Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
72.Sebuah Penyesalan


__ADS_3

...________...


...◦◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Malam semakin larut tapi Arini sama sekali tak bisa tidur. Dia masih berada di rumah sakit sekarang, dan sesuai janjinya dia ingin menjenguk Nilam kali ini meskipun dia tau ini sudah malam.


Pelan-pelan Arini masuk ke dalam ruangan Nilam berada, perempuan itu masih sama seperti pagi tadi tak ada yang berubah bahkan keadaannya juga masih sama.


Tak ada yang tau kalau Arini datang ke sana sekarang, bahkan satupun perawat pun tak ada yang tau.


Arini melangkah dengan pelan, belum juga genap sehari tidak bertemu tapi Arini begitu merindukan Nilam, padahal dia bukan siapa-siapa Arini rapi dia begitu tenang dan merasa lebih damai hatinya saat berada di dekat Nilam.


"Assalamu'alaikum, Tante." ucapnya.


Arini duduk di sebelah Nilam, kedua ujung bibirnya tertarik untuk tersenyum, tangannya langsung meraih tangan Nilam dan mengecup punggung tangannya.


"Maaf ya tante, kali ini Arini tidak bawa bunga melati tapi besok pagi Arini akan bawakan Arini janji deh."


Suara Arini terdengar begitu lelah, entah aktivitas apa saja yang dia lakukan hari ini sampai-sampai dia begitu tak bersemangat malam ini, dan anehnya dia juga tidak bisa tidur.


"Tante, maaf ya Arini datangnya malam-malam Arini tidak bisa tidur meski sudah berusaha untuk memejamkan mata tapi tetap tidak bisa maka dari itu Arini datang ke sini. Tante tidak marah kan? Arini janji akan diam setelah ini, Arini hanya merasa lebih tenang saja saat bersama tante. Maaf ya tante."


Arini benar-benar diam, dia terus memandangi wajah Nilam, dia tersenyum kecil.


"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘕𝘪𝘭𝘢𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘉𝘪𝘣𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘪𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘪𝘩, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘕𝘪𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬," batin Arini.


Memang semua hampir sama apa yang ada pada Nilam juga Arini hanya warna kulit saja yang membedakan.


Di saat Arini terus fokus mengamati Nilam ada laki-laki tua datang dan langsung mengejutkan Arini.


"Siapa kamu!? kenapa kamu di kamar istriku! " ucapnya yang terdengar penuh penekanan.

__ADS_1


Suara yang begitu familiar untuk Arini, dia seperti pernah mendengar suara itu tapi dia lupa di mana. Arini menoleh dengan cepat dan dia dapatkan laki-laki usia lanjut sudah semakin dekat dengannya.


Arini berdiri dengan pelan, meletakkan tangan Nilam dan ingin melepaskannya, tapi ternyata tak bisa terlepas karena Nilam menahannya.


"Siapa kamu, dan ada keperluan apa kamu di sini! tempat ini di larang untuk orang asing, sekarang kamu keluar dan jangan pernah datang lagi," ucapnya dengan sangat keras dan terdengar begitu angkuh.


Arini begitu ketakutan, dia tak tau siapa laki-laki di hadapannya sekarang. Tapi dari apa yang dia dengar tadi dia yakin kalau dia adalah suaminya Nilam.


"Maaf, Om. Saya hanya ingin menjenguk tante Nilam saja. Saya juga sudah izin dengan pak Dokter anaknya tante Nilam," jawab Arini lirih, suaranya terdengar gemetar.


Samar-samar wajah laki-laki itu juga tidak asing bagi Arini, meski dalam ketakutan juga tubuh yang gemetar Arini mencoba mengingat siapa dia, dan pernah bertemu di mana. Tapi sudah begitu keras Arini mencoba dia tetap tak mengingat apapun tentangnya.


"Tapi kamu juga harus tau waktu, ini jam berapa pasien tidak di perbolehkan mendapatkan kunjungan di jam segini. Lebih baik kamu keluar dan datang lagi besok jika kamu memang masih menginginkannya." jawab Laki-laki itu.


Laki-laki berusia lanjut itu adalah Hendra, suami Nilam juga papanya Dimas.


"Ba-baik, Om. Arini akan keluar,"


Arini menunduk berusaha melepaskan tangannya dari Nilam, "Tante, Arini keluar dulu ya. Tante harus istirahat, Arini akan datang lagi besok sekarang lepasin tangan Arini ya," ucapnya dengan begitu lembut.


Perlahan-lahan tangan keduanya mulai terurai dan Arini bisa cepat pergi dari sana.


"Assalamu'alaikum, Tante.. " Arini mulai melangkah dia berhenti sejenak di hadapan Hendra, "Arini pamit ya, Om. Maaf sudah mengganggu istirahat tante Nilam, Assalamu'alaikum..." Arini kembali melangkah dan kini benar-benar keluar dari ruangan itu.


Hendra masih terus terdiam dia bingung saja, kenapa istrinya bisa menggenggam tangan Arini begitu kuat padahal dia ataupun Dimas sendiri tak bisa mengalami hal yang seperti itu. Sungguh aneh, itulah yang Hendra pikirkan.


Hendra kembali tersadar, melangkah maju dan duduk menggantikan posisi Arini di kursi sebelah Nilam, Hendra pun juga menggenggam tangan Nilam sama seperti yang Arini lakukan tapi dia tak mendapatkan apa yang Arini alami dan dapatkan.


"Ma, maafkan Papa. Papa ngaku salah, Papa juga sangat menyesal. Papa sudah salah mengira Mama berselingkuh dan ternyata? Mama setia, dan bayi itu..., " ucapan Hendra terhenti dia tak mampu melanjutkannya.


Air mata penyesalan mengalir begitu deras dari mata Hendra, kesalahannya sangat fatal sampai-sampai dia membuang anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


Saat itu Hendra benar-benar dibutakan dengan kekecewaan, dia yang selalu melihat Nilam bersama dengan sahabat masa kecilnya dia pikir Nilam mengkhianatinya hingga dia pikir anak yang Nilam lahirkan adalah hasil dari hubungan gelap, dan ternyata? Nilam benar-benar setia padanya.


Hendra bisa menyadari kesalahannya saat diam-diam melakukan tes DNA dari rambut bayi itu yang berada di bajunya dan hasilnya semuanya cocok dengan DNA-nya.


Sekarang hanya tinggal penyesalan, Hendra tak bisa menebus semua kesalahannya. Hendra lah penyebab dari keadaan Nilam sekarang.


"Ma, maafkan, Papa. Dengan apa Papa bisa menebus semua kesalahan Papa, bagaimana, Ma." tangis Hendra semakin pecah, dia benar-benar merasa gagal menjadi suami juga ayah yang baik.


Hendra memang patut di salahkan, dia juga patut mendapatkan semua hukuman dan penderitaan dari penyesalan yang selalu ada di dalam hatinya.


Berkali-kali Hendra mencium tangan Nilam, dia juga mengusap kening Nilam terus menerus tapi sama sekali tak dia dapatkan tanda pergerakan ataupun respon kecil dari Nilam.


"Sebenarnya gadis tadi siapa, Ma? kenapa hanya dia yang bisa merasakan sentuhan Mama," tanya Hendra.


Gadis asing yang sama sekali tidak Hendra kenal, dia bisa membuat Nilam memberikan respon tapi dia sendiri yang suaminya sama sekali tak mendapatkan apapun darinya.


"Seandainya Papa tidak melakukan kesalahan, mungkin putri kita juga sudah seperti gadis itu kan, Ma? " Hendra kembali menitikkan air mata.


"Maafkan Papa juga, Ma. Sebenarnya bukti transaksi dulu adalah transaksi dari kalung yang seharusnya menjadi hadiah untuk Mama di hari kelahiran putri kita, dan Papa..., Papa telah membuang kalung itu bersama dengan putri kita, maafkan Papa, Ma. Maaf, "


Hati Hendra benar-benar berduka karena kesalahannya sendiri, dia hanya bisa menyesali segalanya karena dia tak akan bisa memutar waktu atau mengembalikan semuanya yang sudah hilang.


"Maafkan, Papa,"


Sesal memang akan selalu datang di saat semua sudah terjadi. Di saat kita sudah menyadari maka di saat itu akan sangat terasa kesalahannya.


Tangis, teriakan ataupun air mata tak akan bisa mengubah semuanya, semua akan tetap pergi. Penyesalan juga tak akan pernah habis termakan waktu juga usia, selamanya akan tersimpan meskipun semua yang hilang kembali lagi.


/////


Bersambung...

__ADS_1


______


__ADS_2