Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
115. Mengajarkan Wudhu


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...______...


Tak ada habisnya Arya terus memohon kepada Arini untuk di maafkan. Seketika sejarah telah berubah, Arya yang angkuh tak kenal kata maaf dan minta maaf kini tengah mengejar maaf dari seorang OB saja. Sungguh menakjubkan bukan?


Di dalam lift Arini terus diam, melipat kedua tangan dengan wajah kesal. Arini terus memalingkan wajah saat Arya terus mengejarnya, benar-benar usaha yang bagus dan patut di acungi lima jari. Alias, "stop! " teriak Arini semakin kesal.


Tapi peringatan Arini tak membuat Arya pantang arang, dia terus meminta maaf dengan wajah yang begitu memelas.


"Arini, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak ada niat untuk mengatakan itu tadi padamu. Aku minta maaf," ucapnya terus dan terus dan tiada henti.


Ya Allah, Arini semakin di buat stress dengan kelakuan Arya. Dia sudah memaafkan, tapi dia hanya ingin menjaga jarak aman saja sekarang dari Arya, Arini tidak mau sampai kata-kata yang begitu nyelekit seperti tadi akan dia dengar kembali. Lukanya tidak berbekas tapi sangat sakit di rasakan.


"Arini, please! Aku minta maaf," Arya terus berjalan mengikuti arah Arini melengoskan wajahnya. Benar-benar tak tahan rasa hati Arya di diamkan begitu oleh Arini.


Tetap tak ada jawaban dari Arini. Astaga, Arya memang tidak akan pandai soal meluluhkan hati seorang wanita.


Ting...


Lift berhenti di lantai paling dasar tapi sebelum lift itu terbuka Arya sudah kembali menekan tombol lagi dan membuat lift kembali bergerak naik lagi.


Arini di buat terperangah dengan kelakuan pria satu ini. Astaghfirullah hal 'azim, harus ekstra sabar nih Arini. Sebenarnya siapa yang masih kecil di sini, Arya atau Arini?


"Lah, pak Tuan apa-apaan sih! Arini mau pergi ke mushola untuk dhuha! Bagaimana ceritanya bisa naik lagi," Tangan Arini sudah turun, dia sungguh geregetan dengan Arya.


"Maka dari itu, maafin aku dulu. Kalau tidak kita mau naik turun lift sampai besok juga nggak akan masalah," ancam Arya. Kewarasannya memang sudah mentok.


"Aku janji akan melakukan apapun asal kamu mau maafin aku," wajah Arya terlihat sangat serius sepertinya dia benar-benar akan melakukan apa yang Arini minta.


Netra kecokelatan milik Arini melirik ke atas, sepertinya dia tengah berpikir apalagi di perjelas dengan jari telunjuknya yang menggaruk lembut kepalanya di atas telinga.


"Benar ya, mau melakukan apapun! " sepertinya sebuah ide muncul di pikiran Arini entah ide apa yang muncul.


"Oke, apapun akan aku lakukan. Kamu minta apapun akan aku berikan. Uang, perhiasan, barang-barang mahal, rumah atau mobil? Semua akan aku berikan padamu, cepat katakan, " wajah Arya sudah berubah menjadi sumringah dia sangat bahagia mendapatkan maaf dari Arini.


Arini hanya menghela nafas panjang setelah mendengar apa yang akan Arya berikan padanya. Arini bukan perempuan matre yang akan senang dengan harta. Arini bukan seperti itu, dasar pak Tuan.


"Arini tidak minta apapun , Pak Tuan."

__ADS_1


"Terus," Arya termangu dalam bersi tatap di wajah Arini.


Sekarang pak Tuan ikut Arini ke mushola." jawab Arini.


"Mau ngapain?! " Arya terbelalak mendengar ajakan Arini.


"Ya shalat lah, masak iya mau nguli! Mau nggak? Kalau nggak mau ya sudah, jauh-jauh dari Arini mulai sekarang, " ternyata Arini sudah pinter ngancam juga seperti Pak Tuan, mungkin dia sudah mempelajarinya dari orangnya langsung.


"Shalat? " Suara Arya seakan hilang, tak dapat terdengar dengan jelas hanya samar-samar tapi Arini tetap mendengarnya.


Arini mengangguk. Hanya itu saja yang Arini mau bukan yang lain seperti semua materi yang Arya ucapkan.


"Bagaimana mungkin, aku tidak pernah shalat juga tidak bisa," ucap Arya bingung.


Ting...


Lift hendak terbuka di lantai lima puluh tapi kini Arini yang menekan tombolnya hingga lift itu tidak jadi terbuka dan kembali bergerak untuk turun. Arya masih tak menyadarinya, dia masih bingung dengan ajakan Arini perihal shalat.


"Masak iya aku harus shalat sih! Aku sadar aku pendosa, mana mungkin shalatku akan di terima."


Arya sudah pesimis, mengingat dengan semua yang dia lakukan pastilah dosanya sangat banyak dan tak akan mudah untuk di maafkan. Lalu apa gunanya dia shalat?


Ting..


Lift terbuka di lantai dasar, Arya sungguh terkejut bagaimana mungkin liftnya balik sendiri. "Loh, loh!"


Tak menanggapi Arya Arini sudah keluar, dia berjalan tanpa menoleh ke arah Arya yang masih terkejut.


"Arini! Tunggu! Eishh..., nih anak main nyelonong saja. Heyyy!! Tunggu! "


Banyak pasang mata yang melihat kejadian ini, termasuk Melisa yang sudah langsung melotot dan juga Nadia yang baru datang membawa kabar gembira perihal pertunangannya dengan Arya.


"Apa-apaan ini, kenapa Arya semakin lengket dengan gadis norak itu. Ishh..., ini tidak bisa di bicarakan." gerutu Nadia.


Sementara Melisa tangannya sudah mengepal sempurna, dia sangat membenci drama yang dia lihat ini. Dia tidak suka.


"Awas kamu Arini. Ini tidak akan baik akhirnya, Arini. Kamu akan merasakan akibatnya."


Tak akan tinggal diam Nadia dengan Arya yang hanya melewatinya saja. Dan yang jelas sangat di acuhkan dan tidak di anggap.

__ADS_1


Nadia bergegas mengejar Arya, dia sangat penasaran juga sebenarnya Arya mau kemana.


Arini terlihat masuk di mushola, dia juga langsung pergi ke tempat wudhu wanita.


"Katanya mau shalat, lah ngapain malah kesini? " tanya Arya.


Arini terkejut, untung saja dia baru mau melepaskan hijabnya, kalau sudah Arya pasti akan melihat yang seharusnya di tutup rapat olehnya.


"Kenapa pak Tuan kesini? Tempat wudhu laki-laki ada di sebelah sana! " Tangan Arini menunjukkan arah yang berlawanan dari tempat itu. Astaga, Arya benar-benar tidak tau apapun.


"Bukannya kesini mau shalat, bukan mau wudhu? " tanyanya lagi.


"Pak Tuan benar-benar tidak tau apa-apa ya! Arini kira pak Tuan memang benar-benar cerdas dalam hal apapun tapi ternyata? Ck.. "


"Dalam hal lain aku memang paling cerdas, bahkan tidak perlu di ragukan lagi semua yang aku lakukan pasti akan memuaskan tapi kalau masalah satu ini. Hem.., aku paling bodoh," jawabnya mengakui.


" Hmmm.., dasar! "


"Sekarang aku harus apa? Wudhu atau shalat?"


Plakk...


Arini menepuk jidatnya sendiri, pusing dah. Arini kira dia yang paling bodoh tapi ternyata masih ada yang sama seperti dirinya.


Semua orang memang memiliki kelebihan juga kekurangan yang berbeda-beda, bisa pandai di urusan kinerjanya bukan berarti dia akan pandai di urusan akhiratnya dan juga sebaliknya. Seperti itulah Arya juga Arini. Mereka pandai dalam hal yang berbeda.


"Kalau mau shalat ya wudhu dulu pak Tuan. Kalau tidak wudhu shalatnya tidak akan di terima," ucap Arini.


"Oh.., ajarin aku cepet," Arya turun begitu saja di tempat wudhu wanita dia memang berniat mengambil wudhu di sana.


Meski kesal tapi Arini tetap mengajarkannya dengan telaten sampai Arya bisa. Meski Arya juga sesekali kesal bin ngeyel karena tak bisa-bisa.


Keduanya keluar dari tempat wudhu bersama, yang jelas Nadia akan melihatnya. Dia semakin marah hatinya semakin panas.


"Ini tidak bisa di biarkan. Mereka tidak boleh semakin dekat, mereka harus di pisahkan." ucapnya yang penuh dengan amarah.


///////


Bersambung....

__ADS_1


___________


__ADS_2