Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
123. Nikah Yuk


__ADS_3

...Happy Reading.... ...


...~*~...


Cinta yang mulai tumbuh dengan sangat liar juga sangat bebas membuat kedua sejoli yang kini berada di dalam satu ruangan malah menjadi canggung. Mereka saling sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan hanya sesekali akan melirik ke arah sang pujaan.


Meskipun sudah dilarang tapi Arini tetap mengerjakan apa yang memang sudah menjadi tugas dan pekerjaannya, dan itu tidak bisa Arya melarangnya.


Arini tetap sibuk dengan aktivitas ngepel paginya dan Arya? dia juga begitu semangat berangkat lebih pagi hari ini mungkin karena dia tak sabar ingin bertemu dengan Arini yang semalam tidak bisa membuat dia tidur karena selalu mengingatnya.


Arya berdiri, dia berjalan menghampiri saat Arini terlihat sangat kelelahan juga mengusap keringat dengan punggung tangannya.


Arya terus melangkah, sembari tangannya mengambil sapu tangan yang ada di dalam saku kemejanya. Tanpa meminta persetujuan Arya mengelap wajah Arini yang penuh dengan keringat itu. Arya tersenyum.


"Pak Tuan, apa yang Pak Tuan lakukan!" Arini tersentak, dia mundur hingga sapu tangan itu menjauh dari wajahnya.


"Apa lagi yang bisa aku lakukan. Semua ini karena kamu, coba saja kamu mau menuruti apa mau ku duduk manis dan menemaniku saja di sini. Aku tidak akan diam saja kan kalau calon ibu dari anak-anakku akan kelelahan," ucap Arya dengan begitu enteng.


Astaga, calon Ibu dari anak-anaknya? bahkan Arya sudah berani mengatakan itu pada Arini. Padahal baru kemarin Arya menyatakan cinta pada Arini.


Pipi Arini terasa panas membuatnya memerah seperti habis kena oven, Arini tengah tersipu saat ini karena ucapan dari Arya.


"Apa sih, dasar!" Arini membalik dia ingin pergi dari hadapan Arya kalau tidak dia akan semakin malu dan jantungnya akan terus berdisko di dalam sana.


Arya kembali berjalan, menghadang Arini dan tak akan mungkin dia biarkan pergi begitu saja. Arya sudah bela-belain datang pagi-pagi untuk bisa melihatnya tidak akan dia lepaskan begitu saja kan?


"Arini, aku merindukanmu," ucap Arya. Wajahnya begitu imut di lihat, begitu menggemaskan.


Nafas panjang keluar dari Arini, sungguh heran bukan?


"Arini, kita nikah yuk! aku sangat tersiksa jauh-jauh darimu. Aku seperti orang tidak waras di rumah sendiri. Dan ini lihat! mataku merah, ada mata panda nya kan? aku semalam tidak bisa tidur karena kamu selalu menggangguku."


Arini terperangah, bagaimana bisa dia mengganggu Arya? dan ya! apa tadi, menikah? semudah itukah orang menikah.


"Arini, hem..., bagaimana kalau kamu saja yang menjadi hadiah ulang tahunku. Maksudnya, kita menikah di hari ulang tahunku. Aku akan siapkan segala dengan kilat, kamu mau pernikahan seperti apa akan aku turutin."


Ngebet amat nih Pak Tuan pengen nikah.


"Ti-dak..." jawab Arini. Tidak mungkin kan dia akan menikah begitu saja dalam dua hari ke depan. Lagian Arya juga belum berani datang kepada kakek juga neneknya Arini, hubungan mereka berdua belum resmi.


"Kenapa tidak?"


"Ya tidak saja." jawab Arini dengan judesnya. Arini kembali mengangkat ember yang sudah sempat dia taruh tadi dan sekarang dia benar-benar akan pergi dan berlalu melewati Arya dari sampingnya.


"Sayangku Arini, berbalik lah dan tinggalkan senyumnya untukku. Aku tidak akan bisa bekerja tanpa pesangon darimu."


Cepat Arya membalik dia melihat punggung Arini yang semakin jauh. Satu... dua... tiga... Arya kecewa karena tak mendapatkan pesangon yang berupa senyum dari Arini. Sungguh pelit.


"Aku kekurangan gizi... Arini! berikan padaku sesuatu yang membuat gizi ku terpenuhi!" teriak Arya.


Pintu terbuka karena tangan Arini, gadis itu sepertinya memang tidak memiliki niat untuk memberikan senyum untuk Arya.


Lemas, kedua tangan Arya tegak ke bawah tak semangat untuk bergerak. Matanya terus memandangi Arini. Gadis itu terlihat malu-malu di setiap gerakannya.

__ADS_1


Wajah imut dari Arya tidak bisa membuat Arini menahan untuk tidak tersenyum hingga akhirnya dia memberikan senyumnya sebelum dia pergi. Arini tersenyum tepat di depan pintu dan saat ingin menutup pintu.


"Aku mendapatkannya, yes!" begitu bahagia Arya melihat Arini yang tersenyum manis dan memperlihatkan lesung di pipinya.


Arini menggeleng, lucu sekali melihat Arya sekarang.


Arya sangat terbuai karena cinta saat ini. Apa yang sedikit Arini berikan dia akan sangat bahagia, hatinya berbunga-bunga.



Di sebuah Mall besar, lebih tepatnya di sebuah toko perhiasan Luna juga Nadia tengah sibuk memilih-milih perhiasan. Sepasang cincin pertunangan juga beberapa kalung dan gelang yang di pilih khusus untuk Nadia dari Luna.



Acara pertunangan harus meriah dan juga harus mewah. Acaranya harus bisa di kenang oleh semua tamu yang datang, kalau tidak malu kan? karena mereka adalah orang ternama lebih tepatnya orang nomor satu di sana.



Pertunangan tidak bisa di lakukan dengan sederhana dan juga kampungan, semua harus di lakukan dengan sangat megah.



"Ini aja, Tan! ini sangat bagus aku menyukainya."



Luna tersenyum melihat pilihan dari Nadia. Benar-benar gadis yang pintar bisa memilih barang bagus.




Nadia sangat senang dengan pujian dari Luna, namun terlihat wajahnya sedikit berkedut karena kata-kata itu juga.



Luna yang melihat menjadi bingung, apakah dia salah bicara? "kamu kenapa, apakah tante salah bicara?" tanya Luna mengernyit.



"Kata tante aku juga Arya baru cocok setelah memakai cincin ini, apa i


berarti sekarang aku tidak cocok dengan Arya?" Nadia semakin berkedut setelah mengatakan itu.



"Bukan berarti, Sayang. Kamu juga Arya akan selalu cocok kapanpun juga. Kamu cantik dan Arya sangat tampan bagaimana mungkin kalian tidak akan cocok."



"Untuk kalungnya kamu mau pilih yang mana?" tangan Luna mengelus punggung Nadia, dia benar-benar perhatian dengan gadis yang sudah menjadi pilihannya itu.


__ADS_1


Nadia terdiam tapi matanya terus melihat semua kalung-kalung yang terpajang di etalase.



"Pak, saya ingin kalung yang baru dan yang hanya ada satu-satunya. Saya ingin memberikannya untuk calon menantuku yang paling cantik ini."



Nadia tersenyum saat tangan Luna beralih mengelus pipinya yang mulus juga menyelipkan rambutnya di atas telinga.



"Dia sangat cantik, dan harus mendapatkan semua yang terbaik." ucap Luna lagi yang terus memujinya.



"Ada, Nya," pelayan perhiasan itu mengambil sebuah kalung yang ada di leher patung yang berwarna putih. Kalung yang sangat indah dengan sebuah tatanan berlian di ambil olehnya, di perlihatkan.



"Ini, Nya." imbuhnya lagi setelah kalung sudah berhasil ada di depan mereka berdua.



Mata Nadia jelas berbinar melihat keindahan dari kalung itu. Kalung yang sangat luar biasa yang pasti harganya juga sangat fantastis.



"Ini adalah kalung yang sangat baru di toko kami, Nyonya. Dan yang jelas ini hanya ada satu-satunya karena ini di desain secara khusus oleh pemilik toko sendiri,"



"Bagaimana, apa kamu suka?" jelas Nadia sangat menyukainya, bahkan dia langsung mengangguk.



"Tapi, Nyonya! harganya?"



"Saya tidak mempermasalahkan akan harganya asalkan calon menantuku suka berapapun harganya saya tidak akan ada masalah," jawab Luna.



Sementara Nadia hanya diam dan terus berseru di hatinya karena dia akan mendapatkan barang-barang mahal. Belum menjadi menantunya saja sudah mendapatkan semua kemewahan dari keluarga Gautama, bagaimana kalau sudah menjadi menantunya?



"*Akan aku dapatkan kamu Arya. Tak peduli dengan apapun dan bagaimanapun caranya kamu harus menjadi milikku. Dan setelah itu..., hem..., akan aku dapatkan semua hartamu. ali akan menjadi nyonya besar di keluarga Gautama. Hahaha*...! " tawa Nadia di dalam hatinya.



Bersambung....

__ADS_1


______


__ADS_2