Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
282. Sebagai Berkah


__ADS_3

Happy Reading...


****************


Ada rasa yang sangat besar di hati Arini. Dia sangat marah karena Arya melanggar janjinya. Dia berjanji untuk tidak datang di tempat yang haram, dan tadi dia melanggarnya.


Dengan terus memapah Arya Arini tak mengatakan apapun, dia benar-benar marah. Bahkan Arini tak menoleh meski sekedar melihat bagaimana keadaan Arya sekarang.


"Kamu ingkar, Mas." hanya itu kata yang Arini ucapkan. Dia tak lagi bersuara setelah itu tapi dia terus melangkah dan membawa Arya kembali ke kamarnya.


"Mas minta maaf, Sayang. Mas juga tidak tau kalau acara meeting-nya di tempat yang seperti itu. Mas juga tidak tau kalau semua ini hanya sebuah jebakan untuk Mas. Mas benar-benar minta maaf," Suara Arya sudah parau, matanya sudah sangat merah menahan gejolak hasrat yang sangat besar.


Mendengar suara Arini saja sudah langsung membuat Arya ingin segera sampai ke kamar. Entah di izinkan atau tidak tapi Arya tetap akan memintanya malam ini pada Arini. Ini harus di tuntaskan kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada Arya.


Keringat terus menetes dari kening Arya, sepertinya dia benar-benar sudah tak bisa menahan lebih lama lagi.


"Cepat, Sayang. Mas sudah tidak tahan. Mas sudah sangat tersiksa." suaranya sudah semakin bergetar.


Baru Arini menoleh ke arah Arya yang sangat bergetar. Benar-benar sangat kasihan melihat keadaan Arya sekarang. Dia tak ada kuasa apapun.


Cepat Arini membawa Arya ke kamar, masuk dan langsung menutup pintunya.


Arini langsung merebahkan tubuh Arya di ranjang dia pikir kalau Arya tidak tahan karena sakit atau kelelahan jadi dia langsung merebahkan dengan pelan.


Arya menolak untuk di rebahkan, dia duduk di tepi ranjang. Sementara Arini langsung melepaskan sepatu Arya dengan bingung.


"Tadi bilang sudah tidak tahan. Bukannya tidur malah duduk dan terus menatapku seperti aku seorang pencuri," batin Arini.


Ke sana kemari Arini, melepaskan sepatu, jas, juga dasi Arya dia juga langsung menaruhnya di koper yang mereka bawa.


Arini diam dia tak ingin bicara apapun karena dia sedang marah dengan Arya. Membiarkan Arya menatapnya dan Arini langsung terus ke sana kemari melakukan apapun yang dia ingin.


Arini duduk di depan meja rias, melepaskan hijabnya dan melepas ikatan rambut. Menyisir sebentar lalu dia kembali berdiri.


Arini mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi, tak lama dia keluar dengan memakai daster batik yang panjangnya di atas mata kaki dan memiliki lengan pendek.


Arini juga keluar dengan tangan yang masih membenarkan ketiga kancing yang berada di depan, Arini benar-benar tak menghiraukan Arya yang matanya sudah sangat merah dan membuat seperti mau keluar.


"Mau tidak mau Arini harus mau. Aku sudah tidak tahan lagi." batin Arya.


Arya melepaskan kemejanya, juga celana panjangnya yang membuat pusaka-nya sangat sesak untuk bergerak. Arya hanya menyisakan boxer hitam saja.


Melihat Arini yang mendiamkannya dan kini tidur memunggunginya membuat Arya sedikit merasa kesal.


"Dasar nggak peka!" gerutunya dalam hati.


Arya merangkak naik, mendekati Arini dengan penuh gairah yang besar.


Tangannya langsung memijat bok*ng Arini membuat sang empu sangat terkejut.


Tak biasanya Arya bertingkah semaunya sendiri seperti sekarang ini. Apapun yang dia ingin lakukan pasti selalu minta ijin dengan Arini tapi apa ini?


"Sayang, tolong, Mas. Mas sudah tidak tahan."


Suaranya semakin serak, matanya semakin merah dan tubuhnya semakin gemetar hebat.


Arini sangat bingung, sebenarnya apa yang terjadi kepada Arya.


"Mas, Mas kenapa?" Akhirnya, tersentuh juga hati Arini dia sangat tidak tega melihat Arya yang terlihat begitu tersiksa.


"Mas?" Arini terus bertanya-tanya.


"Sayang, maaf," hanya kata itu yang terakhir Arya ucap dia langsung menyambar bibir Arini sebelum wanitanya itu lebih banyak bicara lagi.


Mata Arini melotot, tapi dia sudah tak biasa berbicara karena bibir Arya membungkam nya.


Sentuhan dan sentuhan yang Arya lakukan membuat Arini pasrah saja, dia juga terlihat sangat menikmatinya.


Meski di dalam kepalanya masih banyak pertanyaan tapi dia akan memberikan apa yang suaminya ingin lebih dulu. Setelah selesai baru dia akan menanyakan semuanya yang telah terjadi.


****************


"Terima kasih, Sayang. Kamu benar-benar penyelamat untuk Mas. Kalau kamu menolak memberikannya mungkin Mas akan mati atau akan gila saat ini."


Cup...


Ucapan terima kasih juga kecupan di kening Arya berikan sebagai akhir percintaan mereka dan tanda terimakasih untuk Arini.

__ADS_1


Arini masih terlihat kesal, wajahnya di tekuk kusut saat ini. Dia masih sangat marah dengan Arya.


"Sayang. Kamu masih marah sama Mas?" tanya Arya. Jelas saja Arini marah.


Satu, Arya datang ke tempat terlarang tanpa ijin darinya.


Dua, Arya hampir saja di nikmati oleh wanita lain dan Arya hanya pasrah tanpa melakukan apapun.


Tiga, Arya memaksa Arini untuk melayaninya dan tidak hanya sekali, tapi dua kali. Ya, meski hanya sebentar sebentar tapinya tetap saja melelahkan.


"Sayang, maafkan Mas," Arya terus berusaha untuk wajah Arini menghadap ke arahnya tetapi Arini tidak mau.


Arya menempelkan tangannya ke pipi Arini si sebelah yg jauh dan memaksa Arini menatapnya.


"Mas akan jelaskan semuanya," ucap Arya setelah mata keduanya sudah bertemu.


"Apa?!" suara Arini terdengar sangat judes.


"Mas itu di jebak, Sayang. Sebenarnya orang yang Mas temui untuk meeting adalah orang suruhan Nadia. Awalnya Mas tidak tau, meeting berjalan sebagaimana biasanya. Setelah semua selesai dan semua berkas sudah saling di tanda tangani Mas di minta untuk minum sebagai perayaan kerja sama."


Arya menghentikan sejenak kata-katanya melihat wajah Arini yang semakin fokus melihatnya.


"Terus?" Arini semakin penasaran.


"Mas pikir Mas hanya minum jus, karena itu memang benar-benar jus. Tapi ternyata, jus itu di tambah dengan obat perangsang oleh mereka."


"Mas sudah keluar dari sana, Mas langsung tau setelah reaksinya Mas rasakan. Saat itu Mas langsung ingin kembali ke sini tapi mereka mencegah dan Mas tidak bisa melawan karena tubuh terasa tak berdaya."


"Mas di bawa ke kamar tadi dan ternyata Nadia lah yang menginginkan Mas."


"Terus apa kegunaan obat perangsang itu?"


"Obat itu akan membuat orang yang meminumnya akan meningkat gairahnya, dan dia akan melakukan hubungan selayaknya suami istri kepada wanita yang ada di depannya. Dan itulah yang Nadia ingin, dia menginginkan Mas kelakuan itu kepadanya. Tapi alhamdulillah Allah masih melindungi Mas dengan mendatangkan kamu untuk menolong Mas."


"Dan kenapa Mas memaksa kamu untuk melayani Mas, itu karena pengaruh obat tadi."


Arini mengerti sekarang. Mengetahui itu Arini langsung memeluk Arya dengan sangat erat. Untung saja dia datang tepat waktu, kalau tidak mungkin suaminya sudah menyentuh wanita lain, dan entah apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa jadi dia akan merebut Arya darinya.


"Maaf, Mas. Arini tidak tau kalau Mas mengalami itu. Arini sempat marah pada Mas, Maaf." Arini tersedu dengan memeluk suaminya erat.


"Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak salah, Sayang. Justru Mas sangat bangga kepada kamu. Kamu telah menolong Mas. Terima kasih, Sayang." Arya membalas pelukannya, dan mengecup puncak kepala Arini berulang kali.


"Hem, masih nggak ya?" Arya menatap langit-langit dengan berpikir.


"Emang kenapa, apakah kalau masih berarti Mas boleh minta lagi?" Arya mengedip genit.


"Bu_bukan begitu juga sih Mas. Kata Mas kan gairah itu bisa hilang dengan berendam air dingin. Ya sudah Mas berendam saja. Arini capek kalau Mas mau lagi. Tubuh Arini kecil gini loh Mas, masak di tindih segini besar." Arini mencubit dada Arya dengan keras.


Arya sempat syok, dia pikir Arini akan memberikannya kalau dia mau lagi, tapi ternyata dia di minta berendam. Bisa kembung perutnya kalau berendam malem-malem pakai air dingin.


"Hehehe, nggak. Mas hanya becanda." Arya tersenyum kecut. Dia juga langsung kembali memeluk tubuh Arini yang masih polos. Ya, keduanya masih sama-sama polos, hanya tertutup selimut tebal saja.


"Sekarang tidur lah. Maaf Mas mengganggu waktu istirahat kamu."


"Nggak apa-apa, Mas. Daripada Mas nidurin wanita lain?"


"Hahaha, tidak akan lagi, Sayang. Akan Mas pastikan ini akan menjadi yang terakhir kalinya."


"Janji ya."


"Iya, kalau nggak kepepet."


"Mas! ucapan adalah doa. Nggak boleh ngomong seperti itu." Arini terlihat sangat kesal.


"Hehehe, iya maaf. Sekarang tidur. Nanti junior bangun lagi loh kalau kamu nggak bobok-bobok."


"Nggak mau," Arini langsung memejamkan mata, bisa berabe kalau beneran bangun lagi. Remuk nanti tulang-tulangnya.


Cup...


Kecupan sekali di bibir dengan sangat singkat oleh Arya. Sementara Arini hanya diam dan memejamkan mata meski dia sebenarnya belum tidur.


"Selamat malam, Sayang."


Tangan Arya menelusup masuk ke dalam selimut, mengelus perut rata Arini hingga cukup lama.


"Kalau dedek beneran sudah tumbuh maafkan papa ya, karena papa nakal. Kamu jangan marah ya, dan tetaplah tumbuh dengan baik dan sempurna. Papa janji akan memberikan semua yang terbaik untuk kamu juga mama. Dan papa juga akan sering-sering tengokin dedek." batin Arya.

__ADS_1


Tak lama keduanya benar-benar tertidur dengan Arini memeluk Arya sementara Arya masih setia menaruh tangan di atas perut ramping milik Arini.


****************


Toni juga Nisa sudah bersiap-siap untuk kembali ke kota. Pagi ini mereka harus kembali karena hari ini adalah hari terakhir Toni cuti.


Sementara Nisa, Nisa tetap bekerja di rumah sakit Gautama atas persetujuan Toni. Tetapi jika Nisa suatu saat hamil Nisa harus keluar dari pekerjaannya.


"Pak, Nisa pamit ya. Ini sudah kesiangan," pamit Nisa.


Sementara Toni juga pamit di sebelah Nisa.


"Iya, Nduk. Ingat, patuhi suamimu yo, Nduk. apapun yang dia katakan turuti selama bukan yang melanggar agama," ucap pak Karna.


"Iya, Pak. Bapak tenang saja."


"Nak, Toni. Bapak sama ibu nitip Nisa yo. Jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa hubungi bapak sama Ibu." Bu Sulasmi bicara.


"Iya, Bu. Saya akan selalu menjaga Nisa dengan baik."


"Oh yo, sebentar." Bu Sulasmi berlari masuk ke dapur, entah apa yang apa dia ambil dari sana.


Semuanya bingung melihat Bu Sulasmi yang buru-buru. Ketiganya juga langsung mengernyit saat bu Sulasmi kembali keluar dengan membawa kotak makan berwarna biru.


"Nduk.Ini bekal untuk di makan di jalan. Jadi nggak usah mampir-mampir. Tadi Nak Toni juga belum sarapan kan. Nanti suamimu nyetir kamu yang suapin. Karo inget, semua harus di habiskan."


Terlihat Bu Sulasmi sangat senang, entah apa yang ada di dalam kotak makan itu. Tapi perasaan Nisa merasa aneh. Pasti Ibunya kembali aneh-aneh seperti semalam yang memaksa Toni untuk makan kuning telur ayam kampung setengah matang sebanyak tiga butir sebelum tidur.


Katanya yang paling mujarab kalau kuning telur mentah, tapi karena Toni nggak bisa makan yang mentah jadinya di buatin tiga yang setengah matang.


Meski bu Sulasmi melakukan itu tetap saja tak ada apapun yang terjadi pada keduanya semalam. Bukan apa-apa tapi semalam pas mau tidur tiba-tiba Nisa kedatangan tamu bulanan nya jadi pasrah saja si Toni.


"Ibu, ibu nggak aneh-aneh kan?" tanya Nisa menelisik.


"Opo to, Nduk. Itu hanya makanan sehat. Oh iya, jangan lupa, setiap malam kasih suamimu kuning telur ayam kampung. Sama sering-sering makan kecambah biar kalian berdua selalu sehat dan subur lalu kasih ibu cucu secepatnya."


Wajah Nisa memerah, dia benar-benar malu sekarang. Ibunya ada-ada saja sih.


"Sudah lah, Bu. Jangan di paksakan. Mereka pasti tau yang terbaik untuk mereka berdua," ucap Pak Karna.


"Ya sudah, kami berangkat dulu, Bu, Pak. Sudah sangat siang." Toni menyalami keduanya lebih dulu.


"Iya, Nak. Hati-hati."


"Assalamu'alaikum," Nisa juga Toni tak lupa mengucapkan salam. Mereka juga langsung keluar dengan Toni menarik satu koper, sementara yang lain sudah di dalam mobil sedari tadi.


Mobil benar-benar perlahan pergi meninggalkan desa itu, pak Karna terus merangkul istrinya yang sedih dan menitihkan air mata.


"Sabar, Bu."


"Iyo, Pak. Ibu hanya terharu sekaligus seneng karena sekarang Nisa sudah menjadi istri dari orang yang sukses. Ibu bahagia, Pak."


"Iyo, Bu. Bapak yo seneng." Keduanya masuk dengan berangkulan setelah mobil Toni sudah tak terlihat lagi.


Sementara di dalam mobil, Toni dan Nisa masih diam. Nisa tak menyangka kalau dia akan menikah secepat ini. Menikah dengan orang yang baru menurutnya.


"Kamu kenapa?" Toni memecah keheningan.


"Tidak apa-apa, Mas. Mas, maafkan Ibu ya." Nisa sangat malu karena itu.


"Tidak apa-apa. Semua Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Patuhi saja semua kata-kata Ibu. Tak masalah harus makan kuning telur ayam kampung, yang penting jangan mentah."


"I_iya, Mas." Nisa menjadi malu, padahal niat Ibunya memberikan ayam kampung untuk Toni supaya dia lebih kuat semalam saat keduanya akan berhubungan


suami istri. Eh, tau-taunya Nisa bocor sebelum di mulai.


"Maaf ya, Mas. Karena Nisa belum bisa memberikan yang menjadi haknya Mas." Nisa tertunduk.


"Nggak apa-apa. jangan terlalu di pikirin. Mas bisa memintanya setelah tamunya sudah pulang." Toni meringis.


"Mas mau makan? biar bisa suapin?" Nisa mengangkat bekal yang ada di pangkuannya.


"Boleh."


Nisa membuka dengan semangat, tapi wajahnya langsung pucat setelah melihat apa isi di dalamnya. Nasi putih dengan kecambah, TOK.


"Nggak apa-apa, suapin saja. Mas akan habiskan apapun yang ibu berikan. Itu juga sebagai restu darinya, akk."

__ADS_1


****************


Bersambung....


__ADS_2