Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
264.Ketulusan Risman


__ADS_3

Happy Reading....


Arini bergegas ke rumah sakit setelah di hubungi oleh Dimas mengenai Fara yang sekarang ada di rumah sakit. Meski hanya saudara angkat tapi Arini benar-benar sayang kepada Fara ataupun Melisa. Ya, meski dia sering kali tak mendapatkan pengakuan itu.


Di temani Arya Arini begitu semangat. Arini yang terus merengek minta diantarkan terpaksa Arya harus menunda meeting yang seharusnya di laksanakan siang ini.


"Ayo, Mas. Cepat sedikit," Arini benar-benar tidak sabar. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Fara.


"Pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai kamu terjatuh nantinya," peringatan Arya tetap tak di gubris oleh Arini dia tetap melangkah cepat bahkan dia sudah menarik tangan Arya yang berjalan sangat pelan.


Sampailah Arini ke ruang di mana Fara di rawat dia cepat masuk.


"Kak Fara sama siapa?" Arini menghentikan langkah saat melihat ada Risman yang duduk di kursi sebelah ranjang Fara.


Terlihat Pria itu menunggu dengan sabar dan sesekali berbicara meski Fara terus memalingkan wajahnya.


"Fara, saya mohon. Jelaskan semuanya kepadaku. Aku tidak mau terus dalam rasa penasaran seperti ini," suara Risman bisa di dengar jelas oleh Arya juga Arini yang malah berhenti di belakang pintu dan mengamatinya.


"Kamu pergi saja, aku tidak akan pernah mengatakan semuanya kepadamu, dan kamu juga tidak akan bisa mendapatkan hatiku. Aku tidak pantas, Kak! kenapa kamu tidak ngerti-ngerti sih!" Fara menoleh sebentar, menatap tajam Risman.


"Tidak Fara, aku tidak akan pernah pergi. Jika kamu mengandung karena kesalahan aku akan menerima, aku akan menerima anakmu seperti anakku sendiri. Kata dokter tadi kamu juga belum menikah, jadi aku tetap bisa memilikimu," Risman tetap kekeuh.


"Tidak, aku tidak mau. Aku tidak pantas untukmu, kamu terlalu baik dan sempurna untukku. Kamu bisa mencari perempuan yang lebih baik dariku," Fara tetap gak mau menerima Risman.


Arya juga Arini masih setia mendengarkan perdebatan antara keduanya. Arini melihat kalau pria itu benar-benar tulus kepada Fara apalagi dia tidak mempermasalahkan keadaan Fara saat ini.


"Mas, apakah kita datang di saat yang tidak tepat," Arini menoleh ke arah Arya.


"Sepertinya memang seperti itu, lalu bagaimana, kita mau keluar dulu atau tetap menemuinya?" Arya terlihat bingung juga.


"Keluar dulu deh, Mas. Nggak enak juga."


Arya mengangguk, sepertinya itu lebih baik daripada mereka masuk dan akan menggangu mereka berdua yang sepertinya sedang berselisih paham.


"Arini!" panggilan Fara menghentikan Arini juga Arya yang ingin keluar. Fara terlihat langsung berkaca-kaca saat melihat kedatangan Arini saat ini.


"Kakak," Arini langsung urun, dia kembali menoleh ke arah Fara dan bergegas untuk mendekatinya.


"Kakak kenapa, kenapa kakak bisa masuk rumah sakit sih. Dan apa-apaan ini. Kenapa kakak kurus sekali," di amati keadaan Fara yang terlihat sangat menyedihkan.


Fara yang biasanya terlihat terawat dan juga sedikit gemuk tapi sekarang Fara terlihat kurus padahal dia juga sedang hamil.

__ADS_1


Fara tersedu, dia langsung memeluk Arini dengan rasa yang sangat bersalah dan penuh penyesalan. Fara pikir Arini akan membencinya setelah semua yang dia lakukan tapi ternyata tidak, Arini tetap baik bahkan dia datang menjenguknya.


"Kak, kakak sakit apa? dedek kakak sehat kan? dia tidak apa-apa kan?" pikiran Arini langsung mengarah ke kandungan Fara, Arini takut kalau ada apa-apa dengan kandungannya.


"Bukankah dia sudah mendapatkan doamu, dia pasti akan selalu baik-baik saja," ucap Fara.


Pertemuan yang sangat membuat haru untuk Arini. Dia melihat Fara menjadi lebih baik sekarang dia juga terlihat sudah tidak seperti dulu lagi.


Kata-katanya sudah lebih halus dan ramah tidak seperti dulu lagi yang judes dan terdengar sangat angkuh.


Arini begitu penasaran dengan Risman yang terus berada di sana dan tak mau pergi. Hingga akhirnya Arini memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Arini menatap Risman dengan sejuta tanya.


"Saya, Risman. Saya..., saya yang mengantarkan Fara ke rumah sakit ini. Dan saya...? saya sangat mencintainya."


Risman tertunduk, dia sangat berharap akan mendapatkan apa yang dia ingin dari dalam hatinya.


Meski belum tau jelas tentang hubungan Arini juga Fara tapi Risman tau kalau mereka adalah keluarga. Risman ingin salah satu keluarga Fara tau kalau dia benar-benar mencintai Fara, dia sangat tulus ingin memilikinya biar seperti apapun keadaan Fara sekarang.


"Apa yang kamu sukai dari Kak Fara? kecantikan, atau hanya tubuhnya? bukankah kamu tau Kak Fara sedang hamil, bagaimana kalau Kak Fara sudah memiliki Suami?" tegas Arini.


"Tidak, dia belum punya suami. Entah apa yang terjadi di masa lalunya tapi aku tak peduli, aku mencintainya. Aku hanya ingin bisa selalu bersamanya dan bisa membahagiakannya," jawab Risman serius.


"Aku akan menerimanya, aku sudah katakan aku akan menerima apapun yang ada padanya. Aku akan menganggap dia adalah anakku. Akan aku jadikan dia anakku dan bukan anak dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Dia akan menjadi anaknya Risman dan akan masuk ke dalam margaku!"


Fara terus diam, dia memalingkan wajah dan hanya terus mendengar apa yang Risman katakan.


Fara menangis tiada henti, air mata terus keluar tanpa permisi. Bagaimana bisa ada orang yang mencintainya sebesar ini. Dia rela menerima semua yang ada pada Fara, mengakui anak yang bukan darah dagingnya.


"Bagaimana jika kamu punya anak dari darah daging mu sendiri, apakah kamu akan tetap menyayangi anak kak Fara?"


"Sudah aku katakan, dia akan menjadi anakku, dia akan menjadi darah daging ku!"


"Sebesar apa kamu mencintai kak Fara?"


"Sebesar aku mencintai diriku sendiri."


Haruskah Fara bahagia mendapatkan cinta yang tulus dan begitu besar dari Risman, ataukah dia harus sedih sekarang?


Seandainya Risman yang datang terlebih dulu daripada Nando mungkin dia akan sangat bahagia. Tapi takdir memang tak pernah sejalan dengan apa yang ada dalam angan manusia.

__ADS_1


"Bagaimana jika kelak ayah kandungnya datang dan akan mengambil kak Fara dan anaknya darimu?"


"Aku tidak akan pernah membiarkannya, jika perlu nyawa maka akan aku korbankan asal Fara dan anaknya tetap bersamaku."


Kata-kata yang sangat meyakinkan Arini, meski tak ada kata-kata yang terucap tapi Arini bisa melihat mana orang yang benar-benar tulus dan orang yang hanya menginginkan tubuh seseorang saja.


Cinta Risman begitu tulus, dan itu bisa terlihat.


Arini tersenyum, dia senang karena Fara benar-benar mendapatkan cinta yang sangat tulus.


"Kak," di pandangnya wajah Fara yang sayu, mencoba meyakinkan kalau Risman benar-benar tulus kepadanya.


"Tidak Arini, aku tidak ingin menerima siapapun. Aku takut, aku takut akan di tinggalkan lagi, akan takut kecewa, Arini."


"Kak, setidaknya beri dia kesempatan dulu. Jangan pikirkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu, pikirkan masa depan kakak yang akan bahagia dengan lipahan cinta."


"Beri dia kesempatan Kak, semua orang tidak sama. Semua memiliki hati yang berbeda-beda. Jangan berpikir semua orang itu sama."


"Ta_tapi, Arini."


"Kakak percaya kan pada Arini?" Fara mengangguk, Fara lebih percaya kepada Arini daripada dirinya sendiri yang selalu salah.


"Buka hati kakak, buka lembaran baru untuk orang yang benar-benar tulus kepada kakak."


"Bagaimana kalau dia datang?"


"Dia memang ayah kandung anak kakak, sampai kapanpun tidak akan bisa mengubah takdir itu. Tapi bukan berarti Kakak itu tidak bisa menjadi ayahnya juga. Banyak ayah sambung yang lebih mencintai anak melebihi ayah kandungnya sendiri kan?"


"Ta_tapi?"


"Percayalah, semua akan baik-baik saja," jawab Arini seraya memeluk Fara dengan sangat erat.


"Aku bangga kepadamu, Arini sayang. Aku tak salah menilaimu. kamu memang terbaik." batin Arya.


Senyum Arya mengembang begitu lebar, bangga dengan istrinya yang benar-benar lebih dewasa.


Terkadang selalu seperti anak kecil yang kekurangan kasih sayang, terkadang begitu dewasa seperti orang terpelajar. Itulah kepribadian Arini yang selalu susah untuk di tebak.


Orang hanya akan selalu melihat sisi luar yang terlihat oleh mata, tapi tak bisa melihat bagaimana kesucian dan ketulusan hatinya. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat itu dari Arini dan itu juga orang yang bisa tulus kepadanya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2