Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
265.Tamu Tak di undang


__ADS_3

Happy Reading...



Senyum terus terpancar dari Toni. Dia begitu bahagia karena keinginannya akan segera tercapai. Di perjalanan pulang dia terus tersenyum, dia sudah tidak sabar ingin cepat sampai di rumah, namun dia ingin mampir dulu ke rumah Bosnya untuk mengatakan hasilnya sekaligus untuk meminta tolong kepadanya untuk persiapan pernikahannya.



Senyum indah dari Nisa terus saja membayangi kepalanya, dia juga sesekali menoleh ke arah kursi penumpang yang ada di sebelahnya yang kemarin ada Nisa yang duduk di sana.



"Sebentar lagi setiap saat aku akan bisa bersamamu, kita akan selalu pergi bersama dan menghabiskan waktu. Aku akan datang sebentar lagi, dan akan aku ajak kembali kamu pulang dan sudah sebagai status seorang istri."



Toni mempercepat laju mobilnya, hingga akhirnya mobilnya sudah masuk ke pintu masuk kota.



Hingga malam Toni sampai di kota, dia benar-benar lebih dulu singgah di rumah Arya. Rumah besar itu sudah terlihat sepi padahal waktu juga belum terlalu malam.



Toni keluar dari mobil, bergegas masuk ke rumah. Dia ketuk pintunya dan menunggu sejenak untuk di bukakan.



"Semoga saja Tuan Arya belum tidur. Kalau sudah tidur ya terpaksa aku harus pulang. Tapi seharusnya belum sih, ini juga baru jam delapan," sejenak Toni melihat jam berwarna silver yang melingkar di pergelangan tangannya dan benar, waktu masih menunjukkan jam delapan.



Tok tok tok...



"Assalamu'alaikum!" seru Toni dengan suara sangat keras bersamaan dengan tangan yang mengetuk pintu.



"Wa'alaikumsalam, Iyo! bentar dulu! Sing sabar!" teriak dari dalam.



Toni mengernyit, siapa yang menjawab salamnya. Suaranya terlihat sangat berbeda, logat juga bahasanya sangat asing.



Masih dengan rasa penasaran Toni hanya diam dan menunggu. Dia sangat lelah dan tak ingin mengada-ada dan berpikir keras. Meski tidak mau berpikir tapi dia yakin itu bukan Arini apalagi Arya.



"Wa'alaikumsalam. Walah, ada tamu Mas ganteng toh. Mari masuk Mas ganteng," Susi tersenyum melihat Toni yang datang, matanya langsung berkedip-kedip membuat Toni bergidik ngeri.



"Mari masuk, Mas ganteng. Mau bertemu Tuan ya, saya panggilkan dulu. Mas ganteng nunggu di dalam, duduk-duduk dulu sambil ngemil keripik pisang nggak apa," ucapnya.



Meski sangat aneh tapi terlihat sangat lucu juga sangat ramah sih menurut Toni.



"I\_iya," Toni tetap masuk dan duduk di ruang tengah sesuai dengan tempat yang di tunjukkan oleh Susi.



"Tunggu bentar yo, Mas. Tak panggilin Tuan dulu. Ih! Ya Allah, wong kota ki ya ganteng-ganteng sekali, bikin mata melek," ucapnya.



Toni hanya tersenyum kecut menanggapi. Bisa-bisanya Tuannya memperkerjakan orang yang unik seperti ini.

__ADS_1



"Di tunggu yo, Mas. Jangan kemana-mana," tangannya sembari melambai-lambai di depan tubuhnya, matanya juga tidak berhenti berkedip. Entah karena menggoda Toni atau memang dia memiliki kebiasaan seperti itu tidak Toni tau pasti.



Sementara di kamar Arya juga Arini sedang bermesraan, lebih tepatnya terus menghabiskan waktu bersama di dalam kamar saja.



Arya terus sibuk bermain-main dengan rambut Arini, belajar mengepang rambut panjang itu namun sama sekali belum berhasil. Sementara Arini terus melihat foto-foto dirinya juga Arya yang ada di ponsel.



"Mas, ini lucu sekali ya. Besok di cetak ya, Mas. Lalu di pasang di kamar ini. "



Arini menunjukkan salah satu foto yang ada di ponselnya. Foto keduanya yang tengah berada di kantor tadi siang.



"Mas, Mas! kok tidak jawab sih, Mas!" Arini kesal karena tak mendapatkan jawaban sama sekali dari Arya, suaminya itu sedang fokus belajar mengepang rambut panjang milik Arini.



"Ya," jawab Arya singkat.



"Aww! kok di tarik sih rambut Arini. Sakit, Mas!" saking kagetnya Arya menarik rambut Arini dengan sedikit kuat membuat Arini meringis sekarang.



"Maaf maaf, Mas nggak sengaja. Lagian kamu panggilnya keras-keras sih. Yang pelan dong Sayang. Mas kan denger."



"Dengar? dari tadi Arini panggil nggak nyaut bagaimana mungkin denger." wajah Arini berkedut bibirnya berkatup-katup karena kesal.




"Tuh kan!"



"Emang kamu bilang apa sih, Sayang."



"Ini loh, Mas. Foto ini bagus, besok di cetak dan di pasang di dinding kamar ini," Arini harus menjelaskan lebih jelas lagi supaya Arya benar-benar mengerti.



"Oh, oke deh. Besok aku cetak yang besar kalau perlu kita cetak semua dan penuhin dinding ini dengan semua foto-foto kita."



"Ya nggak gitu juga lah, Mas. Kalau kebanyakan juga akan jelek kamarnya."



"Ya sudah, terserah kamu saja. Asal kamu bahagia Mas akan lakukan. Tapi sebelum itu Mas minta hadiah dulu."



"Hadiah? Arini tidak punya apapun."



"Ada, hadiah yang sangat enak."

__ADS_1



Arya melepaskan rambut Arini, capek juga dari tadi berusaha namun tidak berhasil juga. Sekarang Arya langsung mengangkat tubuh Arini ke pangkuannya, menggesernya sehingga duduknya Arini berhadapan dengannya.



"Emang hadiah enak itu apa, Mas." Arini masih saja tak mengerti padahal Arya selalu saja memintanya tapi perempuan itu, tidak mungkin dia lupa kan?



"Hadiah enak itu ini, Sayang."



Diapitnya wajah Arini dengan kedua tangan di tarik hingga semakin dekat dengan wajahnya dan langsung Arya menyatukan bibirnya. Menikmati bibir kecil istrinya itu sangat enak dan sudah menjadi candu untuk Arya.



Arya terus menyesapnya, membuat istrinya terengah karena kehabisan nafas.



"Inilah hadiah yang enak itu, Sayang." Arya melepaskan dan memberi kesempatan Arini untuk mengambil udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-parunya.



Setelah nafas Arini teratur Arya ingin melakukannya lagi tapi suara ketukan pintu membuatnya tidak jadi dan kini berubah kesal.



"Apa sih! malam-malam ganggu orang saja."



"Tuan, ada tamu!" suara Susi berteriak dan dengan jelas Arya mendengarnya.



"Siapa sih yang bertamu malam-malam begini, apa dia nggak berpikir apa kalau malam itu waktunya istirahat. Dasar!"



"Sudah lah, Mas. Jangan marah-marah. Tamu itu raja loh, raja harus di hormati. Dan tamu juga datang bersamaan dengan malaikat yang datang membawa rizky," bujuk Arini dengan suara khasnya yang sangat lembut.



nafas berat keluar dari hidung Arya, kalau istrinya sudah seperti itu dia tidak bisa mengelak lagi. Padahal dia sedang ingin meneruskan apa yang dia maksud dengan hadiah enak tadi.



"Baiklah. Mas akan turun. Karena kamu yang memintanya jadi kamu harus memberikan hadiah yang lebih enak lagi nantinya. Dan itu tidak hanya sekali."



"Hah!" Arini terperangah, dia tau dengan hadiah yang Arya maksud yang tidak hanya sekali ini. Pelan-pelan Arini menelan saliva dengan sangat susah, bagaimana mungkin Arya akan memintanya lebih bukankah dia sendiri yang kemarin bilang dia tidak akan melakukannya sering-sering.



Arya benar-benar keluar setelah di bujuk oleh Arini. Sementara Arini dia cepat-cepat lompat ke kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.



Arya semakin kesal saat melihat siapa yang datang dan menjadi tamunya. Matanya langsung melotot ke arah Toni.



Toni langsung berdiri, menyambut tuannya yang datang dan kini masih berjalan menuruni anak tangga. Wajahnya yang terlihat menyeramkan membuat Toni bergidik melihatnya.



"*Astaga, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Matilah aku sekarang. Saking semangatnya ingin mengatakan kepada tuan Arya aku lupa bagaimana sifatnya yang sangat menakutkan ini. Ya Allah, selamatkan lah aku." batin Toni*.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


Bersambung....


__ADS_2