
Happy Reading...
"Benarkah aku harus menerimanya sebagai menantuku? Asal-usulnya memang sudah sangat jelas sekarang, tapi bagaimana dengan rupanya? Dia masih sangat jauh dari kata sempurna untuk menjadi pendamping Arya, anakku," batin Luna.
Nyatanya status juga asal-usul yang jelas masih saja belum bisa membuat Luna luluh dan menerima Arini begitu saja, dia masih saja mempertimbangkannya hanya karena rupa yang tak sempurna yang di miliki Arini.
Diamnya dalam semua acara ternyata memendam banyak pikiran yang begitu ramai akan pertimbangan-pertimbangan tentang Arini.
Langkah kakinya membuntuti suami juga anaknya yang ingin mengantarkan Arini sekeluarga yang ingin pulang karena acara telah usai. Senyum manis penuh kepalsuan juga dengan terpaksa Luna keluarkan. Semua itu demi menutupi hatinya yang masih sangat ragu akan hubungan Arini juga Arya yang secepatnya akan di sahkan.
Luna memang belum setuju sepenuhnya, tapi dia sudah kalah dengan janji yang dia buat sendiri waktu itu. Kini hanya setuju di mulut tapi tidak di hatinya.
"Kami pulang dulu pak Wiguna, ibu Luna juga Eyang," ucap Hendra dengan sangat lembut. Tangannya menyalami lagi sahabatnya yang sebentar lagi juga akan menjadi besannya.
"Hati-hati, Hen! Jangan sampai terjadi sesuatu pada calon menantuku atau aku akan marah padamu," ucap Wiguna membalas, seraya tersenyum di tengah-tengah gurauan yang kecil.
"Dia juga anakku, bagaimana mungkin aku akan membiarkan dia kenapa-napa. Dia adalah hidupku, kalau dia kenapa-napa aku yang akan menjadi tameng untuk nya. Kamu pikir hanya anakmu saja yang bisa menjadi pahlawan untuk anak gadisku ini? Aku juga bisa lah, hhhh..." jawab Hendra. Tangannya seketika merangkul pundak Arini dengan kuat, seolah tak mau melepaskan.
"Halah, sampai kapanpun kamu akan selalu kalah dengan anakku. Karena dia yang sudah menjadi penguasa hatinya, bukan begitu calon mantu?" mata Wiguna langsung memandangi Arini yang sekarang lebih memilih diam dan terus menunduk.
Arini benar-benar malu karena gurauan dari Wiguna, ya meski memang benar sih. Di hatinya sudah di penuhi dengan Arya dan untuk Hendra papanya hanya ada sedikit ruang namun tetap tidak akan bisa tergantikan. Besar kecilnya ruang untuk mereka tidak akan bisa tertukar dan akan selalu menjadi pelengkap memori kehidupan dari seorang Arini.
"Sudah lah, Pa," Nilam melerai, kalau tidak mungkin perdebatan mereka berdua tidak akan pernah ada habisnya dan Nilam tidak akan pernah bisa membawa Arini pulang ke rumah yang sebenarnya.
"Hem..., bisa saya bicara sebentar dengan Arini?" ijin Arya. Sebenarnya dia tidak ingin jauh dari Arini. Beberapa hari bersama pasti akan sangat membuatnya kesepian saat Arini pergi.
__ADS_1
"Hemm, apa Tuan belum puas berhari-hari bersamanya. Bahkan telah tega menyembunyikannya dari kami," protes Dimas.
"Diam kamu! Aku tidak mau bicara denganmu," sinis Arya.
"Jangan sinis-sinis Tuan, sekarang kedudukan ku lebih tinggi daripada Tuan. Aku adalah calon kakak ipar Tuan," Dimas semakin menjadi-jadi.
"Dasar cerewet!" Arya tetap tak mau mengalah, memang sebentar lagi dia akan menjadi adik iparnya Dimas tapi baginya tetap masa bodoh. Arya ya tetap Arya yang tak bisa dibangkang oleh siapapun.
Tak sabar mendapatkan jawaban Arya langsung menarik pergelangan tangan Arini, dia membawanya menjauh bahkan mungkin sangat jauh karena dia tak mau ada penguping yang kepo dengan apa yang akan dia katakan.
"Dia benar-benar seperti mu, Pak Wiguna. Pepatah mengatakan, Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dan ternyata itu memang benar adanya," ucap Hendra, tapi matanya tak berkedip melihat kepergian anak juga calon mantunya.
"Iyalah, dia kan anakku. Kalau tidak mana mungkin dia akan menemukan anakmu," judes Wiguna menjawab.
"Nggak lucu!"
Di sinilah Arya membawa Arini pergi, di taman tempat itu yang begitu banyak akan bunga juga terdapat sebuah ayunan.
"Duduklah," pinta Arya.
"Hem?" Meski bingung tapi Arini langsung duduk di salah satu ayunan setelah mendapat anggukan kecil dari Arya.
"Pak Tuan, kita mau ngapain di sini?" tanya Arini.
"Bukan mau apa-apa, aku hanya ingin waktu jauh kita semakin singkat saja. Aku tidak ingin kita jauh semakin lama lagi," jawab Arya.
Arya beralih ke belakang Arini, perlahan mendorong ayunan dan membuatnya bergerak maju mundur.
"Pak Tuan, apakah pak Tuan tidak menyesal memilih Arini?" Arini mulai pembicaraan.
"Aku tidak menyesal, tapi aku malah mau bertanya sebaliknya. Apakah kamu tidak menyesal menerimaku yang mantan pendosa ini?" Arya terus mendorong ayunan dengan sangat pelan tak mau sampai ayunan kecil itu akan melukai Arini tentunya.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak akan menyesal. Bisa hidup dan menjadi wanita satu-satunya pak Tuan adalah mukjizat bagiku. Hanya saja, aku bingung kenapa pak Tuan lebih memilih gadis buruk rupa sepertiku. Di luar sana banyak gadis yang cantik dan sangat sempurna, kenapa harus aku?" Arini menoleh sejenak melihat wajah Arya yang tetap tenang dengan semua pertanyaannya.
__ADS_1
Terlihat Arya menjentikkan kedua bahunya ke atas, sepertinya dia juga tidak tau apa alasan sebenarnya. Tapi yang paling dia ketahui kalau dia sangat bahagia bisa bersama dengan Arini.
Tak pernah terpikir sebelumnya kalau dia yang dulu berniat ingin membuat Arini tergila-gila padanya dan sekarang malah dia yang benar-benar tergila-gila dengan Arini.
"Aku tidak tau, yang aku tau karena Allah memang menginginkan kita bersama," jawab Arya. Matanya melihat wajah Arini yang menoleh ke arahnya.
Arini hanya mengangguk, mungkin memang benar.
"Arini, terimakasih kamu sudah sudi menerimaku apa adanya."
"Kenapa harus berterima kasih, bahkan pak Tuan lebih menerimaku dari semua kekuranganku."
"Hemm...? Apa yang ingin kamu minta untuk menjadi mahar pernikahan?"
Arini kembali menoleh, "apakah harus aku menyebutkannya? Aku akan menerima apapun yang pak Tuan berikan, karena aku tidak ingin memberatkan pak Tuan. Mungkin apapun yang aku minta pak Tuan bisa memberikannya, tapi aku tidak mau itu. Aku ingin pak Tuan memberikan apapun itu dari hati pak Tuan sendiri, bukan dari keinginan Arini," begitu yakin Arini menjawab.
Sejenak Arya terdiam, kenapa sejauh mereka berdua di sana dia tidak melihat sedikit kebodohan yang selalu Arini perlihatkan sebelumnya. Apakah ini adalah sebenarnya Arini? Apakah kebodohan kemarin hanya sebuah akting untuknya?
Tapi tak masalah untuk Arya, mau Arini adalah wanita yang cerdas dengan IQ tinggi atau bodoh dengan IQ serendah apapun dia akan selalu mencintainya. Karena bukan cerdas atau bodoh yang membuat Arya mencintainya. Dan sekarang cintanya hanya karena Allah.
"Arini," panggil Arya dan Arini kembali menoleh dan memandanginya dengan sangat lekat.
"Hem?" Arini menanti apa yang ingin Arya katakan.
"Kamu..., kamu cantik," puji Arya.
Seketika pipi Arini memerah, dia langsung menunduk dia malu itu pasti.
"Kenapa menunduk? Aku mengatakan yang sebenarnya," Arya berjalan memutar, lalu duduk di ayunan yang sama dengan arini.
"Satu minggu lagi kita akan halal," Arya juga duduk miring menghadap Arini.
"Hemm..., besok pagi aku akan menjemputmu. Kita akan fitting baju pengantin kita. Dan..., dan melakukan sedikit pemotretan."
"Apakah itu perlu banget ya, Pak Tuan?"
"Sebenarnya tidak sih, aku hanya ingin masa-masa kita bersama selalu di abadikan. Suatu saat pasti akan menjadi sebuah cerita, cerita untuk anak cucu kita," ucap Arya.
"Hem," Arini mengangguk, apa yang Arya katakan memang benar.
"Apa masih ada yang mau kamu katakan?"
"Tidak," Arini menggeleng.
"Kita kembali?" Dan Arini mengangguk.
Arya kembali menarik tangan Arini tanpa persetujuannya. Tapi tetap sana kulit mereka berdua tidak saling bersentuhan karena tertutup oleh baju Arini.
Bersambung..
__ADS_1