Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
120. Bahagiakan Ibu Selama masih Bisa


__ADS_3

Happy Reading....


/////


‘’Apa sih, Pak Tuan! Arini mau bekerja lagi! Apa Pak tuan mau ngepel juga?’’ begitu kesal si Arini karena dari tadi pak tuannya selalu saja mengikutinya.


Setiap pergerakannya menjadi tidak bisa bebas, seolah terbatas karena Arya yang selalu menghadangnya dengan sangat antusias.


Meski mendapatkan protes dari Arini tapi tetap saja tidak membuat Arya mundur dan menghentikan setiap pergerakannya, dia tetap mengejar Arini bahkan dia juga ingin merebut gagang pel yang Arini bawa.


‘’Sepertinya kamu marah padaku, apa kamu cemburu karena aku di dekati oleh Nadia tadi?’’ tanya Arya, percaya dirinya sangat besar sampai dia begitu mudah mengatakan hal itu pada Arini.


Arini terbelalak, mana mungkin dia cemburu? Dia bukan siapa-siapa Arya mana mungkin dia cemburu kan?


‘’Pak tuan jangan kepedean deh! Arini bukan istri Pak tuan jadi mana mungkin Arini akan cemburu, buang-buang tenaga saja,’’ jawab Arini. Mulutnya mengatakan hal yang demikian tapi terlihat berbeda di raut wajahnya, benarkah Arini sudah mulai ada rasa pada Arya?


Arini kembali memalingkan wajahnya saat Arya ingin melihat keadaan wajahnya sekarang. Pipinya yang memerah tak akan dia biarkan terlihat oleh Arya begitu saja, ini akan sangat berbahaya.


Arini yang terus memalingkan wajah membuat Arya semakin ingin melihatnya, keponya begitu meronta-ronta.


‘’Lalu kenapa kamu menghindar dariku kalau kau tidak merasa cemburu. Sinilah aku mau melihatnya,’’ Arya sangat ngotot ingin melihat tapi sang empu tidak membiarkan itu terjadi.


‘’Ayolah, aku hanya mau melihat wajahmu saja!’’ tak mudah mendapatkan Arini yang begitu kekeh dengan keinginannya itu, tapi tak akan membuat Arya menyerah dia akan tetap berusaha hingga akhirnya jalan satu-satunya Arya menarik lengan Arini.


hampir saja tubuh Arini menubruk tubuh Arya kalau seandainya dia tidak seimbang, ‘’Pak tuan!’’ teriak Arini tiba-tiba.


Arya sungguh keterlaluan, dia selalu saja sesuka hati melakukan hal yang seperti itu kepada Arini. Dan lagi-lagi sekarang jarak mereka berdua begitu dekat bahkan nyaris bersentuhan.


Netra hitam milik Arya terus melihat Arini yang kini malah terdiam dengan menatapnya juga. Arya tak berkedip sama sekali begitu terpana dia dengan gadis yang selalu melawannya ini.


Pipi yang sedikit memerah sangat terlihat jelas dari mata Arya. Ya, bahkan sangat jelas.


Arini benar-benar cemburu kepadanya karena dia tadi di dekati oleh Nadia. Atau mungkin dia marah karena Nadia mengatakan kalau dia adalah calon istrinya? Mungkin sih.


“Cemburu? Apa itu artinya kamu mulai menyukaiku?” Tanya Arya menelisik.

__ADS_1


Arini hanya menggeleng pelan, dia tidak tau sebenarnya cemburu itu yang seperti apa, yang jelas Arini tidak menyukai Arya dekat-dekat dengan wanita lain.


Kalau itu adalah salah satu dari sifat cemburu makan Arini memang tengah cemburu, tapi itu tidak mungkin kan?


“Aku harap itu memang iya,” ucap Arya. Matanya masih belum berkedip sama sekali dari wajah Arini, dia masih sangat enggan untuk memalingkan wajahnya.


“Arya!” dan datang lagi satu pengganggu yang akan menghancurkan kebersamaan mereka berdua yang indah. Kali ini Luna sang mama yang datang.


Wajahnya sudah tak bersahabat begitu saja, amarahnya langsung besar seiring langkahnya menghampiri Arya juga Arini.


Arya langsung melepaskan lengan Arini, baru saja dia ingin lagi menggodanya malah datang pengacau yang tak tau waktu kalau datang. Seharusnya datang nanti saja kan bisa setelah Arya selesai menggoda Arini.


“Saya permisi, Pak Tuan,” Arini tertunduk dalam langkah. Arini tidak mau ikut campur atau mendengarkan percakapan antara anak dan emak itu.


“Pergilah, dan seperti biasa buatkan aku kopi,” suara Arya terdengar kembali dingin, apakah hanya di depan Arini saja suara Arya melunak? Bahkan orang tuanya sendiri juga tidak diperbolehkan untuk mendengar syarat yang begitu hangat itu?


“Baik, Pak Tuan.”


Arini berlalu pergi dengan cepat dia tak mau berlama-lama di sana.


Arya berpindah duduk di sofa sekarang, mengabaikan Luna yang dari tadi berdiri di sebelahnya.


“Ar! Apa yang kami lihat dari gadis norak seperti dia! Dia tidak pantas untukmu, Ar!” dan ternyata benar, kedatangan Luna hanya untuk mengomentari keadaan Arini.


“Mama sudah memilihkan wanita yang sangat cantik untukmu, Nadia! Apa dia kurang cantik, hah!” selalu saja kecantikan yang di lihat oleh Luna, apakah dia tidak bisa melihat bagaimana sifat Nadia yang begitu buruk?


Arya sangat yakin kalau Nadia itu bukan hanya ingin panjat pamor dengan menikah dengan Arya, tapi dia juga menginginkan seluruh hartanya.


Dengan menikah dengan Arya, Nadia tidak hanya akan di kenal oleh semua orang, tai dia juga akan mendapatkan harta dan juga usaha orang tuanya juga akan mendapatkan hasil dari itu.


“Ayolah, Arya. Mama mohon jauhi gadis benalu itu. Dia tidak akan pernah pantas untukmu! Untuk keluarga kita! Dia hanya gadis rendahan yang mengincar hartamu, harta kita!”


Begitu jelas Luna mengatakan itu, begitu jelas dia tidak menyukai Arini dan terus merendahkan dan mengatakan kekurangan Arini. Membandingkan dengan Nadia yang sangat sempurna di matanya.


Arya masih saja diam, duduk bersandar dengan kedua tangan melipat di depan dada. Matanya juga sama sekali tak melihat Luna yang terus berbicara tanpa henti.

__ADS_1


“Ayo lah, Ar! Jauhi gadis miskin itu. Lebih baik sekarang kamu pergi, minta maaf dengan Nadia. Dia sangat sedih karena ucapan mu!”


“Bagaimana mungkin tukang ngadu seperti dia cocok denganku. Gadis yang cocok dengan ku itu yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan dari orang lain,” kini Ary berbicara.


Sudah ketebak, setelah dari sana pasti Nadia akan menghubungi Luna dan akan mengatakan apa yang Arya lakukan dan yang pasti akan di bumbuhi dengan drama air mata dan wajah yang penuh terluka, “menyebalkan,” sungut Arya.


“Ar! Kamu jangan keterlaluan seperti itu, Nadia adalah calon istri yang pantas, calon istri yang ideal!”


“Sementara gadis itu? Dia bahkan tidak pantas menjadi pembantu di rumah kita, bagaimana mungkin akan menjadi menantu di rumah!”


“Ma! Jangan pernah berani menghinanya di depan wajahku, bahkan di belakangku juga tidak akan aku biarkan.”


“Ini hidup Arya, dan hanya Arya yang akan menentukannya sendiri bukan mama!” Arya sangat marah karena penghinaan yang Luna katakan untuk Arini, hatinya sangat sakit seperti dirinya sendiri yang mendapatkan penghinaan itu.


Arya beranjak, dia bergegas pergi dari sana tak akan ada habisnya jika berdebat dengan Luna.


Langkahnya semakin cepat menuju pintu yang jelas ada kekesalan yang dia bawa di dalam hatinya.


“Ar! Mama belum selesai bicara, Arya!” panggil Luna tapi tidak di gubris lagi.


Pintu terbuka, Arya terbelalak saat melihat Arini yang sudah ada di depan pintu. Tangannya membawa nampan yang berisi kopi, tapi wajahnya? Dia sangat sedih bahkan air matanya sudah keluar begitu saja tanpa sedikitpun Arini berniat untuk menghapusnya.


Arini menyodorkan kopinya, dia hanya tersenyum di tengah kepedihan yang dia rasakan.


“Hormatilah orang tua, Pak Tuan. Apalagi dia adalah seorang ibu. Karena ridho Allah untuk pak Tuan terdapat pada ridho Ibu.”


“Dan ya, jangan pernah membuatnya sedih, bahagiakan beliau selama masih bisa. Jangan seperti Arini yang tidak akan pernah bisa mendapatkan kesempatan untuk membahagiakan orang tua Arini.”


“Jika memang memungkinkan, turutilah apa yang dia mau. Mungkin menurut pak Tuan itu tidak baik, tapi bisa jadi itu baik menurut Allah. Jangan su’udzon dengan takdir yang belum terjadi. Allah tidak tidur, Pak Tuan. Allah mengetahui mana yang baik dan tidak, dan jika memang itu terjadi mungkin itu memang yang lebih baik,” ucap Arini dengan begitu tanah.


Arini kembali memberikan senyum tulusnya setelah selesai dengan apa yang ingin dia katakan, “jangan kejar Arini, pak Tuan. Patuhlah dengan mama pak Tuan,” Arini berlalu pergi setelah dia menghapus luka yang keluar melalui air matanya.


“Arini!” panggil Arya.


Sepertinya apa yang di bicarakan oleh Arya juga Luna di dengar oleh Arini dan sekarang dia sangat sedih karena itu, “Arini!” meskipun di larang tapi nyatanya Arya tetap mengejarnya dia bahkan tidak tahan melihat air matanya bagaimana mungkin dia akan membiarkan dia dalam luka yang cukup lama.

__ADS_1


/////


Bersambung...


__ADS_2