
Happy Reading...
Kembali lagi Fara bekerja di toko bunga milik Risman. Sudah beberapa hari ini dia sudah meyakinkan diri untuk tetap bekerja di sana meski dia harus terus menjaga jarak dari Risman karena tidak mau sesuatu yang lebih akan terjadi.
Fara takut akan ada rasa yang mungkin tumbuh di dalam hati mereka berdua yang sepertinya sudah mulai tumbuh di hati Risman tapi Fara mencoba untuk menyangkalnya.
Risman juga tidak tinggal diam saat Fara terus mencoba untuk menjauh darinya dia malah semakin mendekat dan semakin penasaran kenapa Fara selalu menjauh darimu.
Seperti saat ini, saat Fara keluar dari toko bunga dan ingin memetik bunga di kebun belakang Risman terus mengikutinya, dia sama sekali tidak membiarkan matanya berpaling sedikitpun dari wanita yang sudah mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
Fara berjalan semakin cepat saat Risman terus mendekat dan saat itu dengan tidak sengaja tangan Fara menyenggol duri dari bunga mawar yang tepat ada di pinggir langkahnya.
"Aww!" Fara seketika meringis juga menghentikan langkah, tangannya juga langsung memeriksa tangan yang satu yang ternyata sudah berdarah.
Lukanya memang tidak terlalu besar tapi cukup membuat Fara meringis karena kesakitan.
Melihat Fara yang merasa sakit dan mendengar teriakannya tadi membuat Risman berlari menghampirinya, tangannya langsung meraih tangan Fara dan mulai memeriksanya.
"Kamu harus hati-hati Fara di sini banyak duri. Kalau kamu tidak hati-hati lagi mereka pasti akan akan selalu melukaimu," ucap Risman disambung dengan meniup tangan Fara yang berdarah.
Fara terdiam sejenak melihat perlakuan Risman yang sangat perhatian kepadanya membuatnya semakin merasa tak enak hati dan ingin bekerja lebih keras lagi untuk menjauh darinya meski itu sangat mustahil karena Fara bekerja di tempat Risman.
Bukan hanya meniup saja tetapi Risman tiba-tiba juga mencecap darah Fara menggunakan mulutnya sendiri, menyapu bersih darah yang keluar dan itu cukup membuat Fara melongo dengan jantung yang tiba-tiba berdetak tidak karuan.
"*Tidak tidak ini tidak boleh terjadi*," batin Fara. Di tepisnya perasaan itu oleh Fara dan dengan perasaan tak enak dia juga langsung menarik tangannya sendiri dari Risman yang sudah kembali meniupnya.
"Maaf, saya mau ke toilet," Fara langsung berlari meski Risman belum menjawabnya, dia benar-benar ingin menjauh dari Risman tapi berbeda dengan lelaki itu yang malah semakin mendekatinya.
Diamatinya punggung Fara yang sudah semakin jauh bahkan tak butuh waktu lama dia sudah menghilang dari jangkauan matanya.
"Apa yang pernah terjadi kepadamu Fara, sampai-sampai kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk dekat kepadamu. Bahkan aku tidak bisa membuktikan kalau aku benar-benar sayang padamu," ucap Risman.
__ADS_1
Ternyata laki-laki itu benar-benar sudah meyakinkan diri untuk memberikan hatinya untuk Fara.
"Seperti apapun kamu menjauh dariku aku akan tetap berjuang, aku akan buktikan kalau aku benar-benar tulus kepadamu. Aku berjanji akan menerima segala kekuranganmu," imbuhnya lagi.
Benarkah apa yang dikatakan oleh Risman saat ini, jika suatu saat nanti dia mengetahui kebenaran tentang Fara. Apakah mungkin kata-kata itu akan kembali keluar dari bibirnya, entahlah.
Sementara di dalam toilet Fara terlihat jelas, dia begitu gelisah dengan perasaan yang tidak karuan. Begitu juga dengan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Dia bingung, apakah dia harus mengakui semuanya tentang jati dirinya sekarang? mungkin dengan itu Risman akan menjauhinya, dan setelah itu dia bisa pergi dari kehidupan Risman.
Tapi benarkah itu yang harus dilakukan sekarang? tapi bagaimana dengan masa depannya juga masa depan anaknya kelak jika dia keluar dari sana belum tentu dia akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat.
Lalu, bagaimana dia bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau sampai rasa itu akan semakin besar di hati Risman Aku tidak mau mengecewakan siapapun, aku tidak mau!"
Ketakutan yang sangat besar yang muncul di benak Fara saat ini, siapapun pasti akan memiliki rasa trauma karena cinta yang telah menjerumuskannya dalam lembah dosa, begitu juga dengan Farah sekarang, dia sangat trauma dan dia juga sangat menyesal.
Kini dia hanya ingin menebus semuanya, menebus semua kesalahannya dengan merawat buah hatinya dengan baik, dan kelak dia akan berjuang untuk bisa membahagiakannya.
Tidak hanya perasaan yang begitu campur aduk di dalam hati Fara tetapi air matanya juga kembali mewakili semua perasaannya, dia menangis tersedu seorang diri di dalam toilet, duduk di pojokan dan berkali-kali mengusap air matanya yang terus saja meluncur dengan bebas.
Dia tahu, dia tidak akan lama berada di sana karena setelah beberapa bulan lagi jika perutnya sudah terlihat dia akan keluar dari pekerjaannya, dengan itu Risman tidak akan tahu kalau dirinya tengah hamil.
Dilema yang begitu besar yang Fara alami sekarang, dia ingin jujur tapi dia sangat takut, dia ingin menyimpan semuanya dengan rapat tapi dia takut akan membuat kecewa.
Dia tahu sepandai-pandai apapun dia menyembunyikan semuanya cepat atau lambat Risman akan mengetahuinya dan itu jelas akan membuat Risman semakin kecewa kepadanya.
Tok tok tok...
__ADS_1
Fara terkesiap saat tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Dengan cepat dia menghapus semua air matanya dia berdiri dan langsung mencuci wajahnya supaya tidak terlihat kalau dia habis menangis.
"Fara, kamu tidak apa-apa kan di dalam? Farah!" ternyata yang mengetuk tadi adalah Risman mungkin dia sangat khawatir pada Fara yang tiba-tiba berlari dan dengan cukup lama dia tidak keluar dari toilet.
Tok tok tok....
Suara itu kembali Fara dengar, namun dia masih ragu untuk membuka pintu.
"Fara! kamu baik-baik saja kan?" suara Risman semakin terdengar khawatir.
Berkali-kali dia mengetuk pintu disambung dengan berteriak memanggil Fara.
Clek....
Setelah menata hati akhirnya Fara keluar dari persembunyiannya. Meski pipinya terlihat basah karena air tetapi matanya tetap terlihat merah bahkan sembab membuat Risman percaya kalau Fara habis menangis.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu keluar juga. Kamu tidak apa-apa kan?" diraihnya kedua lengan Fara oleh Risman, namun matanya melihat wajah Fara yang sangat berbeda.
Bibir, mata juga kedua pipinya terlihat memerah.
"Apa kamu menangis?" pertanyaan itu muncul dari Risman.
"Tidak," jawab Fara dengan perlahan mulai melepaskan lengannya dari tangan Risman.
"Fara mohon, untuk yang terakhir kali. Jauhi Fara."
Hanya kata itu yang Fara ucapkan dan setelahnya dia berlalu pergi meninggalkan Risman dalam kebingungan dan kedua tangan masih mengambang di udara.
"Tidak Fara, semakin kamu meminta untuk aku menjauh aku akan semakin mengejar mu. Aku akan berjuang untuk bisa mendapatkanmu. Jika kamu pernah terluka maka aku yang akan menjadi obatmu. aku janji aku akan membahagiakanmu," ucap Risman yakin.
Bersambung...
__ADS_1