
Happy Reading....
```````````
Begitu bahagia kehidupan Toni juga Nisa. Meski pernikahan mereka terbilang sangat cepat dan perkenalan mereka sangat singkat tapi tak membuat mereka untuk kesusahan dalam menerima kekurangan satu sama lain.
Mereka bisa melewati semua dengan sangat baik dan tentunya itu adalah hal yang dapat membuat mereka semakin dekat satu sama lain.
Dalam keseharian aktivitas bisa di lewati dengan sangat baik. Tak ada asisten rumah meski keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan. Mereka akan membagi tugas dari sebelum berangkat kerja sampai mereka pulang.
''Nis, apa kamu tidak merasa lelah setiap hari harus melakukan ini semua. Bahkan kamu juga jarang istirahat. Aku tidak mau kamu kelelahan dan akan mengganggu kesehatan.'' ucap Toni di saat keduanya tengah bersiap untuk berangkat kerja.
Sedari tadi Nisa terus sibuk mempersiapkan semua kebutuhannya sendiri juga dengan kebutuhan Toni. Meski Toni juga membantunya tapi Nisa yang lebih banyak.
''Tidak akan, Mas. Lagian ada kamu kan yang akan terus bersamaku dan mengerjakan semua ini,'' Nisa hanya akan tersenyum saat Toni mengatakan itu. Bukankah sebelumnya sudah ada kesepakatan mereka berdua kalau Nisa tidak akan berhenti bekerja sebelum dia hamil?
''Kalau begitu bagaimana kalau kita cari asisten rumah saja?'' lagi-lagi Toni menyinggung masalah asisten rumah itu karena dia tak mau kalau Nisa kelelahan.
''Tidak usah, Mas. Aku masih bisa melakukan semuanya kok. Mas tidak usah khawatir.''
Senyum dari Nisa akan selalu membuat Toni luluh begitu saja. Dia pasti akan mengikuti apapun yang Nisa mau.
Semua sudah siap dan keduanya sudah siap untuk berangkat. Baru saja Nisa akan menyerahkan tas kerja Toni tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya gemetar dia juga merasa pusing.
''Ehm,'' hampir Nisa terhuyung dan jatuh kalau Toni tidak cepat menangkapnya.
''Nis! astaghfirullah! kamu kenapa?'' Toni sangat panik, baru saja dia membicarakan tentang kesehatan dan sekarang Nisa malah jadi seperti ini dan dia tak tau apa sebabnya.
''Aku tidak apa-apa, Mas. Ini hanya pusing saja. Sebentar lagi juga akan baik-baik saja.''
Nisa menggelengkan kepalanya sebentar dan setelahnya dia berdiri. Dia berdiri dengan sangat pelan dan cepat mulai melangkah dengan perlahan.
''Sekarang kita berangkat saja. Aku tidak apa-apa.'' ucap Nisa dengan suara yang sangat lemas.
Meskipun dia mengatakan dia tidak apa-apa tapi Toni tau kalau dia tidak baik. Badannya sedikit gemetar, mengeluarkan keringat juga dengan wajah yang sangat pucat.
''Tidak-tidak! kamu tidak boleh berangkat bekerja hari ini. Kamu harus istirahat.''
''Tidak, Mas. Aku baik-baik saja.'' rupanya tak mudah untuk membujuk Nisa, ''ayo, Mas. Lebih baik kita berangkat sekarang kalau tidak kita akan sangat terlambat. Ini sudah sangat siang.'' Kekeuh Nisa.
''Baik. Kita akan ke rumah sakit tapi bukan untuk kamu bekerja, melainkan untuk memeriksakan keadaanmu,'' Toni tak kehilangan akal. Dia bisa menuruti untuk pergi ke rumah sakit tapi bukan untuk bekerja melainkan dengan tujuan lain. Nisa harus berobat.
''Tapi, Mas. Mas harus bekerja.''
''Tidak masalah aku akan izin kepada Tuan Arya, dia pasti akan memberiku izin,' Ayo,'' Toni mulai menuntun Nisa keluar dari kamar, dia harus segera mengantarkan Nisa untuk periksa. Semoga saja tak ada hal yang serius yang terjadi pada Nisa, istrinya.
Di dalam mobil Toni tak lupa mengirimkan pesat singkat lebih dulu kepada Arya. Dan setelahnya baru dia mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.
__ADS_1
Sementara di rumah Arya dia juga sama ributnya, sedari tadi dia tengah bernegosiasi dengan Arini dia harus pergi ke kantor karena ada meeting pagi tapi Arini tidak mau di tinggal.
Arini sangat takut kalau nanti Arya akan terlambat pulang dan akan terlambat untuk pergi ke tempat senam hamil.
''Sayang, please. Mas hanya sebentar saja. Janji tidak akan lama,'' Arya begitu memohon akan mendapatkan izin dari istrinya yang sekarang sedikit rewel itu.
Bukan tanpa alasan, tapi kemarin pas waktunya senam hamil Arya juga mengatakan itu tapi dia terlambat. Jadi Arini hanya takut saja kalau Arya akan mengulangi hal yang sama seperti kemarin.
Ting...
Pesan masuk di ponsel Arya, Arya dengan sekejap mengabaikan Arini dulu dan melihat ponsel untuk melihat siapa yang mengirimkan dia pesan.
''*Tuan, maaf. Mungkin hari ini saya akan datang terlambat. Saya harus mengantarkan Nisa ke rumah sakit lebih dulu untuk periksa. Nisa sedang sakit,Tuan.'' pesan dari Toni*.
Semakin pusing sekarang Arya, asistennya izin dan sekarang dia sendiri juga ada masalah tak ada izin dari istrinya lagi.
''Sayang, Mas mohon. Mas harus berangkat. Tak ada yang menggantikan Mas untuk meeting saat ini, Nisa sakit Dan Toni harus ke rumah sakit.''
''Mbak Nisa sakit? sakit apa Mas.'' tanya Arini sangat penasaran.
Arya menggeleng, ''Tidak tau? please ya sayang, semua kan juga untuk kamu dan anak kita. Mas harus tetap kerja supaya kehidupan kita tetap terjamin kan?'' rayu Arya.
__ADS_1
Arini tampak dia berpikir sepertinya hatinya perlahan mulai tergerak dan akan memberikan izin untuk Arya pergi ke kantor.
''Baik, tapi ada syaratnya.''
''Apa syaratnya?'' Arya terus menyerukan doa dalam hati berharap semoga syaratnya tidak yang aneh-aneh.
''Mas harus pulang sebelum waktu berangkat. Dan setelah kita selesai senam kita akan ke rumah Toni untuk jenguk Mbak Nisa yang sedang sakit. Dan?'' Arya sudah terlihat ketar-ketir sekarang jangan sampai syarat yang terakhir ini yang aneh-aneh.
''Dan?'' Arya semakin tak sabar untuk mendengar akan syarat yang terakhir.
''Mas harus mengizinkan Toni cuti supaya dia bisa merawat mbak Nisa sampai sembuh, bagaimana mudah kan?''
Memang sangat mudah untuk semua syaratnya. Tapi masak iya dia harus mengizinkan Toni cuti beberapa hari sementara dia harus bekerja sendiri begitu?
''Bagaimana, bisa kan?'' Niat Arini memang sangat baik tapi bagaimana dengan suaminya nanti. Dia terus bekerja sendiri sementara di rumah dia juga selalu di kerjain olehnya.
Tapi kalau tidak bisa saja Arya akan kehilangan tender besar untuk saat ini.
''Baiklah, Mas bersedia.'' pasrah adalah jalan yang paling bijak dalam hidup Arya sekarang.
Mungkin dulu dia bisa keras sekeras batu dalam melawan orang lain tapi sekarang dia tak bisa apalagi melawan istrinya sendiri, mustahil untuk dia bisa menang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1
Bersambung