Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
18.Semua Adalah Ujian


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...__________...


Arini terus berlari setelah keluar dari ruangan Arya, jalan utama yang dia tau hanyalah lift yang dia gunakan tadi untuk naik ke sana. Lift sudah di depan mata namun Arini bingung bagaimana dia harus membukanya, meskipun di tau caranya saat tadi naik bersama dengan Arya tapi itu belum cukup untuk nya dia sama sekali tak tau bagaimana cara mengoperasikan ruang bergerak itu.


Arini terus celingukan, dia menoleh memastikan Arya tidak mengejar nya. "Bagaimana kalau sampai orang itu mengejar ku, aku nggak mau sampai ketangkap." Arini begitu ketakutan.


Dilihatnya seorang OB yang tengah mengepel di sana Arini langsung berlari menghampiri dan bertanya padanya, "Pak, selain itu kalau mau turun lewat mana ya? Apa ada tangga yang lain? "


"Oh, tangga. Tangga ada di ujung sana, Neng, " Ucapnya sembari tangannya menunjuk ke arah yang di tuju.


"Makasih, Pak. " Arini kembali berlari dia sangat buru-buru ingin bisa sampai di dasar gedung dan bisa pergi dari sana.


Satu persatu anak tangga Arini pijak, tak masalah dia akan kelelahan karena harus turun hingga lima puluh tangga dari lima puluh lantai, baginya sekarang dia ingin terlepas bebas dari orang yang menurutnya sangat tidak waras.


"Ya Allah, kuatkan aku, " doanya.


Arini istirahat sejenak setelah mampu turun dua puluh lantai, kakinya sudah mulai kesemutan dia duduk sejenak, lalu memijat perlahan-lahan.


Rasanya ingin dia menangis sejadi-jadinya di sana, baru saja dia merasa bahagia karena akan mendapatkan pekerjaan tapi dia kembali di buat kecewa karena perlakuan tak mengenakkan oleh atasan di perusahaan itu.


"Niatkan lelah mu menjadi Lillah, Arini. Jangan mengeluh, apalagi protes semua pasti akan baik-baik saja." gumamnya.


Arini kembali berdiri, kembali melangkah di anak tangga yang akan membawanya sampai ke dasar gedung itu. Sesekali Arini menoleh dia masih takut jika Arya mengejar nya.


Satu setengah jam akhirnya Arini sampai di lantai paling dasar, sebelum keluar dari tempat itu Arini membenahi hijabnya hingga benar-benar rapi seperti sebelumnya, ya meski sedikit kusut karena bekas tarik-menarik dirinya dan Arya tadi.


Arini kembali celingukan terus melihat setiap penjuru siapa tau Arya sudah ada di sana dan akan kembali menangkapnya. Bukan Arya yang dia lihat sekarang, melainkan mata-mata yang terus menatapnya dengan meremehkan.


Tak sedikit yang menggunjing kekurangan Arini dan ada juga yang membicarakan baju norak yang Arini kenakan. Tapi itu tidak masalah untuknya, ini hidupnya dan dia sendiri yang berhak menentukan apa saja yang akan dia kenakan.


"Lihatlah, dia kan yang tadi naik dengan Tuan Arya. "


"Iya, sepertinya dia di tolak mentah-mentah oleh Tuan Arya. Lagian, mana mungkin orang seperti dia bisa bekerja di sini, Hehh... , mimpinya terlalu ketinggian. "


"Kalau aku ya, aku akan pergi lebih dulu sebelum di permalukan. "


"Tidak cantik, tidak menarik, tidak putih, baju juga norak seperti itu berlagak sok mau bekerja di sini, heh... "


"Hahaha... , terima nasib saja lah."


"Hahaha...! "


Begitu banyak kata yang keluar dari semua karyawan yang melihat Arini, mereka terus merendahkan Arini. Ternyata benar kata orang-orang mulut itu lebih tajam dari pada pedang, seseorang yang terkena pedang sekali lukanya kering dia akan sembuh, tapi sakit karena lidah? Hati tidak akan mudah di sembuhkan akan terus di ingat sepanjang hidup.


Arini bernafas lega setelah dia benar-benar sudah ada di luar gedung yang menjulang tinggi, tak akan ada mimpi lagi untuk bisa masuk ke sana. Dia kira orang kaya di kota akan bisa menghargai dan saling memberikan empati padanya, namun ternyata tidak! Ujian yang dia dapatkan kini bertambah parah.


Arini yang berjalan sembari menoleh ke belakang membuat dirinya tak melihat kalau ternyata ada orang di depannya dan membuatnya harus bertabrakan.


𝘋𝘶𝘨𝘨...


Keduanya hanya mundur dari langkahnya, mereka sama sekali tidak terjatuh karena tabrakan itu. Arini yang terkejut langsung memandang siapa yang dia tabrak, Seorang perempuan tua yang berpakaian biasa saja, dan terlihat seperti orang biasa namun terlihat sangat cantik di usianya.

__ADS_1


"Ma-maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja, " Arini begitu menyesalkan kejadian itu, kalau saja dia tidak terus menoleh dia tidak akan menabrak perempuan itu.


"Tidak apa-apa, Nak. Saya juga baik-baik saja. Kamu bagaimana? Tidak apa-apa kan? " tanyanya begitu lemah lembut.


Arini menggeleng karena dia memang tidak kenapa-napa, dia hanya sedikit terkejut saja.


Perempuan itu melihat penampilan Arini, penampilan yang tak banyak yang bisa memakai itu, perempuan itu tersenyum dia sangat salut karena Arini bisa.


"Perkenalkan saya Wati, kamu? " Ternyata perempuan tua itu adalah Wati, Eyang dari Arya yang kini hanya berpenampilan biasa-biasa saja bahkan sama sekali tak melambangkan seperti orang kaya pada umumnya.


Tangan yang di ulurkan oleh Wati di sambut dengan senang oleh Arini, keduanya saling berjabat tangan dan Arini juga memperkenalkan diri pada Wati.


"Saya Arini, Nyonya. "jawab Arini tak kalah lembut.


" Jangan panggil saya, Nyonya. Panggil saja Eyang Wati." Pinta Wati.


"I-iya, Eyang.. " Begitu lirih suara Arini dan juga terlihat sangat malu-malu untuk mengatakan itu pada Wati.


Koran yang masih ada di tangan Arini membuat Wati mengernyit, dia mulai kepo apa tujuan Arini datang ke perusahaan cucunya tersebut. "Apa kamu sedang mencari pekerjaan? " tanya Wati menebak.


"Iya, Eyang. "


Arini kembali menoleh dia masih saja gelisah dia khawatir kalau Arya akan kembali datang ke sana. Kegelisahan yang Arini alami sekarang tentunya tak terlepas dari pandangan Wati dan membuatnya semakin penasaran.


"Kamu kenapa? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah? Apa ada seseorang yang berniat buruk padamu?" tanya Wati


"Begini Eyang, sebenarnya tadi Arini mau melamar pekerjaan di sini. Tapi sekarang tidak lagi, Arini merasa tidak cocok." Jawab Arini.


"Kenapa? Apa ada yang merepotkan mu! "


Wati mengernyit, sejak kapan cucunya tidak waras? Apa cucunya sudah mulai gila sekarang?.


"Benarkah, bosnya tidak waras? Emangnya apa yang dia lakukan? "


"Tadi ya, Eyang. Dia memaksaku untuk mengganti pakaian yang kurang bahan untuk aku pakai. Meskipun di iming-imingi di pekerjaan di sini kalau harus pakai pakaian kurang bahan begitu mending saya mundur saja. Saya lebih baik bekerja jadi pemulung dari pada bekerja di gedung tinggi seperti ini tapi harus membuka aurat saya. Itu kan dosa. " Cerocos Arini.


"Tapi katanya di sini gajinya besar loh, apa kamu tidak kepingin? "


"Uang bukan segalanya, Eyang. Uang juga tidak akan di bawa sampai mati, tapi kalau dosa? Kita harus mempertanggung jawabkan sampai di akhirat kelak, kan?" jawab Arini.


Wati begitu termangu mendengar jawaban dari Arini, sudah sangat langka orang yang memiliki pemikiran sepertinya, bahkan sudah sangat susah untuk Wati jumpai.


Meskipun secara rupa dan penampilan Arini tidak bisa menarik hati dari Wati, tapi pemikirannya begitu membuatnya merasa tertarik dan ingin mengenal lebih jauh lagi.


"Hem..., bagaimana kalau kita duduk di sana dulu. Aku akan pastikan kamu akan mendapatkan pekerjaan, apa kamu mau? "


Hati mana yang tidak langsung tertarik apalagi di saat dia benar-benar tengah membutuhkannya, meskipun bodoh Arini juga tidak akan sebodoh itu dan melewatkan kesempatan emas itu, semoga saja kali ini pekerjaan yang dia dapatkan baik dalam semua hal dan semua sisi.


"Benarkah? Arini bisa mendapatkan pekerjaan?" Arini begitu antusias, dia sangat semangat, wajahnya seketika berbinar bahkan lelah kakinya terasa hilang dalam sekejap.


Wati mengangguk berhiaskan senyum, dia tidak akan bisa lebih mengenal Arini jika dia tidak menahannya untuk dia bisa selalu melihatnya dan menemuinya. Mungkin itu memang jalan satu-satunya untuk bisa lebih dekat.


"Tentu, sekarang kita ke sana yuk. Eyang lelah jika harus berdiri terus, maklum Eyang sudah tidak muda lagi." Ucap Wati di sambung dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Tapi eyang benarkan? Arini bisa mendapatkan pekerjaan kan?" tanya Arini yang masih tak percaya.


"Iya, Eyang pastikan akan membuat kamu mendapatkan pekerjaan. Sekarang kita duduk di sana dulu biar Eyang menghubungi cucu Eyang dulu. Kamu bisa bekerja dengannya nanti."


Entah dengan cara apa Wati bisa membuat Arya menerima Arini bekerja dengannya, dan bagaimana caranya juga Wati bisa bisa membuat Arini tidak menolak pekerjaan itu setelah apa yang di lakukan Arya pada Arini barusan.


Meskipun belum yakin sepenuhnya, tapi dari mata Wati dia melihat ada yang spesial dari Arini daripada para gadis-gadis yang lain.


"Yuk... " ajak Wati.


Arini mengangguk senang mengikuti langkah Wati yang membawanya untuk duduk di taman depan perusahaan yang sangat tinggi itu.


Bangku putih di bawah pohon yang rindang itulah tempat yang menjadi pilihan Wati. Keduanya duduk bersebelahan namun saling berhadapan.


"Sepertinya Eyang belum pernah melihat kamu di kota ini, apa kamu baru pindah?" tanya Wati.


"Iya, Eyang. Arini baru beberapa hari di kota ini. Arini datang dari desa, dan sekarang di sini Arini tinggal dengan nenek dan kakek, " jawab Arini.


Wati mengangguk pelan, pantas saja dia merasa belum pernah melihat Arini sebelumnya. "Hem..? Apa lagi yang di lakukan oleh bos perusahaan itu sampai-sampai kamu begitu kesal dan tak mau kerja di sana lagi? "


"Bos nya sangat tidak waras menurut Arini, Eyang. Masak dia memaksa Arini untuk mengganti baju yang kurang bahan, dan paling parahnya lagi dia sendiri bilang kalau dia yang akan menggantikan bajuku, benar-benar tidak waras kan, Eyang. "


Wati terkejut, bagaimana bisa cucunya begitu gila seperti itu. Tubuh seorang wanita adalah harta terbesarnya jika dia di sentuh paksa apa lagi di lecehkan maka seorang wanita itu akan kehilangan kehormatan sepenuhnya.


"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯. " Batin Wati seraya nyengir kuda ke arah Arini.


"Sebentar, kirim pesan dulu pada cucu Eyang. Biar dia cepet datang kesini, dan kamu harus menerima pekerjaan itu, oke. "


"Tapi pekerjaan apa, Eyang! Arini tidak bisa apapun selain pekerjaan rumah. Karena Arini kan memang bukan orang terpelajar. " kepo Arini.


"Tenang, kamu pasti bisa mengerjakan pekerjaan itu dengan baik. Pekerjaannya sama dengan yang kamu ucapkan itu, ya seperti ngepel, nyapu, bersih-bersih, cuci piring atau gelas ya kurang lebih seperti itu. " jawab Wati.


"Alhamdulillah." Begitu lega Arini mendengar pekerjaan yang akan dia lakukan, itu akan sangat mudah untuknya, karena pekerjaan itu tak membutuhkan sekolah tinggi.


Keduanya terus mengobrol kecil setelah Wati mengirimkan pesan untuk cucunya, beberapa kali Wati tersenyum kaku, bagaimana jika Arya datang dan Arini langsung pergi, bagaimana dia harus menahan Arini.


Berkali-kali Arini menoleh ke segala penjuru, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan cucu dari Wati yang akan menjadi bos nya nanti.


Wati yang melihat itu hanya tersenyum, Wati juga terlihat begitu terpukau saat melihat Arini tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya, uhh,,, manis sekali.


"Kenapa Eyang melihat ku seperti itu, apa ada yang aneh dengan wajah Arini? Hemm..., Arini jelek ya, kulit Arini hitam dan sama sekali tak menarik ya? " Celetuk Arini dengan wajah yang kembali sedih.


Senyum Arini seketika pudar, dia yakin dia juga akan gagal mendapatkan pekerjaan dari Wati dengan keadaan sangat tidak beruntung itu.


Wati membelai dagu Arini yang sedikit runcing, dengan berhiaskan senyum yang begitu meneduhkan, "Bukan seperti itu, Arini. Itu tidak menjadi masalah untuk Eyang. Justru Eyang malah terkesima dengan lesung pipi yang kamu punya, kamu sangat manis. "


Seakan terbang ke angkasa Arini begitu terlena dengan pujian itu, baru kali ini ada orang yang memujinya, semua orang selalu menghinanya bahkan orang tuanya sendiri saja selalu begitu.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩..., 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘫𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘩𝘪𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘨𝘩𝘧𝘢𝘳 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮.. "


"Te-terima kasih, Eyang." Arini tertunduk malu.


___

__ADS_1


Bersambung....


___________________


__ADS_2