Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
139.Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Happy Reading....



Arya terus berlari sembari menggendong Arini. Dia sangat tidak tenang karena gadis itu masih saja tak sadarkan diri karena ketakutan dengan apa yang barusan dia alami.



Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh rasanya sangat jauh, kaki yang terus saja melangkah tapi rasanya juga tak sampai-sampai. Membuat Arya semakin di buat takut.



"Kamu harus kuat, Arini. Kamu harus baik-baik saja." ucapnya.



Sesekali matanya melihat wajah Arini yang masih terus memejamkan mata terlihat gadis itu masih sangat ketakutan karena wajahnya berkali-kali mengkerut di bawah kesadarannya.



"Arini, bangun Arini. Jangan membuatku takut seperti ini, Arini bangun." Pintanya tapi tetap saja gadis itu sama sekali tidak membuka matanya.



Villa ada di depan mata, dan saat Arya melihat arah gerbang dia melihat ada Raisa yang tengah berjalan-jalan saja melihat tempat yang juga sangat indah.



Sebenarnya tanpa harus keluar keindahan pemandangannya sudah bisa di lihat tapi Arini menginginkan yang lebih makanya dia keluar dan sekarang malah menjadi seperti saat ini, dia pingsan.



Raisa yang melihat Arya menggendong Arini yang tidak sadar sangat terkejut, dia berlari untuk menghampiri Arya, menghadangnya untuk bertanya dan melihat keadaan Arini.



"Tuan, apa yang terjadi kepada Arini!?" Raisa juga sangat takut, Arini adalah adik juga sahabat bagi Raisa bagaimana mungkin dia akan diam atau senang melihat Arini tidak sadar diri seperti sekarang.



"Minggir, jangan banyak bertanya! Saya harus membawa Arini masuk!" seru Arya tak mau di ganggu sama sekali oleh Raisa.



"Tapi, Tuan." Raisa tetap saja tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Arya, Arya hanya tidak mengizinkannya untuk mengganggu langkahnya kan? Maka Raisa minggir tapi dia akan tetap mengikuti Arya dan itu benar-benar dia lakukan.



Arya membawa Arini ke villa yang khusus untuk dirinya saja juga Arini. Arini akan lebih aman jika ada bersamanya dan dalam pengawasannya.



Kali ini Arya tidak membawa Arini ke kamarnya sendiri dia lebih memilih untuk membawanya masuk ke dalam kamar mewahnya, kamar milik Arya.



"Loh, Tuan! Itu kan bukan kamar Arini!" Pekik Raisa yang menyadarinya. Biar bagaimanapun Raisa juga pernah datang ke sana dia juga sangat tau jelas dimana kamar Arini.



Arya tidak menjawab, dia diam dan terus berjalan masuk sementara Raisa juga terus membuntuti Arya dan ikut masuk ke kamar yang ternyata super duper mewah dan sangat luas.



Sejenak Raisa di buat terkagum-kagum dengan keadaan kamar itu, sungguh sangat indah, "astaga, seperti kamar seorang Raja," Raisa begitu melongo matanya tidak berkedip sama sekali.



Tetapi itu tidak berlangsung lama, Raisa kembali tersadar, "Arini..!" Raisa kembali teringat dengan adik ketemu besar itu yang kini sudah ada di atas tempat tidur milik Arya yang berukuran besar.



Arya yang sudah menurunkan Arini di atas kasurnya lantas bergegas keluar tapi tidak benar-benar keluar hanya berhenti di depan pintu saja.


__ADS_1


"Mila...! Mila...!" teriak Arya tidak sabaran.



"Mila...!" teriaknya lagi.



Arya kembali masuk dia berlari dengan wajah yang sangat ketakutan.



Kedatangan Arya membuat Raisa sangat kesal, dia yang hampir duduk di samping Arini langsung di dorong oleh Arya dan dia sendiri yang duduk di samping Arini, "minggir!" seru Arya mengusir Raisa.



Hampir saja Raisa terjengkang kalau dia tidak bisa seimbang, Arya sungguh keterlaluan.



"Kira-kira dong, Tuan! Kalau saya jatuh apa Tuan mau tanggungjawab!?" Protes Raisa yang memang sangat kesal, "dasar Tuan bucin!" imbuhnya lagi.



Tapi tetap saja tidak membuat Arya menanggapi yang Raisa katakan dia terus fokus menggosok-gosok punggung tangan Arini dia terus berusaha untuk membangunkan Arini.



"Arini, kamu harus bangun. Arini, jangan seperti ini aku sangat takut," ucapnya.



Uhuk... Uhuk... Uhuk...



Raisa tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar penuturan Arya barusan. Arya yang tidak pernah takut kepada siapapun kini dia takut hanya karena seorang OB.




"Kamu hanya mau protes saja di sini! Kalau begitu lebih baik kamu pergi. Saya bisa mengurus Arini sendiri, pergi!" usir Arya.



Raisa masih ingin di sana makanya dia putuskan untuk diam dan tidak protes dan mengatakan apapun lagi. Dia hanya bisa berdiri melihat bagaimana Arya yang begitu sangat cemas, lagian Raisa juga tidak bisa membantu karena Arya tidak akan menerima menerima bantuannya.



"Iya, Tuan!" Mila masuk dengan berlari dia yang sedang membuat sarapan terpaksa meninggalkan pekerjaannya setelah mendengar Arya yang berteriak memanggilnya.



"Astaga! Nyonya kenapa, Tuan!?" Mila juga langsung memekik saat melihat Arini, bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya Arini selalu bersama Arya kan.



"Jangan banyak bicara, apalagi bertanya. Cepat bantu saya untuk bisa membangunkan Arini. Kalau kamu tidak bisa lebih baik kamu keluar dari Villa ini!"



Mila hampir saja menjadi cegukan, seret rasanya sekedar untuk menelan ludahnya sendiri. Main keluar keluar saja apa Arya tidak memikirkan masa depan orang lain.



"I-iya, Tuan." Mila kembali keluar, dia bergegas mencari kotak obat untuk bisa menolong Arini.



Raisa yang melihat hanya bisa menggeleng saja, sungguh luar biasa. Itulah kalau orang kaya dia bisa melakukan apapun yang dia mau dan yang dia kehendaki. Tidak akan susah untuk memecat dan mencari yang baru seorang penjaga rumah saja baginya itu adalah hal yang begitu kecil.



"Benar-benar dalam masa puber, puber kedua. Dia sangat labil." gumam Raisa.

__ADS_1



Tak lama Mila kembali masuk dia berlari dengan membawa kotak obat juga membawa segelas air putih.



Mila meletakkan gelas itu ke atas nakas lalu membuka kotak obat untuk mengambil minyak.



"Bisa Tuan minggir sebentar, biar saya mencoba untuk membangunkan Nyonya." ucap Mila.



"Apa, kamu berani mengusirku!" mata Arya melotot tak suka. Kata-kata Mila begitu membuatnya naik pitam, dia sangat kesal.



"Bukan seperti itu, Tuan. Tapi..."



"Sini! Saya bisa melakukannya sendiri." tangan Arya langsung merebut minyak yang ada di tangan Mila tentunya dengan ekspresi yang tidak biasa kan.



"Sana kamu pergi saja, dan ya! Bawa cerewet itu keluar juga, telinga saya mau pecah gara-gara dia yang terus ngoceh!" ucap Arya begitu sinis.



Siapa lagi orang yang begitu cerewet bagi Arya kalau bukan Raisa yang kini sudah melotot tak suka, ingin sekali menggetok kepala Arya yang bicara asal jeplak, tapi sebenarnya memang iya sih.



"Baik Tuan." Mila menurut begitu saja,



"Mari Mbak." ajak Mila.



"Tidak, saya mau di sini. Saya tidak mau ninggalin Arini hanya berdua saja dengan dia, bagaimana kalau dia melakukan sesuatu pada Arini," tolak Raisa.



"Mari, Mbak." Mila masih bersabar.



"Tidak mau, saya mau tetap di sini." Raisa begitu kekeuh.



"Seret dia. Kalau masih menolak bikin saja dia pingsan lalu taruh dia di kandang buaya." ucap Arya tanpa menoleh.



"Baik, Tuan."



Mendengar kandang buaya yang Arya sebut membuat Raisa ketakutan, Arya kan orangnya selalu nekat bagaimana kalau apa yang dia katakan itu benar, matilah Raisa di usia muda.



"Iya iya! Saya akan keluar. Tapi awas saja kalau sampai melakukan sesuatu pada Arini." Raisa sangat geram.



"Hem..." hanya itu saja yang menjadi jawaban dari Arya.



Bersambung...

__ADS_1


____


__ADS_2