
Happy Reading....
...****************...
Arini sangat bingung dengan chat yang Dimas kirimkan kepadanya. Dia meminta Arini juga Arya harus sampai ke rumah orang tuanya sebelum jam 16:00. Dan yang lebih membuat Arini bingung, kenapa alasannya adalah Dimas juga Raisa yang akan segera menikah.
Arini memang sangat menginginkan kakaknya juga secepatnya menikah dengan Raisa, tapi bukankah ini terlalu cepat. Tidak mungkin kan gurauan Arini kemarin langsung di lakukan begitu saja oleh Dimas? atau jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi kepada keduanya?
"Awas ya, kalau kak Dimas berbuat macam-macam pada Kak Raisa akan aku kuliti dia."
Mata Arini melotot tajam ke arah jalan raya. Yah, Arya juga Arini masih dalam perjalanan untuk ke rumah orang tuanya.
"Mas tau kan? kalau semua itu tidak akan mungkin terjadi begitu saja. Pernikahan tidak mungkin semudah ini kayak goreng mendoan. Bisa langsung jadi begitu saja. Pasti nih Kak Dimas melakukan sesuatu pada kak Raisa, iyakan, Mas."
Arya mengernyit, Arini yang biasanya anti berprasangka buruk nih kenapa sekarang seperti ini?
"Belum tentu juga kan, Sayang. Siapa tau mereka memang benar-benar sudah memutuskan untuk menikah, atau mungkin mereka memang sudah berhubungan jauh-jauh hari," kini Arya yang menasehati Arini, Biasanya kan Arini yang selalu seperti itu.
"Tapi masak iya sih, Mas!" Arini menatap fokus ke arah Arya.
"Berpikirlah positif, Sayang. Kan kamu yang selalu bilang seperti itu." Arya mengingatkan.
Arini tak lagi bicara, dia diam dan kembali fokus ke arah depan, dia juga sesekali menoleh ke arah Arya yang fokus dengan nyetirnya.
"Mungkin bisa jadi seperti itu, tapi awas saja kalau kak Dimas berbuat macam-macam sebelum pernikahan ini terjadi." batin Arini.
Tak lama mobil sudah berhenti di pekarangan rumah Hendra, kedatangan keduanya langsung di sambut oleh Nilam yang langsung keluar setelah mendengar mobil Arya.
Senyumnya sangat indah menyambut anak dan menantunya itu, Nilam juga langsung menghampiri. Membukakan pintu, lalu memeluk Arini dengan kerinduan yang sangat besar.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Mama sangat merindukanmu, Nak. Bagaimana, kamu baik-baik saja kan? kamu tidak kenapa-napa kan? kamu tidak pusing, mual atau yang lain-lain kan?"
Baru saja sampai Arini sudah mendapatkan pertanyaan yang banyak dari Nilam. Semua itu karena Dimas yang bercerita kepadanya. Kalau Arini selalu bertingkah aneh-aneh.
"Ada apa sih, Ma. Arini tidak kenapa-napa kok. Arini hanya pusing saja kalau mama seperti ini. Lepasin, Ma. Ini sesak," ucap Arini karena Nilam tak kunjung melepaskan.
"Eh, maaf maaf." cepat Nilam melepaskan.
Nilam langsung meringis setelah menyadari akan perbuatannya. Dia hanya terlalu bahagia saja, dia tak sabar saja ingin secepatnya bisa menimang cucu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Ma,"
Nilam langsung menoleh ke arah Arya saat Arya menyapa dan mengucapakan salam. Arya langsung meraih tangan setelah Nilam sudah menoleh.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana kabarmu, sehat kan?" tanya Nilam lembut.
"Alhamdulillah, Ma. Selalu sehat. Kan dapat doa dari mama dan dari putri mama. Jadi Arya selalu sehat," Arya tersenyum.
"kamu bisa aja. Ngobrolnya lanjut di dalam yuk. Kalian sudah di tunggu semua orang di dalam," Nilam langsung merangkul Arini, menuntun masuk dan Arya mengikuti di belakang mereka berdua.
...****************...
Semua memang sudah menunggu, ada Hendra, Dimas juga Raisa yang ada di ruang tamu.
"Jam berapa acaranya berlangsung, Dimas?" tanya Hendra.
"Penghulu akan datang jam tujuh, Pa." jawab Dimas.
"Alhamdulillah, akhirnya. Sebentar lagi lunas tugas papa. Kedua anak papa akan menikah, papa seneng."
"Iya, Pa."
"Terus Dim, siapa yang akan menjadi walinya nak Raisa. Di mana orang tuanya? atau mungkin keluarganya?" Hendra menoleh ke Dimas lalu beralih ke arah Raisa.
Orang tuanya Raisa benar sudah meninggal, tapi dari berita terbaru kalau pakde nya masih hidup. Tapi tidak mungkin Raisa akan menjadikan dia sebagai wali untuknya. Pakde yang telah menghancurkan kehidupannya.
Setiap mengingat wajahnya saja Raisa masih selalu terbayang-bayang akan perlakuan bej*t yang di lakukan padanya. Melecehkannya, memfitnahnya laku mengusirnya tanpa rasa kemanusiaan.
"Ya sudah nggak apa-apa. Kamu nggak usah sedih, Nak. Sebentar lagi om akan menjadi papa kamu juga kan? jadi jangan merasa sendiri ya, kita semua keluarga," ucap Hendra.
"I_iya, Om," Raisa tertunduk lemas. Dia sangat sedih dengan nasibnya. Semoga saja setelah menikah Raisa akan mendapatkan kebahagiaan yang melimpah. Amin.
"Assalamu'alaikum!" melihat Hendra Arini langsung melepaskan diri begitu saja dari Nilam, dia langsung berlari dan tentu membuat Nilam juga Arya sangat panik.
"Sayang, jangan lari-larian!" pekik Arya dengan tangan yang sudah menggelantung di udara.
"Sayang!" Nilam pun juga tak kalah seru dalam berteriak. Sementara Arini terus berlari seolah tak mendengar suara keduanya. Arini sangat merindukan Papanya itu. Entahlah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Raisa, Dimas dan Hendra bersamaan dan menoleh juga ke arah Arini yang berlari.
"Jangan lari-larian, Nak," Hendra langsung berdiri, menyambut anak perempuannya yang sudah sampai dan langsung menubruknya.
__ADS_1
"Pa, Arini kangen sama Papa," rengek nya manja di pelukan Hendra.
"Papa juga kangen, besok-besok jangan lari-larian lagi ya, kalau jatuh bagaimana. Udah kecil begini, jatuh lagi, nanti lebam loh," sedikit Hendra melepaskan Arini namun kembali memeluknya erat setelah mencubit hidung Arini sebagai hukumannya.
"Ih, nggak Papa nggak Mama, semuanya pada bawel kayak Mas Arya. Nggak asik banget sih," wajah Arini berkedut. Entah sebenarnya siapa yang salah, entah Arini yang selalu bertingkah di luar kembali atau mungkin mereka semua yang terlalu khawatir dengan Arini.
"Bukan bawel, Nak. Tapi kami semua hanya menginginkan keselamatan kamu." Hendra mengganti merangkul Arini dan mengajaknya duduk di sebelahnya. Benar-benar seperti anak remaja yang masih terus bergelayut manja pada Papanya.
"Assalamu'alaikum, Pa." Arya pun tak ketinggalan, menyalami Hendra dengan hormat setelah itu duduk di sebelah Dimas, sementara Nilam berada di sebelah Arini, mengapit Arini di tengah-tengah antara Nilam dan Hendra.
"Dek, kakak nggak di peluk juga?" ucap Dimas iri.
"Nggak! Kak Dimas bau terasi," jawab Arini cepat.
"Hah! terasi?" pekik Dimas. Cepat Dimas mengendus-endus dirinya sendiri, bagaimana mungkin bau terasi, Dimas nggak ke dapur seharian ini, dia juga nggak ada makan sambel terasi.
"Jangan ngada-ada deh, Dek. Mana ada Kakak bau terasi. Dek, apa indra penciuman-mu bermasalah?" mata Dimas penuh selidik.
"Nggak kok, Kak. Ini beneran loh Kak, dari sini aja baunya udah terasa banget. Bagaimana kalau dekat, mau muntah nih rasanya," terang Arini.
"Sabar, Dim. Ponakan mu itu." bisik Arya.
"Kayak loh banget ya, semoga nggak ikut ancur kayak kamu," timpal Dimas sinis.
"Amin.., kan bikinnya setelah tobat, berarti dia akan jadi anak baik lah. Semoga saja dia kayak Emaknya," bisik lagi.
"Kalau sifatnya kayak emaknya aku ikhlas, tapi kalau bodohnya kayak dia juga, bisa cepat tua kita," jawab Dimas dan kali ini sedikit keras dan tentu kedengeran Arini.
"Siapa yang bodoh!" mata Arini sudah membulat.
"Mati aku!" batin Dimas seraya menepuk jidatnya sendiri.
"Sudah sudah," Nilam menghentikan Arini sebelum dia melayangkan kata-kata sepanjang kereta.
"Eh, Kak Raisa," Arini meringis.
"Hallo, Arini. Sekarang setelah bahagia lupa ya sama kakak," jawab Raisa.
"Nggak lah, Kak." Lagi-lagi Arini hanya meringis.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....