Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
244.Astaga


__ADS_3

Happy Reading...


Suara azan subuh dari ponsel Arini perlahan mulai menggelitik telinga Arya yang masih tampak sangat kelelahan. Perlahan mata mulai terbuka. Pemandangan yang sangat menyenangkan di pagi harinya saat ini. Baru saja membuka mata tapi sudah di hadapkan dengan suguhan yang sangat menyenangkan.



Kedua sudut bibirnya terangkat, dia tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat ayu di hadapannya. Terlihat jelas tidurnya sangat nyenyak mungkin karena dia sangat kelelahan gara-gara menuruti gairahnya yang tidak ada habisnya semalam.



Tangan mulai membelai lembut wajah yang membuatnya tergila-gila. Begitu tak percaya tapi itulah kenyataannya.



"Hemm..." Arini melenguh saat merasa terganggu. Tangan satu Arya begitu nakal karena jari-jarinya kembali berulah dengan memilin puncak gunung yang membuatnya terus kecanduan.



"Mas, jangan lagi," protesnya. Matanya masih merasa berat untuk terbuka, dia begitu lelah karena Arya yang seperti orang gila semalam.



"Tidak lagi sayang," ucapnya tapi tangannya tetap tak mau diam dan terus berulah sesukanya di dua gunung kembar milik Arini.



Arini membuka matanya, dia mendelik melihat Arya yang kini malah terkekeh melihatnya.



"Udah subuh, Sayang," ucapnya di tengah-tengah kekehan yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Arini.



"Mas, apakah aku berdosa jika mengatai kamu gila?" tanyanya dengan wajah yang berkedut.



"Emang gila kenapa?" dengan begitu polosnya dan merasa tak berdosa Arya malah berwajah seperti orang bodoh. Sok merasa tak tau apa-apa.



Jelas saja Arini semakin kesal, bahkan dia semakin merengut karena Arya.



"Arini hampir mati, Mas. Sekarang tubuh Arini sakit semua. Mas benar-benar nakal," tak bisa di gambarkan bagaimana wajah Arini sekarang ini. Tapi seperti apapun Arini Arya malah merasa bangga, dia terus berseru dalam hati, dia menang banyak.



Bagaimana tidak seperti orang mati, Arya benar-benar meminta jatah hingga lima kali dan tidak membiarkan Arini tidur. Benar-benar gila. Arya benar-benar seperti orang yang kehausan dan sekali dalam minum dia meneguknya sampai benar-benar kenyang.



"Maaf, Sayang. Tapi kamu juga menikmatinya kan? nyatanya kami juga terus mengeluarkan suara nyanyiin yang begitu merdu. Aku sangat menyukai itu. Bagaimana kalau sekali lagi?"


__ADS_1


Mata Arini kembali mendelik mendengar itu, bagaimana mungkin dia akan memberikannya sekarang di saat tubuhnya benar-benar lelah. Bahkan rasanya seperti tak akan mudah untuk bangun.



"Ihh...," wajah Arya yang kian mendekat dengan bibir monyong langsung di dorong oleh Arini. Dia tidak lagi, tak ada lagi sekali saja di pagi ini. Kalau tidak dia akan benar-benar remuk.



"Tidak Mas! ini sudah subuh!" Arini cepat-cepat melarikan diri dari Arya. Tangannya bergerak cepat seraya menarik selimut yang menutupi mereka berdua.



Tak lagi menoleh, membiarkan Arya terus melihat pergerakannya dan terus tertawa. Untung saja Arini tidak melihatnya, kalau dia melihatnya mungkin dia akan berteriak melihat suaminya yang tak tertutup apapun. Apalagi senjata Arya yang terlihat berdiri dengan gagah berani.



"Hahaha.., kamu sangat menggemaskan sekali. Aku semakin tergila-gila padamu, Arini," Arya tersenyum melihat tingkah Arini tadi, benar-benar sangat menggemaskan.



Sang surya mulai tersenyum, panasnya mulai terasa menyentuh semua penghuni bumi. Tak terkecuali dengan gadis berseragam biru dengan celana panjang berwarna hitam.


Tidak seperti dulu yang hanya memakai rok mini yang terdapat dua belahan di kanan kirinya tapi sekarang dia memakai celana hitam.


Dia adalah Raisa, gadis itu masih berdiri dengan gelisah menunggu angkutan yang tak kunjung datang, padahal hari sudah semakin siang tapi dia belum juga sampai di tempat bekerja.


Meski bos besar tidak berangkat tapi dia takut dengan asistennya, dia juga sama-sama galak dan begitu dingin. Sekali saja terlambat entah apa yang akan dia dapatkan.


"Apa semua angkutan masih pada molor! jam berapa ini? kenapa satupun tak ada yang melintas," ucapnya dengan kesal.


"Ya Allah, lima menit lagi kalau angkutan nggak datang aku akan mati, aku akan kehilangan pekerjaanku," Raisa semakin was-was.


Tinnn....


Raisa terhenyak saat tiba-tiba ada mobil berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya. Dia yang sempat menoleh ke arah belakang begitu terkejut karena itu.


"Heyy..., mentang-men..." ucapannya tidak berlanjut setelah melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.


Ketika kaca mobil mulai turun baru Raisa melihat jelas kalau yang ada di dalam adalah Mobil.


"Tu-tuan Dimas, hehehe..." Raisa meringis saat melihat wajah Dimas yang begitu dingin itu menggeleng dengan kasar.


Benar-benar malu bukan main, tapi itu tidak apa untuk Raisa dia bisa mengendalikannya dengan baik. Dia kan memang seperti itu.


"Masuklah!" Dimas sedikit berteriak.


"Saya?" Raisa benar-benar tak mengerti, bahkan dia juga menoleh ke kedua arah kanan dan kirinya.


"Siapa lagi, apa ada orang gila di sana," begitu sadis bibir Dimas. Ternyata lemes amat tuh bibir bujang lapuk itu.


"Dasar bujang lapuk!" Batin Raisa.


Dan benar saja, Raisa mengatai Dimas dengan sebutan seperti itu.


"Tidak usah, Tuan. Saya akan menunggu angkutan saja," tolak Raisa.


"Apa perlu pakai cara kekerasan," tangan Dimas sudah siap untuk membuka mobil, dia tidak suka penolakan. Entah kenapa dia selalu saja sensi jika dengan satu gadis ini.

__ADS_1


"Tidak-tidak!" Raisa langsung bergegas masuk, bisa bahaya kalau sampai ada orang yang melihat Dimas benar-benar pakai cara kekerasan. Tapi sebenarnya tak masalah sih ya, sekali saja Raisa berteriak semua masa akan berdatangan, tapi Raisa seolah kehilangan akal.


Raisa benar masuk, dia hanya meringis meski dalam hatinya dia merutuki Dimas begitu sadis.


"Dasar pemaksa. Untung saja tampan kalau tidak aku tendang dia sampai Amazon! ehh.., apa aku kuat? hhh... lucu sekali kau Raisa," batin Raisa.


"Kenapa senyum-senyum!?" bentak Dimas.


"Hehehe..., nggak apa-apa. Eh, tuan Dimas perhatian banget ya sama Raisa. Sampai-sampai tau kalau Raisa tersenyum. Raisa cantik ya? atau jangan-jangan?"


"Jangan-jangan apa?!" ketus Dimas. Mobil sudah kembali berjalan tapi keduanya masih saja berdebat.


"Jangan-jangan, tuan Dimas sudah mulai jatuh cinta sama aku ya? hayoo..." jari telunjuk Raisa terus bermain-main di samping telinga Dimas membuat pria itu semakin kesal.


"Jangan ngada-ada ya, siapa juga yang akan jatuh cinta sama wanita bar-bar seperti kamu! nggak level!" Dimas semakin sinis.


Ckiitttt....


Mobil berdecit saat tiba-tiba ada belokan yang sedikit tajam dan kebetulan di depannya ada sepeda motor.


Raisa yang tengah menghadap ke arah Dimas langsung terhuyung dan jatuh tepat di pangkuan Dimas. Entah keberuntungan atau musibah, tapi wajah Raisa tepat mengenai adik kecil milik Dimas.


*Shittt....


"Sial*!" umpat Dimas dalam hati. Sedangkan kedua tangannya sudah angkat tangan.


"Uww!" Raisa langsung mengadu, hidungnya tepat mengenai itu.


Sadar wajah Raisa langsung merah, dengan cepat dia langsung menyingkir dari Dimas.


"Ma-maaf," Raisa melengos dia tak berani memandangi Dimas yang dia juga menjadi canggung sekarang.


"Ka-kamu tidak salah, aku yang salah," Dimas juga sama gugupnya, "Ki-kita jalan lagi sekarang," imbuhnya.


Raisa hanya mengangguk tak berani berbicara lagi. Dia benar-benar malu karena wajahnya menyentuh adik Dimas.


"*Astaga Raisa, apa yang kamu lakukan. Mau kamu taruh mana mukamu sekarang. Ya Allah, apakah aku harus lompat saja sekarang?" batin Raisa.


"Ya Allah, kenapa aku menjadi gugup seperti ini. Dan apa ini? kenapa jantungku menjadi tidak karuan seperti ini, tidak mungkin aku mulai terbiasa dengan gadis ini kan?" batin Dimas*.


Sekali Dimas menoleh ke arah Raisa, dan saat itu jantungnya semakin bekerja dengan cepat.


"Astaga....?"



Bersambung....


\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`



Ketawa aja deh melihat pasangan yang masih seperti kucing dan tikus ini.



🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2