Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
251.Pindah Rumah


__ADS_3

Happy Reading...


setelah beberapa hari mengambil cuti Arya putuskan untuk besok dia akan kembali bekerja, tapi sebelum itu dia ingin mengajak Arini pindah lebih dulu ke rumah mereka yang sebenarnya.



Rumah yang tak terlalu jauh jaraknya, kebetulan rumah yang di bangun Arya masih bisa di bilang dekat karena hanya menempuh jarak lima belas menit saja bisa sampai.



"Ma, Pa, saya minta izin untuk pindah ke rumah kami," ucap Arya meminta persetujuan.



Sementara Arini sudah pasrah, dia akan mengikuti kemanapun Arya pergi dan tinggal, ya meskipun sebenarnya dia masih sangat merindukan orang tuanya tapi dia tak bisa mengabaikan keinginan suaminya.



"Kapan?" Hendra yang tengah membaca koran langsung menutup nya dan menjadi serius mendengar keinginan Arya.



"Hari ini, Pa. Kamu sudah bicara semalam," jawab Arya begitu yakin. Dia menoleh sejenak ke arah sang istri yang ternyata sudah mengangguk mengiyakan.



"Kenapa harus buru-buru, Nak," masih sangat enggan untuk melepaskan Arini lagi, tapi mau bagaimana lagi, Nilam harus tetap berbesar hati.



"Sebenarnya kami masih ingin terus bersama Arini, Nak," Nilam masih mengimbuhi, berat sekali rasa hatinya saat ini.



"Mama bisa sering-sering datang ke rumah atau mungkin biar kami yang sering datang ke sini. Jarak rumah juga tidak begitu jauh kan, Ma," jawab Arini.



Meski Arini juga merasa berat tapi dia tak bisa mengelak kan?



"Baiklah," Akhirnya Nilam mengizinkannya untuk mereka berdua pindah rumah.



Setelah malam hari Arya juga Arini benar-benar pindah rumah. Tak ada yang mengantarkan mereka, hanya mereka berdua saja yang datang.


Arya turun lebih dulu dari mobil, berlari memutar untuk membukakan pintu untuk Arini.

__ADS_1


"Silahkan Tuan putri, kita sudah sampai di istana kita yang sebenarnya," ucap Arya, berlagak membungkuk seperti seorang pengawal kerajaan.


"Mas ada-ada saja," Arini merasa geli melihat itu, tapi dia tetap menerima uluran tangan dari suaminya.


Dengan di gandeng Arya Arini mulai mengikuti untuk jalan masuk. Rumah yang begitu mewah dan sangat besar yang ada di hadapannya. Benar-benar rumah yang seperti kerajaan.


"Mas, rumah ini bagus sekali," Arini begitu terpana melihat keindahan rumah barunya. Rumah bernuansa putih yang terdapat taman di depan rumahnya.


Halamannya sangat luas, dan ada air mancur di tengah-tengah halaman yang bertatakan dengan paving itu.


"Apa kamu suka?" tanya Arya.


"Arini sangat menyukainya, ini sangat luar biasa, Mas."


Pertama lihat saat itu tidak seindah ini, dan sekarang benar-benar sangat indah.


"Kita masuk sekarang?" tanya Arya mengejutkan Arini yang masih terpaku melihat semua keindahannya.


Arini mengangguk, dia mengikuti saja saat Arya menggandeng tangannya.


"Eh, sebentar! kamu tunggu di luar sebentar. Kamu baru boleh masuk setelah aku memanggilmu," Arya buru-buru masuk, setelah berhasil masuk dia juga buru-buru menutupnya.


Arini bingung, sebenarnya apa yang Arya rencanakan saat ini. Dia begitu penasaran dan ingin secepatnya melihat.


Sepuluh menit Arini menunggu dan Arya belum juga memanggilnya.


"Sebenarnya apa yang mas Arya rencanakan?" Arini bersandar di pintu, sepuluh menit berdiri rasanya lelah juga mungkin karena dia sudah mulai terbiasa di manjakan jadi tubuhnya malah gampang lelah.


Arini kembali diam, hingga akhirnya dia begitu bahagia setelah mendengar suara Arya yang menyuruhnya masuk.


"Arini Khumaira, masuklah!" teriak Arya dari dalam.


Perlahan Arini membuka pintu, sangat pelan sekali karena dia tak ingin ada kesalahan. Dia malah berpikir Arya akan mengerjai nya.


Mata Arini terperangah setelah dua langkah masuk rumah. di depan pintu itu terdapat karpet merah yang di gelar sampai di hadapan Arya.


Di sampingnya begitu banyak kelopak mawar merah juga lilin-lilin kecil.


Lampu memang belum menyala tapi ruangan itu begitu terang dengan lilin yang berjajar begitu banyak. Bahkan juga terdapat di beberapa tempat.


Arini kembali terperangah saat tiba-tiba dia di hujani dengan kelopak mawar yang begitu banyak.


Kedua tangan terangkat, menengadah ke atas berharap akan ada bunga yang jatuh di tangannya.


Sungguh romantis yang Arya lakukan saat ini. Ini sangat manis, membuat Arini merasa begitu istimewa.


"Datanglah padaku, Sayang," Arya merentangkan kedua tangannya, memanggil Arini yang masih terkejut dengan semua kejutan ini.


Arini malah berkaca-kaca saat ini, dia begitu bahagia.

__ADS_1


Arini berlari, menubruk Arya yang sudah siap menyambut kedatangannya.


"Apa kamu senang? apa kamu bahagia?" tanya Arya setelah Arini sudah berada di pelukannya.


"Semua hanya untukmu sayang," di hujani kecupan yang bertubi-tubi di puncak kepala Arini. Membuat Arini menjadi semakin tersedu karena begitu terharu.


"Hey, kenapa malah menangis, apa kamu tidak menyukainya?" Arya melepaskan pelukannya, melihat wajah Arini dan cepat menghapus air matanya yang sudah mengalir deras.


"Arini, Arini sangat bahagia, Mas. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang selalu kamu berikan untuk Arini. Arini hanya takut tidak bisa mengimbangi semua yang Mas berikan kepada Arini ini," Arini semakin tersedu.


"Aku tidak menginginkan apapun darimu sayang. Aku hanya ingin kamu selalu di sisiku, itu sudah cukup bagiku," di sapunya pipi Arini hingga kering, rasanya tak akan Arya biarkan wanitanya itu menangis meski itu adalah air mata kebahagiaan.


"Tapi tidak adil dong, Mas! masak Arini tidak memberikan apapun," kini wajah Arini terlihat menggemaskan, matanya, hidung juga bibirnya yang merah karena habis nangis membuat Arya begitu gemas.


Tapi sejujurnya bukan hanya gemas saja yang datang melainkan gairah yang dua hari tidak dapat tersalurkan.


"Jangan pernah menangis lagi ya," di kecupnya kedua mata Arini bergantian membuat sang empu terpaksa memejamkan mata.


Kening, hidung, pipi dan yang terakhir adalah bibir ranumnya tak ada yang terlewatkan.


"Kamu bisa memberikan dirimu setiap hari sebagai gantinya, Sayang. Selain itu aku tidak menginginkan apapun lagi," suara Arya sudah serak, sepertinya dia sudah menahan gejolak yang sangat besar.


"Akk!" Arini berteriak saat Arya dengan tiba-tiba langsung menggendongnya.


Di bawanya Arini naik tangga, Arini begitu takut karena saat itu Arya sama sekali tidak fokus kepada jalan tapi malah fokus dengan wajahnya.


"Mas, nanti jatuh," Arini bergidik ngeri melihatnya dan terpaksa dia harus berpegangan dengan kuat pada Arya.


Arya tak memperdulikan ucapan Arini dia terus melangkah hingga akhirnya sampai di kamar yang super besar. Kamar utama yang menjadi kamar untuk mereka berdua.


Arya duduk di ujung kasur yang berukuran super besar itu, dipangkunya Arini. Arya kembali melanjutkan yang sempat tertunda barusan.


"Akk," Arini tersentak saat bagian bawah Arya ternyata sudah tegang dan terasa menusuk bagian bawah Arini yang keduanya masih sama-sama tertutup rapat.


"Mas, dia sudah ban..."


Arya langsung menyambar bibir Arini sebelum dia melanjutkan ucapannya. Arya benar-benar sudah ingin menyalurkan hasratnya saat ini, lagian di bagian bawah juga sudah meronta dan ingin keluar untuk mencari sarangnya.


"Boleh minta?" mata Arya sudah sayu-sayu melihat wajah Arini dia begitu berharap Arini akan mengizinkannya. Biarpun dia bisa sesukanya melakukan tapi dia tidak akan melakukannya jika tanpa izin dari Arini.


Arya tidak mau Arini melakukannya karena terpaksa, itu tidak akan baik akhirnya, juga tidak akan baik di mata Tuhan karena istrinya tidak ikhlas memberikannya.


"Aku milikmu, Mas. Lakukanlah kapanpun saat kamu menginginkannya," jawab Arini.


Setelah mendapat jawaban itu Arya tersenyum tangannya langsung melepaskan hijab Arini.


Dicumbunya tempat-tempat yang menjadi favorit untuk nya, membuat Arini terus mengeluarkan suara lenguhan yang sangat indah di telinganya.


Di rebahkan Arini perlahan di kasur, baju Arini yang bagian depan sudah terbuka dan sebelum membuka semuanya Arya ikut menyusul Arini, menarik selimut untuk menutupi mereka. Arya tak mau sampai apa yang mereka lakukan di lihat oleh nyamuk ataupun menjadi tontonan makhluk lainnya yang tak kasat mata.

__ADS_1


``````~~~```````


Bersambung...


__ADS_2