
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._______...
Asap terlihat terus mengepul di atas gelas yang berisi dengan kopi. Ini sudah menjadi yang kedua kalinya Susanto mengisi cangkir itu. Kopi hitam untuk menemaninya yang masih menunggu Arini pulang.
Diangkatnya gelas itu, ditiup perlahan lalu di seruput. Terasa sungguh nikmat pahit, manis juga panasnya yang bisa menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan akan angin malam.
Ditarik kembali gelas dari bibirnya, dia tahan di awang-awang. Matanya beralih ke arah jam dinding yang bertengger manis di atas pintu kamarnya sendiri.
"Sudah sangat malam, kenapa kamu belum pulang Arini. Kamu di mana sekarang? kenapa kamu tidak mengabari kakek." ucapnya yang begitu gelisah.
Lagi Susanto menoleh ke arah pintu seneng dia kembali menyeruput kopinya. Tak ada pergerakan dari pintu yang menandai kepulangan Arini, pintunya masih tertutup rapat. Hanya korden yang sudah pudar gambarnya saja yang bergerak karena tertiup angin melalui celah-celah.
Susanto beranjak dan berdiri setelah dia meletakkan kembali cangkir di atas meja. Kakinya mulai melangkah menuju pintu untuk dia keluar, Susanto ingin menyambut sendiri Arini di luar.
Dilihat jalan raya yang gak jauh dari rumahnya, masih sangat ramai dengan mobil yang terus lalu-lalang pergi dan menjauh dari sana. Tak ada satupun mobil yang berhenti dan menurunkan Arini ibu.
Angin malam tidak membuat Susanto kedinginan, dia sudah dari temani dengan baju hangat juga kain panjang yang dia gunakan untuk menyelimuti tubuh tuanya yang mungkin akan sangat rentan terkena penyakit karena angin.
"Arini kamu dimana? " tanyanya pada dirinya sendiri.
Susanto mendongak memandangi langit, alhamdulillah karena cuaca sangat terang bahkan bulan juga bintang terus berkedip seolah tersenyum di atas sana.
"Cepatlah pulang nak. Kakek sangat khawatir," ucapnya lagi.
Tak ada tanda-tanda kepulangan Arini membuat Susanto kembali masuk. Dia tidak pergi ke kamar setelah itu, dia kembali ke kursi yang tadi dan menata bantal yang tadi sudah ada. Susanto merebahkan tubuhnya, dia sangat lelah karena menunggu cucunya yang tak kunjung kembali mungkin dengan tidur di ruang depan dia bisa tau saat Arini pulang nanti.
///////
Susanto membuka mata saat suara azan subuh sudah menggema menembus indra pendengaran. Nyanyian cinta dari Tuhan memanggilnya untuk datang dan berhasil membuatnya tersadar dari alam tidurnya.
Perlahan kakinya mulai ia turunkan hingga berhasil menyentuh lantai. Dia duduk menempatkan diri sejenak untuk mengembalikan semua nyawa yang masih tertinggal.
Ingatannya kembali kepada Arini yang tadi malam dia tunggu dan belum pulang. Semua tempat masih terlihat sama, belum ada perubahan masih sama seperti semalam bahkan pintu juga masih tertutup rapat namun tidak di kunci.
"Arini belum pulang? " Susanto bertambah gelisah karena cucunya belum juga kembali dari kemarin, sebenarnya dia pergi kemana?
Suara iqamah membuyarkan lamunan Susanto. Dia cepat berdiri dan pergi ke kamar untuk membangunkan sang istri untuk menjalankan shalat berjamaah meski hanya berdua saja. Setelah itu baru akan dia pikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mencari Arini.
"Semoga saja kamu tidak mendapat masalah, Arini," ucapnya yang begitu berharap akan kebaikan yang Arini dapat bukan masalah ataupun keburukan.
//////
Siluet senja telah terganti, nyanyian burung sudah mulai saling beradu menyambut azan subuh yang mulai berkumandang. Oksigen pagi juga sangat sejuk dan begitu memenuhi kebutuhan paru-paru dari kedua orang yang masih tertidur di dalam mobil.
𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘣𝘢𝘳... 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘣𝘢𝘳...
Suara azan yang tak begitu keras dan hanya samar-samar tetap saja berhasil membangunkan Arini yang masih tertidur di dalam mobil Arya.
Arini di buat tersentak saat dia melihat sendiri posisi tidurnya sekarang. Kepala Arini berada di pangkuan Arya dengan jasnya menjadi penghangat untuknya. Sementara satu tangan Arya tepat di atas bahunya sedangkan satunya ada di atas kepalanya.
Seperti Arya memang niat banget memindah Arini di tempat penumpang belakang dan juga dirinya sendiri yang kini tidur dengan posisi duduk.
"Astaghfirullah hal 'azim..! " Arini langsung duduk dengan gerakan cepat. Posisi itu sungguh tidak pantas untuk dirinya juga Arya mereka bukan pasangan halal bagaimana bisa bebas dengan posisi yang seperti itu.
__ADS_1
Seandainya ada orang yang lihat pasti mereka berdua di sangka telah melakukan zina, apalagi keberadaan mereka di tempat sepi yang sangat jauh dari pemukiman warga. Bisa-bisa di grebek mereka berdua.
Gerakan dari Arini juga berhasil mengejutkan Arya, dia juga bangun. Wajah Arya tidak se-panik seperti Arini, jelas saja dia tidak panik atau terkejut kan dia sendiri yang melakukan itu kepada dirinya juga Arini.
"Ada apa sih, Arini. Ini masih gelap, aku masih ngantuk," protes Arya.
Walaupun sudah bangun tidur mata Arya tetap terdapat lingkar hitam sepertinya dia tidak bisa tidur semalam.
"Pak tuan! ke-kenapa bisa Arini tidur di pangkuan pak tuan? " tanya Arini. Dia sungguh malu untuk menanyakan itu pasalnya dia sendiri juga sangat menikmati tidurnya yang membuat dia begitu nyenyak.
Kalau Arini tidur dengan posisi duduk sama seperti Arya mungkin tubuhnya akan sakit sekarang tapi tidak! Karena Arya sepertinya tidak mengizinkan itu terjadi padanya.
"Sudahlah, jangan kegeeran. Saya melakukan itu karena tidak mau tulang-tulang mu patah! " jawab Arya tak mau mengakui. Masak iya hanya dengan tidur duduk bisa patah tulang, Tidak mungkin kan?
"Bagaimanapun alasan seharusnya Pak tuan tidak boleh melakukan itu. Kita kan bukan suami istri, itu tidak pantas," jawab Arini yang masih saja protes.
Tidurnya yang nyenyak sepertinya membuat Arini semangat untuk mengoceh sama seperti burung-burung yang masih bertengger di sarang mereka. Bikin telinga Arya sakit.
"Ya sudah, nanti kita menikah biar jadi suami istri. Gitu saja kok repot," ucapnya dengan santai.
Kata-kata pernikahan seakan menjadi permainan untuk Arya, dia begitu mudah sekali mengatakannya tidak seperti Arini yang mendengar, dia sudah di bikin menganga sekaligus merinding.
Arini menggeleng, dia juga cepat mengalihkan pandangannya dari Arya juga otomatis menjauh dari laki-laki yang sembarangan bicara. Arini menoleh ke jendela sampingnya. Dia lihat surya mulai menampakkan senyumannya.
"Sudah subuh," ucapnya.
Arini kembali menoleh ke arah Arya yang malah menutup matanya lagi, sepertinya memang masih niat untuk tidur dia.
"Pak tuan, kita ada di mana? " tanya Arini.
"Terus kita ngapain di sini? " tanya Arini. Sungguh bawel Arini pagi ini membuat Arya mulai dongkol.
"Lagi 𝘩𝘰𝘯𝘦𝘺𝘮𝘰𝘰𝘯! " jawab Arya semakin ngawur. Iya kali mereka benar-benar 𝘩𝘰𝘯𝘦𝘺𝘮𝘰𝘰𝘯, mereka kan bukan pasangan halal yang baru menikah, "ya tersesat lah! masak iya beneran 𝘩𝘰𝘯𝘦𝘺𝘮𝘰𝘰𝘯..! " imbuhnya dengan nada kesal.
"Pak tuan jangan bercanda dong! sekarang kita di mana? Arini mau pulang! "
"Tidak bisa, mobilnya mogok."
"Mogok!! " pekik Arini.
"Kita harus menghubungi seseorang kan, Pak tuan? "
"Tidak bisa, ponselnya mati! " tak ada jalan lagi sepertinya. Mereka berdua harus berusaha sendiri untuk bisa keluar dari tempat sepi itu.
//////
Tak sabar ingin segera pulang Arini nekat jalan kaki mencari jalan keluar dari tempat sepi itu. Sementara Arya sebenarnya masih sangat malas untuk jalan kaki tapi dia tidak mau sampai Arini pergi sendiri dan semakin tersesat.
Arya hanya mengikuti Arini yang berjalan lebih dahulu. Arini begitu semangat untuk bisa cepat pulang.
Pemukiman terlihat di depan mata meski sebenarnya masih sangat jauh. Arini sangat antusias sampai-sampai dia tersandung dan terjatuh.
"Arini!" teriak Arya. Dia langsung berlari saat melihat Arini yang sudah terjatuh. Kakinya terkilir lututnya juga terluka akibat batu yang mengenainya.
"Aww..., kaki Arini sakit. Semua ini gara-gara Pak tuan! kalau saja Pak tuan tidak marah dan membawa Arini pergi, Arini tidak akan kesusahan seperti ini! " oceh Arini menyalahkan Arya sebagai sumber masalahnya.
__ADS_1
Arya berlutut di hadapan Arini dengan diam dia memang menyadari akan kesalahannya. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, sudah terlanjur terjadi.
"Masih bisa jalan? " tanya Arya.
"Masih," jawab Arini dengan ketus. Arini benar-benar kesal dengan Arya sekarang.
Arini mencoba untuk berdiri dia juga mencoba untuk berjalan tapi rasa sakit yang dia dapat bahkan dia seperti tak bisa menggerakkan kakinya sama sekali.
Melihat Arini yang kesakitan Arya beralih jongkok di depannya yang pasti membuat Arini bingung apa yang Arya inginkan.
"Naiklah," pinta Arya. Dan ternyata Arya meminta Arini untuk naik ke gendongannya.
Jelas Arini tidak akan menurut begitu saja, dia masih tidak ingin menerima kebaikan Arya kepadanya. Arini kembali mencoba untuk berjalan tapi tetap saja dia kesakitan.
"Jangan membantah! cepat naik atau akan aku tinggal kamu di sini sendiri. Biar di makan harimau sekalian," ancam Arya.
Arini masih diam berfikir benarkah dia harus menerima tawaran dari Arya saat ini?
"Tapi..? "
"Satu..., Dua..., Ti..., "
"Iya iya! " nurut juga akhirnya si Arini. Dia tidak maulah di tinggal sendiri di hutan belantara seperti itu bisa-bisa dia benar-benar di makan harimau nantinya.
Arya mulai berjalan setelah Arini berada di atas punggungnya, Arini benar-benar di gendong oleh Arya saat ini.
"𝘉𝘪𝘢𝘳𝘱𝘶𝘯 𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪.
"Astaga.., kamu itu manusia atau kapas sih! Tubuh segede ini tapi ringan banget. Ingat ya, kalau kita berhasil keluar dari hutan ini, berat badanmu harus bertambah lima kilo dalam waktu satu minggu, kalau tidak hutangmu akan semakin bertambah," ancam Arya.
"Mana bisa begitu, Pak tuan!"
"Bisa dong! SetelahMalu-maluin perusahaan saja kau ini. Masak pekerja dari perusahaan Gautama bertubuh krempeng sepertimu." Arya terus saja berbicara sembari berjalan.
"Krempeng yang penting sehat, Pak tuan! Daripada Pak tuan, berat sekali kayak batu," jawab Arini.
"Hemm..., saat itu dengan apa kamu membawaku ke rumah sakit. Kamu tidak mungkin memapah ku, kamu kan krempeng?" Arya berhenti, matanya melirik ke belakang ke wajah Arini.
"Hehehe..., tapi Pak tuan tidak akan marah ya, janji ya? " tanya Arini was-was.
"Hemm," Arya kembali berjalan.
"Dengan gerobak sampah."
"Apa! Gerobak sampah! " pekik Arya dan kembali berhenti. Matanya melotot tajam namun tidak bisa ke arah Arini langsung.
"Jangan marah, kan Pak tuan sudah janji tadi," ucap Arini mengingatkan.
Ingin marah tapi dia sudah janji, tidak marah tapi hatinya sungguh dongkol. Masak si tampan Tuan Muda Arya dari keluarga Gautama masuk gerobak sampah. Hadeh.
/////
Bersambung...
_______
__ADS_1