Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
280.Tak Lagi Sici


__ADS_3

Happy Reading...


...****************...


Tak tega meninggalkan Raisa yang terlihat sangat kacau membuat Dimas membawanya pulang ke rumah. Raisa terus diam di dalam mobil, bahkan dia tak sadar kalau sekarang mereka berdua sudah sampai di depan kediamannya Dimas.


"Raisa, ayo turun. Untuk sementara kamu harus tinggal di rumahku. Aku tidak mau kamu kembali ke kontrakan dengan alasan seperti apapun," Dimas berucap sangat lembut. Tak ada gurauan seperti kemarin lagi. Yang ada hanya kelembutan juga suara yang terdengar serius.


Raisa menoleh ke samping, di lihatlah luar dari kaca.


"Kenapa Tuan membawaku ke sini? aku ingin pulang saja," ucapannya masih terdengar sangat gemetar, mungkin hatinya yang masih di landa ketakutan yang besar.


Ingin rasanya Dimas bertanya. Sebenarnya apa yang telah terjadi, tetapi Dimas urung karena dia tak mau melihat Raisa ketakutan lagi. Suatu saat Raisa pasti akan mengatakannya. Mungkin?


"Tidak Raisa. Untuk sekarang kamu akan tinggal di rumah ini, selamanya," Dimas begitu menegaskan. Tangannya langsung menggenggam tangan Raisa dan membuat sang empu langsung menoleh ke arah kedua tangan yang sudah menyatu.


Perlahan Raisa melepaskan, rasa hati tak pantas untuk di sentuh oleh Dimas yang begitu baik kepadanya.


"Tidak, saya akan tetap pulang," Raisa tetap kekeuh, kini tangan mereka sudah berhasil terpisah.


"Tapi kenapa, Raisa. Aku tidak mau tau, Kamu harus tinggal di sini. Bersamaku, juga bersama keluargaku."


"Untuk apa, saya bukan siapa-siapa. Saya tidak mau menjadi beban siapapun." ucapan Raisa sudah kian meninggi. Matanya juga menatap tajam ke arah Dimas yang terlihat penuh harap.


"Untuk ku. Kamu akan tinggal di sini, untukku. Aku akan menikahi-mu." ucapan Dimas melirih.


"Tidak, saya tidak akan menerimanya." jawab Raisa setelah berhasil membulatkan matanya tak percaya.


"Kenapa?"


"Karena aku tak pantas. Aku tak pantas untuk orang sebaik anda. Aku tak pantas," bulir-bulir rasa sakit keluar dari mata Raisa. Entah apa yang membuat dia merasa tak pantas untuk Dimas.


"Kenapa!" Dimas harus tau, apapun yang terjadi.


Raisa diam, matanya berpaling dari Dimas dan melihat keluar.


"Kenapa, Raisa. Kenapa kamu tidak pantas untuk ku. Bukan kamu yang menentukan pantas dan tidaknya untukku, tapi aku sendiri. Aku yang berhak memberikan penilaian itu. Dan aku merasa kamu sangat pantas untukku." ucapan Dimas begitu lembut memberikan pengertian kepada Raisa yang sepertinya tak mau mengerti.


"Tidak, aku tidak pantas."


"Tapi kenapa, Raisa. Kenapa!" ucapan Dimas kembali meninggi.


"Karena saya sudah tidak suci lagi! saya sudah ternoda. Puas!" mata Raisa melotot tajam ke arah Dimas. Air mata tak kunjung berhenti dan malah semakin deras.


Dimas terpaku menatap Raisa. Dia tak percaya kalau Raisa sudah tak lagi suci.


"Aku tak akan pantas untuk siapapun," Raisa terisak, wajahnya menunduk tak mampu untuk terangkat sama sekali. Raisa benar-benar hancur setiap kali mengingat itu.


Cinta yang begitu besar tak akan memandang kekurangan seseorang. Hati Dimas benar-benar sudah memilih Raisa, dia akan menerima apapun yang menjadi kekurangan Raisa, termasuk dirinya yang tak lagi suci.


"Aku akan menikahi-mu. Besok. Aku tak peduli apapun yang sudah terjadi kepadamu. Karena kamu sangat pantas untukku."


Hati Dimas benar-benar sudah sangat teguh. Dia menghilangkan penghalang sebuah ketidak kesempurnaan dan tetap akan menyatukan jarak yang membuat mereka terpisah.


Mata Raisa melotot, dia kembali menoleh ke arah Dimas.


"Tidak, aku tidak bisa. Tuan bisa cari yang lain yang lebih sempurna. Dan tentu itu bukan aku." Raisa tentu akan menolak keras.


"Bisa tidak bisa aku akan tetap menikahi-mu. Jika hanya karena itu alasan kamu menjauh dariku, maka aku akan menghapus alasan itu."


Raisa terus menggeleng kasar, dia tak mau membuat Dimas kecewa. Dimas sangat baik, dia tampan, dia juga memiliki segalanya. Sementara Raisa? tak ada satupun yang bisa di banggakan darinya.

__ADS_1


"Kamu harus tau, apa yang aku katakan tidak akan pernah aku tarik kembali. Semua akan aku buktikan. Kita akan menikah besok. Titik!" Dimas begitu menegaskan.


Sementara Raisa masih terus menggeleng. Dia tak percaya kalau Dimas begitu teguh seperti ini. Padahal Dimas sudah tau apa penyebabnya, dan benarkah dia akan menerima kekurangannya itu untuk selamanya? Apakah Dimas tidak akan menyesal di kemudian hari?


...****************...


Tangan dari seorang wanita yang begitu ramping terus menari-nari di wajah Arya yang begitu mulus tanpa setitik noda sama sekali. Berewok tipis yang ada di sekitar dagunya membuatnya semakin bergelora dalam api asmara.


"Ayolah, Ar. Kita bersenang-senang sekarang. Aku tau kamu tidak tidur kamu sadar, hanya saja kamu tidak mau aku tau."


Ternyata dia begitu pintar, dia bisa membaca Arya yang benar-benar hanya memejamkan mata sebatas matanya saja, tetapi tidak dengan hatinya yang sadar sepenuhnya.


"Oh, atau kamu mau aku yang bermain untuk memuaskan mu? Kalau memang itu yang kami inginkan aku tak masalah untuk melakukannya. Kamu tinggal nikmati saja semua servis yang akan aku berikan."


Tangannya terus menari-nari di sekitar wajah Arya. Dari mulai kening, kedua mata, hidung, pipi, juga bibir Arya semua tak ada yang tersisa. Tangannya benar-benar gemulai dalam melakukan itu.


Sementara Arya? Arya harus berjuang sekuat tenaga supaya dia tetap dalam kewarasan. Dia tidak mau melakukan hal yang tidak di inginkan.


Kenapa Arya tidak membuka mata? Karena dia tau, kalau dia membuka mata dia tidak akan bisa menahan tubuh indah yang di pamerkan di depan matanya. Arya takut khilaf.


Keringat mulai keluar saat tangan mulai menyentuh setiap inci lehernya, meraba-raba dada bidang Arya yang masih terbungkus dengan kemeja.


'Sialan, benar-benar cari mati nih orang!" batin Arya.


Rasa ingin menolak, ingin mendorong dan menghempaskan tubuh yang bergelayut manja di sebelahnya dengan tangan yang terus menari nakal. Tetapi pengaruh obat yang sangat luar biasa membuat tubuhnya menerima semua sentuhan itu dan menginginkan hal lebih.


Tubuhnya semakin panas, birahi hasrat semakin membesar dan kewarasan mulai hilang setelah tangan mulai merogoh masuk ke tubuh Arya melalui lubang antara kancing ke kancing yang lain.


"Aku harus bisa terlepas saat ini, kalau tidak aku tidak tau apa yang akan aku lakukan setelah ini. Aku takut tujuannya akan berhasil."


Tubuh Arya benar-benar tak kuasa untuk berontak, dia benar-benar sudah di kuasai oleh obat lucknut yang entah apa jenisnya.


Wanita itu benar-benar tersenyum senang melihat reaksi yang di tunjukkan oleh tubuh Arya, meski dia terus diam tapi terlihat ada semburat gairah yang di tahan.


"Sebentar lagi akan aku puaskan kamu, dengan sangat puas. Akan aku jadikan ini momen paling indah dari semua cerita bercintamu meski itu dengan istrimu sendiri."


Hasrat Arya benar-benar sudah membara, dia sudah tidak kuat lagi untuk menahannya lebih lama.


Mata Arya terbuka, seketika membuat wanita itu menyeringai bahagia.


"Akhirnya kamu membuka matamu juga, Ar. Sekarang kamu lihat, seberapa pintarnya aku memuaskanmu,"


Arya berusaha dengan semua tenaga untuk duduk. Dia ingin bisa pergi dari sana. Tentu dia tidak akan melayani apa yang wanita itu inginkan.


"Lihatlah, Arya. Apakah punyaku tidak terlalu indah untuk di lihat dan di nikmati?" bibirnya semakin menggoda. Berkali-kali mengeluarkan lidahnya dan menyapu bersih seluruh bibir dan membuatnya basah.


Brukk....


Arya yang hampir berhasil untuk duduk kembali di dorong olehnya. Tiba-tiba wanita itu melepaskan bathroob nyang dia pakai dan berakhir hanya terlihat sebuah lingerie transparan yang berwarna hitam yang dia pakai.


"Bagaimana, Arya. Apakah kamu mau mencicipinya?" tanyanya.


Kedua tangannya langsung bergerak membuka tali dari lingerie dan terpampang nyata apa yang ada di dalamnya. Dan kini kedua tangannya melepaskan penghalang yang ada di bagian atas dan mengeluarkan isi di dalamnya. Sebuah sintalan kembar identik yang akan di gilai oleh kaum Adam.


"Jika untuk menjadikanmu aku harus menjadi wanita penggoda aku tidak akan pernah keberatan, Ar. Aku akan lakukan apapun supaya kamu tetap berada di sampingku."


Di urut-urut juga terus di pijat kedua sintalan kenyalnya dengan tangan sendiri. Sesekali dia mengeluarkan suara penuh nikmat untuk menggoda Arya. Dia hanya ingin tau, sejauh mana Arya bisa bertahan akan godaannya.


Arya yang sudah lemah tetap berusaha tidak menyentuh wanita itu meski dia merasakan seperti tersiksa. Benar-benar dia langsung horny saat melihat pemandangan indah di depannya. Tapi akal sehatnya masih bisa dia kuasai.


"Le_lepaskan! dasar wanita sialan!" akhirnya kalimat pertama lolos pada Arya.

__ADS_1


Tak ada ketakutan, yang ada malah semakin menggilai tubuh Arya. Apalagi di tambah dengan melihat reaksi-reaksi yang terjadi pada Arya.


"Jangan galak-galak, Arya. Lebih baik kita saling memuaskan saja, biarkanlah kamar ini menjadi saksi cinta kita berdua."


Cuih!


Arya berusaha untuk melawan akan pengaruh dari obat, keringat terus keluar dan tubuh semakin bergetar hebat. Arya hendak beranjak.


"Mau kemana, Arya. Kita harus senang-senang dulu." senyumnya mengembang saat dia berhasil lagi menahan Arya. Wanita itu benar-benar berani dan tak berpikir panjang, dia sudah duduk di pangkuan Arya dan terus menggodanya.


"Aku ingin lihat, sampai mana kamu bisa bertahan. Ayolah, Arya. Apa kamu tidak menginginkan si kembar ini? apakah kamu tidak tertarik pada lubang surga yang belum pernah terjamah ini?" tangannya menarik tangan Arya menuntunnya untuk menyentuh dua tempat yang dia ucap barusan.


Arya semakin keder, otaknya benar-benar mulai berlawanan dengan hatinya. Tangannya bertahan di antara si kembar dan mulai bergerak, itupun juga dengan bantuan tangan sang empu.


Senyum semakin lebar, dia sangat senang karena akhirnya Arya kalah dengan obat yang dia berikan. Arya sudah mulai terpengaruh dengan obatnya dan mulai melakukan apa yang dia inginkan.


Mata merem melek saat Arya perlahan menyentuh si kembar identik. Rasanya mungkin sangat enak hingga dia begitu menikmatinya.


"Sadar Arya, sadar. Jangan sampai obat ini membuat kamu membuat kesalahan. Sadar sadar!" batin Arya.


"Aku harus pergi sekarang, harus! aku sudah tidak dapat menahannya lagi. Hanya Arini yang bisa menolongku, hanya Arini, bukan wanita sialan ini," imbuhnya lagi.


Sekuat-kuatnya Arya harus mendorong wanita tak tau diri ini dari pangkuannya. Dia harus cepat keluar dan menemui Arini istrinya.


Wanita yang sudah sejak lama mengincar Arya, lebih tepatnya mengincar harta yang Arya miliki. Perempuan yang di butakan oleh harta juga Arya dan membuat dirinya hilang kewarasan dan sekarang berbuat hina hanya untuk bisa mendapatkan apa yang menurutnya sudah berhak menjadi miliknya.


Tentu, dia adalah Nadia. Gadis yang terobsesi untuk bisa menikmati Arya juga hartanya. Gadis yang hampir menghilangkan nyawa Arini karena cinta butanya.


"Hanya aku yang akan menjadi milikmu, Arya. Hanya aku! hahaha!" tawanya menggelegar saat melihat mata Arya benar-benar sudah terlihat penuh gelora untuk berperang.


Nadia semakin gila, sementara Arya masih berusia untuk menahan diri dan ingin terlepas darinya. Entah kenapa bukan hanya hasrat yang besar saja yang menguasainya, tapi rasa tak berdaya untuk bisa bergerak juga benar-benar telah membuatnya terasa tersiksa.


Obat macam apa yang di berikan kepadanya ini. Obat yang meningkatkan gairah yang sangat besar tapi membuat peminumnya juga tak mampu untuk bergerak.


"Wow! si john sudah bangun dan siap bertempur!" Nadia begitu bahagia saat merasakan ada yang bergerak semakin tegang dan keras di pusat Arya.


Nadia sedikit menggeser duduknya, dia ingin melihat seberapa besar si John yang dia maksud barusan.


Tubuhnya membungkuk, tangannya mulai meraba-raba bagian tersensitif milik Arya yang akan memberikan sebuah kenikmatan.


"Sudah sejak lama aku memimpikan untuk melihat ini, Arya. Dan sekarang bukan hanya melihat saja, tapi aku akan merasakan bagaimana nikmatinya ketika ini masuk ke dalam milikku." Tangannya terus meraba, membuat Arya semakin meradang. Tapi kenapa dia tak bisa berbuat apapun.


"Aku akan lihat," Nadia masih tetap meraba area itu dari luar dengan mata penuh rona bahagia.


"Dasar jal*ng! jangan coba-coba berani menyentuhnya!" Arya hanya bisa berbicara. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


Gelora begitu besar hingga Arya berbicara pun sudah serak-serak menggoda. Dan itu membuat Nadia semakin menyukainya.


Tangan mulai bergerak, menarik gesper yang Arya pakai. Nadia sudah tidak tahan untuk melihat si John yang sudah terlihat sangat menggiurkan, padahal masih terbungkus bagaimana kalau sudah nampak? pasti dia sangat perkasa kan.


"Oh sebentar, saya juga mau mendapatkan kenikmatan maksimal sama seperti dirimu." Nadia kembali turun sebelum dia bisa melepaskan gesper Arya. Dia berlari dan meminum segelas air putih setelah itu dia tersenyum dan kembali ke tempat Arya.


"Kita akan impas, Arya. Aku juga akan mendapatkan kenikmatan yang maksimal sama seperti mu." Entah apa yang Nadia minum, Apakah mungkin dia meminum obat yang sama?


Nadia hendak kembali ke tempat semula, dia sudah tidak sabar, dia juga mulai memanas setelah meminum air putih tadi.


Mulai Nadia lancarkan aksinya, dia siap untuk membuka sempurna gesper Arya. Tapi...


Plakk... Plakk... Plakk....


...****************...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2