Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
79. Kenapa Harus Dilahirkan


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arini begitu bahagia, akhirnya nek Murni sudah di perbolehkan untuk pulang. Tak perlu bolak-balik dari rumah ke rumah sakit sekarang dia bisa fokus di rumah saja untuk merawat nek Murni.


Keadaannya yang sudah membaik sudah di izinkan oleh Dimas untuk melakukan rawat jalan saja. Bukan itu saja sih, tapi Arini lebih lega karena hutangnya dengan Arya tak akan lagi bertambah karena biaya pengobatan nek Murni.


Arini juga kedua orang tua yaitu nenek juga kakeknya pulang dengan mengendarai taksi. Sebenarnya Dimas sudah menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang tapi dia tiba-tiba ada pasien dan akhirnya tidak jadi.


Mereka bergegas masuk ke rumah setelah sampai, meski nek Murni sudah sembuh tapi dia harus tetap banyak istirahat kan untuk memulihkan tubuhnya pasca sakit.


Ketiga orang itu mengernyit, mereka baru pulang tapi kenapa pintu rumah sudah terbuka begitu saja? Siapa sebenarnya yang ada di dalam. Tidak mungkin ada pencuri kan?


"Apa ada pencuri? " Arini bergegas untuk membawa nek Murni masuk dia sudah tak sabar untuk memastikan siapa yang telah masuk tanpa sepengetahuan yang punya rumah.


Dengan menggandeng nek Murni, Arini masuk. Setelah benar-benar berasa di dalam mereka di buat terkejut dengan keadaan rumah yang berantakan.


"Nek," suara Arini terdengar sangat pilu.


Semua mata menerawang setiap penjuru, semuanya berantakan ada beberapa vas bunga juga yang pecah.


"Astaghfirullah hal 'azim..., siapa yang tega melakukan ini?" ucap nek Murni yang juga begitu tak percaya dengan keadaan rumahnya.


"Sabar Nek, nenek tidak boleh terlalu berfikir, nenek harus bisa tenang," Kek Susanto mengelus punggung istrinya untuk menenangkan.


𝘗𝘳𝘰𝘬... 𝘗𝘳𝘰𝘬... 𝘗𝘳𝘰𝘬...


Suara tepukan tangan mengejutkan ketiganya, tak mereka tau kalau ternyata orang yang melakukan semuanya itu juga masih berada di dalam rumah.


Semua begitu tak percaya, sudah sangat lama mereka tidak saling bertemu dan sekarang dia sendiri yang datang namun kedatangannya sangat merugikan. Siapa lagi kalau bukan Ratna dan Melisa.


Tak ada habis-habisnya mereka membuat masalah, sebenarnya apa yang mereka inginkan sampai-sampai mereka begitu tega memporak-porandakan rumah yang pagi saja masih sangat rapi karena Arini selalu merapikan juga membersihkannya.


"Oh..., sudah pulang ya kalian. Hem..., terimalah sambutan ku ini ya, Bu, Bapak juga...? Anak sialan! " suaranya benar-benar menyakitkan hati, memang terdengar sangat lembut tapi itu hanya sebuah ambigu saja.


Kenapa tak ada kebaikan sama sekali jika mereka datang, bukannya berbaik-baik karena berkunjung ke rumah orang tua tapi mereka malah selalu saja membuat masalah yang sama. Dan kali ini begitu parah, mereka menghancurkan segalanya yang ada di dalam rumah.


Ketidakberdayaan orang tua yang sudah sangat lemah selalu di manfaatkan. Nek Murni juga Kakek Susanto sudah diam dan ikhlas karena semua hartanya di rebut paksa oleh anak juga menantu yang tak tahu diri itu. Mereka berdua juga sudah pergi menjauh karena ingin hidup tenang di masa tuanya, tapi ternyata?


"Apa mau kalian!" Suara Kek Susanto langsung meninggi begitu saja, hatinya sangat marah melihat kehancuran yang menantu juga cucunya itu perbuat.

__ADS_1


Ratna juga Melisa hanya cengengesan tanpa rasa bersalah, mungkin mereka sangat senang karena berhasil membuat kek Susanto marah.


Sementara nek Murni sudah menangis melihat semua barang-barangnya hancur. Susah payah dia mengumpulkan uang untuk melengkapi isi rumahnya yang kecil itu tapi sekarang semua di hancurkan begitu saja tanpa ada rasa kemanusiaan.


"Apa mau kalian, hahh!! " suara Kek Susanto semakin tinggi tapi tetap saja tak membuat mereka berdua gentar juga takut. Mereka terlihat biasa-biasa saja. Ya, karena mereka kan memang sudah tidak memiliki hati selayaknya manusia.


Nek Murni yang kembali lunglai di bawa ke kursi oleh Arini, di dudukan di sana dengan pelan, "sabar ya, Nek. "


Arini pikir semua yang mereka lakukan pasti ada hubungannya dengan Arini, tak mungkin mereka tiba-tiba datang dan membuat kekacauan jika tidak karenanya.


"Mau Ku? Mau ku adalah Arini berhenti jadi pel*acur. Apa dia tidak malu dengan apa yang di pakai! Dia sok alim sok suci tapi nyatanya? Kelakuannya sangat buruk! dia sudah seperti pel*cur yang bekerja di dunia malam! " seru Ratna begitu sadis.


Arini tercengang, apakah dia tidak salah dengar? perkataan yang keluar dari mulut Ratna ibunya sungguh menyakitkan. Dia bukan seperti yang di tuduhkan. Hinaan yang lebih menyakitkan dari hinaan dari kekurangan, dia menjaga dirinya baik-baik dia juga sangat takut akan hal itu tapi dengan begitu mudahnya Ratna mengatakan perkataan kotor itu padanya.


Sakit tak dapat Arini tanggung lagi, sekeras apapun dia mencoba untuk menahan gejolak air bening yang ingin keluar dari matanya tapi dia tetap tak bisa. Air bening itu akhirnya meluncur bebas terjun tanpa seizin nya.


Bukan Arini yang merasa terhina tapi Susanto yang sangat sakit dan hinaan itu seakan menampar keras wajahnya juga. Ratna sangat keterlaluan.


"Ratna! jaga ucapan mu, dia itu anak mu! " ucapan Susanto begitu keras dan menekankan, dia sangat marah karena apa yang di katakan oleh Ratna.


"Anak?! Hahaha...! bapak lebih tau dia anakku atau bukan! dia bukan anakku, dia hanya anak pungut yang bapak ambil dari sungai! Dan aku harus mengakuinya anak begitu? Mimpi!! "


Tangis Arini semakin pecah, dia tak menyangka akan mendengar kenyataan yang sangat pahit ini. Dia sangat bahagia memiiki keluarga yang utuh meski mereka tak mengakuinya, tapi sekarang? apakah dia benar-benar gadis yang sebatang kara dan tanpa keluarga?


Terus siapa orang tuanya?


Siapa yang telah melahirkan dia ke dunia?


Kenapa harus dilahirkan kalau akhirnya di buang seperti sampah yang tak ada gunanya?


Arini terduduk lesu, kakinya begitu lemas sekedar untuk menompang tubuhnya yang kecil. Tangisan semakin kuat namun tatapan begitu kosong seperti tubuh yang tak mempunyai nyawa.


Penderitaannya begitu berlipat ganda setelah mengetahui semua akan jati dirinya. Hatinya begitu sakit.


Pantas saja selama ini Ratna juga Marta tak memperlakukan dengan baik, selalu menyiksa bahkan tak di anggap ada namun di butuhkan tenaganya.


"apakah aku anak haram? "


"Apakah aku anak yang tidak di inginkan? Apakah aku benar-benar pembawa sial?"


"Apakah aku pembawa mala petaka? "

__ADS_1


"Apakah aku masih memiliki orang tua, tapi di mana mereka? Kenapa aku harus di buang? Apakah aku hanya sampah saja bagi mereka? "


Ucapannya begitu pilu. Linangan air mata begitu mengiringi akan luka di hatinya.


Nek Murni yang melihat Arini ikut merosot menyusulnya, merengkuh pundaknya, menyandarkan Arini ke dadanya. Tangis Nek Murni juga Ikut pecah, dia tak sanggup melihat duka yang Arini dapatkan hari ini.


Meski hanya cucu angkat tapi Arini melebihi kedua cucunya sendiri. Cinta dan kasih sayang nek Murni tak akan terbagi kepada kedua cucunya sama sekali semuanya hanya menjadi milik Arini saja.


"Sabar, Nak. Sabar," ucapan nek Murni juga terdengar begitu parau, mungkin benar dia juga ikut merasakan kesedihan Arini.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Ratna! buat apa kamu datang kalau hanya untuk menggores hati cucuku! Lebih baik sekarang kamu pergi, dan jangan pernah injakan kaki di rumah ini lagi, PERGI...! "


Susanto sungguh marah.


"Apa Bapak pikir Ratna akan betah di rumah gubuk reot ini, tidak! Ratna datang hanya untuk mengatakan kebenaran Arini. Dia harus tau diri! Dan ya! Mulai sekarang, jangan pernah dekati Bos Arya lagi! Karena dia adalah calon suami Melisa! sampai saya tau kamu masih dekat dengannya, aku pastikan kamu akan menyesal.!


"Camkan itu baik-baik!"


"Bapak juga harus memastikan itu, kalau dia benar-benar bukan seorang pel*cur! "


"RATNA...,! " bentak Susanto tak terima.


"Saya yakin bukan Arini yang mendekati tuan Arya, tapi tuan Arya sendiri yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak! Kalau tuan Arya tidak mendekati Melisa, itu berarti dia tak pantas untuknya. Tuan Arya bukan orang bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk! " jawab Susanto tak mau kalah.


"Terserah apa yang bapak mau katakan. Yang penting jangan sesekali dia berani mendekati tuan Arya lagi, awas... " jari telunjuk Ratna begitu berani menunjuk ke wajah Susanto. Memang tak ada sopan-sopannya anak itu.


Ratna juga Melisa pergi begitu saja setelah berhasil memberikan luka untuk Arini. Luka tak berdarah juga tak terlihat. Tapi rasanya sungguh sakit di rasakan.


Susanto ikut ambruk juga di depan Arini, dia berganti memeluk Arini dengan tangis juga.


"Maafkan kakek, Nak. Maafkan kakek," ucapnya pilu.


"Siapa orang tua, Arini Kek? Apakah Arini hanya anak haram? Apakah Arini benar-benar tidak di inginkan di dunia ini, lalu kenapa Arini harus dilahirkan? " Arini kembali menangis.


"Bukan begitu, Nak. Bukan begitu.. "


//////


Bersambung...


________

__ADS_1


__ADS_2