Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
213.Cukuplah aku untukmu


__ADS_3

Happy Reading...



Terduduk seorang diri di salah satu sepetak kontrakan yang hanya terdapat beberapa ruang saja. Memegangi surat kabar yang memperlihatkan foto pernikahan spektakuler Arya juga Arini. Padahal niat sebelumnya hanya ingin mencari informasi pekerjaan tapi yang dia dapat sekarang? Membuat penyesalan kembali datang. Dia adalah Fara.



"Betapa beruntungnya hidup Arini sekarang, dia bisa bertemu dengan keluarga kandungnya. Mendapatkan kasih sayang yang melimpah dengan harta yang jelas tak akan pernah mengalami kekurangan."



"Bukan itu saja, tapi sekarang dia mendapatkan suami yang sangat kaya raya, begitu mencintai dan menyayanginya. Dan sangatlah jelas akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya, dan aku?"



"Jika saja dulu aku mendengarkan apa yang dia katakan, mengikuti saran darinya mungkin aku tidak akan pernah berada di posisi yang seperti sekarang. Hidup seorang diri di daerah asing dengan mengandung anak tanpa adanya ikatan pernikahan."



Satu tangan mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat, dia tetap tersenyum meski sejatinya hati sungguh sakit. Dia bingung untuk menghadapi dunia setelah anaknya lahir, cemoohan orang pasti akan selalu silih berganti akan dia dengarkan.



Orang tak akan pernah melihat penderitaan dan mendengar penjelasan dari orang yang sangat terluka dan sangat menyesal karena perbuatannya, mereka tidak akan mungkin memahami semua sakit hati yang sudah dia derita selama mendapatkan apa yang menjadi ganjaran untuk perbuatannya, tapi mereka akan mengatakan apapun yang sesuai fakta yang di lihat lewat mata mereka.



Biarpun Fara telah menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dia juga sudah bertobat dengan sungguh-sungguh tapi ujian itu pasti akan dia dapat dikemudian hari. Dan seolah menjadi malapetaka untuk kehidupannya juga anaknya kelak.



"Maafkan Mama ya, Nak. Kamu harus ada dengan cara yang seperti ini. Ada karena kesalahan Mama. Tapi Mama janji, Mama akan selalu melindungi mu."



"Biarpun kita hanya berdua, biarpun Papamu pergi meninggalkan kita Mama yakin kita akan bahagia. Biarkan Mama yang akan menjadi Mama sekaligus Papa untukmu," bibirnya tersenyum tetapi matanya kembali mengeluarkan air mata.



Entah penyesalan ataupun apa, yang jelas air mata itu turun begitu saja seiring tangannya yang terus mengelus perutnya.



"Mama akan lebih semangat lagi, kamu juga jangan nakal ya, kita berjuang bersama untuk memenuhi kebutuhan kita. Semoga hari ini kita bisa mendapatkan pekerjaan yang halal," ucapnya.



Menghapus air mata untuk yang terakhir kalinya lalu Fara kembali membuka surat kabar yang dia dapatkan dari penghuni kontrakan sebelah. Dibuka dan terus di buka hingga akhirnya dia menemukan deretan lowongan pekerjaan.



Senyumnya terpancar begitu jelas, dia sedikit bahagia karena merasa ada harapan untuk bisa mendapatkan pekerjaan.



Tok.. Tok... Tok...



"Permisi!"



Baru saja Fara hendak membaca terdengar pintu di ketuk oleh seseorang, Fara sedikit mengernyit karena dia adalah penghuni baru dan tentunya juga belum kenal dengan penghuni yang lainnya. Lalu siapa yang mengetuknya?



"Apa mungkin Ibu kontrakan? Tapi aku sudah bayar penuh untuk bulan ini," gumamnya.

__ADS_1



Fara mulai beranjak, meninggalkan surat kabar tadi di atas meja kecil yang berbentuk bulat.



"Permisi!"



Suara itu kembali terdengar, membuat Fara semakin mempercepat laju kakinya, "ya, sebentar!" teriak Fara tapi tetap berjalan.



Perlahan pintu terbuka, dan Fara mulai menyembulkan kepalanya lebih dulu sebelum dia benar-benar keluar.



Terlihat seorang pria yang terlihat sangat kalem, bertubuh tinggi, kulit tidak terlalu putih juga dengan tatanan rambut yang rapi tengah tersenyum kearah Fara. Fara semakin mengernyit karena dia benar-benar tidak mengenal pria itu.



"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa ya?" tanya Fara yang sudah keluar.



"Perkenalkan, saya Risman. Saya hanya mau mengantarkan ini. Di rumah sedang ada syukuran," ucapnya sembari tangan menyodorkan kotak ke arah Fara.



"Oh, terimakasih," Fara sedikit tersenyum. Tapi dia merasa kikuk saja saat menerima kotak itu.



Ternyata masih ada orang baik di sekitarnya. Di saat dia tengah lapar Allah kirimkan orang untuk memberikan makanan gratis untuknya.




"Hem..., kamu penghuni baru ya?" tanyanya.



"I-iya," jawab Fara gugup.



"Oh, pantesan baru lihat. Boleh kenalan?" tangan Risman terulur, sepertinya dia benar-benar ingin kenal dengan Fara.



"Maaf," jawab Fara begitu enggan untuk memperkenalkan dirinya apalagi menyambut uluran tangan dari Risman, "maaf, saya mau istirahat. Permisi," Fara bergegas untuk masuk, dia begitu menjaga jarak dengan Risman, tapi sebenarnya bukan hanya dengan pria yang baru datang ini saja tapi dari semua orang yang ada di semua kontrakan.



"Silahkan," sedikit kecewa seraya menarik kembali tangannya, tapi Risman percaya wanita ini mempunyai alasan untuk melakukan itu. Dan Risman juga tidak mau ikut campur.



Risman cepat kembali setelah pintu tertutup, tapi sebelum dia benar-benar jauh sekali dia menoleh ke arah kontrakan Fara.



"Kenapa dia begitu menjaga jarak dengan semua orang? Apakah dia ada masalah, atau dia ada suatu trauma?" gumamnya.



Sementara Fara yang sudah masuk lagi masih sempat mengintip keluar melalui kaca, sebisa mungkin dia akan selalu menjaga jarak pada orang lain, apalagi pada pria. Dia tak bisa percaya lagi dengan seorang pria. Dia tidak mau kecewa untuk kedua kalinya, bukan itu saja, tapi dia tidak mau ada masalah untuknya juga anaknya kelak.

__ADS_1



Krukk...



Menghirup aroma dari dalam kotak itu membuat perut Fara berbunyi, mungkin karena baunya memang sangat enak dan kebetulan dia juga tengah lapar.



"Sabar ya, Sayang. Setelah ini kita makan," Fara menunduk sejenak, mengelus perutnya juga tersenyum.



"Hem? Mas, kapan kita pulang?" tanya Arini. Begitu bosan di dalam kamar hotel tampa melakukan pekerjaan apapun seperti biasanya. Dari tadi hanya di kerjain terus oleh Arya, sekali istirahat dua tiga kali dia meminta pelayanan. Benar-benar tak ada bosen-bosennya Arya memintanya.


Arya berjalan mendekati Arini, duduk di sebelahnya dan langsung memandangi wajahnya, "kenapa harus buru-buru pulang?" Arya mengernyit.


"Ya, ya pengen pulang saja. Aku bosen di sini."


Direngkuhnya Arini dan di sandarkan di dadanya. Berkali-kali Arya juga mengecup puncak kepalanya.


"Kamu mau pulang?" tanyanya dan Arini mengangguk, "baiklah kita akan pulang hari ini. Kamu mau pulang kemana? Ke rumah Papa Hendra, Papa Wiguna atau rumah kita sendiri?"


"Bukankah rumah Mas belum jadi?berarti kita pulang ke rumah Papa Hendra dong," jawab Arini dengan sangat semangat.


Biar bagaimanapun Arini juga masih merindukan orang tuanya. Kebersamaannya dengan mereka baru sebentar dan sekarang akan susah untuk bersama mereka setelah dia menikah.


"Rumah kita sudah jadi, mau pulang ke sana sekarang juga tidak masalah. Atau mungkin ke rumah Papa Hendra dulu beberapa hari juga tidak apa-apa," jawab Arya.


"Hem..., pulang ke rumah Papa Hendra dulu aja ya, barang-barang Arini juga masih ada di sana," Arini mendongak sebentar dan saat itu Arya langsung mengecup keningnya.


"Tidak usah susah-susah bawa barang-barang mu, aku sudah siapkan semua perlengkapan mu."


"Emang Mas tau apa saja perlengkapan ku?" Arini mengernyit.


"Apa sih yang tidak aku ketahui. Kamu istriku dan aku harus tau semua kebutuhanmu. Dan semua sudah siap di sana."


"Terimakasih, Mas," Arini memeluk Arya dengan sangat senang.


Entah siapa yang paling beruntung, Arya atau Arini? Tapi sebenarnya mereka berdua sama-sama beruntung dalam pernikahan ini. Keduanya bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain.


"Sayang..." Panggil Arya. Suaranya terdengar sangat berbeda membuat Arini mendongak cepat.


"Hem?"


"Apakah kamu bahagia menikah denganku? Apakah kamu tidak menyesal memberikan dirimu seutuhnya untukku?"


"Hem, kenapa? Apakah Mas menyesal menerima apapun yang sudah aku berikan?" tanya balik Arini.


"Aku sangat bahagia menerima semua darimana, Sayang. Tapi...?"


"Tapi kenapa?" Arini melepaskan diri dari Arya, dia bingung sebenarnya kearah mana pembicaraan mereka saat ini.


"Tapi..., aku adalah orang pertama untuk mu, tapi kamu adalah orang yang kesekian kalinya untukku. Kamu seperti barang baru, sementara aku seperti barang bekas untukmu. Apakah kamu tidak menyesali itu?"


"Apakah Mas masih berniat untuk mencari yang lain selain Arini? Apakah Mas masih penasaran dengan wanita lain?" tanya Arini.


Arya menggeleng.


"Tidak, kamu akan menjadi yang terakhir untukku. Dan setelah kamu tak akan ada lagi yang lain, bahkan sekedar bermimpi pun tidak akan pernah."


"Kalau begitu buat apa aku harus menyesal."


"Terimakasih, Sayang," direngkuhnya lagi tubuh kecil Arini dipeluk dengan sangat erat. Alhamdulillah berkali-kali Arya ucapkan dalam hati, alhamdulillah karena Arini menerimanya meski tau masa lalunya. Bahkan dia tidak mempermasalahkannya. Dan itu membuat Arya semakin terkagum-kagum kepada istrinya.


"Cukuplah Pak Tuan menjadi milik Arini saja sekarang dan selamanya, dan cukuplah Arini yang menjadi satu-satunya untuk Pak Tuan," ucap Arini.


"Ya, hanya ada aku dan kamu saja di rumah tangga kita, di tambah anak-anak kita yang akan menjadi pelengkap untuk kita. Bukan orang lain, perempuan lain atau laki-laki lain," jawab Arya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2