Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
103. Kebohongan Arya


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...________...


Arya juga Arini sudah sampai di rumah pak Karna sekarang. Keduanya juga sudah duduk di ruang tengah rumah yang terbuat dari kayu itu, tapi rumahnya terasa begitu adem.


Bu Sulasmi langsung masuk setelah menuntun Arini untuk duduk, dia bergegas untuk mengambil minum untuk mereka berdua yang sepertinya juga kehausan mungkin juga sedang kelaparan.


"Pak maaf, apa bisa pinjem 𝘤𝘩𝘢𝘳𝘨𝘦𝘳? Ponsel saya mati dan harus menghubungi orang rumah untuk menjemput kami," kali ini Arya berbicara. Sebenarnya dia tidak mau secepatnya kembali ke kota, Arya kasih ingin terus menghabiskan waktu berdua saja dengan Arini. Arya mau lebih mengenal gadis kecil itu.


"Ada, bisa saya pinjam ponselnya," Arya mengambil ponselnya yang ada di saku celana, menyarahkan pada pak Karna untuk bisa mengisi daya.


"Ini, Pak." tangan Arya terulur memberikan ponselnya.


Setelah pak Karna beranjak bu Sulasmi datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir berisi teh. Dia juga langsung memberikannya kepada Arya dan Arini.


"Silakan di minum dulu," ucap bu Sulasmi dengan begitu lembut.


"Terimakasih, Bu," jawab Arini.


Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan dari pak Karna juga bu Sulasmi. Mereka sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka berdua dan bagaimana bisa mereka sampai di desa.


Setelah mendengar semua penjelasan akhirnya pak Karna juga bu Sulasmi paham.


"Sedikit kasih nasehat untuk Nak Arya, kalau sedang ada masalah jangan marah apalagi sampai melakukan hal yang seperti itu kepada istri. Istri itu butuh cinta dan kasih sayang, bukan amarah juga keegoisan," ucap pak Karna.


Ternyata mereka masih mengira kalau Arya juga Arya Arini adalah pasangan suami istri.


"Iya, Nak. Kasihan nak Arini," imbuh bu Sulasmi.


Arya juga Arini saling menatap, tentu itu akan sangat membuat Arini tidak nyaman tapi sepertinya tidak untuk Arya, diah bahkan terlihat biasa-biasa saja dan tak ada rasa gugup dan canggung sama sekali.


"Hem... " Arya mengangguk. Dia menerima begitu saja saran dari pasangan suami istri itu. Hatinya ingin mengatakan sejujurnya tapi rasanya mulutnya kelu dan tak sampai untuk mengakuinya.


"Saya mengaku salah. Tidak seharusnya melakukan itu pada istri saya. Maafin aku ya, Sayang."


Arini hampir tersedak teh yang barusan dia minum saat Arya merangkul pundaknya juga memanggilnya sayang. Lemes amat ya mulutnya pak Tuan, kesurupan apa dia saat ini. Apakah dia sadar dengan apa yang dia katakan?


"Hati-hati dong, Sayang. Kalau tersedak sakit loh tenggorokannya," ucapnya lagi. Tangannya mengelus punggung Arini dengan sangat lembut.


Arini menoleh ke Arya, pria tampan itu malah tersenyum kecil kepadanya juga mengedipkan satu matanya. Kode apa itu mata, Arini belum juga paham.

__ADS_1


"Pak Tuan kelilipan? " terlalu tak nyambung si Arini, Arya berkedip karena meminta Arini ikut dalam aktingnya tapi nih anak tak nyambung sama sekali. Maklum lah Arini kan tidak suka main drama sama seperti Pak Tuan sekarang ini.


Arini menoleh ke arah satunya, tangan Arya masih bertengger di bahunya. Sungguh terlalu nih orang, sesuka hati sendiri kalau bertindak juga tidak minta izin dulu sama empunya.


"Pak Tuan, lepasin! " Arini berusaha menjauhkan pundaknya dari tangan Arya tapi Arya malah semakin mengeratkan. "Ishh..., apa sih! "


"Kalian baru menikah ya? Kelihatan masih malu-malu," Pak Karna menggeleng dengan tingkah laku mereka berdua. Benar-benar seperti suami istri yang baru beberapa hari menikah dan masih terlihat malu-malu.


"Bu-bukan... "


"Sayang, sudah dong! jangan marah-marah mulu kan aku sudah minat maaf," Benar-benar otaknya geser nih Pak Tuan. Sayang-sayang dari mana coba pacar bukan, adik bukan apalagi istri yang seperti dia bilang.


Ingin sekali Arini ngomel saat ini pada Arya, omongannya semakin ngelantur tidak jelas membicarakan kebohongan pada orang yang tidak mereka kenal sama sekali.


Biasanya kepala Arya yang ngebul dan sekarang giliran kepala Arini yang ngebul, menguap dan ingin meledak.


///////


Karena drama yang sukses Arya lakukan membuat mereka berdua berada di dalam kamar tamu di kediaman pak Karna saat ini. Pak Karna juga bu Sulasmi begitu baik sampai mempersilahkan mereka berdua untuk istirahat sejenak di sana sebelum ada orang yang akan menjemput mereka berdua.


Dua setel baju di siapkan oleh bu Sulasmi untuk mereka berdua meskipun hanya baju sederhana juga pasti harganya sangat murah tapi tak masalah.


Wajah Arini berkedut dia sangat kesal karena Arya. Bukannya meminta maaf dan merasa bersalah Arya malah terus terkekeh melihat Arini yang kesal. Sukses juga si Arya membuat gadis itu merasa kesal orang yang biasanya membuat orang lain kesal sekarang giliran dia sendiri yang kesal.


Arya semakin merasa bangga, hatinya begitu senang bisa juga dia membuat Arini kesal sekarang, sungguh lucu sekali raut wajahnya.


Bukannya menjawab apapun Arya diam dan masuk ke kamar mandi.


"Dasar pak Tuan! bagaimana bisa dia melakukan drama yang seperti ini. Dia begitu mudah melakukannya, mengatakan kalau aku adalah istrinya. Istri apaan bahkan aku tidak pernah berharap orang angkuh seperti dia bisa menjadi suamiku," ucap Arini dengan kesal.


Baru kali ini ada orang yang bisa membuat Arini menjadi kesal seperti ini bahkan orang yang yang selalu menyakitinya saja tidak bisa mengubah kesabaran menjadi kekesalan seperti sekarang, tapi Arya? Dia sukses membuat hatinya seperti di aduk-aduk karena perkataannya.


Setelah beberapa saat Arya kembali keluar setelah membersihkan tubuhnya, dia sudah terlihat segar bugar. Jiwa isengnya masih terus menggelora dia masih ingin menambah kekesalan Arini akan dirinya. Seperti apa reaksi Arini sekarang saat melihatnya.


"Istriku, tolong keringkan rambutku," perintahnya. Tangannya melemparkan handuk putih kecil dan tepat menutupi wajah Arini.


Semakin bertambah kesal kan? "Astaghfirullah hal 'azim..., Pak Tuan kenapa tidak pakai baju!" Arini langsung menutup matanya menggunakan handuk yang Arya lempar barusan.


"Buat apa pakai baju, apakah suami istri kalau mau berhubungan harus pakai baju, tidak kan?" sungguh kewarasan Arya mulai berkurang, dia sudah kumat lagi dengan kemesumannya.


Arya duduk di lantai di bawah Arini dia mengambil posisi yang pas supaya Arini bisa mengeringkan rambutnya dengan mudah.

__ADS_1


"Ayolah istriku, cepat keringkan rambutku. Setelah itu kita habiskan waktu kebersamaan kita dengan bermesraan. Bukankah itu yang kamu mau? Ayolah," ucap Arya semakin getol dengan dramanya.


Tak akan Arya bisa melakukan ini saat mereka sudah pulang nanti, saat berada di kota Arya akan kembali sibuk dengan pekerjaannya sementara Arini? Dia pasti akan selalu membantahnya dan akan pergi dengan orang-orang yang di anggap nya tidak jelas.


"Keringkan saja sendiri, Arini kan bukan istrinya Pak Tuan jadi tidak punya hak atau kewajiban untuk pak Tuan," Arini menaruh handuk di kepala Arya, dia turun dari kasur lewat sebelah yang lain.


Dengan kekesalan Arini pergi ke kamar mandi, dia ingin menjauh dari Arya sejauh-jauhnya kalau tidak entah apa yang akan dia lakukan dalam tubuh tel*njang seperti itu dan hanya melilitkan handuk di perutnya saja.


"Hemm..., lucu sekali. Seharusnya aku mendapatkan penghargaan karena berhasil membuat orang paling sabar bisa kesal sekarang. Hehehe..," Arya beranjak dari tempatnya, mengambil baju yang sudah di siapkan juga langsung memakainya.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...


Arya cepat-cepat memakai baju setelah mendengar pintu di ketuk. Dia juga bergegas setelah itu untuk membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Nak Arya, ini ponselnya. Baterainya sudah penuh," pak Karna menyodorkan ponsel milik Arya dengan cepat pula di terima olehnya.


"Terima kasih, Pak."


Pak Karna mengangguk, dia kembali pergi tak mau mengganggu istirahat pasangan muda yang terlihat sedang di mabuk asmara. Sungguh, bahkan seisi rumah itu percaya dengan kebohongan Arya tentang hubungannya pada Arini.


Setelah kepergian pak Karna Arya kembali masuk dia juga menutup kembali pintu kamar itu.


Arya membuka ponselnya, memencet salah satu 𝘪𝘤𝘰𝘯 berwarna hijau. Keluarlah deretan nomor dari orang-orang yang dia kenal juga begitu banyak panggilan juga chat yang seketika bermunculan.


Satu nomor yang langsung di pencet oleh Arya, dia tak memperdulikan semua chat di dalamnya dan langsung mengirim pesan kepadanya, siapa lagi kalau bukan nomor Toni asistennya.


"𝘑𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘩𝘢𝘳𝘦 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘫𝘢𝘮, " Pesannya yang lagi-lagi tak masuk di akal.


Jarak yang begitu jauh tak mungkin bisa di tempuh dalam waktu dua jam saja, tapi itulah Arya. Perkataannya selalu di luar kewajaran.


Arini keluar dari kamar mandi, Arya langsung menoleh melihat Arini dengan tak berkedip. Meski Arini tetap memakai hijab tapi lihatlah yang dia pakai sekarang hanya daster batik rumahan yang kebesaran.


Seharusnya lucu sih, tubuh Arini yang kecil tapi di paksa menggunakan baju yang kebesaran sama persis seperti orang-orangan sawah. Tapi tidak di mata Arya, dia malah melihat ada yang berbeda, khayalannya mulai berkelana bayangan-bayangan akan apa yang ada di dalamnya.


Dengan baju yang longgar seperti itu bukankah akan sangat mudah untuk di buka? Ah.., otak Arya mulai bergerilya dengan bebas. Dan satu lagi yang membuat Arya tak percaya, bagaimana mungkin si kecil di bawah sana bisa terbangun dan meronta-ronta ingin mencari sarannya.


"𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯," umpat Arya dengan frustasi


______


Bersambung....

__ADS_1


________


__ADS_2