Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
263.Aku Bukan Bocil


__ADS_3

Happy Reading...


...---------------- ...


Begitu bahagia Arini saat ini saat melihat Raisa ada di depan matanya apalagi Raisa terlihat jalan berdua dengan kakaknya yang juga mengantarkan. Bahkan Dimas sampai di depan perusahaan Gautama juga.


"Cie cie cie... Ada yang lagi kasmaran nih ya. Bagaimana, Kak! udah beres belum?" goda Arini yang kini sudah berdiri di samping Dimas juga lengannya terus menyenggol lengan Dimas.


"Apa sih, Dek. Bocil di larang ikut campur sama urusan orang dewasa. Di larang lihat juga. Sana pergi!" usir Dimas dengan mendorong Arini pelan.


Mata Arini terbelalak, tidak terima di panggil bocil oleh Dimas. Arini berkacak pinggang, matanya semakin lebar dan pipinya sudah menggembung sempurna karena kesal.


"Kakak tega banget sih ngatain aku bocil. Aku sudah gede, Kak." protes Arini keras. Mana mungkin dia akan rela.


Itulah Dimas juga Arini. Kalau tidak ketemu saling kangen tapi kalau ketemu rasanya pengen berantem saja. Apakah seperti itu ya kalau adik kakak.


"Jangan ngegas, Dek. Nanti kebablasan bahaya loh."


"Ih, kakak nyebelin!" wajah Arini berkedut, kakinya terlihat di hentakan di lantai dan kedua tangan sudah berpindah menyilang di depan dada.


"Ada apa ini? Sayang, kamu kenapa?" Arya bingung melihat perubahan Arini saat ini. Tadi dia baik-baik saja tapi kenapa sekarang terlihat seperti ini saat bertemu dengan Dimas juga Raisa.


"Kamu apakan istriku," mata Arya sudah langsung melotot tajam ke arah Dimas, laki-laki itu tidak akan pernah terima kalau ada orang yang membuat istrinya bersedih, meskipun itu kakaknya sendiri.


Dimas langsung mengkerut, padahal dia adalah kakak ipar yang seharusnya berani dengan adik iparnya tapi dia sama sekali tak punya keberanian itu.


"Ti_tidak, saya tidak melakukan apapun padanya. Dianya saja yang masih kekanak-kanakan," elak Dimas. Mana mungkin dia akan mengakui begitu saja, dia takut kan sampai di semprot oleh Arya.


"Siapa yang kekanak-kanakan, Kakak kali!" Arini tak tinggal diam.


"Astaga, gini amat sih adek gue. Apa nggak kasihan apa ya sama kakaknya ini. Apa dia nggak tau kalau suaminya itu adalah ancaman terbesar buatku? hadeuh!" batin Dimas.


"Maaf ya, Dek. Kakak harus pergi, banyak kerjaan!" kabur lebih baik daripada tetap berada di sana dan akan mendapatkan amarah dari Arya. Bisa-bisa dia akan kehilangan pekerjaannya nantinya.


"Kalau begitu saya juga permisi, Tuan. Saya harus bekerja," Raisa pun juga ikut pamit.


"Hem," jawab Arya singkat.


Setelah kepergian Raisa Arya langsung merangkul pinggang Arini. Keduanya juga langsung masuk.

__ADS_1


Semua pasang mata melihat kemesraan mereka berdua bagaimana keduanya terus bergandengan juga bagaimana keduanya terus tersenyum.


Arya juga Arini tidak peduli dengan tatapan miring untuk mereka berdua, mereka terus melangkah dan acuh.


Lift khusus menjadi tujuan mereka, dan setelah keduanya masuk baru semua orang berani berbicara.


"Tidak nyangka ya, kalau ternyata hanya wanita seperti itu yang di pilih oleh Tuan Arya. Padahal dia tampan, kaya juga mapan perempuan seperti apapun pasti bisa dia dapatkan tapi kenapa malah memilih wanita seperti itu?"


"Iya, ternyata pilihannya hanya mantan OBnya sendiri."


"Iya, pasti mereka udah itu-itu dulu pasti ya sebelum menikah. Kalau tidak kan tidak mungkin banget."


"Halah, mungkin itu wanitanya yang main tidak bener lalu menggoda bos kita."


Begitu banyak tanggapan miring tentang Arya apalagi Arini. Mereka masih saja terus membicarakan Arini meski dia sekarang adalah istri bos mereka sendiri.


"Oh, nggak punya otak juga ya kalian semua. Kalian masih mengharapkan pekerjaan kalian tapi kalian sendiri berani menggunjing istri tercinta bos kalian sendiri. Apakah aku harus mengatakan ini kepada Tuan Arya! Aku yakin dia akan sangat berbaik hati untuk merumahkan kalian jika dia mendengar apa yang kalian katakan barusan."


Begitu berani Raisa mengatakan itu. Bahkan dia sudah membawa pel. Mendirikan gagang pel di sebelah kirinya dan tangan sebelah kanan berkacak pinggang.


Para karyawan tadi langsung terdiam mendengar penuturan Raisa. Satu persatu mulai pergi meski matanya masih memandangi Raisa dengan sinis.


"Kenapa loh! berani sama gue? ayo sini maju kalau berani!" mata Raisa melotot tajam ke arah semuanya.


"Iya, kenapa kalau gue OB! masalah buat situ!"


Kelakuan Raisa saat ini berhasil membubarkan para emak-emak tukang ghibah di perusahaan ini. Jangan pandang rendah Raisa meski dia hanya OB tapi dia sangat berani, apalagi itu menyangkut Arini, dia akan selalu menjadi garda terdepan untuk membelanya.


...****************...


Dimas begitu bergidik kalau berurusan dengan Arya, meski dia sudah merelakan adiknya tapi tetap saja dia tak mendapatkan hormat sebagai kakak ipar. Nasibnya sungguh tidak beruntung.


Dia melangkah masuk ke rumah sakit dengan ngedumel tak jelas, dengan memainkan kunci mobil yang ada di tangan.


"Dasar Arya, beraninya hanya ngancam mulu. Arini juga, dia adikku atau bukan sih! kenapa dia sama sekali tidak membelaku dari suaminya, Dasar!"


"Dok, Dokter! ada pasien darurat, Dok!" baru saja Dimas ngedumel dia harus berhenti karena ada perawat yang berlari menghampiri.


"Dimana!" Dimas langsung cekatan.

__ADS_1


"Ada di UGD, Dok!"


Dimas cepat berlari, dia juga langsung menuju tempat dimana pasien itu berada.


Dimas terperangah tak percaya saat melihat siapa yang menjadi pasiennya itu, dia adalah Fara. Fara yang kebetulan di bawa oleh Risman ke rumah sakit itu.


"Ini kan Fara," gumamnya.


Tak mau larut dalam pikirannya Dimas langsung memeriksa keadaan Fara. Fara juga demam dan Dimas meminta perawat untuk memberikan obat demam kepadanya.


"Sus, bajunya basah. Setelah ini ganti bajunya." ucap Dimas.


"Baik, Dok," perawat itu nurut dengan apa yang Dimas katakan.


"Dan ya, minta Dokter Dini untuk memeriksa kandungannya, dia sedang hamil soalnya." pinta Dimas lagi.


"Baik, Dok."


"Apakah aku harus memberitahu Arini tentang ini?" batin Dimas bingung.


Keadaan Fara tidak terlalu buruk, dia hanya mengalami demam saja mungkin karena dia kedinginan sebab bajunya yang basah.


Dimas memutuskan untuk keluar setelah memeriksa keadaan Fara.


"Dok, bagaimana keadaan, Fara." baru juga keluar Dimas sudah langsung di sambut oleh Risman yang sangat mengkhawatirkan Fara.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Dimas.


"Sa_saya..., saya temannya." terpaksa Risman mengaku kalau dia adalah temannya. Dia tidak bisa mengaku yang lebih dari itu karena dia juga belum ada hubungan apapun kepada Fara meski dia sangat mencintainya.


"Teman? kalau hanya teman kenapa dia sampai khawatir seperti ini, bahkan dia juga terlihat habis menangis?" batin Dimas penasaran.


"Dia baik-baik saja, dia hanya mengalami demam. Sebentar lagi juga akan siuman. Kamu tenang saja. Temanmu akan baik-baik saja," Di sentuhnya pundak Risman oleh Dimas, Dimas juga meninggalkan senyum sebelum dia pergi.


"Alhamdulillah, kamu harus baik-baik saja, Fara. Aku tidak mau kehilangan kamu," Risman melihat Fara dari kaca dan terlihat wanita itu sudah di ganti bajunya dan sudah terpasang beberapa selang.


"Sepertinya tidak hanya sekedar teman. Dia tidak mungkin sampai segitunya takut kalau hanya teman saja."


Dimas menoleh sebentar sebelum dia benar-benar pergi melihat pergerakan Risman yang ada di depan pintu.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2