
______
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•
Sebesar apapun Arini berontak akan tetap saja kalah kuat. Dia begitu kecil dan lemah sementara Arya? Bahkan dia kuat mengangkat tubuhnya apalagi untuk bisa mempertahankannya.
Tangan Arini sama sekali tak berani bergerak untuk berpegangan pada Arya. Kedua tangannya duduk manis di atas tubuhnya yang ada di gendongan Arya. Arini pun juga tak berani menatap Arya lagi, apalagi wajah Arya terlihat lebih menyeramkan sekarang.
Arya mendorong pintu ruangannya dengan kaki dia terus diam dan tak memberikan petuah seperti biasa pada Arini. Mungkin dia masih menahannya dan setelah nanti dia akan bicara panjang kali lebar seperti kereta.
Pelan-pelan Arya menurunkan Arini di sofa, dia berjongkok di depan Arini tangannya sudah siap untuk melepaskan sepatu flat Arini yang sudah usang itu.
"Eh..! Pak Tuan mau ngapain! " gerakan cepat juga suara Arini menghentikan tangan Arya yang hampir sampai.
Wajahnya mendongak, matanya semakin membulat begitu lebar melihat wajah Arini yang penuh kewaspadaan.
"Menurutmu! Apa yang akan saya lakukan! " suaranya terdengar sangat marah.
Arini di buat bingung dengan Arya. Kata-katanya selalu kasar seperti orang marah-marah tapi perilakunya tak mengisyaratkan kemarahan karena dia terlihat sangat memperhatikan Arini, dia peduli padanya.
Arini terdiam karena dia tak tau apa yang sebenarnya ingin Arya lakukan padanya. Yang jelas Arya ingin melepaskan sepatu yang juga sudah sangat sempit dengan kakinya.
"Diam dan jadilah anak yang penurut saya tidak akan menyakitimu! " Tangannya benar-benar melepaskan sepatu yang Arini pakai meski Arini tak mengizinkannya, kaki yang terus bergerak kesana-kemari tetap akan mudah di jangkau oleh tangannya.
"Saya hanya ingin melepaskan sepatumu, kakimu yang sakit tidak akan nyaman dengan ini," Arya beranjak membawa sepasang sepatu milik Arini.
Arini terus mengamati pergerakan Arya, kiranya mau di bawa ke mana sepatu kesayangannya itu. Arini di buat menganga saat Arya tiba-tiba memasukkan sepatu Arini ke dalam tempat sampah.
"Tuan! Itu sepatuku kenapa di buang!? " teriak Arini.
Astaga, itu sepatu satu-satunya milik Arini sepatu yang menjadi kesayangannya meskipun rupanya sudah tak enak di lihat lagi tapi Arini masih sangat nyaman untuk memakainya.
Arya kembali mendekati Arini dalam diam namun matanya kembali melotot saat Arini ingin bangun, mungkin dia ingin mengambil sepatunya lagi yang ingin di musnahkan oleh Arya.
Arini kembali menunduk dia juga urungkan untuk berdiri, "nanti Arini pulangnya bagaimana? Masak Arini harus nyeker," ucapan juga wajahnya begitu lesu.
Arya kembali berjongkok di depan Arini membuat Arini kembali bingung. Jangan-jangan Arya juga mau melepaskan kaus kakinya juga, ini tidak boleh di biarkan Arya tidak boleh melihat kulit yang menjadi aurat Arini.
__ADS_1
"Pak Tuan mau ngapain lagi! "
Arya masih diam, namun tidak untuk tangannya yang langsung memegangi kaki Arini. Sentuhan yang membuat nyaman, kakinya yang sakit memang membutuhkan pijatan tapi tidak harus Arya juga kan yang melakukannya.
𝘒𝘳𝘦𝘬... 𝘒𝘳𝘦𝘬...
"Akkk..., pak Tuan! " Pekiknya saat Arya tiba-tiba memutar kaki Arini hingga menghasilkan bunyi retakan.
Saking kagetnya tangan Arini reflek menjambak rambut Arya dengan kuat. Arya benar-benar keterlaluan dia ingin membantu kaki Arini yang keseleo tapi tak memberikan aba-aba terlebih dahulu.
Arya termangu matanya melirik melihat wajah Arini yang terlihat sangat lucu. Wajahnya terlihat mengkerut semakin kecil, juga matanya terpejam dengan tangan yang masih ada di kepala Arya.
"Kamu keseleo, saya hanya mau membantumu saja biar sembuh," ucap Arya begitu enteng, "dan ya, apa kamu mau membuat kepalaku botak?! " imbuhnya.
Matanya perlahan-lahan menyipit hingga akhirnya terbuka seutuhnya. Dia benar-benar terkejut saat melihat tangannya yang menjambak rambut Arya.
"Astaghfirullah hal 'azim.. " cepat Arini melepaskan tangannya.
"Apa kamu tidak bisa menjadi gadis kuat yang tidak mudah di tindas! Kalau kamu terus lemah seperti ini mereka akan terus menginjak-injak mu! " suara Arya benar-benar penuh dengan kemarahan.
"Saya heran sama jalan pikiran mu. Kenapa kamu diam saja saat di bully seperti tadi. Kamu tak mempunyai keberanian atau kamu memang tak mau membalasnya? " Arya mengernyit bingung.
"Kamu saja tidak takut dengan ku, kenapa kamu takut dengan mereka. Seharusnya kalau mereka melakukan hal yang seperti itu kamu harus membalasnya," ucap Arya lagi.
Kini dia melangkah kembali menuju mejanya mengambil satu botol air mineral yang masih tersegel rapat.
Arya kembali menghampiri Arini, tangannya sibuk membuka tutup botol itu sebelum dia sodorkan pada Arini. Tapi ternyata Arini menolak.
"Maaf, Arini puasa," ucapnya yang kembali membuat Arya tak percaya.
Gadis di hadapannya ini sudah sangat kecil, dengan berpuasa apa tidak akan membuatnya lebih kecil lagi?
Arya menghembuskan nafas beratnya tangannya kembali dia tarik beserta botol mineral yang dia bawa.
"Kamu harus membalas semua orang yang berbuat buruk padamu! baru mereka semua akan takut saat tak bisa membuatmu menangis atau diam dalam kelemahan! "
Kata-kata Arya begitu panjang lebar, entah sebenarnya dia memarahi Arini atau sebaliknya.
__ADS_1
"Kamu harus terlihat kuat di depan mereka, Arini. Kamu tidak boleh selalu diam dan mengalah," ucapan semakin pelan bersamaan dengan Arya yang duduk di sofa lain di depan Arini.
Arini sudah kuat, dia bahkan tidak menangis di hadapan mereka semua. Arini juga kuat karena dia bisa menahan amarah di hatinya supaya tidak meledak untuk membalas perbuatan mereka.
"Keburukan tidak harus di balas dengan keburukan, Pak Tuan. Kita diam saja masih tetap di benci apalagi kalau kita melawan atau membalas, semua tidak akan pernah selesai, dan kebencian mereka akan semakin besar," Arini mulai menjawab mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Untuk memadamkan api kita harus menggunakan air. Tak akan mungkin api akan bisa padam jika kita juga menggunakan api. Begitu juga dengan kemarahan dari orang lain, Pak Tuan,"
"Selama kita belum bisa menemukan cara kita hanya bisa diam. Diam bukan berarti kita kalah ataupun lemah, karena dalam diam membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk mengendalikan amarah yang memaksa ingin keluar dari dalam hati."
"Terus, kalau mereka ingin membunuhmu apa kamu akan diam saja begitu?! " Arya geleng-geleng kepala dengan jalan pikiran Arini yang tak sama seperti dirinya.
Dia bisa mengendalikan semua orang dengan kemarahannya, mereka juga langsung menurut dan tunduk kan? Itu semua tidak akan dia dapat kalau Arya mengikuti jejak Arini bukan?
"Dalam kehidupan semua sudah ada yang mengaturnya, termasuk yang namanya kematian. Jauh sebelum kita di ciptakan semua yang akan kita dapatkan sudah tertulis dalam buku takdir. Meskipun kita bersuara, melawan dan membalas mereka jika mereka memiliki niat ingin membunuh apakah mereka akan takut juga dengan itu? Saya rada tidak."
Keduanya terdiam dalam argumen masing-masing. Saling mengoreksi apa yang mereka katakan dan mereka dengar.
Meskipun Arini bodoh di mata masyarakat, tapi sepertinya tidak di mata Arya. Ada kepandaian besar yang dia sengaja sembunyikan. Ada kekuatan besar yang tidak mau orang lain lihat dan selalu dia tahan di dalam dirinya sendiri.
"Pak Tuan, maaf ya Arini tidak bisa mempertahankan sarapan yang sudah Arini buat. Pasti sekarang pak Tuan lapar kan karena belum sarapan? Arini akan ke pantry sepertinya ada makanan yang bisa di masak di sana," Arini ingin pamit.
"Tidak! Kamu tidak boleh kemana-mana. Kakimu masih sakit jangan sampai menjadi lebih parah lagi."
"Tapi..., bagaimana dengan sarapan pak Tuan?"
"Tadi saya sudah sarapan," jawab Arya sedikit bingung, sepertinya dia hanya beralasan saja supaya Arini menurut padanya dan tetap berada di sana.
"Pak Tuan, sepatu Arini...? "
"Biar Toni yang membelikannya yang baru. Itu sudah tidak layak di pakai."
"Tapi pak Tuan? "
"Jangan membantah."
//////
__ADS_1
Bersambung....
________