu akhirnya dia akan bahagia. Ada yang bahagia dari lahir bahkan sampai tua. Ada yang bahagia lalu menderita tapi yang lebih parah adalah yang menderita semenjak lahir hingga sampai dia mati itu sangat mengerikan."
__ADS_1
Raisa kembali berdiri tegak, dia mulai berjalan dan menaruh gelas yang tadi dia pegang sebelumnya. Hanya gelas satu nanti juga bisa dia cuci tapi sekarang perutnya sangat lapar.
Raisa beralih memegangi perutnya yang sangat lapar, "lebih baik aku istirahat dulu dan makan. Aku tidak akan kenyang hanya karena memikirkan nasib Arini yang sangat beruntung.
Memutuskan untuk istirahat dan makan adalah hal yang benar daripada Raisa hanya melamun saja.
Langkahnya menuju lift Raisa bergegas pergi ke kantin di lantai paling dasar.
Tak lama berada di dalam lift Raisa keluar dari sana, dia melangkah semakin cepat karena perutnya juga sudah keroncongan.
"Hey cerewet!" Raisa cepat menoleh saat ada suara yang sangat tak asing terdengar di telinganya.
Raisa menatap malas siapa yang datang menemuinya bahkan memanggilnya dengan sebutan cerewet.
Laki-laki itu cepat menghampiri Raisa tapi Raisa malah acuh, di mengabaikan dan berlalu begitu saja menuju kantin.
"Heyy, Cerewet! Ihh.. dasar cewek nyebelin!" Dimas tetap melangkah dan mengejar Raisa yang seolah tak peduli.
Iyalah Raisa tak peduli dengan Dimas karena dia juga merasa bahwa Dimas sangat nyebelin juga. Daripada ngeladenin Dimas mending makan kan?
Raisa duduk di bangku yang paling pojok menunggu dengan manis pelayan yang akan datang untuk menanyakan pesanannya.
"Mbak Raisa pesan seperti biasa?" tanya pelayan yang datang.
"I..."
"Tidak! air putih saja, dua," ucap Dimas menyela perkataan Raisa.
Raisa melotot tak suka, kenapa pria di hadapannya ini selalu saja aneh, sifatnya selalu berubah-ubah. Kadang manis, kadang jutek, kadang dingin bin menyebalkan dan kadang juga sangat perhatian.
"Tidak, aku pesan seperti biasa," ucap Raisa lagi.
"Tidak, hanya dua air putih." Dimas tak mau kalah.
"Ihh..., aku lapar, aku mau makan," Raisa terlihat bersungut-sungut, dia sangat kesal dengan Dimas.
"Kamu nggak lihat, aku bawa rantang ini. Ini untuk mu," Dimas menyodorkan rantang itu kepada Raisa dan membuat Raisa terperangah, tak percaya kan? "Jangan besar kepala dulu, bukan aku yang menginginkannya, tapi Mama."
"Benarkah?" Mata Raisa menyipit seiring dengan wajah yang mendekat ke arah Dimas yang seperti orang bingung. Bahkan Dimas seperti tak punya apapun untuk di katakan, ya Dimas kehabisan kata.
"Benarkah hanya tante Nilam yang menginginkannya. Tapi sepertinya tidak?" Raisa semakin mendekat ke arah Dimas.
"Mbak, jadi pesan apa ini?" Pelayan itu kembali berbicara.
__ADS_1
"Dua air putih saja," Raisa menoleh sebentar lalu kembali lagi memandangi Dimas.
Dimas yang terlihat bingung dengan wajah yang masih tetap datar itu juga memandangi Raisa. Dia semakin jangah karena Raisa semakin percaya diri saja sekarang.
"Menjauh lah dariku!" Telapak tangan kanan Dimas terangkat mendorong wajah Raisa dengan kasar.
"Ahh...! Apa sih!" Raisa menyingkirkan tangan Dimas dengan kuat dan berhasil membuat tangannya menjauh dari wajahnya.
"Jangan dorong-dorong kenapa sih! Bisa-bisa mukaku datar seperti punyamu!" keluh Raisa.
Mata Dimas melotot, tak enak rasanya di sebut bermuka datar.
"Berisik, cepat makan!" tangan Dimas cepat membuka rantang yang dari tadi di diamkan oleh mereka. Dimas juga menurunkan satu persatu rantang nya.
"Uluh uluh..., perhatiannya. Lama-lama aku bisa kesemsem kalau begini. Tuan Dimas sangat manis kalau seperti ini," tangan yang mulanya menopang dagunya kini satunya bergerak dan mencubit kecil pipi Dimas. Gemas rasanya.
"Diamkan tangan mu atau aku...!"
"Atau apa, Tuan Dimas. Jangan marah-marah ya, nanti manisnya bisa hilang," Raisa kembali menopang dagunya.
"Diam cerewet! Sekarang makanlah dengan benar dan jangan bicara lagi. Aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi karena aku harus kembali," rantang sudah di depan Raisa semua.
"Siapa juga yang minta di tungguin. Kalau mau pulang ya pulang saja dong Tuan," jawab Raisa.
"Ihh..., cepat makan!" Dimas semakin geregetan kepada Raisa yang begitu berani. Bahkan dia berani mencubit pipinya lagi dan sekarang berpindah ke pipi yang sebelah kiri.
"Gemes deh aku. Ya Allah, manis sekali. Jangan sampai aku kehilangan akal karena ciptakan mu ini," ucap Raisa.
"Dasar nggak waras!" Sungut Dimas.
"Baru tau ya Tuat kalau aku memang tidak waras."
Raisa melihat beberapa makanan dari rantang itu, semua begitu menggugah selera makannya.
"Hem.., kayaknya enak nih," tangannya mengambil sendok dan mulai menikmatinya.
Sementara Dimas hanya diam mengamati.
"Hati-hati, nanti tersedak," Dimas memperingatkan, "tuh kan belepotan, dasar kayak bocah!" ucapannya memang kasar dan tak ada halusnya sama sekali tapi tangannya terangkat untuk menghapus saus yang menempel di sudut bibir Raisa.
Sontak membuat Raisa menoleh dan menatapnya. Keduanya saling bertatapan dalam diam, mungkinkah akan tumbuh benih cinta di antara mereka?
~~~~~®®®®~~~~
Bersambung....
__ADS_1