
Happy Reading...
Toni terlihat sangat gelisah, dia sangat tidak tenang sekarang. Apakah itu yang di rasakan semua orang yang akan menikah?
Memang sekarang Toni berada di desanya Nisa tapi dia tidak ada di rumah yang sama. Toni tidak mau berada di bawah satu atap dengan gadis yang belum sah menjadi istrinya.
Toni tidak di rumah yang jauh, hanya terdapat beberapa rumah lagi yang membatasi rumah Nisa.
"Nak, kamu kenapa?" Tanya seseorang yang datang dari dalam.
"Tidak apa-apa, Pakde," Toni membalik setelah barusan melihat persiapan yang di lakukan di rumah Nisa.
Tenda-tenda sudah di dirikan, dan beberapa orang tengah menghias dengan bunga-bunga buatan juga dengan kain panjang warna-warna.
Begitu banyak orang yang hilir-mudik di sana. Ternyata itulah adat orang desa, mereka akan datang dan mengucapkan selamat juga datang membawa kardus-kardus yang entah apa isinya. Tapi ada juga yang membawa kado.
"Bersiaplah, Nak. Dan ikut pakde ke sana untuk menemui tamu." Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah pakde nya Nisa.
"Baik, Pakde," Toni cepat masuk lagi, dia bergegas untuk bersiap.
Sebenarnya dia sangat malu, dia belum pernah ada di posisi yang seperti sekarang ini. Rasanya sungguh menegangkan daripada meeting dengan kolega dari luar negeri.
Setelah beberapa saat Toni keluar. Celana hitam, baju batik berwarna dasar cokelat juga sepatu pantofel hitam menjadi style Toni saat ini. Tak lupa rambutnya di sisir rapi di tambah dengan memakai minyak.
"Mari, Pakde Musi," ucap Toni. Dia sudah siap untuk berangkat ke rumah Nisa.
Begitu gagah Toni saat ini, perlahan dia melangkah di belakang pakde Musi yang lebih dulu.
Rampung sudah semua persiapannya, semua terlihat indah dan sangat sempurna. Bunga-bunga sudah tertata rapi dan indah di panggung yang akan menjadi tempat resepsi.
Tak butuh gedung mewah jika di desa, semua bisa di lakukan di rumah masing-masing. Apalagi halaman rumah Nisa sangat luas jadi sangat menguntungkan untuk menggelar acara.
"Walah, gantengnya calon suaminya neng Nisa. Pak RT beruntung banget." ucap salah satu ibu-ibu yang melihat kedatangan Toni.
Toni tersenyum ramah, menyatukan kedua tangan di depan dada dan sedikit membungkuk di hadapan semua para tamu yang terdiri dari ibu-ibu.
"Walah, gantenge," Puji yang lainnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Perkenalkan dia nak Toni calon suaminya Nisa." Pak Karna menghampiri, merangkul pundak Toni dan memperkenalkannya dengan bangga kepada semua tamu.
"Bu," Hanya satu kata saja yang keluar dari bibir Toni, itupun juga sudah gugup banget.
"Udah ganteng, ramah maneh. Beruntungnya, Neng Nisa." Para ibu-ibu begitu mengagumi Toni.
Tak lama para ibu-ibu itu di minta pindah oleh seseorang, dan mereka semua patuh. Mereka masuk ke rumah dan sepertinya mereka di minta untuk merahapi hidangan yang sudah di persiapkan.
Mata Toni terlihat celingukan, sepertinya dia mencari seseorang.
"Tenang, Nak. Nak Nisa aman di dalam sana. Tidak akan ada yang mengambilnya?" Gurau Pakde Musi yang seolah tau apa yang di pikirkan oleh Toni.
Toni hanya meringis saja menanggapi. Memang benar dia mencari Nisa, dia belum pernah melihatnya setelah dia sampai kemarin.
Mata mereka tertuju dengan mobil hitam yang baru saja memasuki pekarangan rumah tetangga. Mobil yang sangat Toni kenal. Ya, itu adalah mobil Arya.
"Itu Tuan Arya, Pak." ucap Toni seraya menunjukkan.
Toni, pak Karna juga pakde Musi langsung menyambut kedatangan Arya. Bukan hanya mereka saja, tapi juga beberapa remaja yang mengikuti.
"Selamat datang, Nak Arya." Pak Karna menyambut.
"Bisa minta tolong?" ucap Arini.
Pintu bagasi sudah terbuka dan beberapa perlengkapan seserahan ada di sana. Sebenarnya kemarin Toni juga sudah membawa tapi kali ini semuanya dari Arya sebagai kewajiban yang harus dia penuhi sebagai seorang kakak.
Para pemuda langsung membantunya, menurunkan semua barang-barang yang di bawa.
"Mari, Nak." Pak Karna tersenyum. Jika mengingat pasangan ini. Dia sudah mendengar semuanya dari Nisa. Bagaimana dulu pertama mereka datang hanya sebatas bos dan OB, tidak bisa di percaya kalau semuanya benar-benar terjadi, mereka berdua kembali datang dan sekarang dengan status suami istri yang sah.
Arya juga Arini masuk ke rumah sesuai permintaan pak Karna. Begitu juga Toni, dia ikut masuk ke rumah pak Karna.
Meskipun sudah berada di rumah tapi Toni belum juga bisa melihat Nisa, entah di sembunyikan dimana gadis itu membuat Toni sangat penasaran.
"Sabar, Ton. Dulu aku malah di pingit. Satu minggu nggak bisa bertemu. Kalau kamu hanya dua hari saja kan? Kamu harus tahan. Semua akan terbayar setelah sah." Bisik Arya.
Toni hanya bisa meringis mendengar itu. Tapi tetap saja, dia sangat ingin bertemu Nisa. Melihat bagaimana wajahnya yang pasti sangat cantik.
__ADS_1
"I\_iya, Tuan." Toni begitu gugup. Apalagi kini dia duduk di antara para sesepuh desa juga calon mertua.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Di sinilah Nisa sekarang, di dalam kamarnya dan di temani beberapa teman sebayanya yang ada di desa itu juga.
Mereka saling bergurau, tapi tidak terlalu keras karena tidak mau sampai terdengar dari luar.
"Nis, carikan satu untukku cowok kota yang seperti Mas Toni. Yang ganteng, pekerja keras, memiliki jabatan tinggi juga sholeh tentunya," ucap Ais, anaknya pakde Musi.
"Yo cari sendiri lah, Mbak Ais. Nanti kalau Nisa yang nyariin nggak cocok lagi." jawab Nisa.
"Ya sudah, kalau begitu Mas Toni kanggo aku ae yo (kalau begitu Mas Toni buat aku saja ya)," gurau Ais.
"Hah!" Nisa tersentak, matanya juga terbelalak tak rela. Mana mungkin dia akan rela memberikan calon suami kepada orang lain, ya meski itu sepupunya sendiri.
"Ora, guyon aku, Nis ( tidak, aku bercanda, Nis)," ucap Ais lagi.
"Iya lah, masak iya beneran. Nanti Mas Udin mau di taruh di mana?" ucap teman satunya.
"Hahaha!" rasa menggelegar dari semuanya.
"Stts...., ojo berisik. Akeh tamu." tegur Nisa.
"Hahaha...," tawa malah menggelegar dari mereka lagi.
Nisa hanya bisa geleng-geleng kepala kalau sudah seperti ini. Tapi tetap rasanya sangat menyenangkan, setidaknya bisa menghilangkan sejenak rasa gugup yang dia alami saat ini.
"Nis, kamu beneran puasa?" tanya Ais lagi.
Nisa mengangguk. Dia memang sudah mempunyai niat itu jauh-jauh hati sebelum dia di pinang oleh Toni. Siapapun yang meminangnya dia akan tetap melakukan puasa sunah dua hari sebelum hari pernikahan.
"Wah, aku pengen juga kalau gitu. Besok kalau Mas Udin udah ngelamar aku, aku juga akan berpuasa kalau menikah. Biar aura pengantin semakin terlihat jelas. Biar makin cantik."
"Hahaha..., ngarep!"
"Biarin."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Bersambung.....