Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
201.Baju Pengantin


__ADS_3

Happy Reading...



Semua berdatangan setelah mendengar Arini yang berteriak dengan sangat lantang. Yang pasti mereka juga sangat mengkhawatirkan keadaan Arya yang mereka dengar tengah masuk angin, tapi mereka tidak tau seperti apa yang di maksud masuk angin oleh Arini.



"Ada apa, Sayang," Nilam bertanya dengan wajah panik. Baru saja sampai dia langsung menghampiri Arini yang hanya ada di depan pintu kamar mandi dan enggan untuk masuk.



Padahal pintu kamar mandi juga tidak di tutup oleh Arya, itu karena dia sangat tergesa-gesa tadi dan tak sempat menutup pintu.



"Ma, pak Tuan masuk angin," Arini sudah berkaca-kaca, dia takut kalau Arya kenapa-napa apalagi setelah dia membantunya di dapur tadi.



"Tenang, Dek. Tuan Arya pasti tidak apa-apa. Sekarang kamu jangan nangis dan buatkan teh hangat untuknya. Biar kakak yang menjaganya di sini," tak tega rasa hati Dimas melihat Arini yang ingin menangis. Arini terlihat sangat sedih.



"Tapi, Kak?"



"Sudah, pergilah. Biar kakak yang ada di sini," suara Dimas begitu sangat lembut membuat Arini sedikit tenang setelah mendengarnya.



"Terimakasih ya, Kak. Tolong bilang sama Arini kalau pak Tuan kenapa-napa."



Arini melangkah menuju dapur dengan wajah yang sangat sedih dia juga tergesa-gesa karena ingin membuatkan teh hangat seperti yang Dimas minta.



"Apa yang terjadi pada Arya, Dim?" Hendra juga sangat panik, dia maupun Dimas sendiri juga belum melihat apa yang terjadi pada Arya.



"Belum tau, Pa. Saya akan lihat," Dimas bergegas masuk.



Tak ada rasa risih bagi Dimas, iyalah dia kan seorang dokter sudah hal biasa melihat orang-orang yang mengalami hal sama seperti Arya sekarang.



Dimas semakin mendekati Arya setelah sampai di belakangnya dia langsung memijat tengkuk Arya.



Dan saat itu Arya sudah bisa menghentikan apa yang keluar dari perutnya.



"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi? Tuan beneran sakit?" tanya Dimas, "biasanya perempuan yang masuk angin saat mau menikah tapi ini? Kenapa terbalik seperti ini?" Imbuhnya.


__ADS_1


Pikiran Dimas langsung berkelana dengan kebiasaan yang telah terjadi pada umumnya. Ya memang tidak semua orang yang akan menikah mengalami hal itu tapi kebanyakan orang.



"Diam kamu, berisik sekali!" umpat Arya.



"Ya elah, saya kan bilang sesuai yang ada, Tuan. Apa mungkin saking cintanya sampai Tuan tidak mau adikku yang sakit? Hemm..., baguslah."



Jangankan hanya sekedar sakit saja untuk Arini apapun akan Arya lakukan untuknya. Jika benar lebih baik Arya yang merasakan semua rasa sakit yang terjadi pada Arini, karena Arya hanya ingin melihat Arini selalu sehat dan juga bahagia.



Tapi masalahnya apa yang terjadi sekarang bukan hal yang seperti itu, tapi ini terjadi karena Arya tidak menyukai terasi, Arya tidak kuat jika di hadapkan dengan terasi dalam model apapun.



"Apa kamu sedia masker di rumah?" tanya Arya dengan suara angkuhnya.



"Masker, untuk apa?" tentu membuat Dimas mengernyit bingung. Untuk apa Arya membutuhkan masker di saat ada di dalam rumah seperti sekarang? Bahkan Arya juga terlihat tidak sedang flu, lalu?



"Sudah, jangan banyak kata. Cepat ambilkan," titahnya.



Sedikit kesal hati Dimas, padahal ingin sekali dia menggoda calon adik iparnya itu tapi tetap saja dia tidak akan bisa. Arya ya tetap Arya yang angkuh juga dingin bin keras kepala juga. Dia hanya akan luluh jika di hadapan pada adiknya saja, bukan di depan dirinya ataupun orang lain.




"Apa kamu katakan?!"



Dimas terkesiap dia langsung menghentikan langkah dan menoleh dengan pelan-pelan. Tak ketinggalan cengiran khasnya mungkin dengan itu Arya tidak akan marah dan mengakhiri pekerjaannya.



"Hehehe, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya..., sepertinya Arini sudah selesai bikin sarapan," Dimas sangat hati-hati saat mengatakannya takut kalau sampai menyinggung Arya, kan bisa berbahaya.



"Oh," jawab Arya singkat. Arya tidak mau menanggapi Dimas lagi sebenarnya dia dengar saja apa yang dia katakan tadi tapi suara Arya terlalu mahal jika di keluarkan untuk orang lain.



Di sinilah Arya dan Arini berada, di sebuah butik besar dan juga sangat terkenal. Namanya butik Cantika.


Arya terus membuntuti Arini yang tengah melihat-lihat beberapa baju pengantin yang sangat indah juga begitu mewah.


"Pak Tuan. Hem..., kira-kira mau pilih warna apa?" Arini begitu antusias.


Sebenarnya mereka tidak datang berdua saja tapi berempat dengan Dimas juga Raisa. Tapi entah dimana mereka berada sekarang karena saat mereka baru saja sampai Arya sudah langsung meninggalkan mereka.


Arya hanya tidak mau mereka akan menjadi pengganggu kebersamaannya dengan Arini.

__ADS_1


Arya yang tidak tau menahu tentang baju pengantin hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Arini. Dia akan terima apapun yang menjadi pilihannya.


"Terserah kamu, asal kamu suka aku akan tetap memakainya," jawab Arya yakin.


"Benarkah, bagaimana kalau warna pink?" Arini begitu antusias. Dia juga sangat menyukai warna itu, warna pink kan perempuan banget menurutnya.


"Pink!" pekik Arya. Arini hanya mengangguk menanggapi.


Bagaimana mungkin seorang Arya yang hanya mengenal warna gelap saja harus memakai baju warna pink, itupun di saat hari pernikahannya sendiri, apa kata dunia?


Membayangkan saja Arya sudah ngeri, bagaimana jika benar dia memakai warna yang sangat di jauhi para kaum Adam itu. Hadeuh... Arini ada-ada saja bikin jantung Arya bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa, apa Pak Tuan tidak menyukainya?" mata Arini menyipit.


"Bu-bukannya tidak suka, tapi...?" Arya terdiam, tak mau melanjutkan kata-katanya. Bagaimana kalau Arini akan tersinggung, ah benar-benar harus banyak mengalah jika dengan gadis kecil yang masih labil seperti calon istrinya.


"Tapi apa?" Arini semakin mendesak. Dia terus menunggu jawaban dari Arya yang kini terlihat sangat kebingungan.


"Ti-tidak apa-apa," Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, di susul dengan cengiran kaku.


Arini kembali berjalan, melihat-lihat baju pengantin yang begitu banyak. Arya seolah berhenti bernafas saat Arini benar-benar berhenti di depan sepasang baju pengantin berwarna pink.


Arya begitu syok, matanya terbelalak dan kakinya seakan tak mampu untuk melangkah maju.


Plakk...


"Astaga, Eyang! Habislah riwayatku," ucap Arya setelah berhasil melayangkan pukulan tangan di keningnya sendiri.


"Pak Tuan, sinilah! Lihat ini sangat bagus bukan? Arini mau yang ini," ucapnya seraya menunjukan kepada Arya kalau dia benar-benar sangat ingin memakai baju pengantin yang berwarna pink.


"Hehehe..." Arya hanya mampu nyengir kuda, dia ingin mengatakan tidak tapi bagaimana kalau Arini sedih lagi seperti tadi saat dia merasa bersalah saat tau Arya ternyata tidak menyukai terasi.


"Pak Tuan, kita coba pakai baju ini boleh nggak? Tapi kita berdua, bukan hanya Arini saja. Kan kita berdua yang akan menikah," pintanya.


Astaga, Arini benar-benar sangat cerewet sekarang. Tapi tetap saja terlihat sangat menggemaskan.


Di saat Arini baru saja menyelesaikan kata-katanya pemilik butik datang secara khusus. Dia tau kalau yang datang adalah Arya si Tuan kaya. Dia ingin melayani sendiri sebagai rasa bahagianya.


"Tuan, apakah sudah menentukan mana yang mau di ambil?" tanyanya.


Arini cepat menoleh.


"Mbak, pilih ini boleh kan? Hem.., sekalian di coba sekarang boleh kan?" tanya Arini.


"Boleh, Nona," jawabnya.


"Maaf ya, Mbak. Nama saya Arini, bukan Nona," Kumat lagi kan.


"Hehehe..., i-iya mbak Arini," jawabnya dengan gagu.


"Tentu boleh, Mbak. Kita bisa mencobanya sekarang sekalian untuk mengetahui ada kekurangan atau tidak," Pemilik itu begitu lemah lembut dalam pelayanannya membuat Arini sangat senang.


"Kalian, tolong bantu mbak Arini dan Tuan Arya untuk mencoba bajunya," titahnya kepada para karyawannya.


Beberapa karyawan langsung menghampiri, bergegas membantu Arini juga Arya untuk memakai baju pengantin berwarna pink pilihan Arini.


Benar-benar tak bisa berkutik lagi si Arya. Dia hanya nurut saja meski dengan tak semangat.


"Hancur sudah riwayatku," batin Arya pasrah.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2