Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
250.Ingin Sarapan Nikmat


__ADS_3

Happy Reading....


Pagi-pagi sekali Arini sudah keluar dari kamar setelah selesai menjalankan sholat subuh bersama Arya. Seperti kebiasaan yang sebelumnya dia akan pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuk semua orang.



Ternyata pagi ini Arini kalah dengan Nilam juga Raisa, kedua wanita berbeda usia itu sudah ada di dapur dan sudah sibuk, bahkan beberapa menu untuk sarapan sudah matang.



"Pagi Ma, pagi kak Raisa, " sapa Arini.



Arini langsung mendekati Nilam, memeluknya dari samping lalu mengecup pipi sebelah kiri milik Nilam.



Arini bergelayut manja dengan Nilam, seperti anak kecil yang begitu mencari perhatian kepada ibunya. Ya, mungkin Arini melakukan itu karena dari kecil dia juga tak mendapatkan itu dari Nilam ibu kandungnya bahkan dari ibu tirinya.



"Pagi sayang," Nilam begitu senang, kebahagiaannya benar-benar telah kembali setelah kembalinya Arini di tengah-tengah keluarganya.



Bukan hanya Arini saja yang mencium Nilam tapi Nilam pun berganti mencium pipi Arini.



"Mama masak apa?" masih dengan posisi yang sama Arini melirik masakan yang sedang di aduk-aduk oleh Nilam saat ini.



Seketika membuat perut Arini keroncongan, aromanya begitu menggugah selera Arini untuk cepat memakannya.



"Ayam balado, kamu suka?" Nilam sedikit melirik.



"Enak nih, tapi nggak pedes banget kan, Ma?"



"Tidak sayang, hanya sedikit saja. Kalau masak pedes-pedes nanti kena omel sama Kakakmu, dia paling serius jika mengenai kesehatan," ucap Nilam.



"Tuh kak Raisa. Dengerin mama ya, Kak Dimas tidak suka pedes jadi Kak Raisa kalau masak sekedarnya saja," ucap Arini langsung menoleh ke arah Raisa.



"*Hem, kenapa jadi aku*?"



"Apa urusannya dengan ku?" Raisa berkedut, dia kan tidak ada hubungannya dengan Dimas.



"Urusannya dengan Kak Raisa adalah, karena menurut Arini Kak Raisa dan Kak Dimas itu udah cocok banget, aku pikir juga kalian itu jodoh deh," tebak Arini asal.



*Uhuk uhuk uhuk*...

__ADS_1



Raisa langsung tersedak mendengar itu dari Arini. Bisa-bisanya Arini berpikir seperti itu padahal Raisa sendiri tidak pernah berpikir sampai ke sana.



"Hahaha, pipi Kak Raisa merah, malu ni ye! Hallo kak Dimas, lihatlah, nih pagi-pagi ada yang tersipu!" ledek Arini dan kebetulan saat itu Dimas juga datang.



Benar-benar sungguh terlalu nih anak, pinter banget bikin orang tersipu malu bahkan membuat Raisa menjadi gugup sekarang karena Dimas sudah langsung menatapnya.



Tidak mengatakan apapun tapi Dimas hanya tersenyum saja melihat wajah Raisa sudah memerah.



"*Kenapa aku begitu senang melihatnya pagi ini? dia terlihat berbeda. Mungkin karena hati ini? Mungkin hati ini benar-benar sudah menemukan belahannya*," Batin Dimas.



Raisa semakin gugup, dia kehilangan fokus hingga akhirnya pisau yang dia pegang mengenai tangannya.



"Aww!" teriak Raisa.



Dimas yang hendak mengambil minum langsung berlari, dia panik apalagi melihat darah yang mulai mengalir di tangan Raisa.



Dimas langsung merebut pisau yang Raisa bawa dan bergerak cepat untuk menolongnya.




Dimas meniup tangan Raisa, dengan gerakan cepat dia juga langsung mengambil tisu untuk menghapus darah yang mengalir.



Raisa terpaku melihat wajah Dimas yang panik, bahkan kini kedua tangannya memegangi tangannya yang terluka. Bukan itu saja, tapi Raisa juga melihat Dimas yang terus meniupnya.



Nilam juga Arini memandangi dua sejoli itu yang sudah bergandengan tangan. Arini tersenyum senang begitu juga dengan Nilam.



"Ma, secepatnya nikahkan mereka, Ma. Kalau tidak nanti kakak akan jadi perjaka tua kalau sampai Kak Raisa sudah di nikahi orang," celetuk Arini.



"Kamu benar, kita harus pikirkan itu. Nanti biar Mama bilang sama Papa. Sepertinya mereka juga sudah saling cinta, mungkin mereka hanya masih gengsi saja untuk saling mengakui," jawab Nilam.



"Sekarang kamu panggil suamimu sana, sekalian panggil papa untuk sarapan," pinta Nilam.



"Siap, Ma," Arini langsung bergegas.


__ADS_1


Arya masih saja sibuk dengan pekerjaannya, memeriksa e-mail masuk ke dalam laptopnya.


Tidak berangkat ke kantor bukan berarti dia tak bisa mengerjakan semuanya, dia bisa melakukan apapun dengan laptopnya.


"Assalamu'alaikum," Arini masuk setelah tadi dia sudah sempat ke kamar papanya lebih dulu. Kini dia harus memanggil Arya untuk sarapan.


"Wa'alaikumsalam," Arya melirik sebentar, memastikan yang datang adalah istrinya.


Arini berjalan mendekat, duduk di sebelahnya dan melihat apa yang suaminya itu lakukan. Meski tak mengerti tapi Arini cukup di buat penasaran, jadi dia melihatnya sejenak.


"Mas, sarapan dulu yuk! sudah di tunggu yang lain. Pekerjaannya di sambung nanti lagi," ajak Arini.


"Sebentar lagi sayang, ini tinggal sedikit saja," Arya masih terus fokus dengan laptopnya.


"Sebenarnya apa sih yang Mas kerjakan, Arini sangat penasaran. Hem, Arini boleh belajar nggak, Mas," Arini begitu antusias.


Arya mengernyit, dia tak yakin Arini bisa melakukannya. Tapi tak masalah sih dia mengajarkannya.


"Boleh, duduk sini," Arya menepuk-nepuk pangkuannya, meminta Arini untuk duduk di pangkuannya. Dengan posisi itu dia bisa leluasa mengajarkan Arini.


"Beneran," wajah Arini begitu berbinar. Dia sangat bahagia. Apapun yang dia inginkan selalu saja di berikan oleh Arya.


"Sini," Arya cepat menarik tangan Arini, membuatnya duduk di pangkuannya.


Tangan Arya mengambil laptopnya dia benar-benar mengajarkan kepada Arini. Tak berpikir kalau dengan itu akan membuat pekerjaannya menjadi lama selesai, tapi Arya hanya berpikir apapun akan dia lakukan asal istrinya itu bahagia.


"Begini ya," perlahan tangan Arini di ajarkan untuk memencet satu persatu keyboardnya dengan fokus Arya melakukannya karena dia tidak mau sampai semua yang sudah dia kerjakan akan terhapus atau berantakan.


"Tangannya yang lemes sayang, seperti kamu setelah sampai puncak kenikmatan itu, kan lemes banget," celetuk Arya sembari terkekeh.


"Ih, mas kok jadi ke sana sih!" protes Arini tak terima.


"Hahaha, tapi beneran loh ya, aku seneng banget lihat kamu yang kayak gitu. Tapi sayangnya semalam tidak bisa lihat karena kita kelelahan. Nanti lihat ya."


"Apa sih, Mas jangan mesum deh."


"Mesum hanya sama istri sendiri tidak apa-apa kan? daripada sama istri tetangga?"


"Hah! awas saja kalau berani," mata Arini melotot terang benderang saat mendengar penuturan Arya barusan. Jangankan sampai mesum dengan tetangga bercanda saja Arini tak akan biarkan itu.


"Alhamdulillah, selesai. Bagaimana, sudah bisa?"


"Belum, tangan Arini masih kaku."


"Sini biar mas lemesin," Arya menaruh laptopnya lagi, dan setelah itu dia meminta Arini mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arahnya.


"Caranya?"


"Ada deh, sini," satu, dia dan tiga! Arya langsung melesatkan bibirnya di bibir Arini. Mencumbu istrinya di pagi hari yang sangat indah itu.


Arini sempat melotot tapi itu tak lama, dia hanya bisa pasrah menerima apa yang Arya lakukan.


"Kita lanjutkan yang lainnya nanti, sekarang isi perut dulu supaya memiliki tenaga untuk beberapa ronde," bisik Arya.


Arini tersipu, pipinya sudah sangat merah karena cumbuan Arya yang begitu lembut tapi sangat membuatnya seakan melayang penuh kenikmatan.


"Sebenarnya sarapan kamu saja aku sudah akan kenyang, tapi mana mungkin aku bisa melakukan saat kamu lapar," ucap Arya.


"Ih, Mas!"


"Aku mau sarapan nikmat," rengek Arya.


"Tidak boleh, harus sarapan nasi, bukan sarapan yang lain."


"Baik deh, yuk," ajak Arya. Menyadarkan Arini yang masih diam menahan rasa malu.


"Hem."

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2