
Happy Reading...
****************
Begitu senang Raisa juga Arini setelah pemeriksaan selesai. Semua hasil yang baik membuat senyum keduanya terus terpancar meski sudah keluar dari rumah sakit.
Keduanya terus bergandengan tangan selayaknya kakak adik kandung yang begitu akur. Sementara para suami mereka berjalan di belakang dan menggiring keduanya.
Niat hati ingin saling gendeng istri masing-masing tapi nyatanya tidak bisa. Tak apa kalau Arini bergandengan tangan dengan Raisa. Lah Arya dan Dimas? mereka tak mungkin melakukan hal yang sama kan?
Tentu mereka akan sangat tak sudi melakukan itu. Kadang hanya tatapan mata keduanya yang saling bertubrukan karena keinginan para istri mereka yang menginginkan keduanya melakukan hal yang sama seperti mereka, Tapi tetap tidak bisa.
"Ayo dong, Mas. Masak hanya gandengan tangan saja nggak bisa. Kan nggak bayar pajak," celetuk Arini seraya menoleh ke belakang.
"Iya kali gandengan bayar pajak, Dek. Aneh-aneh aja kamu tuh," Dimas yang langsung berkomentar. Adiknya kan memang sedikit ganjil jadi apapun yang dia katakan seharusnya Dimas memaklumi tapi nyatanya tidak.
"Eh, nggak tau saja nih abang atuh. Sekarang apapun kan nggak ada yang gratis, Kak. Bahkan masuk toilet umum saja dua ribu!" protes Arini tak terima.
"Kalau apapun bayar apa kita sanggup, Dek. Nanti mau gandeng bini sendiri kok bayar pajak kan pusing bayarnya. Mau habis berapa coba. Misal satu kali gandeng dua ribu nanti kalau yang lain berapa coba?"
"Dua ribu? murah amat. Masak bini di samain sama toilet umum!" Ucap Arini semakin tal masuk akal.
"Hahaha! sabar bro. Kamu tidak akan menang jika berdebat dengannya. Protes mu akan selalu sia-sia," tawa Arya menggelegar.
__ADS_1
"Pantesan sekarang Tuan kurusan begini. Makan hati tiap hari," tak terima si Dimas.
"Makan hati tiap hari itu tidak baik, Kak. Yang baik itu makan sayuran atau buah-buahan. Itu bagus untuk kesehatan."
Nah kan mulai lagi lemotnya. Sebenarnya ini lemot atau apa sih?
"Iya deh, yang cerdas ngalah," pasrah si Dimas. Dengan hembusan nafas panjang akhirnya dia memilih diam.
Benar kata Arya, dia tidak akan menang jika beradu argumen dengan Arini. Mungkin kalau dulu Arini bisa seperti dirinya yang hidup dengan kedua orang tuanya pastilah dia sangat cocok menjadi pengacara. Akan selalu menang jika beradu argumen dengan lawannya.
Bukan hanya Dimas saja yang diam, tapi Arini juga sama. Dia sudah diam karena gak ada lagi yang bicara.
Hingga mereka berempat sampai di tempat parkir dan berhenti di sana.
Rasanya sangat berat untuk Arini berpisah dengan Raisa. Tapi keduanya harus tetap berpisah karena mereka akan pulang ke rumah masing-masing dengan mobil yang berbeda.
"Tidak, Dek. Kakak lagi ada kerjaan penting jadi tidak bisa main ke rumah mu hari ini. Mungkin besok baru bisa," Dimas yang menjawab.
"Emang pekerjaan apa sih."
"Anak kecil tidak bot kepo ya. Sekarang kamu pulang dan besok kami datang." di cubit nya hidung Arini oleh Dimas tentu dia akan protes.
"Kak!" pekiknya dengan suara yang melengking tinggi.
__ADS_1
"Dah adek ku yang paling centong!" Dimas melambaikan tangan dan langsung merangkul pinggang Raisa.
"Centong?" Arini mengernyit.
"Cantik maksudnya, Dek. Dah ya!" sekali lagi Dimas pamit.
"Hem," hembusan nafas panjang keluar dari Arini dia sangat lemas karena apa yang dia ingin kali ini tidak bisa di capai.
Tapi itu tak membuat dia benar-benar bersedih karena Dimas juga Raisa punya masalah sendiri yang dia tidak boleh ikut campur atau menghalangi.
"Maaf ya Arini. Untuk sekarang tidak bisa," Raisa pun menambah penjelasan kalau dia memang tidak bisa. Entah pekerjaan apa yang tak bisa di tinggal.
"Iya, Kak. Hati-hati ya! besok jangan lupa datang ke rumah!" teriak Arini.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!" Arini dan Arya bersamaan.
Kini giliran Arya yang merangkul Arini.
"Sekarang pulang?" katanya.
"Hem," Arini mengangguk. Menu saatnya dia pulang karena sudah lama juga mereka pergi.
__ADS_1
****************
Bersambung...