
..._______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Jam istirahat telah tiba, semua karyawan berbondong-bondong pergi ke kantin ataupun keluar sekedar untuk mengisi perut di siang ini.
Tak ketinggalan Raisa juga Arini, mereka berdua berjalan dengan bahagia dengan berdampingan. Arini benar-benar seperti mendapatkan kakak juga teman baru yang selalu menemaninya, bahkan Raisa begitu tulus padanya dan tak memandang bagaimana keadaan Arini.
Tujuan mereka adalah kantin, mumpung hari ini Arini tidak puasa jadi mereka bisa makan bersama.
Belum juga sampai di kantin mereka di hadang oleh Melisa. Wajahnya sungguh tidak bersahabat apalagi matanya yang seakan ingin copot begitu menakutkan.
Tangannya langsung bersedekap dada di hadapan mereka berdua, tatapannya begitu bengis ke arah Arini juga Raisa dengan bergantian. Tercetak jelas ada aura kesombongan juga keangkuhan di dalamnya.
Arini masih terdiam, dia kembali mengingat apa yang Ratna katakan kemarin. Hari ini dia juga tak melakukan apapun, dia berusaha untuk menjauhi Arya ya meski Pak Tuannya itu sendiri yang selalu mendekatinya. Itu bukan kesalahan Arini kan?
"Kenapa kamu takut, apa kamu melakukan kesalahan? apa kamu melupakan yang kemarin ibu katakan?" tanya Melisa.
Arini mengangkat wajah untuk menatap Melisa, dia menggeleng karena dia memang tak membuat masalah, dia juga tidak melupakan apa yang dia dengar kemarin.
"Bagus, saya harap kamu tidak akan melupakan untuk selamanya. Kamu harus mengingat posisimu, kamu harus bisa menyesuaikan posisi apa yang pantas dari anak buangan seperti mu," ucap Melisa begitu sadis.
Arini terlihat biasa saja meski hatinya tengah menjerit, tapi tidak dengan Raisa dia sudah berjanji akan selalu melindungi Arini, menjadi tedeng aling-aling untuk gadis kecil yang selalu di tindas dan sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
Kedua tangan Raisa saling menyatu, jari-jarinya saling bertaut hingga mengeluarkan bunyi yang menggerutuk. Raisa sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Sekali saja Melisa melakukan hal yang kelewat batas maka Raisa yang akan membalasnya untuk Arini.
"Apa perlu aku beritahu posisi apa yang pantas dari anak buangan sepertimu? hanya menjadi babu lah posisi yang pantas untuk mu, kamu mengerti," wajah Melisa dia condong ke depan perkataannya begitu jelas di dengar oleh Arini ataupun Raisa.
__ADS_1
Raisa semakin geram perempuan yang dia sebut sebagai nenek lampir itu ternyata lebih menyebalkan dari apa yang dia pikir. Dia pikir tidak semenyebalkan ini, tapi ternyata?
Raisa menarik lengan Arini, menggeser Arini untuk berada di belakangnya. Dengan tegak berani Raisa berdiri di depan Melisa di tengah-tengah antara mereka berdua.
"Oh..., jadi perempuan sepertimu berani membicarakan posisi ya di sini. Ck.. Ck.. Ck... Tapi tidak masalah, kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan, anda atau Arini yang akan berada di posisi seorang BA-BU.." ucap Raisa menekankan di akhir kalimat.
"Saya memang bukan Tuhan yang bisa mengerti akan takdir seseorang sih, tapi saya rasa nasib Arini akan lebih baik daripada Anda. Saya sendiri memang mengakui kalau Arini hanya gadis bodoh, jelek juga tak mempunyai apapun yang Anda punya, tapi ingat baik-baik, Nona. Roda akan selalu berputar. Sekarang Arini bisa tegar menghadapi semua penghinaan dunia apakah anda akan tegar saat anda berada di tempat paling rendah," Raisa menyungging sinis.
"Dan ya! Saya sangat bersyukur karena Arini hanya anak buangan, saya rasa akan menjadi malapetaka jika Arini benar-benar menjadi adik Anda. Anda tidak akan pantas mendapatkan surga yang di perjuangkan oleh Arini. Yuk, Arini. Aku sudah selesai," Raisa cepat menarik lengan Arini, dia ingin cepat pergi dari nenek lampir yang sekarang terlihat semakin menakutkan.
Melisa sangat kesal, bagaimana bisa dia di kalahkan oleh OB saja. Kedudukannya lebih tinggi kan?
Melisa memutar badannya dia mengejar Raisa juga Arini, Melisa menghadang kembali langkah mereka. Tangannya sudah terangkat dan siap memukul Raisa.
"Jaga ucapan mu perempuan rendah!! " suara Melisa begitu tinggi, bersamaan dengan tangannya yang sudah hampir melayang ke wajah Raisa.
Tak akan ada yang bisa mengalahkan Raisa, dia adalah gadis bar-bar yang sangat kuat. Dia juga pintar akan menjaga dirinya sendiri, hanya tangan Melisa mah terlalu kecil untuknya.
"Anda mencari mati jika berhadapan dengan saya, Nona Me-li-sa..., Anda salah mencari lawan. Lebih baik anda pulang, dan ya! bukankah anda sedang di skors? apakah anda benar-benar ingin di keluarkan dari sini? kalau iya, oke! Akan saya bantu untuk anda di percepat keluar untuk selamanya." ancam Raisa.
Raisa melepaskan tangan Melisa dengan keras, membuat sang empu berhasil mundur beberapa langkah karena itu.
"Ayo Arini! waktu kita akan habis jika meladeninya. Dan ya, bukankah kamu juga harus secepatnya kembali ke ruangan Tuan Arya! dia pasti sudah menunggumu, kamu tidak mau membuatnya marah kan? Hem..., Arini Arya.. AA..., sungguh pasangan yang cocok," cerocos Raisa memanasi Melisa.
Kesal biar makin kesini sekalian. Lagian dia bisa apa? Dia tak akan bisa melawannya, dia terlalu lemah untuk menjadi tandingannya Raisa.
"Aaaa...! Awas kamu perempuan rendah! kamu pikir kamu sudah menang sekarang? tidak! Melisa tidak akan pernah bisa di kalahkan," seru Melisa.
__ADS_1
//////
Arini juga Raisa sudah duduk tenang sekarang di kantin, menunggu pesanan makanan untuk mereka berdua.
Arini sungguh merasa tak enak, dia juga sangat takut kalau Raisa yang membantunya akan mendapatkan masalah nantinya.
"Mbak, seharusnya mbak Raisa tidak mengatakan seperti Itu tadi. Arini sangat mengenal Kak Mel, dia pasti akan membalas mbak Raisa," ucapan Arini terdengar lesu, dia tak ingin orang yang menolongnya malah akan mendapatkan masalah karenanya.
Biarkan dia sendiri yang menghadapi semua masalahnya, tak perlu ada orang lain yang membantunya.
"Sudah lah, Cungkring. Jangan pikirkan aku, aku bisa jaga diri. Dan ya, mungkin Allah memang membuatku seperti ini karena untuk menolong orang yang lemah sepertimu."
"Aku hanya bingung deh sama kamu, Kring. Kamu bisa dan berani melawan tuan Arya, tapi kenapa kamu takut pada orang lain yang takut pada tuan Arya. Kamu itu sungguh aneh," imbuh Raisa bingung.
"Tapi tenang, ada aku yang akan selalu menjadi bodyguard mu. Santai saja, aku tak memungut biaya untuk kerjaku, cukup kamu senang dan tidak menangis lagi aku sudah senang," ucap Raisa.
Di suruh untuk tidak menangis tapi kini Arini malah berkaca-kaca. Dia begitu terharu dengan ketulusan Raisa kepadanya.
"Sudah, jangan menangis. Berani menangis aku akan sangat membencimu. Aku tidak akan memaafkan mu untuk seumur hidup," ucapan Raisa membuat Arini takut, dia hanya memiliki satu saja teman dia tak mau kehilangan yang hanya satu-satunya itu.
"Arini tidak akan menangis, Arini akan tersenyum," Kedua ujung bibir Arini sudah tertarik oleh kedua pipinya, dan berhasil mengeluarkan lesung pipi di tengah-tengahnya yang membuat Raisa begitu gemas saat melihatnya.
"Menggemaskan sekali..., untung aku bukan laki-laki kalau aku laki-laki akan aku culik kamu dan aku bawa ke pelaminan," celetuk Raisa.
"Hehehe..., mbak Raisa ada-ada saja." Arini hanya bisa meringis manis.
///////
__ADS_1
Bersambung....
__________