
Happy Reading....
Wajah Arini bersemu merah saat dia menyadari sedari tadi pak tuannya terus melihat tanpa berkedip sama sekali, sungguh membuat Arini merasa kegeeran juga merasa sangat grogi.
Kerjaannya juga rasanya tidak beres-beres karena dia dari tadi tidak berpindah di tempat lain dan selalu berada di sana. Sungguh membuat Arini salah tingkah kan.
Arya yang memang sedang asyik mengamati Arini sama sekali tidak tau kalau dia kedatangan perempuan yang begitu terobsesi padanya siapa lagi kalau bukan Nadia. Gadis yang terus mengharapkan akan bisa bersanding bersamanya dan mendapatkan hak penuh atas semua harta dari Arya Gautama.
Tatapan penuh kebencian langsung hadir pada Nadia, tatapannya bukan ke arah Arya melainkan ke arah Arini yang tidak tau kalau dirinya tengah diperhatikan.
“Ekhem! “
Dehemam dari Nadia berhasil menyadarkan Arya, dan dengan cepat Arya langsung menoleh ke Nadia dengan sangat tidak suka dan tentunya merasa sangat terganggu.
“Ar, kamu itu sudah mau bertunangan denganku tapi kenapa kamu sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Apakah kamu memang berniat untuk mengecewakanku? “
Pertanyaan Nadia sama sekali tidak di gubris oleh Arya yang lagi-lagi memandangi Arini yang kini hampir selesai dan mungkin akan berpindah ke tempat lain.
“Ar! Apa kamu benar-benar tidak menghargaiku! Aku calon istrimu, bukan gadis buruk rupa itu yang menjadi calon istrimu! “ Nadia sudah mulai kehilangan kesabaran menghadapi Arya.
Arya menatap jengah kepada Nadia yang selalu saja mengganggu kesenangannya.
“Sudah cukup bicaranya?” tanya Arya dengan serius,” kalau sudah silakan pergi dari sini. Karena saya tidak butuh dengan ocehanmu! “ jawab Arya dengan jelas.
“Kamu mengusir ku? Mengusir calon istrimu? “ pekik Nadia tak percaya.
“Siapa bilang kamu calon istriku, aku tidak butuh istri sepertimu. Lagian bukan aku yang mau menikah denganmu, lebih baik kamu bicarakan saja dengan mama. Siapa tahu dia punya anak lain yang bisa menikah denganmu,” tandas Arya.
Sungguh di buat dongkol hati Nadia, dia lebih cantik dari gadis yang menjadi kebanggaan Arya itu tapi kenapa dia kalah telak di mata Arya di bandingkan dengannya. Apa kekurangannya sampai Arya tidak mau menoleh sama sekali ke arahnya.
Meninggalkan Nadia di sana sendiri Arya berlalu pergi, sepertinya dia tak mau berurusan lebih lama lagi dengan Nadia yang menurutnya sangat tidak penting.
Nadia semakin marah hatinya semakin dipenuhi dengan kebencian kepada Arini yang menurut telah mengambil apa yang menjadi haknya.
__ADS_1
‘’Ar! Arya!’’ teriak Nadia tapi sudah tak lagi di hiraukan olehnya.
‘’Semua ini gara-gara perempuan buruk rupa itu. Kamu harus mendapatkan pelajaran yang setimpal, Arini.’’
Nadia melangkah dari tempat itu tapi bukan untuk mengejar Arya melainkan untuk menghampiri Arini sepertinya dia sangat marah dengan Arini yang saat ini sudah mulai melangkah untuk berpindah.
‘’Dasar perusak hubungan orang! Apa di dunia ini tidak ada laki-laki lain selain calon suami orang lain!’’ suara Nadia terdengar begitu menyakitkan tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi hati Arini yang sudah terlanjur kebal dengan kata kasar dari orang lain.
Arini menghentikan langkah, dia juga menoleh ke arah sumber suara yang sangat begitu nyelekit, begitu ngena di hati tapi Arini tetap masa bodoh sih, sama sekali tak peduli.
Tatapan mata dari Arini hanya biasa-biasa saja sama sekali tak membuatnya gentar apalagi merasa takut.
‘’Lebih baik kamu itu pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Arya dan juga dari perusahaan ini, kamu itu tak pantas menginjak kaki di sini! Kamu itu hanya bagaikan kotoran kaki yang akan di injak, posisimu itu yang pantas ada dia bawah.’’
‘’Kamu hanya bagaikan debu yang akan mengotori setiap ruangan yang kamu tempati! Lebih baik kamu pergi sejauh-jauhnya,’’ begitu sadis Nadia menghina Arini, ucapannya sangat tak bermartabat dan tidak seperti orang yang terhormat.
Biar seperti apapun Nadia menghina Arini gadis itu hanya tetap tenang dia juga masih enggan untuk menjawab. Lebih baik diam daripada nanti menjadi ladang dosa untuknya.
Arini sudah pintar mengendalikan hatinya, mengendalikan amarah tidak sama seperti orang lain apalagi seperti gadis yang ada di hadapannya ini dan tengah menghinanya.
“Bagus kamu tidak berani padaku, karena kamu memang harus tunduk kepadaku. Aku perintahkan kamu lebih baik sekarang kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini.”
Tak henti-hentinya Nadia mengatakan cemoohan untuk Arini. Tapi lama-lama hatinya dongkol juga karena Arini tidak menjawabnya.
“Dasar rendahan! Dasar tidak tau diri! “ ucap Nadia lagi.
“sebaiknya kami pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi. Dan ya, jangan pernah dekati Arya lagi karena dia adalah calon suamiku,” ucap Nadia yang begitu percaya diri.
Arini hanya tersenyum kali ini dan sepertinya dia sudah siap untuk memuntahkan semua yang dari tadi dia tahan di hatinya.
“Maaf, Mbak! Saya tidak akan pernah pergi sampai kapanpun kecuali pak Tuan sendiri yang memintaku untuk pergi.”
“Dan satu hal lagi. Mbak baru calon istri, bukan istri dari Pak Tuan. Seharusnya mbak lebih bisa tau akan hal itu kan? Masak belum apa-apa udah berani mengendalikan semua orang yang ada di sekitarnya. Hem...? Dan... Ingat ini ya, Mbak. Pasangan suami istri saja masih bisa berpisah karena mereka tidak sepaham, apalagi baru calon.”
__ADS_1
Begitu berani Arini mengatakan itu, bahkan dia sama sekali tidak berfikir jika nantinya dia akan mendapatkan masalah. Sekarang ya sekarang, nanti ya nanti. Itulah yang menjadi prinsipnya.
Jelas itu akan membuat Nadia semakin kesal. Arini begitu berani padanya bahkan secara tidak terang-terangan dia mendoakan bahwa hubungannya juga Arya akan putus sebelum sampai ke pelaminan.
Mata Nadia begitu menyeramkan doa barengi dengan raut wajah yang penuh dengan kabut kemarahan.
“Dasar kurang ajar!” tangan Nadia terangkat, mengayun dan hampir sampai di wajah Arini sebelah kiri.
Sementara Arini yang menyadari sontak menutup mata dan juga pasrah. Mungkin memang yang dia katakan sangat keterlaluan dan dia pantas mendapatkan hukumannya secara langsung.
Mata Arini menyipit kecil saat tangan Nadia tak kunjung sampai, dia heran dong apa yang telah menghalanginya. Dan ternyata ada tangan sang pelindungnya yang datang dan mencengkram erat pergelangan tangan Nadia.
“Jangan pernah berani menyakitinya. Jika kau berani berarti kamu membuat masalah denganku.”
Entah harus senang atau sedih sekarang Arini. Dia tidak jadi mendapatkan pukulan dari Nadia karena pak Tuannya yang melindunginya. Tapi dia juga sedih karena tidak tega melihat Nadia yang mendapatkan itu dari pak Tuan.
“Lebih baik sekarang kamu pergi. Dan ya, bukan Arini yang tidak pantas menginjakkan kaki di sini, tapi kamu!” Arya begitu emosi dia tidak rela kalau sampai ada yang menyakiti mainannya kecuali dirinya sendiri.
Tangan Nadia Arya hempas dengan kasar hingga membuat Nadia sampai melangkah mundur juga meringis kesakitan.
“Tapi, Ar? Perempuan itu yang seharusnya pergi dari sini! Dia yang akan menghancurkan hubungan kita!” Nadia masih enggan.
“Bukan dia yang akan merusak hubungan tapi kamu! Kamu yang akan menjadi perusak. Sebelum aku kehilangan kesabaranku lebih baik kamu pergi sekarang juga, pergi!!” bentak Arya sadis.
“Tapi, Ar?”
“Pergi!” Sepertinya Arya sudah tidak bisa di rayu lagi, dia sudah tidak akan bisa.
Dengan membawa rasa kecewa Nadia pergi dari sana, sementara Arya langsung mendekati Arini.
“Kamu tidak apa-apa kan?” Arya begitu khawatir dengan Arini.
Arini menggeleng karena dia memang tidak apa-apa, “tidak!” jawab Arini dengan cepat dan setelah itu dia berlalu begitu saja.
__ADS_1
“Lah, kok pergi! Apa kamu tidak mau berterima kasih padaku? Heyy!” teriak Arya tapi Arini sudah tak menoleh lagi. Entah apa yang dia alami sekarang hingga dia begitu acuh padanya.
Bersambung...