
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...______...
Arini begitu lelah, kakinya terasa sangat pegal semua. Satu jam dia jalan kaki untuk bisa pulang sampai rumah dan ini semua gara-gara bos barunya itu.
Rumah sederhana milik kakeknya sudah ada di depan mata, Arini tersenyum akhirnya dia sampai juga dan setelah itu dia ingin secepatnya berselonjoran di kamar supaya kakinya kembali membaik.
"Alhamdulillah," ucapnya.
Arini buru-buru ingin secepatnya masuk.
Sementara di dalam rumah, Murni juga Susanto masih duduk menunggu kepulangan Arini. Mereka sangat khawatir dengan cucunya, ini sudah malam tapi belum juga pulang.
"Kek, bagaimana ini. Nenek takut terjadi sesuatu pada Arini," Murni begitu gelisah jari-jari nya saling bertautan karena dia begitu khawatir.
"Tunggu lima menit lagi, Nek. Kalau Arini belum pulang juga kakek yang akan datang ke sana," jawab Susanto yang sama seperti Murni yang mengkhawatirkan Arini.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
"Assalamu'alaikum, " ucap Arini.
"Itu Arini, Kek! " Murni langsung beranjak setelah mendengarkan suara dari Arini.
"Wa'alaikumsalam," Cepat Murni membuka pintu memastikan siapa yang datang dan ternyata benar Arini lah yang datang, dia baru pulang.
Murni juga Susanto bernafas lega ternyata Arini baik-baik saja. Tak ada yang terluka ataupun ada yang aneh dari Arini.
"Astaghfirullah Arini, kenapa kamu baru pulang hingga malam begini? kamu tidak apa-apa kan? tidak ada yang berbuat buruk kan padamu," Murni langsung memberondong dengan pertanyaan pada Arini.
Arini menggeleng, "Tidak kok, Nek. Maaf Arini pulang malam, karena pekerjaan Arini begitu banyak dan harus diselesaikan hari ini juga," jawab Arini.
"Nggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu baik-baik saja. Kamu pulang dengan selamat tanpa ada hal buruk yang terjadi padamu itu sudah sangat membuat kami bahagia," Susanto berdiri mendekati Arini juga Murni.
"Sekarang bersihkan dirimu lalu makan malam dan istirahat, jangan sampai kamu sakit,"
"Iya, Kek. Arini pamit,"
"Hem." Susanto juga Murni mengangguk dengan bersamaan.
"Alhamdulillah Arini baik-baik saja, Kek," ucap Murni begitu bersyukur.
"Iya, Nek. Sekarang Nenek juga harus istirahat," pinta Susanto.
"Iya, Kek." murni mengangguk patuh.
//////
Baru saja Dimas sampai di ruangan Arya, dia di kejutkan dengan Arya yang tengah berpesta sendiri dengan minuman-minuman haram.
"Astaga, Ar! sampai kapan kamu akan terus mengonsumsi minuman haram ini! Apa tidak ada minuman lain yang lebih baik untukmu, hah!"
Dimas terus berusaha untuk merebut botol yang ada di tangan Arya, dia sudah cukup miris melihat sahabatnya itu yang sudah kecanduan dengan minuman haram itu. Sepertinya tiada hari tanpa meminumnya.
Tidak di 𝘤𝘭𝘶𝘱 di manapun jadi, bukan hanya ada di ruangan yang ada di perusahaan namun Arya juga memilikinya di apartemen jadi saat dia menginginkannya tak perlu susah-susah untuk mendapatkannya.
__ADS_1
"Hentikan, Ar! hentikan! " Bentak Dimas namun tetap saja tak mendapatkan apapun karena Arya sama sekali tak mau mendengarkan keinginannya.
Gagal sudah Dimas ingin mengatakan kalau dia bertemu dengan gadis yang menolong Arya kemarin, karena sepertinya Arya sudah mulai tak sadarkan diri.
"Hentikan, Ar! "
𝘗𝘳𝘢𝘯𝘬...
Dimas membuang botol itu setelah berhasil merebutnya dari Arya.
"Aku masih ingin minum, Dim. Berikan aku satu botol lagi," racau Arya yang sudah tak jelas.
"Tidak, Ar." tak mungkin Dimas akan memberikan lagi pada Arya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Ar. Kenapa kamu merusak dirimu sendiri dengan kebiasaan yang buruk seperti ini," ucap Dimas tak habis pikir.
Padahal kemarin Dimas sudah mengingatkan kalau Arya harus menghentikan keburukan ini, tapi Arya masih tak mengindahkan apa kata-katanya.
"Sekarang aku antar kau pulang, kalau tidak kamu pasti akan pergi ke tempat 𝘭𝘶𝘤𝘬𝘯𝘶𝘵 itu."
Dimas mulai memapah Arya untuk keluar dari ruangan itu. Berniat untuk mengantarkan Arya ke apartemennya yang lebih aman. Kalau di antar ke rumah utama pasti akan terjadi kekacauan di malam ini.
Sesampainya di apartemen Dimas hanya mengantarkan Arya saja, setelah dia memastikan sendiri Arya sampai di dalam kamar baru dia pulang.
"Aku harap ini menjadi yang terakhir kalinya, Ar," gumam Dimas yang penuh harap.
/////**
Hari baru telah tiba. Semua kembali sibuk dengan aktivitasnya. Semua mulai bekerja dan bekerja sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.
Baru saja masuk ke dalam ruangan Arya, Arini mengernyit karena melihat ada pecahan botol di sana, "ini botol apa?" ucapnya.
Satu persatu Arini bersihkan. Dia menyapunya lalu ngepel juga setelah itu. Namun mata Arini masih saja melihat botol yang lain yang ada di atas meja.
Arini belum pernah melihat botol yang seperti itu,"apakah itu minuman Pak Tuan? aku harus membereskannya," Arini menaruh gagang pel nya.
Botol yang berjumlah tiga sudah ada di tangan Arini dia mengedarkan pandangannya, dia bingung akan menaruhnya di mana? kalau sampai dia salah menaruhnya pasti dia akan mendapatkan masalah.
"Apa yang kamu lakukan dengan barang-barang ku! "
Suara berat itu kembali mengejutkan Arini, wajah garang itu membuat Arini gemetar. Sepertinya dia benar-benar telah melakukan kesalahan dengan menyentuh barang-barang Arya.
"Jangan pernah menyentuh barang-barang ku! Taruh!! " bentak Arya.
Seketika Arini meletakkan ketiga botol itu di tempat semula, meskipun kemarin Arini melihat Arya yang selalu memarahinya namun ini berbeda, dia terlihat sangat marah.
"Ma-maaf, Pak Tuan. Arini hanya...?"
"Keluar dari ruangan ku! dan jangan pernah masuk jika aku tak memanggilmu, kamu mengerti! "
"I-iya, Pak Tuan," Arini sangat ketakutan. Dia langsung berlari keluar dan tentunya tak ketinggalan semua barang-barang nya.
Arya duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya sangat tak bersahabat kali ini entah ad masalah apa padanya.
"𝘈𝘳, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳𝘮𝘶. 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. "
__ADS_1
Pesan dari Luna itulah yang membuat mood Arya menjadi buruk seperti ini sekarang, "Argghhh,...!" teriak Arya frustasi.
"Aku harus membuat wanita itu menolak ku. Aku tak sudi di kendalikan oleh wanita, tidak akan!" ucapnya dengan marah.
Baru saja Arya diam sejenak suara ribut terdengar di depan ruangannya.
"Siapa yang berani membuat kekacauan di tempatku, apakah dia tidak punya otak? " Arya beranjak dengan kesal.
//
Baru saja Arini menutup pintu ruangan Arya dia harus kembali mendapatkan apes yang kedua kalinya.
Dia bertabrakan dengan wanita cantik yang waktu itu pernah bertemu saat Arini mencari pekerjaan.
"Kamu!! "Pekik gadis itu yang ternyata adalah Nadia.
" Ma-maaf, Kak. Saya tidak sengaja," Arini tertunduk takut saat Nadia terlihat sangat marah padanya.
"Maaf! apakah dengan maaf kamu bisa mencegah semua terjadi?! Tidak kan! " Bentaknya lagi.
"Maaf, Kak. Saya tidak sengaja," hanya kata maaf yang selalu Arini katakan pada Nadia, tapi itu tetap tak membuat wanita itu diam dan memaafkan.
"Dasar sampah! " Nadia mendorong Arini dengan cukup kuat.
𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬𝘬....
"Akh..., " rintih Arini. Arini di dorong ke arah belakang dan saat yang bersamaan Arya pas keluar dan akhirnya Arini jatuh di tubuh Arya.
Arya langsung menahan Arini supaya tidak terjatuh, "Arini! " Arya begitu terkejut.
"Pak Tuan, " Arini yang sudah ada di dekapan Arya langsung menoleh dan mendapati Arya yang telah menolongnya.
Beberapa saat tatapan mereka bertemu, namun itu tak berlangsung lama. Mata Arya beralih memandangi Nadia dengan begitu bengis.
"Siapa kamu!? berani-beraninya membuat masalah di tempat ku. Beraninya kau menghina dan menyakiti orang ku," ucap Arya sengit.
"Kamu, kamu pasti Arya kan? aku Nadia, calon istrimu," ucap Nadia dengan percaya diri.
Nadia hendak maju mendekati Arya ingin sekali langsung memeluknya dan bergelayut manja pada pria tampan itu.
Nadia benar-benar terpesona dengan Arya, dalam sekali melihat dia langsung jatuh cinta pada Arya, tapi sepertinya tidak untuk Arya.
Arya kembali menarik Arini, mendekapnya dengan kuat hingga mereka berdua benar-benar bersentuhan dan tak lagi ada jarak, "jangan terlalu tinggi bermimpi, Nona. Perkenalkan, dia adalah Arini, istri saya," ucap Arya.
Arini maupun Nadia sama-sama terbelalak. Arini terkejut bagaimana mungkin Arya memperkenalkan dirinya pada orang lain kalau dia adalah istrinya. Sementara Nadia juga tak percaya, bagaimana mungkin Arya memiliki istri yang terlihat buruk seperti Arini.
"Hahaha...! anda sangat pintar bersandiwara, Tuan Arya,"
"Bukan urusanku kamu mau percaya atau tidak, sekarang pergilah dari sini. Jangan menggangu suami istri ini yang ingin bermesraan," Arya menyeringai memandangi Arini yang terdiam, tiba-tiba Arya mengangkat Arini, menggendongnya dan membawanya kembali masuk.
"Tuan! Tuan Arya! " Panggil Nadia namun sudah tak lagi mendapatkan jawaban dari Arya yang sudah berhasil menutup pintu, "sial! sebenarnya siapa gadis buruk itu?" Nadia begitu kesal, kedatangannya sangat tak di hargai oleh Arya.
"Aku harus protes dengan Tante Luna. Ini nggak bisa di biarkan," Nadia putuskan pergi dari sana, yang jelas dia akan mengadu pada orang yang membuat dirinya harus datang ke sana.
////
__ADS_1
Bersambung.....
__________________