
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Rasanya begitu susah untuk bisa bertemu dengan Arini di saat dia tidak pergi sendiri ke rumah sakit, beberapa kali Dimas menjemputnya selalu saja berpapasan di jalan tanpa sepengetahuan nya.
Bukan hanya Arini yang di ajak pergi langsung oleh Arya tapi dia juga pulang sendiri naik angkot. Kali ini Dimas kembali datang ke perusahaan Arya di saat jam makan siang tiba, semoga kali ini bisa bertemu dengan Arini.
ingin dia mengajak Arini keluar sebentar ya sekedar untuk makan siang, menikmati sedikit waktu yang di luar aktifkan mereka.
Alhamdulillah kali ini baru saja Dimas ingin masuk dia sudah melihat Arini yang sedang berjalan berdua dengan seseorang, mungkin dia temannya. Ya, Arini tengah berjalan berdua dengan Raisa tentunya siapa lagi teman Arini kecuali dia seorang.
"Assalamu'alaikum...," suara sapaan Dimas begitu lembut juga pelan, namun mampu membuat kedua gadis beda usia itu menoleh.
"Wa'alaikumsalam, " jawab Arini juga Raisa bersamaan.
Dimas tersenyum melihat Arini. akhirnya dia bisa melihat gadis ini lagi, gadis yang senyumnya terus terbayang-bayang juga berkeliaran bebas di dalam kepalanya, entah kenapa. Apa mungkin Dimas menyukai Arini? mungkin.
"Hem..? " Dimas begitu ragu untuk bicara, hanya ingin mengajak makan siang saja rasanya sungguh grogi. Kenapa Dimas jadi kehabisan mental seperti ini.
Arini juga Raisa bingung, mereka saling lempar pandang karena keraguan Dimas.
"Hadeh..., dasar cowok kurang mental. Hanya mau mengajak makan siang saja bingung begitu, sana pergi! Dia ke sini untuk mengajakmu makan siang, Kring. Bukan begitu Tuan? " tebak Raisa. sepertinya memang sesuai dugaan.
Dimas terperangah, apa yang Raisa katakan adalah benar, dia datang untuk mengajak Arini makan Siang.
"Kok mbak Raisa tau? "Arini juga bingung, dapat bisikan dari mana tuh Raisa.
"Ya tau lah! Apalagi kalau bukan untuk makan siang, emang makan malam? kecepatan! " Jawab Raisa dengan nafas juteknya.
Arini hanya manggut-manggut mengerti tapi dia maslah ragu untuk ikut.
Meskipun terdapat sebuah ketakutan di hati Dimas karena Arini bekerja di perusahaan Arya yang begitu banyak orang yang tidak menyukainya tapi Dimas sedikit lega karena Arini punya teman yang meski suka ceplas-ceplos kalau bicara tapi dia baik.
Dimas mengangguk kecil juga tersenyum, dan itu sudah menjadi jawaban untuk Raisa.
__ADS_1
"Pergi sana, Kring! dan ya, jangan lupa belikan aku sesuatu juga," ucap Raisa tangannya mendorong pelan bahu Arini.
"Tapi, Mbak? " Arini pasti akan ragu untuk pergi, dia kan jarang-jarang makan siang bersama laki-laki.
"Terserah kamu saja sih, kalau kamu mau pergi ya pergi saja. Kalau kamu tetap di sini ya ayo kita ke kantin."
Dimas masih menunggu, harap-harap cemas. Memang tak akan mudah bisa mengajak Arini jalan berdua saja tapi dia sangat menginginkannya.
"Tapi tidak lama kan, Kak dokter? " tanya Arini dia sangat sungkan untuk pergi dengan Dimas. Dia juga takut kalau terlalu jauh dan terlambat saat masuk, pasti dia akan mendapatkan teguran dari Arya. Iya kalau hanya teguran saja kalau hal-hal yang aneh dan menakutkan?
"Tidak, hanya sebentar. Sebelum masuk kita sudah kembali," jawab Dimas begitu yakin.
Akhirnya Arini mengangguk, itu tandanya dia setuju untuk ikut dengan Dimas.
Raisa hanya bisa memandangi keduanya yang berjalan semakin jauh. Raisa sungguh senang karena ada orang yang perhatian dengan Arini.
"Semoga orang itu benar baik dan tulus kepada Arini," harap Raisa.
Setelah tidak terlihat baru Raisa kembali melanjutkan langkah menuju ke kantin. Dan akhirnya dia hanya makan siang seorang diri saja tanpa Arini yang menemaninya sesuai rencana awal.
_____
Itulah Arya sekarang. Dia yang kini tidak suka makan di luar hanya menyuruh Toni untuk membelikan makan di luar dan di bawa ke ruangannya.
Semua makanan yang dia minta sudah berjajar di depan matanya yang kini tertata rapi di atas meja, makanannya terlihat sangat enak tapi tak ada satupun yang berhasil menggugah selera makannya. Sungguh buruk sekali.
Jangankan untuk bisa menghabiskan semua makanan itu, mengambil satu sendok saja tangannya terasa sangat berat padahal perutnya sangat lapar.
"Rasanya lapar, tapi kenapa nggak ingin makan? " Arya mengernyit bingung sendiri.
Mungkin karena tidak ada orang yang menemaninya jadi rasanya tidak bisa membuat selera makannya meningkat.
Sebenarnya Arya sangat kesepian dia membutuhkan teman namun hatinya masih terselimuti oleh rasa gengsi yang membuat dia seakan tak membutuhkan siapapun.
__ADS_1
Keangkuhan, kesombongan, juga rasa gengsi membuat Arya tak memiliki orang yang benar-benar mau dekat dengannya. Semua hanya datang dan pergi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Arya. Tak benar ada yang bisa bertahan lama. Di sisinya, bahkan orang tuanya sendiri saja tak begitu dekat dengannya.
Tapi akhir-akhir ini hanya satu gadis saja yang selalu ingin Arya pertahankan untuk selalu di sisinya meski Arya masih menganggapnya sebuah mainannya saja.
Tapi di mana dia sekarang, bahkan dia tak bersama Arya.
"Makanan apa ini, sama sekali tidak membuatku lapar. Bahkan aku tak ingin menyentuhnya sama sekali, sungguh makanan yang sangat buruk," ucapnya.
Dia sendiri yang tidak mau makan tapi makanannya yang di marahi memang ya kalau orang yang biasa marah-marah di saat hatinya mengalami gundah gulana semuanya bisa kena dengan semprotan nya.
"Makanan ini akan sangat di butuhkan oleh gadis krempeng itu," Arya menyeringai. Tangannya langsung mengambil ponsel yang ada di samping tempat duduknya.
"Dia harus datang sekarang, kalau tidak mau awas saja," ucapnya.
Ponsel mulai tersambung dan takk lama menunggu ponsel pun dia angkat.
"Arini, cepat datang ke ruangan ku, sekarang! " seru Arya tak sabaran.
"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘵𝘶𝘢𝘯, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘪𝘭𝘦𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, "
Mata Arya membulat saat mendengar yang menerima telfonnya adalah seorang laki-laki.
"Halo, siapa kamu! kenapa ponsel Arini bisa ada sama ka..! 𝘵𝘶𝘵... 𝘵𝘶𝘵... 𝘵𝘶𝘳.., halo halo..!" Arya langsung emosi karena ponselnya terputus.
"Siapa dia, berani sekali mengangkat ponsel Arini! berarti dia..? berarti sekarang Arini bersama orang itu? awas kamu Arini. Kamu akan mendapatkan hukuman karena tak mengindahkan peringatan ku," benar-benar sampai ubun-ubun rasanya.
Arya terus kesal matanya sudah melotot juga wajahnya yang tidak bersahabat.
Arya beranjak dia mondar-mandir menunggu waktu istirahat habis. Setelah itu Arini pasti bakal kembali maka dia akan mendapatkan hukuman dari Arya.
"Cepat kembali Arini, dan kamu akan tau rasanya karena telah menentang perintahku," gumamnya lagi.
///////
__ADS_1
Bersambung...
______