
Happy Reading....
_________
Malam semakin larut, suasana semakin dingin. Tapi tidak dengan calon pengantin yang kini berada di luar rumah untuk mencari angin. Toni merasa sangat gerah, atau mungkin dia sangat grogi menyambut hari esok untuk acara pernikahannya.
"Kamu kenapa, Ton?" Tanya Arya basa-basi. Padahal Arya sendiri tau bagaimana rasanya. Dia sudah lebih dulu merasakan bagaimana menjelang pernikahan. Grogi, gelisah, juga ada ketakutan.
Toni menoleh ke arah Arya yang mendekat. Bosnya itu terlihat berwajah datar seperti biasa. Untung saja wajah dingin itu tak terlihat. Kalau sampai terlihat pasti akan semakin mendinginkan malam ini.
"Sa_saya?" Toni begitu gugup untuk menjawab.
Arya ikut duduk di sebelah Toni yang terus menatap panggung dimana dia akan berdiri di sana besok sebagai pengantin. Mengamati kursi-kursi yang saling berhadapan dan di tengah-tengahnya ada meja yang akan menjadi tempat dia mengucapkan ijab qobul besok.
Arya tersenyum, menepuk pundak Toni dan mencoba menenangkannya.
"Itu akan terjadi kepada semua orang yang akan melangsungkan pernikahan. Begitu juga denganku dulu. Tidak orang kecil, orang besar, orang terpelajar atau orang yang tidak bersekolah sekaligus, semua akan mengalami masa-masa itu saat menjemput hari pernikahan." Ucap Arya.
Toni tersenyum, namun dia tetap diam. Mengamati panggung lagi yang sudah sangat indah dengan dekorasi.
"Lebih baik kamu istirahat, tenangkan dirimu untuk menjemput besok. Jangan sampai ada kesalahan." Ujar Arya.
Kali ini Arya benar-benar seperti seorang kakak, bukan seorang bos yang tegas juga menakutkan.
"I_iya, Tuan."
Toni mulai beranjak, dia perlahan pergi menuju rumah pakde Musi. Ya, dia masih tinggal di sana. Sementara Arya juga Arini berada di rumah Nisa karena dia adalah sepasang suami-istri.
Arya terdiam. Mengamati panggung yang sangat indah. Punggungnya bersandar di kursi besi yang dudukannya berwarna merah. Melipat kedua tangan dan berkali-kali mengeluarkan nafas panjang.
"Mas, aku nggak bisa tidur."
Arya tersentak. Dia menoleh dan melihat istrinya yang terlihat merajuk manja. Wajahnya sangat menggemaskan seperti anak kecil yang tengah marah.
Arya hendak berdiri, tapi Arini sudah lebih dulu duduk di sebelahnya.
"Mas, aku lapar. Aku pengen makan mie godok sama seperti yang di buat ibu-ibu tadi," Arini terus merengek.
"Mie?" Arya semakin tersentak.
Arini mengangguk, dia benar-benar menginginkan makanan hangat berbahan mie. Yang tak habis pikir kenapa harus sama seperti yang ibu-ibu tadi buat untuk semua orang.
Tadi Arini di tawarin nggak mau, tapi setelah sekarang sudah habis sekarang merengek untuk minta.
"Iya, mie godok yang di kasih telur juga di kasih ayam suir. Kasih tiga cabe utuh sama kol sedikit, sama daun bawang juga daun apa tadi ya katanya? Oh, daun seledri tadi Ibu-ibu bilang," Semua keinginan Arini ucapkan. Sepertinya dia benar-benar sudah ngiler sekarang. Padahal baru saja membayangkan akan makanan hangat itu.
"Ta_tapo, Sayang. Ini sudah sangat malam. Tidak baik juga makan mie malam-malam begini." Arya terlihat sangat bingung. Tak biasa Arini meminta hal yang aneh-aneh seperti sekarang ini. Biasanya juga adem ayem tidak rewel, tapi ada apa dengannya sekarang?
"Tidak mau, pokoknya Arini mau makan mie godok yang sama seperti tadi. Kalau nggak di kasih aku mau pulang." Adunya manja.
Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa yang harus dia lakukan. Jangankan mie godok, mie instan saja Arya bingung. Lagian ini juga ada di rumah orang, tidak mungkin Arya akan lancang keluar masuk ke dapur.
"Mas, aku mau makan itu," Arini terus menarik lengan Arya. Sementara yang di tarik masih terus kebingungan.
"Loh! Kalian belum tidur? Ini sudah malam loh," Bu Sulasmi datang, dia kebetulan lewat karena hendak menutup semua makanan yang ada di dapur dadakan di samping rumah.
__ADS_1
Keduanya hanya diam.
"Loh, Nak Arini kenapa?" Tanya Bu Sulasmi bingung melihat wajah Arini yang berkedut.
"I_itu. A_Arini ingin makan mie godok yang seperti tadi." Jawab Arya meringis. Sementara Arini hanya mengangguk dengan sangat menggemaskan.
Bu Sulasmi juga terlihat sedikit bingung, karena mie yang Arini minta juga sudah habis.
"Ya sudah, biar ibu buatkan ya?" Bu Sulasmi tersenyum sangat ramah, menyentuh pundak Arini.
Arini malah menggeleng. Entah apa yang dia inginkan saat ini.
"Loh! Katanya mau mie godok. Biar ibu yang bikinin."
"Tidak mau, Arini pengen Mas Arya yang bikin," Jari telunjuk sudah mengarah lurus ke arah Arya yang ada di sebelahnya.
"Aku!" Pekik Arya.
Bu Sulasmi terbengong melihat pasangan ini. Tak lama dia langsung tersenyum.
Arini mengangguk, sementara mata Arya masih saja membulat tak percaya. Bagaimana bisa dia membuat makanan yang dia saja belum pernah memakannya.
Arya juga baru pertama kami lihat olahan mie yang seperti itu.
"Kenapa, Mas nggak mau buatin untuk Arini. Kalau begitu Arini pulang saja jalan kaki," Arini sudah siap untuk berdiri, wajahnya benar-benar di tekuk kusut saat ini.
"Iya iya! Mas yang buatin," Tangan Arya langsung menahan Arini, menangkap lengannya supaya tidak benar-benar pergi.
"Biar ibu bantu, Nak. Yuk, kompornya ada di sana." Tunjuk bu Sulasmi.
Membayangkan saja Arya sudah ngeri. Masak dengan tungku batu bara, dengan kayu sebagai penyala apinya. Arya juga bingung bagaimana menyalakannya.
"Astaghfirullah hal 'azim..., ada apa dengan istriku ya Allah. Apa dia kena sawan pengantin?" Celetuk Arya sekenanya.
"Hus! Jangan bilang seperti itu, Nak. Pamali. Mungkin saja Nak Arini benar-benar sedang menginginkannya, atau menguji cinta kamu. Atau mungkin dia lagi angkatan," Ucap bu Sulasmi sembari membantu Arya yang sedang berusaha menyalakan api.
"Maksudnya angkatan?" Arya mengernyit.
"Oalah, aku lali. Maksudnya Nak Arini sudah mulai ngandut," ucap bu Sulasmi lagi.
"Hem?" Arya masih tak mengerti. Dia yang tak pernah berbaur dengan orang desa akan sangat susah untuk mengerti kata-kata yang seperti itu.
"Maksudnya, sudah mulai hamil. Itu maksud saya, Nak," Bu Sulasmi kembali berdiri, mengambil korek api yang tak jauh dari tempat itu.
Arya terdiam, dia lalu mengamati Arini yang duduk manis melihat dia yang sedang berusaha untuk membuatkan mie godok permintaannya.
"Benarkah Arini mulai hamil?" Arya masih fokus melihat Arini.
"Mas! Awas itu tangannya kena arang!" Teriak Arini, dan benar saja. Tangan Arya sudah menghitam karena menyentuh bibir tungku.
Arya hanya tersenyum menanggapi.
Begitu besar pengorbanan Arya untuk berhasil membuat satu mangkuk saja mie godok yang Arini minta. Berkali-kali apinya mati, berkali-kali juga Arya meniupnya membuat dia batuk berulang kali.
Wajah Arya juga tak semulus tadi, sudah terdapat coretan hitam karena arang yang tadi ada di tangannya dan sekarang beralih di pipinya.
__ADS_1
Semua yang Arya lakukan tak terlepas dari bu Sulasmi. Dia juga terus membantunya. Sementara Arini hanya duduk manis seperti ratu yang bertugas untuk mengawasi saja.
Berkali-kali Arini tersenyum saat melihat perjuangan Arya, melihat bagaimana dia meneteskan air mata ketika memotong bawang merah. Bagaimana dia manggut-manggut saat menghaluskan bumbu dengan cobek dari tanah liat dan bagaimana dia terkena cipratan minyak saat menggoreng bumbu.
"Alhamdulillah, akhirnya matang juga." Tangan mengusap keringat yang ada di kening, membuat kening Arya semakin menghitam.
"Terimakasih, Bu. Sekarang silakan kalau ibu mau istirahat." Arya tersenyum, dia sangat berterima kasih karena bu Sulasmi membantu perjuangannya.
"Sama-sama, Nak. Ya sudah, Ibu masuk dulu. Jangan malam-malam istirahatnya, Nak. Dan jangan biarkan Nak Arini berada di luar terlalu lama, dingin."
"Iya, Bu."
Bu Sulasmi masuk sementara Arya perlahan berjalan mendekati Arini dengan membawa mangkuk yang penuh dengan mie godok.
"Sayang, nih mie godoknya." Arya menaruh di hadapan Arini.
"Hahaha..., Mas tampan banget sih!" Sepertinya itu bukanlah pujian deh ya, melainkan ejekan karena wajah Arya yang menghitam.
"Sudah ketawanya? Kalau sudah sekarang makan lalu masuk. Ini sudah malam, nggak baik." Arya terlihat kesal.
"Kok gitu sih! Mas nggak ikhlas bikinin Arini mie godok ini!"
"Hah! bukan seperti itu, Sayang. Mas ikhlas. Ikhlas banget. Tapi sekarang sudah malam, tidak baik berada di luar. Kalau kamu masuk angin gimana?"
"Bilang saja Mas nggak ikhlas kan? Mas keberatan kan melakukan yang Arini minta."
Nah, salah lagi kan?
"Tidak, Sayang. Mas ikhlas. Sekarang mau makan sendiri atau mau di suap?" Kini Arya berucap dengan sangat lembut.
"Di suapin." Rengeknya manja.
"Boleh."
Perlahan Arya mulai menyuapi Arini. Berkali-kali dia meniupnya karena masih panas.
"Cabenya dong, Mas," Pintanya.
"Cabe? Arya mengernyit sementara Arini mengangguk dengan sang semangat.
Arya merasa ngeri, perlahan dia memotong cabe dengan sendok.
"Akk!"
"Enak, Mas pinter masaknya."
"Hem," Arya hanya tersenyum di sela-sela meniup mie yang ada di sendok.
"Jangan di tiup, Mas. Di goyang-goyang saja."
Arya hanya melongo, namun sedetik kemudian dia melakukan apa yang di minta oleh Arini. Menggerakkan sendok ke kanan dan kiri.
_______
Bersambung....
__ADS_1