
Happy Reading...
Dua minggu setelah kepulangan dari puncak.
Hubungan Arya juga Arini semakin dekat, bahkan Arya semakin lengket dengan gadis berhijab yang dulu selalu dia hina.
Itulah roda yang Arya dapat, dulu membenci sekarang mencintai, dulu tak ingin dekat dan sekarang tak ingin jauh meski hanya sekejap, dulu selalu berbicara dengan dingin bin angkuh sekarang begitu lembut seperti salju.
Tak ada yang tau jika takdir seakan memberikan permainan terlebih dahulu untuk mereka sebelum menjadi seperti sekarang. Begitu juga dengan mereka sendiri yang tak percaya jika akhirnya akan menjadi seperti sekarang, mendapat sebuah rasa yang begitu indah yang di sebut dengan cinta.
Cinta yang tidak terlihat tetapi bisa di rasakan, yang selalu menumbuhkan kebahagiaan dan juga selalu ingin bersama dan dekat di setiap saat.
Arya yang sudah menjadi budak cinta kini tak bisa fokus dalam pekerjaannya saat Arini tidak ada di hadapannya. Dia ingin selalu melihat gadis itu, dia selalu menginginkan gadis itu selalu menemaninya di manapun dia berada.
Padahal kali ini Arya tengah berada di depan para koleganya karena sedang meeting di luar kantor jadi mana mungkin Arini akan ikut kan?
"Tuan," Toni menoleh untuk menyadarkan Arya dari lamunannya saat ini. Meeting yang seharusnya sudah berjalan kini malah menjadi tak karuan dan tidak jelas akhirnya.
Toni merasa tak enak hati dengan semua para koleganya yang sudah menunggu Arya untuk memulai, Toni hanya bisa tersenyum canggung bin gugup menghadapi semua itu. Jika saja Arya tidak datang sekaligus dan menyerahkan semua padanya mungkin sudah hampir selesai, tapi sekarang? Boro-boro selesai di mulai saja belum.
Di dalam kepala Arya tidak terdapat sedikitpun mengenai pekerjaan apalagi semua tentang meeting itu melainkan senyum-senyum Arini yang terlalu manis dan terlalu sayang untuk di lupakan.
__ADS_1
"Tuan, apakah bisa dimulai sekarang?" Toni menyentuh kecil lengan Arya dan akhirnya berhasil membuat nya tersadar sekarang.
"Hem!" Arya tersentak, dia sadar dan langsung menatap Toni yang tersenyum kecut.
"Tuan, mereka sudah menunggu," ucap Toni lagi.
Arya melihat semua orang yang ada di sana yang berjumlah lima orang itu dan mendapatkan tatapan balik dari mereka semua. Tak ada ekspresi menyesal di wajah Arya, dia tetap biasa dan memasang wajahnya yang datar.
"Ton, saya ada pekerjaan. Ambil alih meeting ini. Dan setelah selesai datanglah padaku ada sesuatu yang harus aku tanyakan."
Bukannya memulai meeting Arya malah beranjak dan menyerahkan tanggung jawab meeting itu pada Toni. Kenapa tidak dari tadi sih! Mungkin itu yang sekarang ada di dalam kepala Toni.
Meskipun mereka semua mengangguk tetap saja ada rasa dongkol di hati mereka. Bagaimana tidak? Waktu mereka terbuang hanya untuk melihat orang melamun saja, orang yang sedang di landa badai kebucinan yang sudah akut dan sudah mendarah daging.
"Maaf, bisa kita mulai sekarang?" Toni memecahkan keheningan yang terjadi karena Arya, mengalihkan pandangan mereka semua yang masih terus menatap punggung Arya yang semakin jauh.
"Astaga, Tuan. Kau benar-benar membuat masalah untukku." batin Toni.
Memang harus banyak bersabar hati Toni saat menghadapi bos nya itu. Kalau tidak sabar dan dia terbawa amarah pasti dia sendiri yang akan terkena dampaknya.
Di depan ruangan Arya Melisa tengah berdiri di sana. Dia menunggu kepulangan Arya katanya ada yang ingin dia sampaikan, tetapi entahlah itu apa?
__ADS_1
Dengan amplop kecil berwarna cokelat di tangannya Melisa terus mondar-mandir tak jelas dengan wajah yang terlihat sangat gusar. Sesekali dia akan duduk dan beralih berdiri lagi dan seperti itu seterusnya.
Demi tujuannya Melisa datang ke lantai itu tanpa ijin lebih dulu pada yang berkuasa, dia tak peduli dengan semuanya karena setelah ini dia pasti akan bisa keluar masuk ke tempat itu bahkan tanpa ijin sekaligus juga tak akan ada yang berani melarangnya.
Sebenarnya bukan hanya Arya saja yang Melisa tunggu melainkan Arini juga tetapi gadis itu sedari tadi juga tidak kelihatan mungkin dia tidak ke kantor hari ini. Meski Melisa tak yakin sih.
Setelah lelah berdiri Melisa beralih duduk lagi, kakinya juga sudah terasa pegal karena sudah hampir satu jam dia menunggu Arya.
"Di mana sih tuan Arya!" Melisa hampir kehilangan kesabaran untuk menunggu Arya, dia tidak biasa menunggu hingga cukup lama seperti sekarang.
Wajah kesalnya tak berlangsung lama, wajahnya berubah berbinar, ujung bibirnya tertarik untuk tersenyum saat melihat amplop yang dia bawa. Melisa sangat yakin setelah ini Arya tidak akan bisa mengelak lagi, dia harus bertanggung jawab dan harus menikahi secepatnya.
"Kali ini anda tidak bisa lari lagi dari takdir ini Tuan Arya. Takdir mu adalah bersamaku, bukan dengan Arini atau siapapun," gumamnya.
Matanya kembali melihat arah pintu lift, dia berharap kalau Arya akan keluar dari sana secepatnya.
Dan benar saja, tak berapa lama Melisa duduk pintu lift itu perlahan mulai terbuka.
Pria tampan, gagah dan memiliki segala ketertarikan untuk lawan jenis itu sudah terlihat. Langkahnya di mulai setelah pintu lift itu terbuka.
Begitu gagahnya Arya melangkah dan itu membuat Melisa langsung beralih berdiri dari duduknya. Matanya menyambut dengan binar bahagia.
Namun kebahagiaan Melisa tidak di sambut baik oleh Arya yang kini langsung menatap tajam kearah Melisa. Arya berjalan dengan begitu angkuhnya mendekati Melisa dan berhenti tepat di depannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini," ucapan Arya terdengar begitu angkuh juga sangat dingin. Arya sangat tidak menyukai Melisa begitu pula dengan keberadaannya sekarang ini di lantai khusus miliknya saja.
"Tuan, saya..." ucapan Melisa terhenti meski tadi dia sangat yakin memiliki keberanian untuk mengatakannya tetapi kini dia sedikit takut, bahkan tubuhnya juga terlihat begitu gemetar.
"Apa yang ingin kamu katakan, katakanlah dengan cepat dan pergilah dari tempat ini. Saya tidak mau bertemu bahkan melihatmu," Arya semakin marah karena Melisa seperti menunda-nunda waktu saja.
Tangan Melisa perlahan terangkat menyodorkan amplop cokelat tadi kepada Arya. Tangannya juga terlihat begitu gemetar.
Wajah Melisa menunduk, dia tak berani menatap wajah Arya yang terdapat matanya yang membulat tajam kearahnya.
"Apa ini?!" tangan Arya menerimanya tetapi masih enggan untuk membukanya dan hanya membolak-balikan amplop itu.
Arya tak tau sebenarnya itu apa isinya tetapi Arya tetap tak berniat untuk membukanya karena dia juga turut peduli.
"Tuan, i-itu... itu hasil dari dokter. Sa-saya telah hamil."
Bersambung.....
__ADS_1