
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Bukan hanya Raisa saja yang heran dengan Arini yang tak di pecat atau mendapatkan perlakuan buruk dari Arya, tapi Toni, asistennya juga sangat heran.
Ini tak biasa, Arya pasti akan selalu memecat karyawannya langsung tanpa mau mendapatkan toleransi apapun setiap melakukan kesalahan tapi kali ini? apa yang terjadi dengan Tuannya.
Toni memang tak melihat secara langsung keadaan Arini tapi dia hanya mendengar apa yang tadi dia bincang kan dengan Raisa itu sudah cukup untuknya kalau Arini tidak mendapatkan hukuman yang berat.
"Syukurlah, padahal aku tadi sangat takut kalau Arini akan mendapatkan hukuman yang buruk dari Tuan Arya. Tapi alhamdulillah kalau begitu," gumamnya.
Toni tambah senang lagi saat dia melihat Arini yang terlihat sangat senang saat pulang kerja, gadis itu terus saja tersenyum dengan Raisa yang ada di sebelahnya.
"Kenapa kamu tersenyum, apa kamu naksir padanya?!" pertanyaan yang begitu terasa sangat menyakitkan bukan apa-apa tapi nada suaranya itu yang seketika seperti ingin menguliti kulitnya.
Toni menunduk dia hanya bisa melirik kecil ke arah tuannya yang datang dan memergokinya tengah tersenyum melihat Arini.
"Ti-tidak, Tuan," jawab Toni gugup. Suaranya juga terdengar bergetar mungkin dia ketakutan kan.
"Bagus, jangan pernah naksir apalagi menyukai mainan ku, jika kamu berani melakukan itu. Kamu tau kan apa yang bisa saya lakukan padamu?! " ancam Arya.
"Tidak akan, Tuan. Saya tidak akan berani," jawab Toni.
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪-𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶? " batin Toni tak percaya.
Arya kembali berjalan, dia ingin pulang ke apartemennya dia cukup lelah dengan pekerjaannya hari ini.
Sementara Toni masih membuntutinya.
"Tuan, tadi Angelica menghubungi saya. Dia menanyakan apakah Tuan akan datang lagi ke sana? katanya dia sudah menyiapkan segalanya untuk anda, Tuan," ucap Toni.
Arya menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Toni dan menatapnya dengan mata tajam.
"Saya tidak mau datang, kalau kamu mau ambil saja dia untukmu, dia masih di segel! saya sudah tidak tertarik padanya," jawab Arya.
Arya kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Toni dalam ketidakpercayaan.
"Benarkah dia Tuan Arya Gautama? " Toni mengernyit.
Biasanya Arya akan langsung tancap gas jika di beri tau ada barang bagus dan masih tersegel sedang menunggunya, tapi sekarang? dia sendiri malah menawarkannya pada Toni.
__ADS_1
"Apakah Tuan Arya sehat?" gumamnya lagi.
/////////
"Mbak Raisa, Mbak Raisa naik apa kalau pulang? angkot atau ojek? " tanya Arini.
Kedua gadis beda usia dan penampilan beda juga itu masih di luar gedung Gautama grup, keduanya masih menunggu kendaraan yang akan mereka tumpangi untuk pulang.
"Ada ojek langganan, sebentar lagi juga datang. Kalau kamu? " tanya balik Raisa.
"Kalau saya naik angkot, Mbak. Tapi kali ini Arini tidak pulang ke rumah, Arini harus ke rumah sakit karena nenek sedang di rawat di sana," wajah Arini tertunduk lesu, meski neneknya sudah lebih baik tapi belum juga di perbolehkan untuk pulang.
"Kamu yang sabar ya, nenek kamu pasti akan cepat sembuh." Raisa menyentuh bahu Arini dengan pelan, berharap dengan itu bisa membuat Arini tenang.
"Terima kasih ya, Mbak," Arini mengangkat wajahnya dia tersenyum pada Raisa.
𝘛𝘪𝘯𝘯𝘯....
Bunyi klakson mobil begitu keras di dengar oleh keduanya ya karena memang mobil itu berhenti tepat di depan mereka.
Keduanya menoleh secara bersamaan, Raisa bingung karena dia tak mengenal siapa pengemudinya, sementara Arini dia tersenyum dia mengenal nya.
Raisa kembali menoleh ke arah Arini dia mengerti itu pasti, mengerutkan kening hingga berjejer kerutan di sana.
"Dia, dia pak Dokter, Mbak. Dia yang merawat nenek. Tapi kenapa dia datang ke sini ya? oh iya lupa, pak Dokter kan sahabatnya pak Tuan, mungkin dia yang memintanya untuk datang," ucap Arini, memberikan pertanyaan sendiri dan dia pula yang menjawabnya sendiri.
"Ohh.., tapi kenapa aku tidak yakin kalau dia ingin bertemu dengan Tuan Arya. Sepertinya ada orang lain yang ingin dia temui," tebak Raisa, dan Raisa yakin orang itu adalah Arini.
"Arini! masuk! " teriak Dimas.
Dan benar saja, semua benar-benar sesuai dengan yang Raisa pikirkan, Arini lah yang ingin di temui oleh dokter itu, bukan sekedar di temui melainkan di jemput.
"Loh, kenapa jadi aku? bukannya pak Dokter mau menemui pak Tuan ya? " Arini terlihat sangat bingung. Dia tak percaya kalau ternyata Dimas datang untuk menjemputnya.
"Ayo..! " teriak Dimas lagi.
"Cepatlah, tuh Dokter sudah tidak sabaran. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu tentang nenekmu," ucap Raisa.
"Benarkah begitu?" Arini tak yakin sih.
"Mungkin? " bahkan Raisa sendiri juga ragu kalau Dimas ingin mengatakan sesuatu tentang neneknya Arini.
__ADS_1
"𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘕𝘪𝘭𝘢𝘮, 𝘠𝘢? " batin Arini.
"Arini, ayo! " teriakan itu kembali Dimas serukan, sepertinya dia benar-benar tak sabar.
"Arini pergi dulu ya, Mbak. Sampai bertemu besok," Arini mulai melangkah, namun dia masih menoleh ke arah Raisa. Arini juga melambaikan tangannya dan rasanya juga masih belum ikhlas berpisah dengan teman barunya itu.
"Hem.. " Raisa pun ikut melambaikan tangannya ke arah Arini.
Tak akan lama Arini menoleh ke arah Raisa, setelah di rasa cukup dia fokus untuk masuk ke dalam mobil Dimas yang sudah di bukakan nya dari dalam. Namun itu tak akan terjadi, karena ada tangan panjang yang menarik hijab Arini, membuat Arini kembali mundur.
"Eh.., jangan tarik-tarik! Arini bukan kambing! " protesnya. Arini belum melihat siapa pelakunya, tapi tangannya sudah reflek menahan hijabnya supaya tidak terlepas.
Tak menjawab teriakan Arini dan orang itu terus menarik Arini, membawanya untuk menjauh dari mobil Dimas dan menariknya untuk ke mobilnya sendiri, siapa lagi yang bisa melakukan itu kecuali Tuan Arya Gautama.
"Masalah nih," Raisa yang melihat hanya bisa menutupi wajahnya dengan kelima jarinya. Seandainya orang lain yang melakukan dia pasti akan langsung memukulnya, tapi dia adalah bos nya. Dia tak ingin sampai kehilangan pekerjaan kan? lagian Arya bisa memaafkan setiap kesalahan Arini tapi belum tentu dia akan memaafkan dirinya juga.
Dimas yang melihat itu langsung keluar dari mobilnya, dia mengejar Arya yang membawa Arini tanpa berkata apapun.
"Tuan Arya! Tuan! " teriak Dimas. Dimas berlari itu akan lebih cepat sampai ke tempat Arya bukan.
Sementara Arya sudah membuka mobilnya sendiri di bagian penumpang di depan, mendorong Arini memaksanya untuk masuk. Setelah Arini masuk dia langsung menutupnya dengan keras. "𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬...!
Arini sampai terperanjat karena itu, tapi gadis itu tetap tidak akan diam saja, dia berusaha membukanya namun tidak bisa, "kenapa susah sekali? kenapa sangat berbeda dengan punya pak Dokter? " Arini terus berusaha tapi tak ada hasil tentunya.
"Diam, dan jadilah gadis yang baik! " ucap Arya.
"Tuan Arya, ada apa ini?! " tanya Dimas.
"Jangan ikut campur, ini urusan ku," jawab Arya.
"Tapi Tuan! "
Teriakan Dimas sama sekali tak di hiraukan oleh Arya, Arya berjalan memutari mobilnya dia masuk di tempat pengemudi dan langsung membawa Arini pergi dari hadapan Dimas.
"Tuan! Tuan mau bawa Arini kemana?! "
"Tuan! " teriakan Dimas sama sekali tidak di hiraukan oleh Arya, dia mempercepat laju mobilnya dengan sangat kesal.
/////
Bersambung....
__ADS_1
_________