Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
279.Mencari Arya


__ADS_3

Happy Reading....


...************...


"Astaghfirullah hal 'azim, ini ada apa sih. Aku benar-benar merasa tidak enak. Kenapa rasanya akan ada hal buruk yang terjadi?" gumam Arini.


Dari tadi dia terus mondar-mandir tak jelas di kamar hotel seorang diri. Pikirannya benar-benar tidak tenang bahkan dia juga merasa takut juga sangat gelisah.


Tangannya saling bertautan dan saling memijat. Matanya berkali-kali melihat ke arah pintu yang tetap tertutup dan belum juga terbuka.


"Mas Arya di mana, perasaan ku semakin tidak enak karena dia belum kembali juga. Ya Allah, lindungi suami hamba dari apapun, lindungi dia dari segala jenis marabahaya yang mungkin tengah mengelilinginya."


Hanya doa yang bisa Arini panjatkan untuk kebaikan Arya. Dia tak bisa melakukan apapun selain hanya sebuah doa saja. Dia juga tidak tau kemana Arya pergi.


"Apakah aku harus mencari Mas Arya ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Ya, mungkin aku harus mencarinya. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku sangat takut sampai terjadi sesuatu kepadanya."


Arini bergegas, mengambil ponsel juga tas selempang-nya lebih dulu sebelum dia benar-benar keluar. Entah kemana dia akan mencari keberadaan Arya, dia akan pikirkan tapi sekarang dia harus keluar lebih dulu.


Ke sana kemari Arini terus menerus mencari keberadaan Arya. Arya yang mengatakan meeting ada di hotel itu membuat Arini tidak keluar dari hotel.


"Maaf, Tuan. Apa tuan melihat orang ini?" tanyanya pada petugas kebersihan yang kebetulan tengah lewat di sana.


Laki-laki muda dengan seragam putih hitam itu langsung melihat layar ponsel Arini. Tapi dia langsung menggeleng.


"Maaf, saya tidak melihat." jawabnya.


"Atau, Tuan tau nggak di mana tempat yang biasa untuk tempat meeting?" Arini bertanya lagi.


"Oh tempat meeting, kalau meeting biasanya ada di kafe di lantai dua. Kadang juga ada yang di tempat khusus meeting di lantai tiga. Tapi ada juga yang ada di lantai ini, tapi..?"


"Tapi apa, Tuan?" Arini mengernyit bingung.


"Tapi tempatnya tempat plus-plus," bisiknya.


"Maksudnya plus-plus?" Arini masih tak mengerti.


"Ya itu, tempat laki-laki yang kehausan belaian. Kadang ada yang meeting ke sana sekaligus bermain-main dengan wanita bahenol."


Arini terdiam, apa mungkin Arya ke sana? tapi dia sudah berjanji kepadanya akan jauh-jauh dari tempat haram yang seperti itu.


"Terima kasih, Tuan." Arini tersenyum sekilas sebagai tanda keramahan juga tanda dia benar-benar berterima kasih kepada petugas kebersihan itu.

__ADS_1


“Sama-sama, Nona. Semoga orang yang anda cari bisa secepatnya ketemu,’’ ucap laki-laki itu.


“Amin...’’ Arini langsung berlari. Dia tak percaya kalau suaminya berada di tempat yang di bilang plus-plus, jadi Arini memilih untuk mencari ke kafe dan tempat meeting terlebih dahulu.


Dua tempat sudah Arini datangi, di sana tidak ada tanda-tanda akan keberadaan Arya. Bahkan Arini menanyakan pada petugas yang ada di sana mereka sama sekali tidak melihat Arya datang.


Arini berdiri di depan kafe dia bingung harus mencari di mana lagi. Tidak mungkin Arya keluar dari hotel dan tidak mengabarinya lebih dulu, Arya juga tidak mungkin datang ke tempat yang sangat di larang oleh Arini.


“Mas Arya tidak mungkin kan datang ke tempat yang sudah aku larang?’’


“Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar ke sana? aku harus cari di sana. Awas ya, Mas. Kalau ketahuan datang ke tempat seperti itu maka kamu akan habis,’’ ucapnya mengancam.


Mata Arini benar-benar terdapat sebuah amarah, meski dia tak yakin tapi ada setitik kata yang mengatakan Arya ada di sana.


Langkah Arini semakin cepat, dia kembali masuk ke dalam lift untuk kembali ke tempat yang tadi.


Tempat yang di tujuh ada di depan mata, Arini ragu untuk masuk. Dari luar tampak biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. Tapi benarkah di dalamnya tempat yang menjadi ladang dosa?


"Percuma hotel semewah ini kalau ada tempat yang seperti itu. Hotelnya akan sukses, tapi tidak akan berkah," komennya.


Arini benar-benar masuk, tubuhnya gemetaran setelah melihat isi di dalamnya. Laki-laki hidung belang juga para wanita yang sedang asik bermesraan dengan laki-laki yang begitu haus belain.


Ada juga yang tengah bergoyang, meliuk-liuk-kan tubuhnya mengikuti irama yang keluar dari alat yang di mainkan oleh seorang DJ.


"Maaf," sepatah kata yang Arini ucap saat laki-laki itu ingin menyentuh Arini. Arini tentu cepat menghindar, dia kembali berjalan melihat-lihat sekeliling, semoga saja dia bisa menemukan Arya.


"Hey cantik! kenapa kamu menjauh dariku, datangkan-lah kepadaku, dan kita main bersama-sama!" teriaknya. Tangannya melambai memanggil Arini tentu Arini langsung berlari karena ketakutan.


Keringat dingin keluar dari pori-pori Arini. Dia sangat takut berada di tempat yang seperti itu. Kalau saja bukan karena mencari suaminya, dia tidak akan pernah datang ke tempat dosa itu.


Sudah berkeliling semua tempat itu bahkan ada beberapa ruangan VIP Arini buka begitu saja tapi dia tak menemukan Arya. Yang ada dia malah melihat pasangan-pasangan yang akan bercinta dan berakhir mendapatkan marah dari mereka. Sungguh sial nasib Arini. Dia harus melihat orang-orang yang tengah di mabuk belain seperti itu.


"Kamu di mana, Mas?" Arini semakin cemas karena tak kunjung menemukan Arya. Pikirannya sudah benar-benar buntu, dia tak bisa berpikir mau mencari Arya ke mana. Tetapi hatinya benar-benar tidak enak. Dia yakin terjadi sesuatu kepada Arya.


Arini memilih pergi, dia juga tidak menemukan Arya di tempat itu. Arini hendak keluar tentu dengan tergesa-gesa, dia takut akan ada laki-laki hidung belang yang akan mendekatinya.


"Pekerjaan kita benar-benar bagus. Akhirnya setelah sekian lama kita bisa mendapatkan uang sebesar ini hanya untuk menjebak laki-laki kaya. Arya Arya, dia pikir bisa melawan Youmes. Hahaha!"


Suara seorang laki-laki benar-benar seperti sebuah toa untuk Arini. Dia mendengar sangat jelas nama suaminya di sebut.


Padahal Arini belum keluar seutuhnya, masih setengah badan dia keluar, kini dia mendengar kata itu dari orang yang tengah mabuk.


"Maksudnya apa? menjebak? Arya? apakah itu Mas Arya yang dia maksud?" Arini kembali masuk, dia langsung menghampiri laki-laki itu yang bernama Youmes.

__ADS_1


"Tuan, maaf. Saya dengar tadi Anda mengucapkan nama Arya, Arya siapa yang Anda maksud ya?" Arini langsung to the poin begitu saja. Meski ada ketakutan besar tapi dia tetap harus mendapatkan jawaban.


"Wih, ada cewek baru. Bolehlah kita bersenang-senang." ucap Youmes.


Youmes hendak mendekati Arini tetapi Arini tentu akan menghindar cepat.


"Maaf, Tuan. Saya hanya mau bertanya. Di mana Anda membawa Arya?" tanya Arini.


Arini terus berjalan memutari meja, dia terus menghindar dari Youmes yang berusaha ingin menangkapnya.


"Hahaha! kenapa cantik. Apakah kamu juga tertarik kepadanya sama seperti nona itu? Dia memang tampan. Tapi aku lebih tampan." ucapnya dengan bibir menyeringai.


"Nona? siapa yang dia maksud?" Arini mengernyit.


"Biarkan Nona itu menikmatinya dulu, baru kamu daftar. Kamu bisa memberiku uang kalau kamu juga menginginkannya. Aku pasti akan bawa dia untukmu kalau kamu mau membayar mahal."


"Dasar laki-laki tidak berguna. Buat apa punya tampang tampan kalau kerjaannya tidak halal."


"Oke, saya akan kasih anda uang. Tapi tunjukkan dimana keberatan Arya!" suara Arini sudah meninggi.


"Dia puluh juta!" ucap Youmes.


"Dua puluh juta? nggak salah?" batin Arini memekik.


"Lima Juta!" tawar Arini.


"Tidak-tidak, tidak semurah itu nona. tujuh belas juta!" ucap Youmes lagi.


Keduanya terus bernegosiasi, hingga akhirnya angka yang harus Arini bayar adalah dua belas juta.


Sebenarnya itu adalah nilai paling murah bagi Youmes.Tetapi tak masalah, dia tidak melakukan apapun dan hanya menunjukkan keberadaan Arya saja.


"Untung aku bawa uang pemberian mas Arya. Kalau tidak, bagaimana aku bisa bayar nih orang. Maaf, Mas. Aku menggunakan uang tanpa seizin mu. Semoga orang ini tidak berbohong." batin Arini.


"Kamar dua lima. Oh ya! nih kuncinya. Aku tak lagi butuh! Selamat bersenang-senang, Nona. Aku yakin tidak akan selemah itu untuk memuaskan dua wanita sekaligus," begitu mudah Youmes memberikan kunci kepada Arini. Mungkin dia yang mabuk itulah yang membuatnya bertingkah seperti itu. Arini yakin, Youmes bertingkah berbanding terbalik dengan akal sehatnya.


"Aku harus menyelamatkan kamu, Mas. Siapapun yang berani melakukannya tidak akan mendapatkan ampun. Dia tidak tau, seberapa besar kekuatan seorang istri untuk menyelamatkan suaminya."


Mata Arini membulat sempurna, tak seperti Arini biasanya, kini matanya mengeluarkan tatapan yang sangat menakutkan.


Seorang yang lemah belum tentu akan selalu lemah, adakalanya sebuah kekuatan besar akan datang disaat yang benar-benar membutuhkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2