Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
317. Tidak Akan Pernah


__ADS_3

Happy Reading....


Tok tok tok...


Kembali pintu rumah Arini terdengar ada yang mengetuk padahal baru saja Anggi keluar dan juga teriak-teriak karena ingin masuk dan terus menyerukan kekesalannya pada Susi dan kini pintu kembali terdengar suaranya. Apakah itu Anggi lagi?


Susi terlihat malas untuk membukanya masih jengkel saja sama Anggi apalagi kalau sampai yang mengetuk lagi itu adalah orang yang sama.


Tok tok tok...


"Siapa sih, awas ya. Aku bawakan air satu ember. Kalau itu masih cewek pelakor itu biar saja dia basah kuyup," lagi pintu di ketuk dan seketika membuat Susi semakin kesal.


Bukan melangkah menuju arah pintu tapi Susi malah melangkah masuk menuju dapur sepertinya apa yang barusan dia katakan akan dia lakukan.


"Biar tau rasa tuh pelakor. Tau juga laki-laki udah punya bini mau di embat apa nggak mikir apa tuh cewek. Nyebelin banget," kembali Susi mengoceh setelah keluar dari dapur dan benar saja tangannya sudah membawa ember yang penuh dengan dengan air.


Tok tok tok...


"Iya, sebentar napa sih! yang sabar ngapa!" teriak Susi yang kesal karena orang yang ada di luar tak sabaran.


Bersiap Susi di depan pintu satu tangan siap menekan gagang pintu dan satunya masih setia dengan ember yang mana airnya hanya tinggal di gunakan jika yang ada di luar benar-benar Anggi.


"Satu, dua, ti..."


Byurrr...


Belum juga Susi melihat orang yang ada di depan pintu dia sudah langsung menyiramnya dengan air itu. Tapi apa yang dia lakukan buka karena di sengaja melainkan dia kepleset hingga sontak embernya terangkat.


"Susi! apa yang kamu lakukan!" suara itu melengking begitu tinggi, suara itu begitu Susi kenal.


"Tu_tuan tampan," Susi tergagap, matanya membulat dengan wajah yang langsung berubah takut dan penuh rasa bersalah.


Kepulangan majikan bukannya di sambut dengan baik ini malah di siram pakai air satu ember jelas basah kuyup kan si Arya.


"Kenapa, alasan apa yang ingin kamu katakan! apa kamu mau katakan kamu mau pakai air itu untuk menyiram bunga, iya!"

__ADS_1


"Hehe, itu Tuan tau. Maaf bener loh Tuan saya benar-benar tidak sengaja. Saya sudah hati-hati tapi saya tersandung kaki saya sendiri. Maaf ya, Tuan. Jangan pecat saya ya, Please," begitu memohon Susi wajahnya memasang seimut mungkin dan juga dengan wajah memelas nya.


"Maaf maaf! lihat, gara-gara kamu aku jadi basah begini kan! ini masih mau di pakai, Susi!" jelas Arya sangat kesal.


Dia niat pulang sebentar karena perasaannya sangat tidak enak di kantor dan tak taunya di rumah hanya mendapat sambutannya yang seperti ini.


"Maaf, Tuan. Saya kan sudah bilang tidak sengaja. Kalau masalah jas tuan bisa pakai yang lain kan," ucap Susi.


"Sudah ya, jangan sok ngatur," tak mau terlalu lama di sana Arya langsung berlalu dia melangkah menuju anak tangga untuk dia ke kamar.


Bukan hanya untuk bersih-bersih saja tapi dia merasa penasaran karena tidak melihat istrinya, dia juga merasa tidak enak dari tadi semenjak di kantor dia sangat takut saja Arini mengalami masalah.


"Susi! jangan lupa keringkan lantainya. Awas kalau masih basah!" sebelum masuk kamar Arya sempatkan melongok sebentar dan memberikan perintah pada Susi.


"I_iya, Tuan!" jawab Susi juga dengan teriak.


"Untung hanya di suruh membuat lantai ini kering lagi, coba kalian di suruh keluar dari rumah ini untuk selamanya bisa mati kelaparan aku," gumam Susi.


...****************...


Perasaan Arya sangat lega ternyata istrinya baik-baik saja, tak ada masalah padanya.


Tubuh yang basah membuat Arya memilih masuk ke kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan diri.


Tak lama Arya berada di kamar mandi, dia tentu hanya seperlunya saja di dalam sana lalu keluar juga dengan bergegas. Langkahnya menuju ruang ganti tanpa melirik istrinya yang dia pikir masih tidur padahal sebenarnya Arini hanya pura-pura saja dengan memejamkan mata.


Arya kembali setelah komplit dengan pakaian kerjanya. Yah! Arya ingin kembali ke kantor lagi setelah melihat istrinya baik-baik saja.


Arya mendekati Arini duduk di sampingnya membelai puncak rambutnya lalu mengecupnya dengan sangat lembut.


"Alhamdulillah, kamu tidak kenapa-napa. Aku sangat mengkhawatirkan mu ketika di kantor," ucap Arya.


"Selamat istirahat, Sayang. Maaf, mas akan ke kantor lagi mas masih ada meeting," ucap Arya lagi.


Arya hendak berdiri ingin segera ke kantor lagi tapi baru saja dia hendak berpaling Arini mengatakan sesuatu dan langsung membuat Arya berhenti dan kembali.

__ADS_1


"Mas, apakah mas masih berhubungan dengan mbak Anggi?" tanyanya.


"Hem?" Arya kembali mundur dan juga kembali duduk di tempat yang semula.


"Apakah mas masih berhubungan dengan mbak Anggi?" kembali Arini mengulang pertanyaannya lalu duduk.


"Kamu kenal Anggi di mana?" Arya balik bertanya.


"Mbak Anggi datang barusan, aku malah jadi berpikir apakah mas pulang juga karena mbak Anggi datang? apakah mas bertemu dengan mbak Anggi tadi?" selidik Arini.


"Ya Allah, Sayang. Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu. Mas pulang karena di kantor mas sangat mengkhawatirkan mu. Mas tidak bisa konsentrasi maka dari itu mas pulang."


"Aku berhak punya pikiran seperti itu kan, Mas. Bagaimana mungkin aku tidak akan berpikir seperti itu kalau ada wanita datang dan mengatakan akan menjadi istri mas juga. Bahkan dia mengatakan aku harus bisa berbagi apapun termasuk berbagi mas dengannya." terang Arini.


Ada rasa yang sangat panas dalam hatinya tapi Arini menahannya supaya tidak membakar semuanya.


"Dalam islam berpoligami memang tidak di larang asalkan bisa adil tapi maaf, Arini tidak mau di poligami. Kalau mas memang ada niat seperti itu lebih baik lepasin Arini," ucap Arini begitu panjang.


"Siapa yang mau berpoligami, Sayang. Mas tidak ada niat sama sekali. Hanya kamu yang mas cintai dan mas pilih. Siapapun tidak akan mas pilih karena hanya kamu satu-satunya. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Sayang. Aku mohon," ucap Arya.


"Tapi Arini takut, Mas. Mas di segani semua wanita mereka juga lebih cantik lebih segalanya dari Arini. Arini takut mas akan meninggalkan Arini."


Arini langsung menangis seperti kata takut itu benar-benar Arini rasakan. Terlihat begitu kecil hati Arini saat ini.


"Arini takut, Mas." Arini semakin menjadi dalam tangisnya.


"Dulu mas memang bejat bahkan laki-laki paling bejat tapi setelah bertemu dengan mu, mas sadar semua itu adalah dosa. Dan setelah janji pernikahan mas ucapkan mas benar-benar berjanji tidak akan ada lagi perempuan selain kamu di hati Mas. Hanya kamu, Sayang. Kamu saja," ucap Arya.


Di genggamnya tangan Arini di kecup berkali-kali bahkan terus di tempel di pipinya secara bergantian.


"Mas tidak bohong kan?" tanya Arini merasa pilu.


"Mas tidak bohong, mas janji tidak akan mengkhianati mu atau menduakan mu. Hanya kamu saja," ucap Arya yang membuat Arini merasa lega.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2