Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
56.Tidak Mati Kan


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Pak Tuan !! " teriak Arini, seketika dia menjauh dari Arya dan duduk di kursi yang lain. Wajahnya tampak kesal melihat Arya yang malah santai begitu saja di tempat duduknya.


"Apa ponselmu mati? dari tadi aku menghubungimu tidak bisa," Arya tak memperdulikan keterkejutan Arini saat ini. Dia datang karena ingin menanyakan itu pada Arini.


Kini Arini yang mengabaikan Arya, dia malah mengedarkan matanya mencari keberadaan Raisa yang sekarang entah hilang kemana, tak mungkin juga kan Raisa tiba-tiba berubah wujud menjadi Arya.


"Nah, itu mbak Raisa," wajahnya berbinar senyumnya melebar saat melihat Raisa yang duduk dengan jarak yang sangat jauh dari tempat itu.


Arini ingin beranjak dia ingin berpindah ditempat Raisa tapi itu tak terjadi karena Arya langsung kembali menarik hijab Arini.


"Siapa yang menyuruhmu pergi! duduk atau aku akan menarik hijab mu, bahkan akan aku ganti seragam mu dengan yang waktu itu," ancaman yang membuat Arini langsung lemas tak berdaya, dia langsung duduk dia meringis di buat semanis mungkin namun hatinya sedang menggerutu kesal.


"𝘈𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘵, " 𝘎𝘦𝘳𝘶𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.


"Ponselmu mati? dari tadi aku menghubungi tidak bisa," tanya Arya mengulang.


"Sepertinya tidak, tadi masih menyala kok," Arini panik di bilang ponselnya mati, dia langsung mengambilnya di saku lalu memperlihatkan pada Arya, "Ini.. "


Arya mengambil ponsel itu mencoba menyalakannya dan ternyata benar ponsel itu mati, "pantesan, mati gini."


"Mati! " Arini merebut kembali ponsel itu, mengamatinya dengan teliti. Wajahnya seketika panik, padahal dia tidak melakukan apapun sepertinya juga tidak terjun bebas atau berenang-renang ria tapi kenapa bisa mati.


"Hiks... Hiks... Hiks....," Arini langsung terisak, dia sangat ketakutan bagaimana mungkin ponsel itu tiba-tiba mati begitu saja tanpa terjadi apapun, "Pak Tuan, Arini minta maaf, Arini tidak tau kenapa bisa mati sendiri. Arini tidak menjatuhkannya juga tidak masuk air juga tapi kenapa bisa mati," ucap Arini di sela-sela rasa takutnya.


Siapa yang tidak takut coba, itu barang mahal gaji Arini satu tahun juga tak akan bisa membelinya dan sekarang mati begitu saja tanpa di apa-apain.


"Hutang Arini akan semakin banyak ya, Pak Tuan? tapi Arini mohon jangan laporkan Arini ke polisi, Arini akan bayar kok. Tapi nyicil ya, Pak Tuan," ucapnya. Tangannya sesekali mengusap air mata yang jatuh dan membasahi pipinya.


Astaga..., apakah Arya salah tadi? dia hanya menanyakan kalau ponselnya mati atau tidak tapi kenapa dia malah menangis sih, kalau ada yang melihatnya bisa gaswat kan, apalagi yang lihat Eyangnya pasti dia akan langsung menjadi tersangka utama, apalagi sekarang Arini sudah di anggap cucunya juga.


"Kenapa kamu nangis?" Arya mengernyit bahkan dia juga menggaruk kepalanya frustasi. Jika lama-lama seperti ini bisa cepat botak si Tuan Arya.


"Ponselnya mati, Pak Tuan! bagaimana Arini tidak sedih. Arini tidak akan bisa mengembalikannya lagi kan pada Pak Tuan," ucapnya yang kembali menangis.


"Sudah diam, jangan menangis dan hapus itu ingus mu. Sekarang ikut aku," Arya sudah mulai beranjak namun Arini masih setia duduk di sana dan, hanya mengangkat wajahnya melihat Arya.

__ADS_1


Arini menggeleng, dia tak ingin ikut. Bukan apa-apa tapi dia juga belum makan dan makanannya belum di bayar bagaimana dia bisa pergi begitu saja.


"Kenapa? apa kamu tidak mau ponselnya kembali menyala! " Arya kembali menoleh saat Arini masih diam saja. "Ayo cepat!" kekeuh nya.


"Bagaimana dengan makanan Arini, Pak Tuan. Arini juga belum makan apalagi membayarnya," ucapnya dengan wajah yang menunduk kali ini.


"Cepat ikut, nanti biar Toni yang ambil,"


"Tapi, Pak Tuan? "


"Kenapa kamu selalu saja banyak protes, apa tidak bisa ikut saja tanpa mengatakan apapun?" Arya kembali kesal karena Arini.


Mata tajam Arya berhasil membuat Arini kembali takut, dia tak akan mungkin bisa melawan Bos besarnya itu, meskipun kadang-kadang dia bisa melawannya dengan kata-kata tapi dia akan tetap kalah karena Arya lebih kuasa.


Arini mulai beranjak dengan pelan mengikuti langkah jenjang Arya yang terasa begitu susah untuk dia kejar. Arini sedikit berlari, tenaganya juga harus di keluarkan supaya bisa mengejar Arya.


Sementara Raisa yang duduk di kejauhan hanya bisa melihat kepergian mereka berdua. Raisa percaya ada sesuatu meskipun keduanya masih jutek-jutek bebek.


"Saya rasa perkiraan ku akan menjadi nyata di kemudian hari. Ya meskipun Arini tidak sempurna dalam segi penampilan tapi hatinya sangat sempurna untuk Tuan Arya. Aku yakin Arini bisa mengubah kebiasaan buruk dari Tuan Arya itu," ucap Raisa dengan pelan.


"Arini Arini, sepertinya kamu akan sangat beruntung," imbuhnya.


////////


"Masuk! "pinta Arya dengan suara yang kembali seperti sedia kala, sepertinya suara dingin yang berbumbukan keangkuhan itu tak akan bisa hilang begitu saja.


Arini terus melintir-lintir ujung hijabnya dia terus menunduk dengan perasaan yang takut. Pemikirannya penuh dengan kata andai-andai yang seakan membuat kakinya tak mampu untuk bergerak.


"Apa kamu tuli?!"sepertinya benar-benar butuh di ruqyah itu mulut pak Tuan. Omongannya selalu saja kasar, dan kata-katanya itu akan selalu menyakitkan.


"Kalau kamu tidak mau masuk, tak masalah. Jangan salahkan aku kalau aku akan mencabut pengobatan nenekmu,"


Arini terbelalak, kenapa sih tak ada kata yang halus selain ancaman juga ancaman. Arini butuh ketenangan bukan ketakutan karena selalu di ancam mulu.


Arini mulai melangkah dengan pelan namun matanya tak berani melihat Arya.


"Berikan ponselmu," sebenarnya bukan meminta sih Tuan Arya, karena dia sudah merebutnya lebih dahulu sebelum Arini memberikannya, menambah Arini semakin ketakutan, "duduk! " ucapnya. Tangannya menunjuk sofa, sepertinya Arini harus duduk di sana.


Astaga, pak Tuan satu ini kadang-kadang omongan panjang sekali kayak kereta, tapi kadang singkat banget kayak bajaj mogok.

__ADS_1


"Duduk saya bilang! " lama-kelamaan benar-benar ngebul tuh kepala pak Tuan. Bukan hanya itu saja melainkan juga hatinya yang meledak karena setiap kali harus meradang.


Arini duduk dengan pelan, sejatinya dia sangat takut duduk di sofa karena dia merasa tidak pantas duduk di sofa yang mungkin harganya juga sangat fantastik itu.


Arya hanya menggeleng, melangkah menjauh dan duduk di kursi kebesarannya. Tangannya langsung meraih charger memasangkannya ke ponselnya dan setelah beberapa detik muncul gambar baterai di sana. Dan perkiraan Arya benar, ponselnya mati karena kehabisan daya.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...


"Permisi Tuan, ini makan psiangnya," Toni masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu membawa dua kotak makan beserta dua botol air mineral.


"Hem..," jawab Arya. Arya kembali berdiri, melangkah menghampiri Toni dan menerima dua kotak makan juga dua botol itu dari tangannya, "pergilah," usirnya.


"Baik, Tuan,"


Setelah kepergian Toni Arya kembali berjalan namun kini dia mendekati Arini dan duduk di sofa sebelahnya. Menaruh satu kotak makan dan satu botol di depan Arini.


"Nih makan siang mu, cepat habiskan dan jangan sampai ada sisa meskipun hanya satu butir nasi saja. Kalau sampai ada sisa kamu harus bayar sendiri beserta makan siang ku," ucapnya yang lagi-lagi dengan ancaman.


Lama-lama pengen di tutup rapat tuh telinga Arini, setiap saat yang dia dengar hanya ancaman mulu.


"Pak Tuan, ponselnya tidak jadi mati kan? Tidak rusak kan? " tanyanya.


"Tidak, hanya kehabisan daya. Cepat sekarang makan. Dan setelah itu kamu harus memberikanku imbalan karena telah menghidupkan lagi ponselmu,"


"Imbalan? Arini tidak punya apapun. Bagaimana Arini harus memberikan imbalan pada Pak Tuan," Arini mengernyit.


"Kamu punya tangan, kan? " Arini mengangguk, ya jelas dia punya tangan, komplit malahan, "pundak ku sakit, kamu harus memijatnya."


"Mana mung...! "


"Eitsss..., tidak boleh protes tidak boleh berkomentar. Apa kamu lupa, kamu tak akan bisa keluar dari sini tanpa seizin ku," ucap Arya.


𝘊𝘵𝘢𝘬𝘬....


Dan ruangan itu akan kembali terkunci secara otomatis setelah Arya menjentikkan jarinya ke udara.


////////


Bersambung...

__ADS_1


________


__ADS_2