Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
175.Aku Di Sini


__ADS_3

Happy Reading...



Hingga malam hari Arya terus berkeliling mencari Arini. Dari tempat satu ke tempat yang lain tak ada yang terlewatkan. Bahkan dari semua terminal juga dia datangi dan kali ini adalah terminal yang terakhir.



Arya turun dari mobil, berlari-lari untuk mencari Arini yang mungkin ada di dalam. Arya tetap gak kehilangan harap dia tetap berusaha mencari.



Arya terus celingukan saat sampai di dalam, namun tempat itu sama seperti tempat yang lain yang sudah sepi akan orang-orang.



Lelah Arya duduk sejenak, dia berpikir harus pergi kemana lagi untuk mencari Arini.



"Arini, kamu ada di mana? Benarkah kamu akan meninggalkanku?" gumamnya.



Arya tetap tidak pasrah, dia harus menemukan gadisnya yang sekarang dia ketahui adalah anak yang karena sebuah kesalahan di buang oleh ayahnya sendiri. Arya yang merasa bersalah juga dia ingin menebusnya meski itu bukanlah kesalahannya.



Arya beranjak dia ingin berpindah lagi ke tempat yang lain. Meski sudah dalam keadaan yang sudah amburadul tak jelas Arya tetap semangat mencari Arini.



Tetapi baru saja Arya beranjak Arya menghirup aroma melati yang biasanya Arini pakai.



"Arini, berarti tadi Arini datang kesini?" Arya kembali celingukan.



"Aku yakin dia belum jauh, aku harus mengejarnya."



Cepat Arya berlari, kembali ke mobilnya untuk mengejar Arini yang mungkin belum jauh. Arini juga tidak mungkin pergi dengan naik bus atau angkutan yang lain karena ini sudah sangat malam.



Mobil melaju pergi meninggalkan terminal itu dan Arya terus berharap dia akan secepatnya menemukan Arini dengan jejak aroma parfum yang tertinggal darinya.



Arini terus berlari dari kejaran orang-orang yang tidak jelas itu. Dia sudah sangat kelelahan bahkan kakinya juga sudah semakin lecet juga banyak luka yang berhasil mengeluarkan darah.


Arini berlari sudah tidak bisa seimbang, dia terus pincang karena rasa sakit yang luar biasa.

__ADS_1


"Hey...! Berhenti...!" teriak orang-orang yang mengejar Arini.


Sesekali Arini menoleh dengan ketakutan, kali ini dia benar menyadari kalau orang-orang itu bukan orang baik-baik. Mereka pasti akan berniat buruk kepadanya.


Arini berteriak tetapi tetap saja tak Ada orang yang mendengar karena semakin jauh Arini berlari dia juga semakin jauh dari keramaian penduduk.


"Ya Allah, Arini takut," Arini sudah terisak seraya terus berlari.


Brukk...


Arini terjatuh karena tak lagi bisa berlari dengan seimbang. Kakinya sudah tak mampu lagi untuk berjalan apalagi untuk berlari.


"Hahaha..., akhirnya berhenti juga kau bocah!" Sekawan orang itu juga berhenti tepat di tempat Arini terjatuh, mereka berdiri melingkar supaya Arini tak bisa kabur lagi.


"Kau telah membuat kami kelelahan, berarti kamu harus membayarnya dengan cara yang pantas, hahaha..." ujar salah satunya.


"Paman, Arini tidak punya apapun. Bahkan Arini juga tidak punya uang banyak."


Arini sudah gemeteran saat menjawab, dia terus duduk di aspal dengan penuh waspada juga terus bercelingukan.


"Kalau begitu kami tidak akan meminta uang darimu. Tapi kamu harus membayarnya dengan cara memberikan tubuhmu. Meskipun buruk tak masalah lah. Bisa untuk bersenang-senang sejenak, iya kan teman-teman!" Senyum memangsa orang itu keluarkan membuat Arini semakin ketakutan.


"Yoi.., tak menolak lah barang gratis, hahaha..." jawab satunya. Sementara yang lain ikutan tertawa begitu bahagia.


"Tidak tidak, Arini mohon jangan sakiti Arini. Arini jelek, nanti kalian bisa kena sial kalau mendekati Arini," ucapnya.


"Kena sial? Hahaha..." Orang itu malah semakin terpingkal dengan penuturan Arini.


"Yuk, kita eksekusi sekarang. Mumpung sepi kita bisa melakukan dengan puas," Satu tangan terangkat memberikan aba-aba untuk teman yang lainnya. Melangkah maju terlebih dahulu untuk segera mendekati Arini yang sudah ketakutan.


Arini mundur dengan ngesot saat orang yang di depannya maju mendekat, Arini sudah menangis, dia benar-benar ketakutan seraya masih terus memeluk tas ranselnya.


"Jangan, jangan dekati Arini. Jangan...!"


"Hahaha..., dimana keberanian mu tadi bocah, apakah kamu tidak akan mengatakan apapun lagi?"


"Tolong, jangan sakiti Arini, Paman. Lepasin Arini, Arini minta maaf."


Dua telapak tangan sudah menyatu untuk meminta maaf mungkin dengan cara itu mereka akan memaafkannya dan akan melepaskannya.


"Hanya itu saja kah?" orang itu terus maju.


Arini terhenti saat punggungnya menabrak satu orang yang ada di belakangnya. Orang yang berdiri tegak dengan menyilangkan kedua tangan di dada dengan tertawa senang.


"Jangan sakiti Arini, jangan..."


Kedua tangan Arini berontak saat ke empat orang itu sudah ada di dekatnya dan sudah mulai menggerakkan tangannya.


Tangisan semakin keras dari Arini begitu juga dengan suara minta tolong.


"Pak Tuan... Tolongin Arini! Arini takut... Pak Tuan...!"


Di saat keadaan tergentingnya hanya Arya saja lah yang Arini ingat. Dia sudah terbiasa dengan Arya, karena hanya Arya yang selalu datang untuk menjadi penolongnya di setiap dia dalam masalah.


"Hahaha... berteriaklah sesukamu. Tak akan ada orang yang datang sekarang ini. Ini adalah malam yang indah untuk kita, bocah manis," ucapnya.

__ADS_1


"Jangan, jangan sentuh Arini..., tolong... Pak Tuan...!"


Bugh... Bugh... Bugh....


"Beraninya kalian mengganggu gadisku.. Rasakan ini...! Bugh... Bugh... Bugh... "


Entah dari mana datangnya Arya langsung membabi buta setelah melihat segerombolan orang yang berniat buruk kepada Arini.


Amarahnya begitu besar saat melihat gadis yang sudah menetap dalam hatinya itu hendak di lukai bahkan di sentuh oleh tangan tangan tak bermoral seperti tangan empat sekawan itu.


Pertarungan sengit terjadi dari Arya juga empat orang itu. Arya yang memang sudah ahli sangatlah mudah untuk melumpuhkan mereka berempat meski dia hanya sendiri saja.


Tak butuh waktu lama keempat orang itu sudah tersungkur tak berdaya setelah mendapat hantaman dari Arya yang tak kenal ampun.


"Pergi..! Pergi saya bilang!" ucap Arya mengusir mereka semua.


Orang-orang yang sudah kesakitan itu langsung beranjak dan kabur, mereka masih ingin hidup tentunya.


Rasa bersalah muncul di hati Arya saat melihat gadisnya duduk bersandar di pohon dengan memeluk kedua kakinya juga menyembunyikan wajahnya.


Tubuhnya terlihat bergetar sangat hebat dengan dia yang juga terus meracau juga sesenggukan.


"Pak Tuan, tolongin Arini. Arini takut," Racaunya.


Hanya nama Arya yang sedari tadi di sebut oleh Arini. Padahal dia sendiri juga tidak tau siapa yang datang menolongnya.


Arya melangkah dengan cepat, dia juga ikut mengeluarkan air mata saat berada di dekat Arini.


"Arini..." Arya berjongkok di depan Arini, kedua tangan menyentuh lengan gadisnya tetapi Arini tak mengizinkan itu terjadi. Arini masih mengira kalau itu adalah tangan dari orang-orang yang berniat buruk kepadanya.


"Jangan, jangan sentuh Arini! Jangan sentuh Arini. Pak Tuan... Tolong Arini..!" tangan terus bergerak menyingkirkan tangan Arya namun matanya tak melihat karena dia terus menunduk dalam ketakutan.


"Arini, ini aku! Pak Tuan...!" ucap Arya.


"Jangan sentuh Arini, jangan sentuh... hiks... hiks... hiks..."


Tak kuasa melihat Arini yang seperti itu Arya langsung menariknya dia memeluk Arini dengan kuat dan berkali-kali mengecup puncak kepalanya. Arya juga ikut menangis sekarang.


"Jangan sentuh Arini..."


"Stts..., kamu sudah aman sekarang, sudah ada Pak Tuanmu di sini."


"Pak Tuan, tolong Arini..." Tangan Arini mencengkram baju Arya dengan kuat, tubuhnya juga terus bergetar dengan sangat hebat.


"Stts..., sudah sudah..." tangan Arya juga terus mengelus kepi Arini, dia berharap akan membuat Arini tenang.


Tak ada lagi suara Arini yang terdengar, dan ternyata gadis kecil itu tak sadarkan diri di dalam pelukan Arya.


"Arini... Arini..." panggil Arya yang jelas tak ada lagi jawaban.


Arya mengangkat Arini dengan mudah, semakin hari sepertinya Arini semakin ringan saja.


"Kita akan pulang, Arini. Kita akan pulang."


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2