
Happy Reading...
``
Ternyata Arya benar-benar menepati kata-katanya, dia sama sekali tak melakukan apapun pada Arini selain memanjakannya.
Bukan hanya mandiin Arini saja tapi dia juga memilihkan sendiri apa saja yang akan di pakai oleh Arini. Bahkan tanpa malu lagi Arya juga memakaikannya.
Arini masih diam seperti patung yang pasrah di apa-apain saja oleh Arya. Kini Arini juga Arya sudah rapi dengan pakaian mereka masing-masing, mereka juga sudah seger pula dengan aroma terapi dari sabun yang menambah semakin membuat keduanya tenang.
"Sayang, kamu masih marah, kok diam saja. Aku beneran nggak ngapa-ngapain loh tadi," ucap Arya yang melihat Arini masih terus diam.
Rambut yang masih basah membuat Arya kembali beranjak untuk mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut Arini. Benar-benar sudah bucin akut si Arya sampai dia sama sekali tidak malu melakukan itu pada Arini.
Perlahan-lahan tangannya mulai bergerak dengan hairdryer di tangannya mengeringkan rambut Arini yang panjang. Tak ingin sampai Arini sakit nantinya karena terlalu lama rambutnya yang basah itu akan membuatnya kedinginan.
"Maaf,kalau kamu memang masih marah aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak mau kita yang harusnya bersenang-senang di sini tapi kamu malah sedih seperti ini," Arya benar-benar menyesal.
"Arini bukan marah, Mas. Tapi Arini malah merasa tidak berguna sebagai istri. Mas terus memanjakan ku sementara aku tidak melakukan apapun, itu tidak adil kan?" jawab Arini.
Arya tersenyum setelah mendengar jawaban Arini, mengetahui alasan sebenarnya kenapa dia terus diam. Dan ternyata itu bukan karena dia marah.
Padahal Arya sudah sangat takut, dia takut kalau Arini marah dengan apa yang di lakukan tapi ternyata itu tidak benar, syukurlah.
"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu, Sayang. Jangankan hanya memanjakan mu, melakukan apapun aku mau kalau itu kamu yang minta. Aku akan selalu lakukan untukmu tapi tidak untuk orang lain. Karena apa? karena hanya kamu lah orang yang paling berharga untuk ku," jawab Arya dengan sangat jelas.
"Bagaimana kalau nanti Arini jadi istri manja, aku takut nanti Mas jadi bosan pada Arini," Arini masih berpikir apa yang biasa terjadi pada laki-laki lain. Apalagi banyak berita-berita yang tidak enak yang selalu dia dengar.
"Aku tidak akan bosan Sayang. Semakin lama aku akan semakin besar mencintaimu," Arya beralih berdiri di hadapan Arini, menaruh hairdryer di meja lalu berjongkok di hadapan Arini.
Tangannya meraih tangan Arini menggenggam dengan erat di sambung dengan menciumnya.
"Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Aku bukan orang yang akan suka mengingkari janji. Sekali aku mencintai seseorang tidak akan ada lagi yang akan menggantikannya. Mungkin dulu pernah ada orang yang benar-benar aku cintai selain dirimu, tapi tidak untuk sekarang. Sekarang hanya ada dirimu saja."
Arini mengernyit, berarti sebelum dirinya ada orang lain yang ada di hati Arya. Apakah karena wanita itu yang membuat Arya menjadi seperti kemarin?
"Kalau dia kembali apakah Mas tidak akan meliriknya lagi? aku yakin dia lebih cantik dariku kan?" ketakutan muncul di hati Arini. Entah siapa wanita yang dulu pernah ada di hati suaminya.
Arya menggeleng, "tidak."
"Jangankan dia hanya kembali, dia memohon seperti apapun aku tidak akan pernah kembali kepadanya. Aku sekarang hanya milikmu saja, dan akan seperti itu selamanya."
"Apakah aku bisa mempercayainya?"
"Tentu, kamu harus mempercayainya. Aku menceritakan semua ini karena aku tidak mau ada hal yang tidak kamu ketahui, aku ingin semua masa laluku kamu mengetahui semua jadi aku tidak ingin ada salah paham di antara kita."
Sekali lagi Arya mencium tangan Arini, menyalurkan cinta dan kasih sayang yang tiada batas.
"Aku sudah memesan makan, dan sebentar lagi akan datang. Kamu mau istirahat dulu atau melakukan sesuatu?" tanya Arya.
"Arini mau istirahat sebentar, tapi Arini pengen tidur di pangkuan Mas," jawab Arini.
__ADS_1
"Baiklah, apasih yang tidak. Sini sayangku, kita istirahat," Arya langsung mengangkat Arini, membawanya ke kasur menurunkan di sana.
Arya hanya duduk bersandar sementara Arini langsung merebahkan tubuhnya dan menjadikan pangkuan Arya sebagai bantalnya.
"Tidurlah, nanti akan aku bangunkan saat makanannya sudah datang," tangan Arya langsung mengelus rambut Arini dengan lembut, berusaha untuk membuat Arini tertidur dan itu tak lama usahanya berhasil membuat Arini tertidur pulas.
Usaha Marta semakin hancur, dia semakin tak bisa menyelamatkan usahanya. Kebun teh nya yang dia banggakan kini kering dan tak bisa memberikan penghasilan.
sekarang semuanya telah hilang, kedua anaknya yang dia banggakan juga tak bisa diharapkan, semua telah pergi dari kehidupannya.
Melisa masih ada di penjara sementara Fara dia tidak tau kemana dia pergi setelah dia mengusirnya.
Bukan hanya semuanya yang hancur tapi keuangan Marta juga sangat buruk, kini tak ada lagi penghasilan. Dia yang sudah mulai membaik terpaksa harus mencari pekerjaan, apalagi Ratna yang gak mau tau, dia hanya tau ada membuat Marta begitu frustasi.
Seperti sekarang, Ratna yang ingin berkumpul dengan teman sosialitanya tengah marah-marah untuk minta uang kepada Marta. Padahal dia sendiri tau kalau Marta tak punya apa-apa lagi tapi dia seolah menutup mata.
"Mas, aku tidak mau tau, aku harus minta uang! Kalau tidak aku bisa malu dengan teman-teman. Aku tidak mau di rendahkan oleh mereka, aku tidak mau kalau sampai mereka semua tau kalau sekarang kita sudah miskin!" seru Ratna.
"Bu, berhentilah kumpul-kumpul dengan teman-teman Ibu itu. Lihat keadaan kira sekarang, Bu! jangan mentingin harga diri Ibu sendiri tapi pikirkan nasib kita kedepannya! kalau Ibu seperti ini terus lama-lama kita bisa menjadi gembel yang berkeliaran di jalanan. Apakah itu tidak lebih memalukan!" seru Marta yang sudah kehilangan akal.
Sangat susah memberikan pengertian kepada istrinya yang sudah terbiasa dengan hidup enak. Dia yang taunya apa-apa ada pasti akan sangat berbeda saat semua itu berubah dengan total.
"Sudah deh, Mas! bilang saja kalau Mas tidak mau memberikannya padaku! lalu apa gunanya Ratna di sini lagi! Ratna tidak mau di sini dan hidup dengan orang yang tidak mau memberikan apapun pada Ratna, lebih baik Ratna pergi!"
Ratna bergegas masuk ke kamar, melangkah dengan kasar dan membanting pintu dengan sangat keras.
"Bu! pikirkan baik-baik sebelumnya! Bu!" Marta berlari mengejar Ratna dan istrinya itu sudah mulai berkemas di kamar.
__ADS_1
"Bu, jangan seperti ini, jangan tinggalkan Bapak! kalau ibu pergi bapak sama siapa? Bu!"
Marta terus berusaha menghalangi Ratna yang terus bergerak memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper.
"Bu, jangan seperti ini!" teriaknya tangan terus bergerak menghalangi Ratna juga dengan langkah kakinya yang tak berhenti.
"Lepas Mas! aku tidak mau di sini lagi! aku tidak mau hidup miskin seperti ini lagi! minggir!" Ratna mendorong Marta yang terus menghalanginya.
Ratna tidak mau di halangi lagi, tekatnya sudah bulat. Dia ingin pergi meninggalkan Marta dan juga kehancuran yang Marta alami sekarang.
Koper yang sudah penuh langsung di tutup oleh Ratna diturunkan dari kasur dan dia langsung menariknya.
"Bu, Bu! jangan tinggalkan Bapak!"
Ratna tetap tak peduli dengan Marta dia tetap pergi dan berjalan dengan cepat.
"Bu! jangan pergi," Marta menghadang Ratna tapi yang dia dapat benar di luar dugaan.
"Minggir! jangan halangi Ratna lagi. Ratna tidak mau sama Mas lagi!" dengan sadis Ratna mendorong Marta dan dia yang masih tak terlalu kuat langsung tersungkur di lantai.
Kesempatan yang bagus untuk Ratna, dia cepat pergi setelah Marta tersungkur di lantai.
"Bu! Bu! Jangan tinggalkan Bapak!" teriak Marta tapi Ratna sudah acuh tak peduli
"Arghhh!" begitu frustasi dengan keadaannya sekarang.
__ADS_1
Bersambung....