
Happy Reading...
Semua keluarga Gautama juga berangkat, semuanya juga sudah tau kalau acara di puncak juga akan menjadi acara pertunangan Arya juga Nadia.
Tak ketinggalan eyang Wati juga ikut tapi dia tidak satu mobil dengan Wiguna juga Luna melainkan dengan mobil lain yang di setir oleh Toni.
Sebenarnya rencana awal akan ada Arya juga Arini di sana tapi Arini menolak, Arya juga mengatakan hanya akan bersama sopir dengan Arini saja tapi entahlah sekarang akhirnya bagaimana eyang Wati tidak mengetahuinya. Dan sekarang hanya tinggal Toni juga eyang Wati.
"Ton, sebenarnya di mana Arya?" tanya eyang Wati, ternyata dia tidak tau kalau ternyata Arya tengah memperjuangkan urusan hatinya.
"Tuan Arya...? Katanya tuan Arya tengah ada urusan, Eyang. Tapi tuan Arya bilang dia akan sampai tepat waktu," jawab Toni yang dia sendiri juga tidak tau apa yang sebenarnya Arya lakukan dan di mana dia sekarang.
"Anak itu, selalu saja sesukanya sendiri."
Eyang Wati hanya bisa menggeleng dia sangat hafal dengan cucu tunggalnya itu. Bagaimana tingkah lakunya bagaimana kebiasaannya, tapi kali ini eyang Wati berharap apa yang dia lakukan bukanlah kebiasaan yang buruk.
Apalagi setelah tau apa yang akan di lakukan di puncak adalah pertunangan untuknya juga Nadia yang sama sekali tidak dia ingin! Jangan sampai Arya melakukan kesalahan.
Ada rasa takut di hati eyang Wati, dia terus ketar-ketir mengingat bagaimana keras kepalanya Arya jika mengenai perjodohannya dengan Nadia, bagaimana kalau dia berbuat nekat? Itu tidak bisa di biarkan kan?
"Semoga saja Arya tidak melakukan kebodohan yang akan mencoreng nama baiknya sendiri," ucap eyang Wati dengan harap-harap cemas.
"Amin...!" seru Toni menyahuti doa dari eyang Wati yang terlihat sangat gelisah.
Mobil terus melaju, tak ada kecepatan tinggi dari lajunya karena eyang Wati tidak menyukai itu. Eyang Wati selalu lebih mengutamakan keselamatan daripada kecepatan.
__ADS_1
Setelah enam jam perjalanan kini deretan bis sampai juga di puncak. Bangunan sangat mewah dengan parkiran sangat luas dengan di kelilingi pemandangan hijau yang sangat menyejukkan sudah berada di depan mata.
Satu persatu dari semua penumpang mulai turun, begitu juga dengan Arya dan Arini. Arini merasa keberatan dengan barang yang dia bawa, sampai-sampai hal itu membuat Arya keheranan.
"Astaga Arini, kamu ini bawa apa sih! Tas ransel kecil begini tapi beratnya minta ampun. Apa kami bawa batu!" seru Arya. Dia yang berinisiatif mengambil ransel milik Arini dan membawanya.
Sebenarnya Arini juga tidak mengizinkan untuk Arya membawanya tapi Arya memaksa bahkan saat itu pergerakannya sangat cepat saat merebutnya ransel milik Arini.
"Hehehe..," Arini hanya meringis, manis juga malu-malu.
Bagaimana tidak bingung kan? Katanya Arini tidak membawa hadiah apapun untuknya tapi apa yang dia bawa?
"Aku penasaran," Arya berhenti dia membuka ransel milik Arini di depan mata Arini yang membulat dan tangannya juga mulai mencegah Arya yang memaksa.
"Pak Tuan, jangan di buka!" tangan Arini terus bergerak tapi Arya tetap berhasil membukanya.
Arya menganga, tak dapat di percaya kalau tas ransel kecil milik Arini hanya ada beberapa baju juga berisi beberapa bungkus roti dua ribuan dan beberapa botol air mineral. Pantesan saja sangat berat isinya adalah air.
Di lihatlah Arini yang sudah menunduk malu. Arini yang tidak memiliki banyak uang hanya bisa membawa bekal dari rumah, dengan beberapa roti juga air mineral dia akan lebih irit saat yang lain berhenti di jalan untuk makan.
"Kenapa kamu bawa air segini banyak?" pertanyaan Arya malah membuat Arini menjadi sedih, lagi-lagi dia menyadari betapa miskin dirinya. Tak seperti Arya yang bisa makan apapun di manapun juga tapi Arini? Dia tidak akan bisa sama seperti Arya.
"Sudah sudah, jangan sedih lagi. Aku minta maaf," Arya begitu menyesal, karena apa yang dia katakan barusan sekarang Arini tertunduk malu juga sangat sedih.
"Tidak masalah kamu bawa ini, biar aku yang bawakan sampai tempat istirahatmu." imbuhnya lagi, "yuk!"
Baru saja beberapa langkah Arini terjatuh dengan lututnya terbentur paving, ada seseorang yang telah sengaja menyenggolnya.
Lutut juga telapak tangan Arini jelas terasa sangat sakit, apalagi ada pasir-pasir yang menempel, "aww.." keluh Arini yang sangat kesakitan.
"Arini..!" Arya yang melihat itu langsung berhambur menghampirinya juga menjatuhkan ransel Arini. Arya sangat panik juga sangat khawatir dengan Arini saat ini yang masih berlutut dan mulai mengamati telapak tangannya.
"Ups..., maaf. Saya tidak sengaja," Orang itu adalah Melisa, dia benar-benar sengaja membuat Arini terjatuh mungkin dia memang berniat untuk membuat Arini malu.
"Aduh..., sekarang sudah mendapatkan pangeran baru ya. Aku yakin sama-sama OB, iya kan?" ejek Melisa begitu nyinyir.
Melisa sungguh tidak bisa mengenali kalau laki-laki yang dia hina itu adalah bosnya sendiri. Entah bagaimana kalau sampai dia tau, mungkin dia akan berlutut memohon maaf.
"Uhh..., romantisnya," ucapnya semakin sinis saat melihat Arya meraih paksa tangan Arini untuk melihat lukanya. Arya juga membersihkan pasir dari telapak tangan Arini sembari meniupnya.
Ternyata ada yang Melisa lewatkan, Arya sudah melepaskan maskernya. Tetapi Melisa belum ngeh, mungkin karena Arya memunggunginya jadi Melisa tidak tau.
Arya masih diam tak menjawab, tapi dia tau siapa pelakunya yang tak bukan adalah Melisa, perempuan yang selama ini Arini kenal sebagai seorang kakak.
Arya terus meniup telapak tangan Arini, bahkan matanya juga ikut menyipit seolah-olah dia juga ikut merasakan sakit.
"Apa sakit sekali?" tanya Arya begitu lembut.
__ADS_1
Bukannya menjawab Arini malah melihat Arya, melihat wajah Arya yang terangkat ke arahnya, melihat netra hitamnya yang kini memandangi matanya juga.
Arini seolah tak sadar kalau tangan mereka berdua saling menyatu. Arini di buat terpana dengan perlakuan Arya yang selalu spesial untuk dirinya. Arini terpaku dalam diam.
"Apa sangat sakit?" tanya Arya mengulang lagi.
Arya kembali meniupnya mata Arini juga mengikuti pergerakan bibir Arya yang meniup. Sadar Arini langsung menariknya.
"Maaf," sontak Arya pun juga tersadar, dia langsung minta maaf karena sadar telah berbuat kesalahan.
"Biar aku kasih pelajaran, tak ada yang boleh menyakitimu apalagi ada di depan mataku," mata Arya kini sudah berubah, membulat sempurna di penuhi dengan amarah.
Arya tidak akan mungkin menerima kalau Arini di sakiti oleh orang termasuk Melisa.
Arya hendak beranjak tapi Arini yang tidak mau terjadi keributan dia menghalanginya, wajahnya menggeleng kasar dengan raut wajah memohon juga tangannya sudah menarik switer Arya di bagian tangan.
"Jangan, Arini tidak mau ada kekacauan. Kita biarkan saja kak Melisa melakukan ini pada Arini, Arini tidak apa-apa kok."
"Tidak, Arini! Dia harus di beri pelajaran!" Arya mulai geram.
"Kalau sampai semua orang tau kalau pak Tuan yang menolong Arini maka Arini tidak akan pernah mau bertemu dengan pak Tuan lagi," ancam Arini.
Bukan hanya semua para karyawan yang mungkin akan memiliki pemikiran miring pada Arini tapi keluarga Arya pasti akan semakin membencinya.
Memang tak ada yang tau dari semua para karyawan kalau acara di puncak ini juga untuk pertunangan Arya, begitu juga dengan Arini. Kalau sampai Arini tau mungkin tanpa ada alasan apapun lagi dia akan menjauh dari Arya.
"Tapi, Arini. Dia harus di beri pelajaran, dia akan terus mengganggumu kalau di biarkan!"
"Tidak, Pak Tuan. Lebih baik kita pergi saja. Bukankah pak Tuan mau mengantarkan ku? Arini sudah lelah, Arini mau istirahat," ucapnya.
"Hufff..., ini yang terakhir, kalau dia berulah lagi aku akan langsung memecatnya."
Arini mengangguk.
"Apakah kamu bisa berjalan sendiri?" tanya Arya dan Arini kembali mengangguk. Sementara Arya kembali memakai maskernya.
Meski dengan susah dan menahan sakit Arini tetap berjalan dengan pelan.
"Oh..., sudah tidak sabar ya mau berduaan, selamat bersenang-senang." Suara Melisa terdengar sangat senang, bahkan dia juga mengabadikan setiap momen yang terjadi dari Arya juga Arini.
Ucapan Melisa sama sekali tidak di tanggapi oleh keduanya yang terus berjalan.
Melisa kembali di buat tertegun saat pria yang sama sekali tidak dia lihat wajahnya itu menggendong Arini yang susah berjalan.
"So sweet..." ucapnya dengan tangan kembali mengabadikan mereka berdua dengan ponselnya.
"Hem..., ini bisa menjadi senjata untukku. Kamu akan di permalukan Arini. Aku yakin setelah Tuan Arya melihat ini dia akan membencimu."
__ADS_1
Bersambung....