
Happy Reading....
Biarpun Mila sudah mencegahnya tetapi Arini tetap tidak bisa di tahan lagi dia sudah bertekad untuk pulang ke kota dan kini di temani oleh Raisa. Raisa yang selalu setia padanya, menemaninya dalam keadaan apapun selayaknya seperti kakak.
Raisa terus merangkul Arini yang diam dalam lukanya. Tak ada kata yang keluar dari gadis itu, bahkan Raisa tidak tau sebenarnya apa yang terjadi.
"Loh, Arini! Kamu mau mau kemana?" Keduanya berpapasan dengan Dimas juga Nisa yang hendak pamit kepada Arya untuk pulang. Tapi mereka malah bertemu dengan Arini di dekat parkiran.
Arini diam tak menjawab, dia terus menunduk. Hatinya sangat sakit karena apa yang dia lihat.
"Kami akan pulang Tuan," Raisa yang menjawab.
"Pulang? Bukannya bis kepulangannya masih nanti sore, terus kalian mau pulang dengan siapa?" Dimas bingung.
"Hem..., kami akan jalan kaki sampai jalan besar," Masih Raisa yang menjawab.
"Jalan kaki? Jangan bercanda ya, jaraknya sangat jauh bagaimana mungkin kalian akan jalan kaki. Kalau begitu bareng saya saja, saya juga akan pulang. Tapi saya mau pamit dulu dengan Tuan Arya."
Dimas sudah mulai melangkah.
"Kak Dokter, tidak usah pamit dengannya. Itu akan menggangunya yang sedang bersenang-senang," Kini Arini yang berbicara.
"Bersenang-senang, maksudnya?" Pekik Dimas juga Raisa bersamaan, sementara Nisa masih diam dalam kebingungan.
Nisa yang belum tau kebenarannya hanya bisa menerka kalau mereka sedang ada masalah sekarang.
"Arini, apa suamimu menyakitimu lagi? Apa dia marah lagi seperti waktu itu?" Nisa berucap dengan lembut, mendekati Arini dan menyentuh bahunya.
"Mbak Nisa salah paham, Arini dan Pak Tuan bukan suami istri, kami hanya bawahan dan atasan, tidak ada yang lebih dalam hubungan kami kecuali itu. Dan tidak akan pernah ada."
__ADS_1
"Mbak Raisa," Arini mengangguk kecil ke arah Raisa dan diangguki langsung.
"Baik, kita pulang sekarang." Tak tega Dimas melihat Arini yang terlihat sangat sedih dia juga terasa ikut merasakan sakitnya.
Dengan mobil Dimas mereka berempat pulang tanpa pamit kepada Arya atau siapapun.
"*Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Arini. Apakah Arya melakukan kesalahan sampai-sampai kamu menjadi sedih seperti ini?" batin Dimas*.
Arini terus diam. Tangannya bergerak meraba lehernya, seketika dia terperanjat, dia panik.
"Kak Dokter berhenti!" teriak Arini.
"Kamu kenapa Arini?" Raisa bertanya.
"Mbak, kalung Arini hilang. Apa mungkin jatuh di villa?"
"Kalung? Kamu punya kalung? Kalung seperti apa?" tanya Raisa.
"Permata biru?! Astaga Arini, sepertinya aku melakukan kesalahan kalung itu kemarin terjatuh dan aku kira itu adalah hadiah yang akan kamu berikan kepada Tuan Arya. Dan sekarang...? Kalung itu ada pada Tuan Arya," jawab Raisa menyesal.
Arini bersandar dengan lemas, bagaimana mungkin dia akan mengambilnya sekarang dia tidak ingin bertemu dengan Arya.
"Apa perlu kita kembali?" tanya Dimas.
Arini diam berpikir, lagian buat apa kembali mungkin Arini juga tidak akan mendapatkannya lagi. Arya pasti tidak akan memberikannya.
"Tidak, Arini tidak peduli dengan kalung itu. Arini harus bisa mengubur semua hal yang tidak bisa Arini miliki termasuk kalung juga orang yang memberikannya yang tidak menginginkan Arini," Keputusan yang sangat sulit tetapi mungkin memang benar.
"Tapi Arini?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak Dokter. Arini bisa memintanya kapan-kapan kalau Arini ingat."
"Kamu tenang saja Arini. Ini adalah kesalahanku, aku yang akan memintanya untukmu besok. Tuan Arya harus mengembalikannya." ucap Raisa.
"*Maafkan Arini, Kek. Arini tidak bisa menjaganya dengan baik. Biarkan saja jika memang akan hilang dari Arini, karena itu
juga tidak berguna kan? " batin Arini yang menyesal*.
Eyang Wati berjalan dengan cepat untuk menghentikan Arini tetapi setelah dia sampai di parkiran Arini maupun Raisa sudah tidak terlihat lagi. Eyang Wati kembali berjalan ke kamar Raisa berharap mereka masih ada di sana tapi ternyata tidak.
Eyang Wati begitu menyesalkan semua yang telah terjadi tapi mau bagaimana lagi semua yang terjadi di luar kemampuannya. Dia tidak bisa menghentikannya.
"Eyang, Arini dimana?" Arya juga panik setelah mencari Arini kemana-mana tapi tak dia temukan.
Eyang Wati tetap diam tak menjawab dia begitu kecewa dengan Arya hingga dia begitu malas sekedar untuk mengeluarkan sedikit kata saja untuk menjawab.
Kaki Eyang Wati terus pergi menjauh dari Arya tetapi cucunya itu lebih cepat mengejarnya tenaganya masih sangat kuat di banding dengan dirinya.
"Eyang, tolong jangan diamkan Arya. Arya benar-benar tidak melakukan apapun percaya pada Arya, Eyang," Arya terus mengejar Eyang Wati yang mesin terus mencari Arini.
"Eyang," Tak ada henti-hentinya Arya membujuk Eyang untuk tidak mendiamkannya tetapi dia tetap diam menanggung kekesalan.
"Ar, bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu lakukan. Kamu tidak boleh lari begitu saja setelah menghancurkan kehidupan seorang gadis," begitu susah untuk mengatakan itu dadanya terasa sesak.
"Eyang, apa Eyang tidak percaya kepada Arya!"
"Kalau begitu buktikan kepada Eyang, buktikan kalau kamu tidak melakukan apapun kepada gadis itu. Eyang tunggu sampai nanti siang, kalau kamu tidak bisa membuktikannya Eyang tidak akan pernah memaafkan mu," Eyang berlalu, dia begitu pusing dengan kejadian di luar dugaan di pagi-pagi seperti sekarang.
"Arghhh!" Arya berteriak frustasi, akan mulai darimana dua mencari bukti kalau dia saja tidak mengingat apapun.
"Semua ini gara-gara perempuan sialan itu," dengan penuh amarah Arya kembali melangkah ke kamar dimana dia tidur semalam dia sangat yakin kalau Melisa masih ada di sana.
Paginya berantakan karena kejadian itu, semuanya seolah pergi dari dirinya termasuk juga Arini dan kebahagiaannya.
Arya tetap harus berjuang, mempertahankan apa yang sudah dia genggam dia tidak akan pernah melepaskannya meski orang lain memaksanya.
Brakk...
Pintu Arya gebrak begitu saja, dengan wajah menyeramkan dan mata tajam dia masuk, ternyata benar Melisa masih ada di sana dan baru selesai memakai bajunya lagi.
"Tuan, Tuan akan bertanggung jawab kan?" Melisa tersenyum senang berpura-pura menghapus air matanya yang masih tersisa.
Brukk...
Dengan sadis Arya mendorong Melisa hingga terjerembab di lantai. Arya ikut berjongkok mencengkram dagu Melisa dengan kuat hingga dia meringis kesakitan.
"Jangan pernah berharap saya bisa masuk ke dalam perangkap mu yang murahan seperti ini. Apa kamu pikir dengan seperti itu maka saya akan menikahi mu? Tidak! Saya tidak akan pernah mau menikah dan menanggung kesalahan yang tidak saya lakukan. Karena saya sangat tau ini adalah akal-akalan dari wanita murahan sepertimu!"
Arya melepaskan dagu Melisa dengan keras hingga gadis itu terhuyung dan hampir saja kepalanya terbentur lantai.
Arya mengemasi apapun yang dia bawa, termasuk hadiah dari Arini juga tidak tertinggal. Arya berlalu begitu saja meninggalkan Melisa yang masih sedikit ketakutan, ternyata Arya kalau marah benar-benar sangat menakutkan Melisa baru menyadari itu tapi tak masalah sekarang dia di tinggalkan rencananya akan tetap berjalan sampai dia bisa menjadi Nyonya Arya.
__ADS_1
Bersambung....