Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
283.Masa lalu Raisa


__ADS_3

Happy Reading....


***********


Flashback....


Seorang gadis SMA baru saja pulang dari sekolah. Tas punggung berwarna hitam, seragam putih abu-abu yang roknya sebatas lutut juga sepatu tali berwarna hitam tengah berjalan seorang diri.


Menapaki trotoar yang akan sampai ke tempatnya tinggal saat ini. Dia sangat bahagia, sebentar lagi ujian kenaikan kelas akan di lakukan. Dan dia akan segera naik ke kelas 12 nantinya. Semoga kali ini nilainya akan sama seperti biasa-biasanya dan akan mendapatkan peringkat lagi, jadi dia bisa mendapatkan beasiswa setelah lulus nantinya.


"Raisa!" Ya, gadis SMA itu adalah Raisa. Gadis pendiam, kutu buku, juga gadis yang di nobatkan menjadi gadis paling berprestasi sepanjang sekolahnya.


"Ya!" Seketika Raisa menoleh, dan terlihat gadis yang seumuran dengan dirinya.


"Ada apa, Nin?" Raisa bertanya. Nina adalah sepupunya. Dan Raisa kini juga tinggal dengan Nina juga kedua orang tuanya.


"Aku sama Ibu akan ke rumah nenek setelah ini. Tapi Ibu memintamu untuk tidak ikut dan menunggu di rumah. Kata Ibu, nanti bapak akan pulang setelah bekerja satu minggu, ibu nggak mau pas bapak pulang dan tak ada siapapun di rumah. Kamu tidak apa-apakan kalau tidak ikut?" Nina juga Raisa terus berbincang, sembari kakinya melangkah untuk pulang bersamaan.


"Hem?" Raisa berpikir. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan neneknya juga, tapi benar kata Ibunya Nina, kalau dia ikut pergi lalu tidak ada yang di rumah dong. Bagaimana kalau bapaknya Nina pulang dan membutuhkan sesuatu?


"Bagaimana?" Nina menoleh, menunggu jawaban dari Raisa.


"Baik deh, tapi kalian besok pulang kan? Kan hari senin kita ada ulangan," Raisa mengingatkan.


"Iya, aku sama Ibu pulang kok."


Senyum sumringah keluar dari keduanya. Keduanya juga langsung kembali melangkah lebih cepat untuk sampai rumah. Nina tidak mau kalau sampai Ibunya menunggu terlalu lama.


Jarak yang tak jauh-jauh amat membuat keduanya lebih memilih jalan kaki, katanya lebih menyehatkan juga untuk menghemat biaya harian juga.


Benar saja, hampir sepuluh menit dalam perjalanan Nina sudah di tunggu oleh Ibunya yang sudah rapi dan berdiri di depan pintu.


"Bu, kita berangkat sekarang?" Nina penuh selidik. Namun Nina tetap juga menatap Ibunya dan sangat kesal.


"Iya, takut kalau kesorean sampai di tempat mbah. Cepat sekarang kamu mandi dan ganti baju." Nina langsung masuk, segera membersihkan diri.


Sementara Raisa, dia masih berada di depan rumah.


"Budhe, Budhe beneran nggak ngajak Raisa?" Sebenarnya Raisa sangat ingin ikut, tapi kalau budhenya tidak mau mengajak ya mau bagaimana lagi. Raisa harus pasrah saja karena jika ikut dia juga gak punya uang dan yang pasti dia akan merepotkan budhenya.


Raisa sudah cukup merepotkan dengan tinggal di rumah mereka, semua keperluannya mereka yang mencukupi. Kalau soal sekolah Raisa tidak perlu membayar karena dia mendapatkan beasiswa.


"Maaf ya, Raisa. Untuk saat ini budhe tidak bisa mengajak kamu. Budhe belum gajian. Pakde mu juga belum ngirim uang, besok kalau ada rezeki kamu boleh ke tempat nenek bersama Nina." Jawab Budhe dengan begitu ramah.


Meski hanya budhenya dan bukan orang tuanya sendiri tapi mereka selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Mereka menganggap Raisa sama seperti Nina yang anak kandung.


Sementara orang tua Raisa? Orang tua Raisa hanya tinggal di desa terpencil dengan segala keterbatasan ekonomi. Raisa ikut mereka karena Raisa adalah anak yang cerdas, yang di gadang-gadang bisa mengubah kehidupan kedua orang tuanya.


"Iya, Budhe. Nggak apa-apa. Raisa bisa ke sana lain waktu," Jawab Raisa dengan suara yang dia buat setegar mungkin. Dia ingin tetap terlihat menerima meski dia sangat menginginkannya.


"Bu, Nina sudah siap!" Keluar Nina dari persembunyiannya. Gaun selutut berwarna dasar biru dan bermotif bunga-bunga berwarna putih. Juga sepatu flat hitam dengan tas selempang hitam juga, itulah yang Nina pakai saat ini.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Takut kesorean," Budhe langsung bergegas begitu juga dengan Nina. Sejenak Nina pamit dengan Raisa, memeluknya seolah dia ingin pergi jauh dan akan lama.


"Raisa, aku pergi dulu ya. Ingat, jaga diri baik-baik. Aku sama ibu akan cepat pulang." Ucap Nina seraya melepaskan pelukan lalu memberikan senyum.


Raisa juga langsung membalas hal yang sama, tersenyum begitu manis. Dengan senyumnya Nina juga budhe akan lebih tenang saja mereka pergi.


"Dah, Raisa!" Lambaian tangan Nina menjadi tanda perpisahan mereka berdua. Kini Raisa hanya terus memandangi punggung keduanya yang sudah semakin jauh dari depan matanya. Dan perlahan hilang.


"Seandainya aku punya uang, aku akan pergi kemanapun yang aku mau. Jangankan hanya pergi ke tempat nenek. Aku akan pergi keliling dunia."


"Semoga saja kelak aku bisa menjadi orang sukses, dengan bekerja di perusahaan tinggi, dan seandainya Tuhan memberi jodoh, jodohku yang baik hati, menerima ku apa adanya juga tentunya yang kaya dan bertanggung jawab. Hahaha!" Seloroh nya.

__ADS_1


Sebuah kata yang keluar dengan sebuah harapan besar akan masa depannya.


Kepergian Nina dan budhenya membuat rumah itu begitu sepi, mana jarak dengan tetangga juga agak jauh dan Raisa juga bukan gadis yang suka bermain ke sana kemari ke tempat tetangganya.


Raisa ke kamar, duduk di depan meja belajar dan langsung membaca buku yang tadi dia pinjam di perpus sekolah.


Begitu lama Raisa duduk di depan meja belajar, benar-benar si kutu buku si Raisa.


Hingga hampir menjelang magrib baru Raisa menghentikan belajarnya, dia mandi dan setelah itu berniat untuk membuat makan malam. Siapa tau nanti pakde-nya akan pulang.


Benar saja, setelah selesai bersih-bersih Raisa keluar ke dapur untuk membuat makan malam.


Hanya olahan beberapa sayuran yang di jadikan capcay, tempe dan tahu goreng saja yang Raisa masak. Itupun sudah melelahkan untuknya.


Sepasang mata melihat dengan penuh ketertarikan kepada gadis di hadapannya. Kaos oblong putih yang kedodoran, celana jins yang hanya sebatas lutut dengan rambut di cepol tinggi benar-benar membuat mata tak berkedip melihatnya.


Tubuh raisa sangat indah, dia tidak kurus juga bukan gemuk, pas-pasan. Dan gadis yang sudah dewasa itu semuanya yang dia miliki begitu menonjol dan sangat menggoda.


"Raisa benar-benar sangat mempesona. Dia memiliki daya tarik yang sangat besar. Astaga, aku tidak bisa bayangkan bagaimana di dalamnya itu. Lekuk tubuh yang masih di tutup saja sudah sangat menggiurkan, apalagi kalau dia telanj*ng." Gumam seseorang yang terus melihat Raisa dari kejauhan.


Matanya tak berkedip sama sekali. Dengan lidah menjulur keluar, menyapu bibirnya sendiri. Dia benar-benar telah terpesona dengan gadis yang sedang sibuk di dapur.


Senyumnya menyeringai penuh maksud, kaki mulai melangkah mendekati Raisa yang masih sangat sibuk. Matanya hanya terus berpusat di bok*ng Raisa yang sangat menonjol. Pasti kenyal dan akan sangat enak jika di pegang dan di mainkan. Apalagi yang lainnya.


Saliva di telan dengan susah, benar-benar sudah tertarik kepada gadis di hadapannya ini.


"Raisa, kamu masak apa?" Tanyanya basa-basi. Sekedar ingin melihat gadis itu membalikkan badannya dan dia bisa melihat yang menonjol di tempat lainnya.


Dan benar saja, dia mendapatkannya karena Raisa langsung membalik dengan sangat terkejut.


"Pakde sudah pulang, kapan? Kok Raisa nggak tau?" Tanya Raisa yang sudah membalik sempurna.


"Sudah dari satu jam yang lalu. Pakde pulang sepi, nggak ada siapapun. Pakde pikir semuanya pergi jadi pakde langsung ke kamar untuk istirahat." Jawabnya, sembari melangkah mendekati Raisa, berdiri di sebelahnya dengan tangan mengambil minum.


"Oh, maaf Pakde. Raisa dari tadi di kamar, besok senin ada ulangan jadi Raisa harus belajar." Jawab Raisa.


"Iya, Pakde. Mereka berangkat tadi siang. Mereka juga akan pulang besok karena Nina juga harus pulang dan belajar untuk ulangan." Raisa menjawab dengan tangan yang terus membolak-balikan masakan yang ada di depannya.


Raisa hanya sesekali akan menoleh ke arah pakde-nya, sementara pakde-nya? Dia terus mencuri pandang ke arah-arah tertentu yang ada pada Raisa.


#Benar, bukan hanya belakang saja. Tapi di depan lebih menggoda. Mana kembar lagi. Astaga, bagaimana kalau wajahku tenggelam di antara keduanya, menikmatinya dan menyedotnya. Pasti akan sangat nikmat. Punya bini saja nggak sebesar punya Raisa. Apakah aku bisa mencobanya ya?#


Semua khayalan dan keinginan kotor masuk di benak pakde. Entah kerasukan jin apa dan dari mana sampai-sampai dia menginginkan keponakannya sendiri.


Dia benar-benar terpaku dengan keindahan yang ada pada Raisa, semuanya sangat menarik, memiliki daya tariknya masing-masing dan itu sangat besar. Bahkan sekedar melihat saja sang junior sudah mendesak ingin keluar.


Entah Raisa memang memiliki daya tarik itu atau mungkin mata pakde-nya saja yang terlalu mata keranjang.


"Pakde, pakde kenapa? Ada yang aneh ya pada Raisa, apa ada sesuatu di wajah Raisa?"


Pakde gelagapan saat kepergok oleh Raisa. Dia bingung untuk menjawab. Tapi beberapa detik kemudian dia bisa menguasai dirinya sendiri.


"Iya, ada. Bentar aku ambilin."


Tangan pakde langsung terangkat menyentuh pipi Raisa yang sangat bersih tampa noda jerawat juga begitu lembut seperti perosotan.


#Benar-benar lembut sekali. Ini pasti akan sangat enak#


Pikiran kotor ternyata belum hilang sepenuhnya. Tangan yang membersihkan kotoran yang menempel di pipi Raisa membuat nya seolah mendapat kesempatan untuk menikmatinya.


Tangan Raisa juga tak diam, dia langsung membersihkan sendiri Raisa juga sedikit menjauhkan wajahnya karena dia sudah bisa melihat ada sesuatu dengan pakde-nya.


"Sudah bersih," Ucapnya.

__ADS_1


Raisa hanya tersenyum kecil lalu kembali fokus dengan yang dia masak yang sebentar lagi matang.


"Tinggal ini kan yang belum matang? Aku tunggu di meja makan dan cepatlah bawa ke sana. Aku sudah sangat kelaparan." Pakde langsung berlalu meninggalkan Raisa.


"I_iya pakde." Entah kenapa Raisa mulai gugup sekarang. Ada rasa was-was yang muncul di hatinya. Semoga saja yang Raisa pikir salah.


Dengan penuh hati-hati Raisa membawa semua yang sudah dia olah ke meja makan. Satu persatu dia turunkan di hadapan pakde-nya.


"Hem... Kayaknya enak nih," Puji pakde. Raisa tidak tau kalau saat memberikan pujian itu dia memandangi Raisa bukan makanan yang dia bawa.


"Di coba dulu pakde, baru di komentar." Senyum keluar dari Raisa, tanpa dia melirik ke arah pakde-nya.


"Tentu, akan pakde nikmati hingga akhir. Setelah selesai baru pakde akan berikan komentarnya," Seperti mendapatkan angin segar ucapan Raisa barusan. Padahal yang Raisa maksud adalah makanannya sementara pakde memikirkan yang lain.


"Yuk pakde di makan," Baru Raisa melirik ke arah pakde-nya. Dan dengan pintarnya matanya sudah langsung beralih ke semua makanan yang ada di hadapannya.


"Tolong nasinya, Sa," Pintanya, dengan tangan langsung menyodorkan piring kepada Raisa.


"Siap Pakde," Raisa pun melakukan dengan senang hati, menyendokan nasi ke atas piring pakde-nya.


"Cukup," Pakde menarik piring setelah penuh. Dia juga langsung mengambil sendiri yang akan menjadi teman untuk nasinya.


"Kamu juga makan yang banyak Raisa, jangan sampai nanti kamu nggak kuat di tengah jalan," Sepertinya tujuan buruk sudah terpikir oleh pakde.


"Maksudnya?" Raisa mengernyit tak mengerti.


"Maksud pakde, nanti takutnya kamu pas di pertengahan belajar kamu kelaparan, kan buang-buang waktu saja kan?" Ternyata pakde pintar sekali membelokkan kata.


Raisa mengangguk mengerti, benar apa yang pakde-nya katakan.


"Nih tempenya juga. Tahu juga, jangan hanya sayur makannya."


Satu persatu pakde taruh di piring Raisa membuat Raisa langsung protes.


"Pakde, Jangan banyak-banyak! Nanti Raisa nggak bakal habis. Perut Raisa kan mini, Pakde." Protesnya.


"Makanya di biasain. Kalau makan banyak lama-lama besar sendiri perutnya, apalagi tambah di pompa." Mata pakde mengerling penuh maksud yang Raisa tidak tau apa maksudnya.


"Emang Raisa balon apa? Pakai acara di pompa segala!" Judes Raisa.


"Ya kalau di pompa lama-lama kan jadi balon. Hem!" Pakde menggembungkan kedua pipinya dan itu berhasil menumbuhkan gelak tawa dari keduanya.


"Sudah-sudah. Cepat di habiskan. Kalau sampai nggak di makan sampai habis nanti kamu yang pakde makan!" Jelas pakde.


"Ihh, apa sih pakde. Emangnya Raisa tahu apa! Mau pakai di makan segala! Kalau ini enak pakde, hap.. !" Raisa langsung melahap tahu yang ada di tangannya dan dengan itu pakde kembali ketawa. Begitu juga dengan Raisa.


Selesai dengan makan malam Raisa langsung membawa piring kotor ke dapur, mencuci semuanya hingga benar-benar bersih baru dia akan kembali ke kamar.


Tapi belum juga kembali Raisa di hentikan oleh pakde yang duduk di ruang tengah dengan membaca koran.


"Raisa, bikinin pakde kopi dong. Pakde harus lembur nih pekerjaan masih belum selesai," Ucapnya.


"Baik, Pakde." Raisa langsung pergi ke dapur lagi dan setelah beberapa menit dia kembali keluar dengan membawa secangkir kopi buatannya.


"Ini, Pakde. Sekarang Raisa mau kembali belajar pakde."


"Iya, ingat! Jangan malam-malam, jangan sampai pakde lihat kamu begadang lagi. Kamu masih muda Raisa, eman sama kesehatanmu. Jaga kesehatan baik-baik," Tuturnya yang menasehati selayaknya bapaknya sendiri.


"Iya, Pakde. Raisa tidak akan begadang. Raisa pamit pakde." Raisa langsung pergi.


Sementara pakde juga pergi ke kamar dengan membawa kopi buatan Raisa. Pekerjaan begitu banyak yang harus di selesaikan.


Rumah kembali sepi karena kedua penghuni sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hanya lampu kedua kamar juga lampu depan rumah yang nyala, sementara yang lain sudah di matikan.

__ADS_1


*********


Bersambung......


__ADS_2